TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 10 DEMI ANGGITA


__ADS_3

Randi datang tergesa-gesa. Napasnya tersengal-sengal berat. Ia duduk menyandarkan dirinya di kursi. Mengatur napasnya yang masih tak beraturan. Gladis dan Fajar memandangnya dengan khawatir. Gladis menyodorkan Aqua botol yang belum terbuka tutupnya. Randi menerimanya tanpa berkomentar. Membuka tutupnya segera dan meneguknya perlahan. Rangga menyeringai tak acuh.


"Anggita ...," suaranya lirih, "bahaya ...."


Randi kehabisan tenaga. Hanya itu yang dapat ia katakan pada teman-temannya. Kepalanya ia sandarkan kembali. Matanya ia paksa untuk terpejam. Ia harus mengembalikan kekuatannya kembali secepat mungkin.


"Anggita kenapa? Kok kamu dateng sendirian? Si Gilar kemana?"


Gladis menepuk lututnya cepat. Jelas sekali kepanikan tengah melanda gadis itu. Randi ingin berbicara banyak, namun ia kepayahan. Napasnya masih belum beraturan. Ada sesak yang coba ia tahan agar tak membuat nyawa melayang.


"Anggita ...," ia mencoba berbicara lebih tenang, "sama Gilar ... di gang ... yang banyak ruko ... lagi di keroyok ... preman ...." Hanya sampai situ. Randi hanya kuat berbicara sampai di sana. Ia harus mengembalikan tenaganya kembali.


Rangga terenyak, ia bangkit dari duduknya sembari memasang wajah berang.


"Di mana mereka?" tanyanya lagi meminta jawaban lebih jeli.


Gladis menatap Randi dengan wajah nanar. Ia terkejut melihat lelaki kurus itu seperti tengah meregang nyawa. Napasnya kadang berbunyi seperti lengkingan. Keringat mengucur deras di seluruh pelipisnya.


"Ruko, Ga. Deket Ruko. Cepet! Mereka dalam bahaya!" Randi lemas. Ia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak, meski yang keluar hanya berupa rintihan lirih.


Fajar bangkit dari duduknya. Menyusul Rangga yang langsung lari setelah mendengar kalimat Randi berakhir. Sejenak ia memandang Gladis yang juga bangkit dari duduknya.


"Kamu jagain si Randi! Tunggu di sini! Oke?" perintahnya.


Lelaki buntal itu mencoba menyusul Rangga yang sudah hilang dari pandangannya. Gladis kembali duduk. Ia pandangi lelaki kurus di depannya yang tengah memejamkan mata tanpa sedikit pun bergerak. Ada ketakutan tiba-tiba menyeruak. Ia goyangkan tubuh Randi beberapa kalo sembari memanggil nama lelaki itu dengan nada pelan. Setelah tiga kali panggilan, barulah Randi membuka matanya. Gladis menghela napas lega.


"Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Gladis masih khawatir.


Randi mengacungkan jempolnya. Mengisyaratkan dengan kedua matanya yang berkedip bahwa ia baik-baik saja.


Sementara itu, Fajar kehilangan jejak Rangga. Sekuat tenaga ia berlari meski langkah kakinya sudah berat. Keringat membasahi seragam bajunya yang sudah koyak. Langkahnya terhenti saat melihat Rangga, Anggita dan Gilar berlari menuju arahnya. Saat ia hendak melangkahkan kaki mendekat, ada gerombolan lelaki berpakaian hitam tengah menyusul ketiganya. Tahu apa yang terjadi, Fajar memilih menunggu ketiganya mendekat.


"Lari, Faj! Lari!" teriak Rangga keras.


Tanpa ragu Fajar pun langsung lari, di susul ketiganya yang bisa mengimbangi kecepatannya. Fajar terengah-engah. Ia mencoba mengimbangi lari ketiga temannya, namun kakinya terasa berat. Tiba-tiba Gilar mendorong tubuhnya, membuat Fajar merasa punya kekuatan lebih untuk terus berlari.


Tiga orang berseragam sekolah lari beriringan. Seribanya di halaman perpustakaan, mereka langsung melesat masuk ke dalam ruangan menuju tempat duduk mereka yang masih ada di lantai satu itu. Anggita langsung duduk di samping Gladis. Sementara Rangga kembali ke tempat duduknya. Fajar yang menyusul kemudian juga kembali ke tempatnya semula. Napas mereka tersengal-sengal.


"Gilar mana?" tanya Anggita yang kembali bangkit dari duduknya.


Rangga menangkap lengannya, menghentikan langkah Anggita meski gadis itu langsung menepisnya.


"Gak usah di susul! Itu urusan dia! Kamu tadi dalam bahaya!" Rangga meradang.


Anggita termangu. Meski ada benarnya, tapi ia mengkhawatirkan Gilar. Pandangannya terus tertuju ke arah pintu perpustakaan, berharap Gilar tiba-tiba muncul dalam keadaan baik-baik saja.


"Duduk, Ta!" sentak Rangga.


Anggita tak bergeming. Rangga menarik lengan gadis itu dan mendudukkannya dengan paksa.

__ADS_1


"Kamu tadi dalam bahaya gara-gara dia! Kamu gak takut apa? Huh!" teriak Rangga berang.


"Aku takut dia kenapa-kenapa, Rang!" balas Anggita tak mau kalah.


"Itu urusan dia, Ta! Dia ketua geng motor! Kita semua tahu itu! Ngapain kamu takut dia kenapa-kenapa? Huh!"


Tak mungkin bagi Anggita untuk menjawab yang sejujurnya. Ia memilih diam.


"Kamu hampir aja celaka gara-gara dia, Ta! Sadar!"


"Terus kenapa kalau aku hampir celaka? Kamu mau apa? Huh!"


Gladis menarik tangan Anggita hingga gadis itu terduduk. Fajar memegang bahu Rangga dan memintanya juga duduk.


"Rangga bener, Ta. Kamu tadi dalam bahaya. Kita semua khawatir. Kita mending gak usah ikut campur urusan Gilar." sela Fajar.


"Lagian dia sendiri yang nyuruh kita buat kabur, Ta! Ngapain juga kamu khawatirin dia? Huh!" timpal Rangga masih berang.


Anggita hanya diam. Matanya memandang tajam ke arah Rangga. Rasa khawatir masih menyelubungi dirinya. Ia genggam erat tangan Gladis. Menjatuhkan dirinya di pelukan gadis itu. Sekuat tenaga ia mencoba untuk tak menangis. Rangga berdecak sebal. Matanya mengerling kesal akan sikap Anggita.


Hingga sore menjelang, Gilar menghilang tanpa kabar. Beberapa kali Fajar mencoba menghubungi lelaki itu, namun tak ada tanggapan sama sekali. Kekuatan Randi sudah pulih, ia kembali bisa duduk seperti biasa. Sisa tugas kelompok sudah berhasil mereka selesaikan, kecuali mengetahui keberadaan Gilar.


"Kita pulang aja! Lagian udah sore juga. Dia pasti udah pulang duluan karena takut di kejar preman sini!"


Rangga berkaca pinggang. Yang lain hanya mendengarkan tanpa komentar.


Anggita tak bergeming. Meaki perasaannya tak sekhawatir tadi, tapi ia masih berharap Gilarnya kembali.


"Kita pulang aja yuk, Ta! Perpustakaan juga udah mau tutup," pinta Gladis sembari menggenggam tangan Anggita lembut.


Anggita menatapnya dingin, "kalian pulang duluan aja. Aku nunggu Gilar disini!" ujarnya kemudian.


Rangga menggerutu. Kekesalannya ia lampiaskan dengan membanting tasnya sendiri ke lantai. Matanya melotot menatap Anggita yang terkejut.


"Kamu masih mau nungguin dia? Setelah dia hampir bikin kamu celaka? Kamu gak kasihan sama Ibu kamu yang nunggu di rumah? Huh!" Rangga berang.


Fajar mencoba menenangkan Rangga dengan menyeret lelaki itu untuk menjauh dari Anggita.


"Ta, kita pulang yuk!" Gladis memelas.


"Saya bisa pulang sendiri kok, Ta. Biar kamu di anter si Fajar aja," timpal Randi yang kemudian bangkit dari duduknya. Melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.


Malam menjelang. Anggita duduk sendirian di depan perpustakaan yang pintunya sudah tertutup. Beberapa penjaga malam yang melihatnya dari dalam hanya berlalu membiarkannya. Anggita menolak keras pulang bersama teman-temannya. Berkali-kali ia mengirimkan pesan pada Gilar untuk menjemputnya dan mengantarnya pulang. Berkali-kali pula usahanya menelepon lelaki itu berakhir tanpa tanggapan. Air mata Anggita sudah menetes sejak lama. Matanya sudah sembab. Hidungnya sedikit tersumbat. Tapi, rasa khawatirnya akan Gilar membuatnya bertahan berada di sana.


Matanya sesekali mengarah ke arah tempat parkir yang bisa terlihat jelas dari tempatnya berada. Hanya ada motor Gilar yang masih terparkir di sana. Gilar pergi namun motornya masih ada di sini. Tas Gilar yang tertinggal pun ada tepat di sampingnya. Ia ingin Gilarnya kembali.


Sorot cahaya dari arah jalan memasuki gerbang perpustakaan menerpa Anggita. Matanya memicing. Kedua tangannya terangkat ke depan wajahnya, mencoba menghalau cahaya agar tak menerobos matanya secara utuh. Sebuah mobil terparkir tepat di depannya. Ia termangu sejenak. Seseorang keluar dari mobil tersebut. Langkahnya mendekat ke arah Anggita. Gadis itu bersiap siaga untuk lari dan berteriak jika yang mendekatinya hendak berbuat buruk padanya. Sosok Randi muncul di antara temaram cahaya perpustakaan. Lelaki bermantel hitam dengan celana selutut itu menghampirinya. Berjongkok tepat di depan Anggita yang mematung.


"Masih disini ternyata. Gak akan pulang?" tanya Randi kemudian.

__ADS_1


Anggita masih terdiam. Wajahnya sembab. Rambutnya berantakan. Randi yang melihatnya begitu prihatin. Tak menyangka bahwa gadis dari teman kepercayaan ayahnya tengah mengalami hal yang menakutkan hari ini. Dialah saksi utamanya.


Ia lepaskan jaket yang tengah ia pakai. Di sampirkannya di tubuh gadis itu yang masih tak bergeming. Sorot matanya sayu dan putus asa. Ia dapat menilai bahwa gadis itu benar-benar menyukai Gilar seperti yang dikatakan Fajar. Entah kebodohan macam apa yang tengah merasuki isi kepala gadis itu hingga jatuh hati pada seorang ketua geng motor.


"Pulang yuk, Ta. Saya anter kamu pulang! Gilar pasti baik-baik aja. Dia pasti kuat kalau emang dia ketua geng motor."


Sebenarnya Randi tak yakin, mengingat kejadian tadi siang membuatnya berpikir ulang bahwa sang ketua geng motor ini tidak lebih dari sekedar anak remaja biasa sepertinya. Menyaksikan sendiri Gilar terkapar dengan wajah penuh lebam, ia yakin bahwa Gilar hanya anak remaja biasa seperti dirinya. Nama ketua geng motor memang terdengar menakutkan, namun menjadi saksi akan kekalahan sang ketua geng motor itu membuat Randi tak lagi memandang lelaki itu sebagai ancaman yang menakutkan. Gilar sama seperti dirinya. Hanya remaja tanggung.


"Dia dipukul, Ran. Wajahnya tadi babak belur. Aku gak tahu mereka siapa. Mereka tiba-tiba nyamperin dia waktu lagi makan bakso. Terus mereka pergi gitu aja. Dan ...," Anggita berhenti sejenak. Air matanya kembali berair.


Randi menepuk pundak gadis itu perlahan. Membiarkannya menangis sepuasnya. Ia sudah tahu. Ialah yang menyaksikan sendiri Anggita lari mencari Gilar yang menghilang tiba-tiba. Tanpa memikirkan kondisinya yang tak stabil, Randi memilih mengikuti Anggita meski dari kejauhan. Dan saat gadis itu berbelok ke arah gang, seolah menelannya dan tak menampakkan diri lagi. Spontan Randi menyusul dan mengintip dari balik salah satu ruko.


Anggita tengah melangkah mendekat menghampiri Gilar yang tersungkur di tanah. Menyadari keberadaan gadis itu, Gilar buru-buru menghampirinya. Menahan gadis itu untuk melangkah lebih jauh. Dapat ia lihat wajah Gilar penuh lebam. Saat itulah ia dan Gilar tak sengaja saling bertatap. Keduanya saling berpandangan lama. Gilar menggerakkan kepalanya pelan seolah memberi isyarat agar Randi segera pergi. Ada raut wajah memelas yang tertangkap olehnya.


Randi pun langsung berlari kencang menuju perpustakaan. Meskipun hal itu adalah pantangan yang tidak boleh ia lakukan seumur hidupnya. Randi tak perduli. Meski napasnya sudah terasa sesak, yang ada di pikirannya saat itu adalah keselamatan Anggita. Beruntung, teman-temannya berhasil menyelamatkan Anggita tanpa kekurangan sesuatu apa pun. Tapi, gadis itu harus kehilangan sosok Gilar yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak di tengah pelarian mereka siang tadi.


Mobil melaju perlahan. Randi yang memegang kendali mobil sesekali menoleh ke arah Anggita yang duduk di sampingnya. Pandangannya mengarah lurus ke depan kaca mobil. Tatapannya kosong. Mulutnya terkatup rapat. Jaket yang tadi ia sampirkan kini melekat erat menjadi bagian dari tubuh Anggita. Gadis itu mendekap erat dua buah tas yang merupakan miliknya dan milik Gilar. Randi hanya mampu menatap gadis itu penuh iba.


"Kita makan dulu yah, Ta. Kamu gak boleh pulang kayak gini! Nanti Ibu kamu khawatir. Oke?"


Tak ada tanggapan dari Anggita. Hanya terdengar suara isak yang sesekali keluar ketika ia menarik nafasnya. Sisa-sisa kekhawatiran gadis itu masih menyelimutinya.


***


Seseorang duduk bertekuk lutut. Kepalanya tertunduk. Suara nafasnya menderu kepayahan. Hanya sinar temaram dari satu lampu bohlam yang menyinari tubuhnya yang enggan bergeming. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya, ia menengadah meski sekujur tubuhnya gemetaran. Seseorang mendekat ke arahnya sembari menyeret sebilah kayu yang ujungnya penuh percikan warna merah. Wajah orang itu tampak seiring langkahnya yang sudah ada di depan mata, itu Gilar.


"Masih mau gak mau ngaku siapa yang suruh lo?" tanya Gilar geram.


Wajah lebamnya sisa dipukuli tadi siang masih tampak jelas. Namun, wajah sosok lelaki di hadapannya lebih memprihatinkan ketimbang dirinya. Matanya bengkak memerah. Di sekitar mulutnya ada sisa darah yang masih menempel. Lelaki itu adalah lelaki berjaket kulit tadi siang yang menyergapnya. Ia menyeringai menolak menjawab pertanyaan yang sudah Gilar lontarkan beratus kali.


"Demi dia lo rela mati, yah?" Gilar mendengus, "tenang aja! Gue gak bakalan bikin lo mati hari ini. Karena gue punya misi khusus buat lo!" Gilar menyeringai.


Hanya dengan suara kecil yang berasal dari jentikan jarinya, beberapa orang tiba-tiba datang menghampiri lelaki itu. Membangkitkannya paksa hingga ia berdiri di atas kakinya yang hampir lumpuh. Gilar mendekat ke arahnya dengan santai. Kayu yang ia pegang dengan sengaja ia tampar-tamparkan dengan pelan ke pipi lelaki itu secara bergantian.


Gilar mendekatkan wajahnya ke telinga lelaki itu yang tubuhnya mulai gemetaran, "bilang sama yang nyuruh lo itu. Jangan pernah harap bisa menang melawan Gilar!"


Tak lama setelah itu, lelaki itu diseret paksa entah ke mana. Gilar memain-mainkan bilah kayu itu. Saat menyadari ada sisa noda darah di sana, buru-buru ia bantingkan ke sembarang arah. Ia merogoh ponselnya di saku celana. Mengaktifkannya kembali. Ratusan notifikasi membuat ponselnya tak berhenti bersuara. Ratusan panggilan tak terjawab pun tak henti membuat Gilar tersenyum riang. Setelah menyentuh layar ponselnya beberapa kali, ia dekatkan ponsel itu ke telinganya. Sembari menunggu jawaban, Gilar memilih merebahkan dirinya hingga cahaya temaram ia biarkan menyinarinya.


"Gilar!" seru sebuah suara dari seberang teleponnya.


Gilar tersenyum semringah mendengarnya. Namun setelahnya, ia mendengar suara isak tangis yang meraung-raung diiringi namanya yang terus terpanggil. Gilar terkesiap. Ia bangkit dan duduk menyilangkan kakinya.


"Gita! Kamu nangis?" tanyanya kemudian, "kamu di mana?"


Tak ada tanggapan lagi dari Anggita. Hanya isak yang ia dengar dengan jelas.


"Aku ke sana sekarang!"


Gilar memutus saluran teleponnya. Bangkit dari duduknya dan lari sekencang-kencangnya.

__ADS_1


__ADS_2