TEMAN MAKAN TEMAN

TEMAN MAKAN TEMAN
Menerima cinta Andrew


__ADS_3

Andrew masih menggenggam tangan Adel, dan menatap lekat pada manik mata gadis itu. Ia masih menunggu jawaban dari gadis yang di cintainya.


"Adelin, menikahlah denganku," lirihnya sekali lagi ia meminta pada Adel.


Adel mengangkat wajahnya, dan menatap sejenak pada Andrew. Lalu ia tersenyum dan mengangguk.


"Apa ini artinya kamu menerimaku?". Andrew terkesiap tak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.


Kembali lagi Adel menganggukkan wajahnya.


Andrew memegang kedua bahu Adel, mengajaknya berdiri. Mereka berdiri berhadap-hadapan.


"Terimakasih Del, terimakasih sayang," ucap Andrew dengan wajah yang berbinar-binar.


Andrew melepaskan tangannya dari tubuh Adel. Lalu ia berteriak-teriak kegirangan.


"Adel, i love you, aku mencintai mu, aku menyayangi mu," Andrew berteriak sekencang-kencangnya. Hingga orang-orang yang berlalu lalang di jalanan itu memperhatikannya.


"Alam semesta, terimakasih sudah mempertemukan aku dengan gadis cantik ini, dan terimakasih sudah merestui hubungan kamiiiii," kembali Andrew berteriak kencang sekali, sampai-sampai begitu banyak orang berkerumunan menyaksikan mereka berdua. Awalnya orang-orang itu mengira mereka adalah pasangan suami istri yang sedang bertengkar. Orang-orang itu berbondong-bondong mendatangi mereka dengan emosi. Tapi setelah mereka tahu yang sebenarnya mereka malah senyum-senyum sendiri. Lalu satu-satu menyalami Adel memberi semangat.


Andel pun tersenyum-senyum melihat tingkah konyol mereka. Setelah itu mereka kembali ke rumah.


Kebetulan saat mereka sampai Roxana dan Alice sedang berbincang santai di ruang keluarga.


Ketika Adel dan Andrew masuk ke rumah dan melewati mereka, Andrew langsung berhenti dan mendekati mamanya.


"Mah, tante selamat malam,"


"Malam Andrew, ada apa? kenapa kamu senyum-senyum sendiri, apa yang lucu?"


"Tidak ada yang lucu tante, mah, oh ya, dimana om Rudi?" Andrew tampak celingukan ke kanan dan kiri ruangan.


"Ada apa nak Andrew?" tiba-tiba Rudi datang entah dari mana, lalu menghampiri mereka.


Setelah kedua orang tua Adel dan mamanya berkumpul, Andre menyuruh mereka untuk duduk.

__ADS_1


"Om, tante dan mama, duduk dulu Andrew mau bicara serius,"


"Bicara apa sih?" tanya Adel, dia mengira pasti Andrew mau pamitan karena besok mereka akan kembali ke Jakarta.


"Kamu diam aja, biar aku yang bicara," kata Andrew lembut pada gadis yang sudah bergelar kekasih itu, dia bicara sambil tersenyum dan menatap Adel penuh arti.


"Om, dan tante, saya ingin menikahi anak om dan tante," ucap Andrew dengan penuh percaya diri, dan membuat orang-orang yang ada disana merasa tak percaya kalau pemuda itu begitu gentleman.


Roxana sang mama pun sampe ternganga mendengar ungkapan sang anak.


"Apa yang kamu katakan Drew?"


"Aku mencintai Adel mah, dan sudah sejak di Paris rasa ini tumbuh, dan setelah sampai disini aku menyatakan cintaku pada Adel, dan setelah aku menunggu sekian purnama, baru tadi Adel memberikan jawabannya," Andrew menjelaskan pada sang mama, dan di dengarkan oleh Alice dan Rudi.


Alice dan Rudi mereka saling pandang dengan heran. Tapi setelah itu mereka menatap Adel dan Andre secara bergantian. Setelahnya senyum bahagia mengembang di wajah kedua orang tua mereka.


"Om, anak om menerima saya, saya ingin langsung menikah om, izinkan saya membahagiakan anak om," Andrew berlutut di hadapan Alice dan Rudi.


"Jika anak om menerimamu, dan kalian saling mencintai, nggak ada alasan untuk kami menolakmu," ucap Rudi.


"Tapi ada syaratnya," ucap Rudi tiba-tiba yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh padanya.


"Apa itu syaratnya om? Andrew akan lakukan apa saja demi Adel," Andrew menatap Rian lalu menatap Adel dengan senyuman.


"Kamu harus berjanji tidak akan penah menyakitinya, apalagi sampai menghianatinya, jangan sampai Adel menderita, jika itu terjadi maka kedua tangan om ini yang akan menghajarmu," ucap Rian serius.


Tentu saja Rian sangat hati-hati menilai calon anaknya. Dia tak ingin Adel kembali di sakiti laki-laki.


Tapi sebelum moment ini mereka sudah cukup mengenal walapun baru beberapa hari saling mengenal. Karena Alice dan Roxana sering bertukar pikiran dan saling menceritaka keluarga masing-masing.


Roxana juga sering bercerita tentang Andrew dan Suaminya, Gunawan. Tentang bisnis mereka di Jakarta dan juga tentang keluarga di Paris. Mereka mudah akrab karena mereka berasal dari negara yang sama.


Roxana menghampiri anaknya.


"hek hem," Roxana berdehem.

__ADS_1


Andrew menoleh padanya, lalu Roxana berkata, "Mentang-mentang kami sudah melamar anak orang terus kamu lupain mama," ia menggoda anaknya. Andrew hanya senyum-senyum menghadapi godaan sang mama.


Sedangkan Adel, jangan tanya bagaiman, dari tadi ia hanya senyum-senyum. Antara malu dan bahagia. Pipinya menjadi merah bersemu.


Setelah melewati semuanya. Dan malam semakin larut. Mereka pun beristirahat di kamarnya masing-masing.


Adel terbaring di kamarnya. Wajahnya berseri-seri. Hari ini ia begitu bahagia. Bahkan lebih bahagia dari sebelumnya. Kehadiran Andrew telah mampu merubah segalanya. Mampu membuatnya melupakan Nathan dan segala kenangannya. Mampu membuatnya bahagia dan juga membuat orang tuanya ikut bahagia melihat putrinya bahagia.


Adel mengambil ponselnya, lalu ia berbalas pesan group dengan kedua orang sahabatnya, yaitu Ollan dan Hanna.


Adel menceritakan semuanya pada sahabatnya dari A sampai Z. Tapi reaksi Ollan dan Hanna masih biasa saja. Bahkan mereka malah merasa khawatir pada Adel. Mereka takut Adel akan menemui kembali laki-laki seperti Nathan. Hingga akhirnya Hanna pun menyuruhnya untuk ber hati-hati.


Adel bisa memahami apa yang di pikirkan sahabatnya itu. Wajar jika Hanna berpikir begitu apalagi mengingat kisah asmaranya bersama Nathan yang berakhir di atas panggung pertunangan. Dengan membuat malu dan kecewa keluarganya.


Hanna meminta data diri Andrew. Dia berkata akan menyelidiki laki-laki itu dan keluarganya. Kali ini Adel nurut pada Hanna. Ia yakin Hanna akan melakukan yang terbaik untuknya.


Setelah lelah jemarinya mengetik pesan di ponsel itu, Adel pun ketiduran. Ia tidur dengan perasaan yang begitu bahagia.


Pagi ini Adel terbangun kesiangan, karena semalam ia begadang dengan Hanna melalui ponselnya. Setelah mandi dan merapikan dirinya Adel pun turun untuk sarapan.


Di ruang makan, semua orang telah menunggunya. Semua mata tertuju padanya yang berjalan menuruni anak tangga, bagaikan seorang putri yang sedang di tunggu oleh para bawahannya. Adel pun tersipu malu melihat mereka semua menatapnya seperti itu.


Setelah ia sampai di meja makan ia menyapa semua orang yang ada disana.


"Selamat pagi semua,"


"Pagi sayang," mereka semua serempak menjawab sapaan Adel.


"Apaan sih," ucap Adel sambil tersenyum. Ia melirik ke arah Andrew yang tak berkedip menatapnya. Lalu ia mengkibas-kibaskan tangannya di depan wajah Andrew. Andrew dan semua yang ada di meja makan pun tetsenyum.


Pagi ini Adel tampak lebih fresh dari biasanya. Mommy dan Daddy nya melihat perubahan itu. Mereka senang anaknya telah melupakan kesedihannya.


Pagi ini adalah sarapan bersama mereka untuk yang terakhir, karena sore nanti Andrew dan sang mama akan kembali ke Jakarta.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2