TEMAN MAKAN TEMAN

TEMAN MAKAN TEMAN
Peringatan dari Hanna


__ADS_3

Setelah kedua orang tuanya, serta adiknya, sudah meninggalkan kantornya, Nathan termenung memikirkan apa yang telah di ucapkan Nadia tadi.


"Untuk apa Zaskia datang kesini? perempuan itu bisa jadi masalah besar. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Nathan.


Nathan tampak mondar-mandir di ruang kerjanya. Lalu ia duduk kembali dan memijit keningnya.


"Aku akan minta saran pada Jodi," Nathan menjentikkan jarinya, mendapatkan ide untuk menyelesaikan masalahnya. Ia akan meminta saran dari Jodi. Ia segera menelepon ke ruangan Jodi.


"Jod, bisa keruangan ku? aku ada perlu."


"Aku segera kesana," jawab Jodi.


Tok...tok...tok...


Jodi mengetuk pintu ruangan Nathan.


"Masuk," seru Nathan yang sudah tahu siapa yang mengetuk pintu.


"Duduk Jod," ucap Nathan lagi.


"Masalah pekerjaan? atau, pribadi? Jodi menaikkan kedua alisnya.


"Pribadi," jawab Nathan.


"Sudah ku tebak,"


"Terus?"


"Aku tahu tadi Zaskia datang kesini, tapi Nadia membuat dia mengirungkan niatnya untuk menemuimu, dia pergi setelah bicara dengan Nadia, entah apa yang mereka bicarakan aku tak tahu."


"Itulah yang jadi masalah ku sekarang, ternyata Zaskia tak tinggal diam, entah apa yang akan di lakulan wanita itu."


"Sudahlah, lanjutkan saja niatmu untuk tunangan dengan Adel, biarkan saja nanti juga lama-lama dia akan menyerah, wanita biasanya begitu."


"Ah, sudahlah kamu pun tidak bisa di harap," ucap Nathan kesal.


Jodi hanya menaikan kedua bahunya, pasrah dengan keadaan.


🔻🔻🔻


Zaskia telah tiba di rumahnya. Tanpa mehiraukan sang adik ia terus keluar dari mobil dan langsung masuk ke kamar dan mengunci kamarnya.


Seira menatap punggung kakaknya sampai menghilang dari pandangannya. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Di dalam kamarnya, Zaskia terlihat begitu kesal dan juga frustasi. Ia berdiri di depa meja hias, lalu dengan marah ia menyerakkan semua benda yang ada di atas meja. Setelah lelah dengan amarahnya sendiri, ia duduk dan menarik nafas dalam-dalam. Ia sedang merencanakan sesuatu. Ia berpikir keras bagaimana caranya agar Nathan tidak jadi tunangan dengan Adel, dan tetap berhubungan dengannya.


Tiba-tiba saja Zaskia tersenyum, sepertinya ia sudah mendapatkan ide yang bagus, dan hanya dia sendiri yang tahu, apa yang di rencanakannya.


Seira yang tadinya melewati kamar sang kakak, dan mendengar suara gaduh pun berhenti di depan pintu kamar kakaknya. Tapi setelah ia tak mendengar apa-apa lagi, ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ia tak mau mengganggu Zaskia.


🔻🔻🔻


Sementara itu Adel tampak sibuk di dalam kamar mengerjakan sekripsinya, tiba-tiba mbak Sumi memanggilnya, "non, non Adel, ada mas Ollan dan mbak Hanna di luar."


"Oh ya, suruh aja mereka ke kamar mbak, lagi nanggung nih ngerjain tugas," Adel menoleh ke arah pintu lalu berbalik lagi mengerjakan tugasnya.


Mbak Sumi kembali ke ruang tamu, dan memberitahu Ollan dan Hanna, "mas Ollan dan mbak Hanna ke kamar aja, tanggung kata non Adel lagi ngerjain tugas."


"Oh iya, nggak apa-apa mbak, kami tunggu disini aja," jawab Hanna.


Mereka memang tidak seperti dulu, setiap datang ke apartement Adel tidak pernah canggung, bahkan mereka sudah terbiasa keluar masuk kamar Adel. Berbeda dengan hari ini, mereka seperti orang lain.


Sudah hampir sebulan mereka tidak bertemu. Sejak kepulangan mereka dari Bali. Kebetulan memang Adel juga lagi fokus sekripsi jadi ia tak mau menerima job dulu, jadi Hanna pun tak perlu mengatur jadwalnya.


Tujuan Ollan dan Hanna kesini adalah untuk menanyakan langsung pada Adel, tentang berita yang mereka dengar dari akun gosip, bahwa Adel dan Nathan merencanakan pertunangan dalam waktu dekat.


Adel keluar dari kamar, lalu menghampiri kedua sahabatnya, setelah saling berpelukan dan saling mencium pipi, Adel pun berbasa-basi menanyakan kabar kedua temannya, "Apa kabar Han? Oll?"


"Gue baik," jawab Adel.


"Del, gue mau nanya sama elo."


"Tanya apa? jangan bilang kedatangan elo kesini buat debat sama gue, gue nggak mau denger."


"Enggak, gue cuma mau mastiin aja kalau gosip itu nggak bener."


"Gosip apa lagi?"


"Elo bener mau tunangan sama Nathan?"


"Baru rencana Hanna, gue juga belum telepon mommy."


"Tapi, elo setuju buat tunangan sama dia?"


"Iya, emang kenapa, gue yang jalanin hubungan ini, gue yang tahu pasangan gue seperti apa, mas Nathan itu cowok yang baik, penyayang, bertanggung jawab dan mapan, keluarganya juga welcom sama gue, jadi apalagi?"


'Adel, please, jangan tunangan sama Nathan, dia bukan laki-laki baik. Tolong dengar gue sekali ini aja Del." Hanna mengatupkan kedua tangannya memohon pada Adel.

__ADS_1


Adel duduk di sofa, lalu memanggil mbak Sumi, "mbak, buat minum dong buat mereka."


"Eh iya non, mbak Sumi lupa," jawab mbak Sumi sambil tersenyum lalu jalan ke belakang untuk menyiapkan minuman untuk Ollan dan Hanna.


"Gimana salon elo, rame kan?" tanya Adel pada Ollan, ia sengaja ingin mengalihkan pembicaraan mereka.


"Yah, seperti biasa," jawab Ollan santai.


Tak lama kemudian, mbak Sumi datang membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan untuk mereka.


"Minum dulu Oll, Han," kata Adel, yang menyadari kedua sahabatnya telah berubah tidak seperti dulu lagi. Kalau dulu mereka begitu terbuka tidak ada yang di tutup-tutupi. Dan juga tidak ada rasa canggung di antara mereka. Dan sekarang semua terasa berbeda. Hanna dan Ollan juga dulu tiap kali berada di apartement Adel seperti di rumahnya sendiri, bebas melakukan apa saja, tidak seperti sekarang minum saja harus di tawari.


Hanna tau Adel tidak mau membahas soal Nathan, ia pun berhenti membahasnya karena tidak mau merusak suasana.


Setelah sedikit basa-basi, Ollan dan Hanna pun permisi untuk pulang.


"Del, kami pulang dulu ya."


"Kalian nggak nginep disini?"


"Enggak, kami banyak kerja besok. Iya kan Oll?" Hanna menoleh pada Ollan, Ollan yang mengerti maksud Hanna pun segera menganggukkan kepalanya.


"Okelah, hati-hati di jalan" kata Adel.


Sebelum benar-benar pergi Zaskia memegang bahu Adel dan berkata, "Del, tolong elo pikirkan dan pertimbangkan lagi apa yang gue sampaikan tadi, jangan sampai elo menyesal di kemudian hari nanti. Cari tahu dulu betul-betul, bagaimana sifat calon tunangan elo." ucap Hanna memelas.


"Hemmmmm," jawab Adel malas.


Adel berjalan dan membuka pintu utama di ikuti oleh Ollan dan Hanna.


"Del, jangan sampai menyesal." sekali lagi wajah Hanna tampak memelas saat mengucapkan kata-kata itu. Tapi sekali lagi juga jawaban Adel sangat tidak mengenakkan.


"Iya, gue tahu, elo berdua memang sahabat gue, tapi please, jangan terus mencampuri urusan pribadi gue terlalu dalam. Gue bisa menentukan pilihan hidup gue, please!"


Hanna hanya diam tak bicara apapun lagi. Dia hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, ekspresi wajahnya menggambarkan orang yang sedang putus asa.


"Oke Del kami pulang, bye," ucap Hanna yang kemudian di ikuti oleh Ollan, "Bye Adel."


Dan mereka berdua pun berjalan beriringan meninggakan Adel yang masih berdiri terpaku menatap kepergian mereka.


"Bye," jawab Adel sambil melambaikan tanganya, dan menatap punggung kedua sahabatnya sampai tak terlihat lagi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2