TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 27 PILIH AKU


__ADS_3

Sejenak Gilar termangu memandangi Desi yang berdiri tak jauh darinya yang tengah duduk di atas motor. Mengingat percakapan gadis itu dengan Fajar, Gilar hanya bisa memendam geram yang sama sekali urung ia lampiaskan. Ia sudah masuk ke dalam perangkap yang di rancang begitu apik oleh mereka. Tak mungkin baginya bertindak ceroboh lagi apalagi hanya mengandalkan emosinya.


Sebuah senyuman terurai di wajah Gilar. Gadis di hadapannya mengernyit kebingungan. Baru kali ia pacarnya tersenyum seperti itu tanpa alasan.


"Kak Gilar kenapa?" tanya Desi bingung.


Gilar hanya menggeleng. Menggerakkan sedikit kepalanya mengisyaratkan gadis itu agar naik ke atas motor. Motor merangsek perlahan keluar dari area parkir. Memasuki halaman sekolah dan keluar dari arah gerbang bersama motor lain.


Mata Gilar terpaku sesaat saat ada sosok Anggita berdiri tepat di depan gerbang sekolah. Kedua mata mereka saling berpandangan lama membuat laju motornya melambat spontan. Tak ada kata maupun sapaan, hanya tatapan mata yang berlangsung beberapa saat saja.


Desi yang duduk di belakangnya beruntung sedang mengalihkan pandangan ke arah lain. Menyapa teman-temannya yang kebetulan berpapasan.


Mata Gilar yang pertama kali berpaling, sedang Anggita sengaja memandangnya lebih lama demi memantapkan hatinya. Melihat motor lelaki itu melaju semakin jauh, tubuh Anggita terasa lunglai. Langkahnya terhenti hanya demi memandangi Gilar dan Desi menghilang dari pandangannya.


"Aku gak bisa lupain kamu, Gilar." Lirih batin Anggita.


***


Tak ada yang berubah seiring hari berganti hari. Anggita masih dalam perasaan sakit yang sama. Ia menutup celah bahkan bagi Fajar sekali pun untuk sekedar menemaninya. Gadis itu lebih sering menghabiskan waktu bersama Gladis yang dengan antusias menemaninya.


Tetap diselingi pertengkaran kecil antara Gladis yang masih saja kesulitan mendapatkan perhatian dari Randi. Hanya menjadi rahasia mereka, Gladis bisa menjaga privasi Randi dengan aman hingga hari ini. Sikap gadis itu yang seolah benar-benar tak tahu sedikit membuat kegusaran Randi akan mulut gosip Gladis perlahan menghilang.


Pemilihan ketua OSIS baru pun berlalu begitu cepat. Sudah jelas siapa yang akan menyandang predikat ketua OSIS selanjutnya, karena nyatanya tidak ada kandidat lain yang berani menantang Rangga. Tanpa di sangka, lelaki itu menyukai perannya menjadi bagian sebuah organisasi besar setiap sekolah itu. Dengan antusias keluar-masuk ruang Guru demi mendiskusikan jajaran anggota kabinet yang pantas menduduki jabatan penting di periode kepemimpinannya.


Anggita yang melihat pemandangan berbeda dari Rangga hanya bisa melongo keheranan, begitu juga Gladis. Keduanya hanya bisa terperangah kaget setiap melihat lelaki itu berlari ke sana ke mari mengunjungi tiap kelas hanya demi bercakap ringan dengan siswa lain.


Hingga suatu ketika, Rangga datang menghampiri Anggita selepas bel istirahat berbunyi. Gadis itu celingukan bingung. Bersikap penuh waspada sembari menggenggam tangan Gladis yang duduk di sampingnya.


"Kenapa? Gak usah bikin ulah deh! Udah jadi Ketua OSIS gak usah bikin onar!" Gladis sinis.


Anggita masih enggan bergeming. Memilih menunggu dari maksud lelaki itu tiba-tiba datang kepadanya lagi.


"Kamu mau jadi sekretaris OSIS, Ta? Aku gak punya kandidat yang tepat selain kamu. Kamu pintar. Aku butuh kemampuan kamu. Gimana? Aku harap kami gak nolak!" pintanya setengah memaksa.


Anggita mendengus kesal. Sikap lelaki bossy ini memang tak pernah berubah meskipun konteksnya berbeda jauh.


"Yakin cuma jadi sekretaris doang? Awas loh, Git. Entar kamu di apa-apain sama dia!" timpal Gladis memanas-manasi.


Sebuah pukulan melayang di ubun-ubun gadis itu yang berasal dari kertas yang tergulung di tangan Rangga. Lelaki itu memandangnya tajam.


"Suudzon terus pikiran kamu, Dis! Tobat sana! Gak malu sama kerudung! Huh?" timpal Rangga jengkel.


Gladis mencebik. Membalas perlakuan Rangga dengan mendorong perut lelaki itu hingga tubuhnya beringsut menjauh.


"Oke." Timpal Anggita tanpa ragu.


Gladia terbelalak. "Kamu yakin, Git?" tanyanya cemas.


Anggita mengangguk mantap tanpa mengatakan alasan apa pun. Rangga tersenyum puas. Menyerahkan selebaran kertas yang harus di isi oleh Anggita sebagai calon sekretaris OSIS yang akan di pimpinnya nanti.


Dari arah belakang, Fajar hanya bisa termenung kebingungan. Perubahan sikap Rangga yang sedikit tenang membuatnya kehilangan kata-kata. Meski sikap bossy lelaki itu tetap melekat dari setiap perkataannya.


Apalagi melihat Anggita yang seolah tak risi ketika Rangga berada dekat dengannya. Bahkan menyanggupi permintaan lelaki itu untuk menjadi sekretaris OSIS.


"Kamu yakin, Ta?" tanya Fajar setengah khawatir.


Anggita menoleh ke arahnya dengan tersenyum lebar.


"Yakin, kok. Lagian aku gak masuk ekstrakurikuler apa pun. Jadi kalau buat masuk OSIS kayaknya gak akan berat juga. Kalau kalian gimana? Udah nentuin mau masuk kegiatan apa selain belajar di sekolah?"


Gladis menggeleng mantap. "Aku jadi murid biasa aja deh. Males sok sibuk di luar kelas!"


"Saya lagi banyak kegiatan les di luar. Persiapan buat Ujian Nasional tahun depan." Timpal Randi tanpa ragu.

__ADS_1


"Ujian masih lama kali, Ran. Nyantai aja!" sela Gladis enteng.


"Sorry! Saya gak suka leha-leha kayak kamu!" ejek Randi.


Anggita terkekeh geli. "Kalau kamu, Faj?" tanyanya kemudian.


"Entahlah. Aku belum punya rencana apa pun."


***


"Randi!"


Mendengar namanya disebut, Randi malah mempercepat langkahnya. Semakin suara itu terdengar mendekat, Randi memilih mengabaikannya. Hingga langkahnya terhenti saat Gladis menghadangnya, berdiri dengan tangan telentang lebar. Randi terenyak.


"Kamu les di mana?" tanya Gladis penasaran.


Randi tersenyum kecil.


"Di rumah! Kenapa? Mau ikut?" tantang Randi. Semakin lama diekori Gladis membuat Randi menjadi terbiasa dengan gelagat gadis itu.


"Boleh?" timpal Gladis penuh harap.


Randi mendesah keras. Ia sudah menduga gadis itu akan begitu antusias dengan jawabannya.


"Enggak! Belajar masing-masing aja!" Randi menatap Gladis enggan.


Bibir Gladis mengerucut. Kecewa akan penolakan yang lagi-lagi membuat ia begitu sulit mendekat ke arah Randi. Setelah mengetahui penyakit lelaki itu, bukannya malah merekatkan kedekatan mereka, Randi malah sering menganggap keberadaan gadis itu tidak ada.


"Gimana sakit kamu? Enggak kerasa parah, kan?" Gladis menatapnya sendu.


Randi mencebik.


"Gak usah sok tahu! Keluarga saya Dokter semua." Timpal Randi ketus.


***


Sedari tadi Anggita hanya bisa menundukkan kepalanya, memilih memandang ke arah laptop yang ada di hadapannya. Memain-mainkan jemarinya menyentuh tombol-tombol keyboard secara sembarang. Seluruh tubuhnya mendadak mendingin, sesekali menoleh ke arah Rangga yang tengah berpidato di depan ruangan kelas itu.


Anggita duduk di sebuah kursi yang dekat ke arah pintu luar. Duduk di kursi paling sebelah kanan, paling dekat ke arah pintu. Sudah hampir satu jam ia lebih memilih ke arah depan, ke arah laptop, atau berpaling ke arah kanannya. Ia enggan menoleh ke arah samping kirinya. Bukan takut, melainkan gugup dan kebingungan.


Kedua kakinya yang berjuntai di bawah sana bahkan enggan berhenti mengentak ke lantai. Meski tak terdengar keras, namun tubuh atasnya sedikit bergetar karena gerakannya. Anggita tak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya yang berlebihan.


"Minggir, lo!" terdengar suara Rangga sedang memerintah dengan kasar. "Gue mau duduk sama sekretaris gue! Banyak yang mau gue bahas!" lanjut Rangga beralasan.


Anggita bergumam panik dalam hati. Berharap tak terjadi perdebatan panjang mengingat ini pertemuan resmi para anggota OSIS yang baru.


"Gak mau! Bawa kursi lagi aja sana! Duduk tuh depan si Anggita sekalian!" timpal sebuah suara yang berasal dari arah sampingnya.


Anggita hanya bisa menyembunyikan kernyitan bingung. Ia beranikan diri menoleh ke arah samping kirinya perlahan. Mendapati Gilar tengah duduk bersandar penuh ke kursi, dengan dua lengan bersilang di dada. Sementara Rangga berdiri dengan berkaca pinggang, memasang raut wajah segarang mungkin namun tak berhasil membuat Gilar patuh.


"Gak usah ribut kenapa, sih! Ini lagi rapat!" keluh Anggita setengah berbisik.


"Tuh! Dengerin!" timpal Gilar sembari menunjuk ke arah Rangga.


"Gue Ketua OSIS disini!" Rangga berang.


"Dan gue wakilnya!" timpal Gilar tanpa takut.


Anggita mencebik kesal. Memandang tajam ke arah dua lelaki yang kini sudah menjadi pusat perhatian. Alih-alih melerai, Anggita memilih bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah belakang dan duduk tepat di samping Yana yang tengah duduk sendirian. Lelaki berambut cepak itu hanya bisa terpegun ketakutan.


"Lo gak salah duduk, Git?" tanya Yana kemudian.


Anggita mendelik sebal. "Gak usah protes! Mereka gak bakalan ngapa-ngapain kamu!"

__ADS_1


Yana hanya mampu menelan ludah dalam-dalam. Apalagi ketika dua lelaki yang kini menjabat posisi penting di sana tengah memandangnya tajam.


"Aku pindah aja yah, Git. Dipelototin mereka tuh!" keluh Yana gusar.


"Gak usah! Nanti mereka capek sendiri melototin kamu." Timpal Anggita tak acuh.


Beruntung, sebuah suara ketukan mengalihkan perhatian mereka. Seorang lelaki berambut cepat dengan perut yang lebih menonjol ke timbang anggota tubuhnya yang lain memasuki kelas. Rangga yang tak punya pilihan buru-buru duduk di kursi bekas Anggita.


"Assalamu'alaikum!" sapa guru itu yang lebih akrab di panggil Pak Arif yang mengampu pelajaran Olahraga.


Seluruh siswa di dalam ruangan itu membalas sapaannya serentak.


"Wa'alaikum salam!"


Pak Arif melangkah dengan mantap menuju meja Guru, duduk di kursi dengan raut wajah garang yang biasa terpasang di wajahnya sepanjang hari. Guru yang terkenal tanpa ampun memberikan pelajaran Olahraga itu berhasil membuah suasana dalam kelas menjadi hening dan mencekam. Matanya mengedar ke sekeliling, seperti memindai satu demi satu anggota OSIS baru yang ada di ruangan itu.


"Saya Guru Pembina OSIS kalian." Sergap Pak Arif tanpa enggan. "Tugas pertama kalian adalah merancang program kerja tiap bidang masing-masing untuk satu periode ke depan. Yang akan di presentasikan besok di jam yang sama seperti hari ini."


Ada gemuruh kecil berasal dari bisik-bisik anggota OSIS lain. Meski terdengar samar, namun cukup memecah suasana mencekam.


"Apa ada pertanyaan?" tanya Pak Arif kemudian.


Seseorang mengacungkan tangannya tinggi. Membuatnya menjadi pusat perhatian seluruh mata yang ada di ruangan itu, kecuali Anggita yang sibuk memainkan jari-jemarinya di atas keyboard laptop. Ia sibuk sendiri tak seperti yang lain.


"Apakah ada jumlah maksimal program kerja yang harus di buat, Pak?"


Pak Arif tersenyum mengerti. Seolah senang akan pertanyaan yang baru saja terlontar dari orang itu.


"Maksimal lima program kerja saja. Karena jika terlalu banyak, apalagi jika jadwal proker tiap bidang bentrok, itu bisa menghambat proker lain. Jangan lupa juga tentukan waktu yang sesuai, tidak terlalu dekat dengan proker sebelumnya agar kalian bisa memaksimalkan pelaksaannya nanti di lapangan."


Diskusi yang langsung di hadiri oleh Pak Arif hanya berlangsung beberapa menit saja. Setelah itu, para anggota OSIS mulai membentuk kelompok bidangnya masing-masing. Mulai membuat gaduh kelas dengan suara-suara diskusi mereka sendiri.


Kecuali kelompok anggota utama OSIS yang penuh dengan keheningan. Anggita yang duduk di samping Rangga memilih menyibukkan diri mengobrol dengan bendahara OSIS yang masih seangkatan dengannya.


Gadis berkerudung itu bernama Amel, siswa kelas XI IPS 1 berpipi tembam dengan kaca mata bundar yang tertempel di depan kedua matanya. Kedua gadis itu asyik saling berbagi informasi pribadi yang menjadi pusat perhatian dua lelaki di hadapan mereka yang duduk saling memunggungi.


"Kalian kayak Tom and Jerry!" tukas Amel sembari memandang Gilar dan Rangga bergantian.


Anggita bergumam kecil. "Tom and Jerry? Kok bisa?" tanya Anggita penasaran.


"Keliatan gak akur tapi barengan terus. Yang kayak gitu tuh ciri-ciri sahabat sejati, tahu!" timpal Amel enteng.


Spontan Amel dan Anggita terkekeh. Gilar dan Rangga saling berpandangan risi.


"Dan kamu kayak tikus yang ceweknya, Git!" sambung Amel sembari mengalihkan pandangan ke arah Anggita yang terpegun. "Jadi bahan rebutan dua cowok itu!" sambungnya sembari menunjuk ke arah Gilar dan Fajar.


Sontak saja Anggita kikuk di buatnya. Tak tahu harus bereaksi apa selain tersenyum kecil. Sementara Rangga dan Gilar memilih kembali saling memunggungi dengan memasang tampang risi.


“Kalau di suruh milih, kamu mau pilih siapa, Git? Gilar atau Rangga?” pertanyaan Amel sontak membuat ketiga pasang mata mereka memandang ke arah Amel.


Anggita terpegun. Bibirnya mendadak kelu meski hanya sekedar untuk tersenyum kecil.


“Jawab, Git!” timpal Gilar tiba-tiba.


“Iya. Jawab aja! Siapa yang kamu pilih!” tambah Rangga memprovokasi.


Anggita mengulum bibirnya dalam-dalam. Sembari memandang ke arah dua lelaki di hadapannya dengan tatapan berang. Kalau saja dua lelaki itu bisa ia lumatkan menjadi makanan, sudah ia lakukan sejak tadi.


Sementara kedua lelaki di hadapannya malah membalas tatapan Anggita dengan raut wajah penuh harap. Mereka sudah bersikap siaga akan apa yang hendak Anggita utarakan nanti.


Tiba-tiba Anggita menggebrak meja dengan keras. Amel terenyak kaget. Gilar dan Rangga sama-sama memasang wajah ketakutan.


"Gak usah banyak becanda! Cepet beresin rapatnya, Rangga! Atau aku ngundurin diri sekarang juga dari jabatan ini!" ancam Anggita geram.

__ADS_1


__ADS_2