TEMAN MAKAN TEMAN

TEMAN MAKAN TEMAN
Mabuk


__ADS_3

Hanna mendorong tubuh Nathan kebelakang.


"Apa-apaan sih elo Han?" Zaskia membalas mendorong Hanna.


"Elo itu yang apa-apaan! dasar murahan.". sungut Hanna pada Zaskia.


plak...plak...


Zaskia menampar pipi Hanna, "Berani sekali elo ngatain gue murahan."


"Murahan! murahan! murahan! hanya ini kata-kata yang cocok buat elo cuihh." Hanna meludah di lantai, lalu mendorong tubuh Zaskia ke arah Nathan.


Ollan menarik tangan Hanna agar menghindari Zaskia, "udah beb, jangan mengotori tanganmu hanya karena wanita murahan ini."


"Biarkan Oll, biar aku menghajarnya."


"Jangan buat keributan disini Hanna, banyak wartawan, nanti panjang urusannya." bisik Ollan di telinga Hanna.


Hanna langsung mengerti kekhawatiran sahabatnya. Ia lalu menyambar tasnya dan memapah Adel keluar dari dalam diskotik itu, di bantu oleh Ollan. Sedangkan Nathan ia tak melakukan apa-apa. Ia hanya diam saja menatap kepergian mereka.


Zaskia senang karena mereka pergi, akhirnya ia bisa bebas berduaan dengan Nathan. Zaskia merapatkan tubuhnya pada tubuh Nathan. Ia memegang pinggan Nathan dengan mesra. Nathan tak mau memikirkan tentang kejadian tadi. Iapun mulai menikmati pestanya bersama Zaskia.


Ollan dan Hanna sudah berhasil membawa Adel keluar dari kerumunan orang di dalam diskotik itu.


"emmmmmhhhh" Hanna menarik nafas lega.


"Han, aku cari taxi dulu." ucap Ollan.


Ollan berjalan sedikit ke tepi jalan. Dan tak lama kemudian datang taxi berhenti di depan mereka. Ollan dan Hanna segera membawa Adel masuk ke dalam taxi.


"Ke resort xxx ya pak." Hanna memberitahu tujuannya pada sang sopir.


"Baik non." jawab sopir taxi itu.


Taxi pun melaju menuju alamat yang sudah Hanna sebutkan. Setelah melaju di jalanan beberapa menit akhirnya mereka sampai di tujuannya.


Ollan mengeluarkan uang dan memberikanya pada sopir taxi itu. Kemudian mereka keluar sambil memapah Adel. Mereka berjalan menuju kamar mereka.

__ADS_1


Ollan membuka pintu dan Hanna langsung membawa Adel masuk. Di baringkanya tubuh Adel di atas ranjang. Dengan telaten Hanna membuka sepatu sang artis, membersihkan badannya dengan handuk yang sudah di basahi dengan air hangat.


Ollan menyaksikan semua itu dengan haru, matanya tampak berkaca-kaca.


"Baik banget sih elo Han." kata Ollan tanpa sadar buliran bening menetes di sudut netranya.


Ollan memang pria yang lemah lembut dan mudah tersentuh perasaannya. Menyaksikan ketulusan Hanna dalam menjaga dan mengurus Adel aja dia bisa menangis. Iya dia sedih melihat Hanna yang lagi tak akur dengan Adel. Apalagi ketulusan Hanna tak bisa di lihat atau bahkan di hargai Adel hanya karena Nathan, lelaki yang sudah jelas-jelas bermain serong dengan temannya.


"Apaan sih, nangis lagi, nggak lucu tahu." ucap Hanna yang berdiri di sampingnya.


"Hi hi hi...., elo baik banget sih Han, walaupun Adel marah sama elo tapi elo tetep baik, terharu gue," Ollan benar-benar menangis sesenggukan.


"Udah-udah bising tahu, udah sana cuci muka elo terus tidur."


"Seandainya gue cowok normal, gue akan jadikan elo istri gue deh."


"Heh, ngaco elo."


"He he he....," mereka sama-sama tertawa.


Setelah selesai membersihkan diri, dan mengganti bajunya, mereka pun merebahkan tubuhnya, Hanna berbaring di samping Adel. Ranjang berukuran king zise itu hanya di tiduri oleh Hanna dan Adel. Sedangkan Ollah ia tidur di ranjang sebelah yang ukurannya lebih kecil. Mereka memang sengaja memesan kamar yang di disain seperti itu, tujuannya agar mereka selalu bersama.


Sementara Zaskia, Seira, dan juga Nathan, mereka masih menikmati malam kemenangannya. Mereka masih berjoget dan bersorak-sorai tanpa memikirkan Adel lagi. Bahkan Nathan dan Zaskia terlihat mesra berpelukan dalam pengaruh alkohol.


Nathan merasa sudah tidak tahan dan ingin balik ke tempatnya menginap.


"Yuk kita pulang." ajak Nathan pada Seira dan Zaskia.


"Sebentar lagi sayang, kita nikmati malam penuh kemenangan ini dulu." jawab Zaskia, yang masih enggan untuk meninggalkan tempat itu.


Akan tetapi, Nathan sudah benar-benar tidak tahan. Sekujur tubuhnya ada sesuatu yang berbeda. Rasa itu demikian menjalar hingga, membuat kepala Nathan ikut terasa pusing.


Tanpa memperdulikan Zaskia dan Seira yang melarang. Nathan berniat meninggalkan tempat itu dan kembali ke resort. Namun akhirnya Zaskia dan Seira pun mengikutinya.


Sesampainya di luar diskotik itu, Zaskia menggandeng Nathan dengan mesra.


"Mas, kita menginap di hotel aja yuk." ajak Zaskia.

__ADS_1


"Tapi sayang, besok kita akan kembali ke Jakarta sayang."


"Kan sore mas, kita masih ada waktu."


"Lalu bagaimana kalau, Orang-orang mencari kita."


Yah, kita bilang aja kita mabuk, jadi udah nggak sanggup lagi buat balik ke resort, makanya kita menginap di hotel yang dekat-dekat sini."


"Ollan dan Hanna akan semakin mencurigai kita."


"Alah, biarkan sajalah mas, nggak usah pikirkan mereka. Toh mereka juga sudah memusuhimu."


"Adel akan percaya pada omongan mereka."


"Aduh, Adel lagi, Adel lagi...., dia udah meninggalkanmu mas, yang ada di hadapanmu sekarang adalah aku! Zaskia yang selalu nemenin kamu."


"Tapi....,"


"Tapi apa lagi sih mas, emangnya mas Nathan tidak ingin tidur dengan aku?" bisik Zaskia tepat di telinga Natha, dengan suara yang mendesah dan manja.


Zaskia mengalungkan kedua tangannya ke leher Nathan, lalu menciumi lehernya dan meluma* bibirnya dengan penuh gairah, yang membuat Nathan semakin tidak tahan untuk tidak menidurinya.


"Baiklah, lalu Seira bagaiman?" bisik Nathan di telinga Zaskia yang terasa hangat terkena hembusan nafasnya.


Deru nafas mereka semakin tak karuan. Menahan gejolak yang sudah membara di tubuh mereka. Yang seakan ingin meledak.


"Tentu saja kita ajak juga Seira menginap, kita ambil dua kamar mas, adikku itu dia sudah mabuk berat. Dan dia lah orang yang bisa nyelametin kita kalau ada yang tanya kita kemana, karena mereka kan pasti berpikir, nggak mungkin kita ngapa-ngapain karena ada Seira." Zaskia terus berusaha membujuk Nathan.


Nathan tak tahan dengan rengekan kekasih gelapnya. Ia pun menyetop taxi dan menuju hotel terdekat.


Sesampainya di hotel, ia memesan dua kamar. Zaskia mengantar adiknya ke kamar. Setelah itu ia kembali menemui Nathan.


Mereka sama-sama berjalan sempoyongan memasuki kamar yang sama. Berjalan sejajar, berhimpitan, ketika berada tepat di depan pintu.


Nathan yang sudah tidak tahan. Mendorong tubuh Zaskia dengan kuat masuk ke dalam kamarnya. Rasa panas di tubuh Nathan, membuat ia menginginkannya lebih.


Sama-sama dalam keadaan yang di pengaruhi alkohol, Nathan menarik tubuh Zaskia ke atas ranjang. Naluri Nathan sebagai seorang laki-laki muncul, dan tak bisa di tahan lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2