
"Makasih, Faj!" ucap Anggita sesaat setelah turun dari motor Fajar. "Masuk dulu, yuk!" pinta gadis itu sejenak menoleh ke arah rumahnya.
Fajar menggeleng pelan.
"Aku langsung pulang aja yah, Ta."
Anggita mengangguk tanpa ragu. Tatapannya mengedar ke sekeliling kompleks yang sepi.
"Kamu gak bakalan jauhin aku gara-gara omongan tadi kan, Ta?"
Gadis itu hanya tersenyum. Enggan bereaksi berlebihan akibat perasaan canggung yang tengah melanda keduanya. Namun, senyuman itu perlahan lenyap ketika matanya menangkap sosok tak asing yang tengah duduk di atas sebuah motor, di bawah pohon beringin tepi jalan yang letaknya tak jauh dari rumah Anggita. Matanya memicing mencoba mengamati lebih jelas, takut-takut itu hanya sekelebat bayangan yang muncul dari pikirannya saja.
Melihat tingkah Anggita, Fajar menolehkan kepalanya ke arah yang sama. Namun, ia tak menemukan apa pun selain kekosongan. Ia kembali memandang ke arah Anggita yang kini tengah mengulum bibirnya.
"Aku pulang yah, Ta. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Fajar berlalu pergi. Dengan enggan, Anggita membuka gerbang rumahnya meski sesekali menoleh ke arah pohon beringin dan jalan raya, berharap sosok itu bukanlah khayalannya semata. Namun, keberadaannya menghilang dalam sekejap mata.
"Itu motor Gilar, kan?"
Ingatannya terus ia paksa untuk mengumpulkan informasi sedetail mungkin. Tak mungkin ia lupa motor bebek merah milik Gilar yang lebih pantas di pakai murid teladan, bukannya ketua geng motor. Motor yang pernah menjadi saksi dirinya pernah duduk di belakang Gilar, memandangi punggung lelaki yang tengah dirindukannya. Menyelinap dalam malam dengan rasa bahagia juga kekhawatiran.
Ia yakin penglihatannya tak salah. Ia duduk di kursi beranda rumahnya setelah mengucapkan salam dengan cara berteriak. Ia rogoh ponsel dari saku tas depannya. Menekan-nekan layarnya beberapa kali, kemudian mendekatkannya ke telinga.
Namun, hanya suara operator wanita yang terdengar kemudian. Berulang kali ia mencoba menghubungi nomor yang sama, hasilnya tetap tak ada jawaban.
"Kamu di mana, Gilar?" lirihnya kemudian.
***
Sebuah motor bebek melaju kencang menembus jalanan yang padat merayap. Seolah tak kenal takut kematian, ia berhasil menyalip antrean di lampu merah. Beberapa teriakan yang di tunjukkan padanya di abaikan begitu saja. Laju motor semakin kencang tatkala berbelok ke arah kompleks perumahan yang sepi. Sepanjang sisi jalan ditumbuhi pepohonan rindang, rimbunnya menutupi jalanan dari cahaya matahari yang terik.
Motor terhenti di sebuah rumah berlantai dua, di mana halamannya di penuhi kursi-kursi kayu duduk yang berdiri tak beraturan. Tepat di samping rumah itu, ada peralatan bengkel motor lengkap tertata di sana. Ada seorang lelaki berkaus putih polos dengan celana selutut tengah mengotak-atik motor yang entah punya siapa.
"Sampurasun (permisi)!" seru Gilar yang baru turun dari atas motornya.
Lelaki itu menoleh. Ada rokok terselip di pinggiran bibirnya. Ia tersenyum dan melambai ke arah Gilar sejenak, sebelum kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada sang motor yang tinggal kerangkanya saja.
Ia berjalan ke arah rekan-rekannya yang serempak melambai dan menjawab 'rampes (silakan)'. Gilar duduk di kursi panjang samping lelaki berambut kribo yang tengah asyik bermain catur. Papan catur yang memisahkan ia dan lawannya berada di sebuah meja bundar berbahan kayu. Mirip seperti kerangka ban namun berukuran lebih besar. Sudah ada beberapa bidak tergeletak di luar arena.
"Yes! Eleh siah (kalah kamu)!" seru lelaki berambut kribo itu girang. "Gimana si Anggita? Aman?" tanyanya sembari menoleh sejenak ke arah Gilar.
"Dia banyak yang jaga kok, Gus!" sahut Gilar enggan.
Lelaki berambut kribo itu bernama Agus, sekaligus pemilik rumah berlantai dua yang di huni olehnya dan Ayahnya. Tempat yang biasa digunakan untuk kumpul-kumpul sekaligus menimba ilmu per-motor-an kepada ahlinya, Mang Parto, yang tadi sudah di sapa Gilar lebih dulu.
"Rekan-rekan si Erik udah minta maaf. Gimana jadinya? Kalau membalas langsung ke si Rangga, kamu siap di DO? Dia bukan orang biasa, Dango. Bapaknya pasti tak akan tinggal diam!" cerocos lawan main Agus yang sedari dari sibuk menepuk jidat karena selalu di kalahkan, Dika.
"Si Rangga urusan gue! Kalian gak usah terlibat lebih jauh. Gue gak mau urusan pribadi gue malah nyeret kalian!"
Gilar merogoh ponsel dari saku celananya. Menekan-nekan layar ponsel dengan wajah serius. Agus dan Dika memperhatikannya dengan saksama. Sesekali saling berpandangan dengan hanya melontarkan isyarat bibir setengah berbisik.
Ponsel itu ia dekatkan ke telinga. Dua ujung jarinya menekan-nekan meja saat menunggu panggilannya terjawab.
"Lo di mana? Gue mau ngomong!" ujar Gilar setengah geram. Satu tangannya kini terkepal erat.
Agus dan Dika saling melirik.
"Oke! Gue ke sana!"
Gilar bangkit dari duduknya, masih dengan menempelkan ponsel di telinga.
"Gue sendirian, ****!" teriak Gilar berang.
Ia masukkan ponsel itu kembali ke dalam saku. Agus buru-buru bangkit menghadang langkahnya, begitu juga Dika yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Lo mau ketemu dia sendirian?" tanya Agus khawatir.
__ADS_1
"Iya. Gue tahu dia maunya gue! Kalian gak usah ikut campur!" Gilar melotot.
"Kita gak akan ikut campur. Tapi, lo harus tahan emosi jangan kayak waktu itu. Kekerasan gak akan mempan buat orang bossy kayak si Rangga! Dia bisa balas dengan cara yang lain, Dang!" timpal Dika sembari menepuk pundak Gilar perlahan.
Gilar menepis. Wajahnya masih penuh amarah.
"Tenang aja. Gue tahu cara ngadepin orang kayak dia!"
"Bukan pakai kekerasan!" Agus mengingatkan.
"Gue tahu!" Gilar yakin.
"Jangan hancurin hidup lo gara-gara ngadepin seorang pengadu kayak dia. Dia itu lemah secara mental, tapi tampak kuat karena kekuasaan orang tuanya. Bocah kayak gitu tuh di sebutnya anak manja!" timpal Agus kembali sok bijak, "kata Mang Parto."
Dika cekikikan, membuat Agus yang tadinya serius ikut-ikutan tertawa. Gilar menoleh ke arah keduanya dengan tersenyum kecil.
"Makasih. Udah ngingetin gue siapa tuh bocah!"
Gilar menaiki motornya lagi. Beberapa kali menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Meredam emosinya yang semula sudah menumpuk hingga membuatnya rela menerobos kemacetan tanpa takut akan keselamatan dirinya sendiri.
***
"Gue cuma mau Anggita! Itu aja. Gak banyak kok!"
Kedua tangan Gilar terkepal erat. Wajahnya jelas geram semenjak bertemu muka dengan Rangga di sebuah kafe bernuansa klasik itu. Keduanya duduk berhadapan dekat pintu masuk, menghadap ke arah jendela yang menampilkan jalan besar lalu lalang kendaraan.
Pelayan yang datang menjeda obrolan keduanya. Meletakkan masing-masing segelas minuman dingin berwarna hitam untuk Rangga dan putih untuk Gilar. Rangga menyeringai sesaat sebelum menyeruput minumannya. Ia berhasil membuat singa yang ditakuti kini takluk di hadapannya.
"Harusnya lo dapetin dia dengan cara yang lebih gentle!" timpal Gilar.
Harusnya sejak detik pertama mereka bertemu, Gilar sudah melayangkan kepalan tangannya ke muka lelaki itu. Tapi, ia tahu bahwa hal itu tak akan pernah menyelesaikan masalahnya dengan Rangga. Lelaki satu ini tidak akan pernah sadar jika di ingatkan dengan kekerasan. Tidak! Rangga hanya bisa di taklukan dengan cara yang lebih halus dan cerdik.
"Cara lo kemarin, malah bikin Anggita lebih gak suka sama lo. Dia pasti udah nyadar kalau lo dalangnya, kan?" terka Gilar meski tak yakin.
Rangga bermuram durja. Wajahnya mengeras membuat emosinya dapat terlihat jelas. Beberapa kali berdecak sebal sembari menoleh ke sana ke mari tak jelas. Gilar tersenyum kecil. Gertakannya membuat lelaki itu kalang kabut.
"Erik di suruh sama lo!" terka Gilar kembali.
Rangga mendengus.
"Terserah lo deh! Gue jelasin apa pun gak bakal bikin lo percaya kalau itu bukan gue!"
"Awas aja kalau lo ngadu sama Bokap lo! Dasar anak manja!"
Rangga terdiam kelu. Gilar menyeringai penuh kemenangan. Melawan Rangga memang bukan dengan kekerasan, melainkan menjatuhkan mentalnya yang hanya sebutir jagung. Sikap sok bossy-nya di sekolah hanya topeng rapuh yang ia ciptakan sendiri dengan membanggakan diri sebagai anak seorang Kepala Sekolah.
Tak lebih dan tak kurang, Rangga hanya anak remaja biasa seperti dirinya yang juga memiliki ego tersendiri. Tapi, sikap Rangga seperti itu membuatnya seolah remaja paling kuat yang tak bisa di kalahkan siapa pun. Membuat sosoknya amat di segani dan malah membuatnya menjadi si bossy bermental kertas.
Rangga menggebrak mejanya keras. Dentumannya membuat semua mata kini mengarah padanya.
"Gue bukan anak manja!" teriaknya berang.
Senyuman Gilar semakin tersungging lebar.
"Kalau lo bukan anak manja, berhenti banggain diri punya bokap Kepala Sekolah!"
Rangga memandangnya tajam.
"Kalau lo mau mau tahu, tindakan kayak gitu tuh di sebutnya manja. Pengecut! Kalau lo pengen lawan gue, gunain otak sama kekuatan lo sendiri. Bukannya ngadu ke bokap! Manja lo! Laki bukan, lo?"
Gilar menandaskan minumannya. Meneguknya secara penuh. Kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Namun, langkahnya terhenti setelah tiga langkah. Ia menoleh ke arah Rangga yang sedang memukul meja karena geram.
"Jangan pernah berani bikin Anggita dalam bahaya lagi. Karena cuma hari ini lo bisa lolos dari tinju gue! Ke depannya, kalau lo berani kayak gini lagi, gue jamin bakal bikin lo ngilang selamanya dari muka bumi. Inget itu!"
Gilar melangkah pergi meninggalkan kafe. Tanpa menoleh lagi ke arah Rangga yang tengah memandang kepergiannya dengan geram. Tanpa pikir panjang, ia lemparkan gelas yang masih terisi minuman di atas mejanya ke sebarang arah. Pelayan yang melihatnya hanya bisa terpaku. Gelas bekas Gilar pun ikut menjadi korban selanjutnya, terlempar ke arah kaca hingga menciptakan retakan besar.
"Sial! Awas lo, Gilar!" teriak Rangga berang.
***
__ADS_1
Setengah berlari Anggita menuruni tangga rumahnya. Membuat Bu Lala berseru memanggil namanya meski hanya di gubris dengan senyuman dari Anggita. Gadis itu terus melangkah dengan kecepatan penuh menuju ke luar rumah.
"Gilar!" serunya setibanya ia di depan gerbang rumahnya.
Lelaki yang tengah duduk di atas motor itu menoleh ke arahnya dengan tersenyum. Sekuat tenaga Anggita menahan diri untuk bersikap tak acuh. Pertikaian keduanya tempo hari masih membekas di ingatannya, membuatnya begitu malu dan kesal di saat bersamaan untuk berhadapan dengan Gilar seperti ini.
"Hai, Ta! Ayahmu ada?" tanya Gilar kemudian.
Kening Anggita mengerut.
"Ada ...," jawabnya enggan.
"Lagi sibuk gak beliaunya?"
Anggita terkekeh.
"Lagi bantu Ibu milah-milah pesanan buat di kirim sore ini. Kenapa emang?"
"Oh. Kalau gitu gak apa-apa aku ajak kamu jalan kaki?"
"Jalan kaki?"
"Iya! Keliling komplek rumah kamu aja. Jalan sehat, Ta."
Mata Anggita mengerling. Ia tak tahu harus bereaksi apa atas ajakan tak terduga dari Gilar. Dengan enggan iya mengangguk pelan. Sejenak berbalik ke arah rumah untuk berpamitan. Kemudian muncul kembali ke hadapan Gilar dengan tambahan jaket pink melekat di tubuhnya.
"Ayo!" ajak Anggita.
Gilar menyelidik, "jaket si Randi di kemanain sama kamu, Ta?"
"Di kasih ke Ayah, Gil. Kenapa emang?"
Gilar tertawa terbahak.
"Tadinya aku mau minta."
Anggita ikut tertawa. Keduanya berjalan beriringan di sepanjang jalan Komplek tempat Anggita tinggal. Melangkah tak tentu arah dan tujuan, namun tak hentinya mengobrol dan tertawa bersama. Seolah pertengkaran terakhir antara keduanya tak pernah terjadi sebelumnya.
"Lukanya gimana, Ta? Masih sakit?"
Anggita menggeleng.
"Cuma lecet dikit doang kok. Sembuhnya juga cepet!"
Melihat sikap Gilar yang sudah kembali melunak, Anggita lega bukan main. Tadinya ia ingin melemparkan begitu banyak pertanyaan yang menggelayut di pikirannya beberapa hari ini. Namun, ia tak ingin merusak suasana bahagia yang tengah menyelimuti keduanya. Biarlah semua itu berlalu, pikir Anggita. Toh Gilar baik-baik saja meskipun mendapatkan skorsing dari pihak sekolah. Di datangi olehnya merupakan kejadian langka yang tak mungkin ia rusak begitu saja. Ia harus menikmati setiap momen manis yang selalu datang tiba-tiba. Karena bisa jadi momen pahit akan datang pula secara tiba-tiba.
"Kamu gak penasaran siapa dalangnya, Ta?" tanya Gilar sembari membalikkan badannya menghadap Anggita. Berjalan mundur sembari memandang gadis itu lekat.
"Enggak tuh! Kalau tahu, takutnya malah pengen balas dendam."
Anggita ingin sekali tahu. Bukan! Ia ingin memastikan dugaannya. Ini semua ulah Rangga, kan? Tapi, tidak! Ia tidak ingin membahas hal tersebut di sini. Nikmati momen manis ini dan bicarakan hal yang indah saja. Bisa, kan?
"Rencananya kamu mau ngapain aja selama di skorsing?" tanya Anggita mengalihkan topik pembicaraan.
Gilar mengangguk pelan.
"Belajar modifikasi motor sama Mang Parto!"
"Mang Parto itu siapa?"
Panjang lebar Gilar bercerita tentang kegiatannya menjadi ketua geng motor. Ia kali ini yakin harus menceritakannya pada Anggita, terlebih gadis itu telah memandang buruk aktivitasnya. Padahal, tidak semua buruk. Yah! Tidak semua! Ia harus ceritakan hal-hal baik apa saja yang biasa ia lakukan dan akhirnya ia dapatkan. Setidaknya, pemikiran buruk Anggita terhadap aktivitasnya di geng motor perlahan terkikis. Harapnya.
Melihat gelak tawa Anggita sudah cukup mengobati amarahnya pada Rangga. Harapnya, setiap hari ia bisa menikmati gelak tawa gadis itu. Sepanjang waktu, sepanjang hari, ia ingin bersama Anggita.
"Gita!" seru Gilar saat Anggita hendak masuk ke gerbang rumahnya.
"Kenapa, Gil?"
"Aku sayang kamu."
__ADS_1