
"Jangan marah gitu dong, Git!" seru Rangga ketakutan.
"Tinggal jawab aja apa susahnya sih, Git." Timpal Gilar menantang.
Rangga menyikut tubuh lelaki itu dengan keras. Menatap tajam ke arahnya agar lelaki itu diam saja. Ia tak ingin kehilangan Anggita di hari pertamanya menjabat Ketua OSIS. Susah payah ia membulatkan keberanian untuk mengajak gadis itu yang ia kira akan menolak permintaannya.
"Gak usah, Git. Gak usah dengerin mereka. Kita kembali rapat aja!" Rangga melerai situasi.
Amel tersenyum tanpa perasaan bersalah. Menyaksikan langsung perseteruan Tom and Jerry sesuai julukannya untuk Gilar dan Fajar memang lebih mengasyikkan. Apalagi sosok Anggita begitu mampu membuat kedua lelaki itu bertengkar hanya karena masalah sepele.
Rapat perdana OSIS hari itu berakhir menjelang petang. Anggita duduk di halte dekat sekolahnya menunggu bus datang. Sembari mengunyah roti bundar yang sempat ia beli di kantin demi mengganjal perutnya yang sudah keroncongan. Sesekali mendongakkan kepala takut-takut bus terlewat dari perhatiannya.
Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di depan halte. Anggita terdiam kebingungan. Saat kaca mobil terbuka, Anggita memilih langsung berpaling.
"Aku anter kami pulang, Ta! Ayo naik!" teriak Rangga dari dalam mobil.
Anggita menggeleng mantap.
"Gak usah! Aku pulang naik bus aja!" balasnya enggan.
"Nanti kamu kemaleman kalau nunggu bus!" kilah Rangga masih memohon.
"Gak usah! Kecuali kalau kamu mau aku berhenti jadi sekretaris!" ancam Anggita kemudian.
Rangga bergumam kesal meski Anggita tak mendengarnya. Tentu ia tak ingin membiarkan ancaman itu terjadi. Mobil hitam melaju meninggalkan halte. Anggita bernapas lega.
Baru beberapa saat Rangga menghilang, sebuah motor yang tak asing di ingatannya berhenti tepat di depan halte. Mendadak napas Anggita sesak. Tubuhnya mendingin seketika. Hanya mampu memandang Gilar lekat karena begitu enggan berpaling darinya. Anggita rindu.
"Pulang naik bus, Git?" tanya lelaki itu kemudian.
Anggita mengangguk pelan. Sekuat tenaga mencoba bersikap senormal mungkin agar lelaki itu tak mengenali perasaan rindu yang tengah menyelusup di hatinya. Gilar milik Desi, pikirnya terus menerus.
"Mau aku anter, gak?" tanya Gilar kemudian sembari memandanginya begitu dalam.
"Mau!" jawab Anggita dalam hati. Namun, bibirnya mendadak kelu enggan mengatakan kejujuran di hatinya. "Tidak!" pikirannya tiba-tiba beralih. Anggita risau harus menjawab apa.
"Terserah." Timpal Anggita pura-pura tak acuh.
Gilar terpegun sejenak. Memilih mengalihkan pandangan ke arah depannya dengan mata kosong. Sementara Anggita, merutuk kebodohannya karena lagi-lagi menunjukkan sikap gengsi di hadapan Gilar.
"Dia milik Desi," gumamnya dalam hati mengingatkan. Bahwa apa yang dilakukannya sudahlah benar. Tidak mungkin ia menerima ajakan lelaki yang sudah dimiliki orang lain. Ia juga enggan menolak karena jerit isi hatinya sebenarnya ingin berboncengan dengan Gilar. Anggita benar-benar rindu lelaki itu!
"Tunggu di sini!" seru Gilar kemudian.
Lelaki itu melajukan motornya kembali, meninggalkan Anggita di halte dengan perasaan kecewa, menyesal, dan kebingungan.
"Ngapain aku nungguin dia? Dia sendiri malah kabur! Cih! Dasar cowok PHP!" rutuknya kesal.
Tak lama bus datang. Anggita langsung menaikinya dengan perasaan kesal. Duduk di kursi paling belakang bus yang kebetulan kosong. Pandangannya ia alihkan langsung ke arah luar jendela. Ketika di dapatinya Gilar setengah berlari dengan kepala mendongak ke arahnya.
Sejenak Anggita terpegun kebingungan. Belum sempat ia melontarkan tanya, lelaki itu malah lari ke arah depan dan muncul tiba-tiba di dalam bus. Anggita bersikap waspada ketika lelaki itu berjalan santai menuju arahnya tanpa senyuman sedikit pun.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya lelaki itu sambil menjulurkan jari telunjuknya ke arah kursi sisi Anggita.
Anggita mengangguk enggan. Lelaki itu beringsut duduk di sampingnya. Sangat berdekatan sampai kedua bahu mereka dapat bersinggungan. Jantung Anggita berpacu lebih cepat, membuatnya lebih memilih memalingkan wajah kembali ke arah jendela ketimbang memandangi sosok yang tengah ia rindui dan tangisi di waktu bersamaan.
Bus mulai melaju perlahan. Menyisakan kecanggungan di antara Anggita dan Gilar yang masih sama-sama bungkam. Seiring bahu mereka yang semakin beradu, satu persatu kenangan kebersamaan singkat itu kembali menghangatkan hati mereka yang sama-sama dingin.
"Aku kangen kamu, Gita."
Kepala Anggita menoleh. Memandang ke arah Gilar yang tengah terpaku menatap kosong ke arah depan. Memastikan telinganya tak salah mendengar suara yang barusan terdengar.
"Aku kangen."
Gilar menoleh ke arahnya. Matanya sayu. Suaranya mirip lirihan orang sakit yang kehabisan napas. Anggita hanya terpegun bingung. Telinganya tak salah dengar. Bahkan matanya ikut menyaksikan pengakuan Gilar yang lagi-lagi merobohkan niatnya untuk melupakan.
"Kangen Desi maksudnya?" kilah Anggita mengingatkan.
Kepalanya berpaling agar Gilar tak menyadari raut kekecewaannya. Memang siapa dia? Teman saja, bukan. Pacar apalagi. Mantan pacar, bukan banget!
Tak terdengar suara Gilar membalas ucapannya. Anggita bimbang harus menoleh ke arah lelaki itu lagi untuk memeriksa keadaannya. Atau memilih terus berpaling dan melupakan semua perkataan lelaki itu? Menganggap semuanya hanya sekedar bualan.
Anggita terkesiap tatkala tiba-tiba kepala Gilar muncul di hadapannya. Mengarah ke jendela dengan muka menyelidik. Gadis itu spontan menjauhkan tubuhnya lebih ke arah belakang.
"Liat keluar mulu! Ada apaan sih?" protesnya kemudian.
Degup jantung Anggita semakin berdetak kencang. Wajah Gilar kini tepat berada di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat. Matanya mengedar sebarang memecah rasa gugup yang melandanya. Mencoba berpaling dari tatapan lelaki itu yang berhasil membuat perasaannya goyah.
Beruntung, Gilar mengembalikan posisi kepalanya seperti sedia kala. Sehingga ia dapat mengatur ulang napasnya yang tanpa sadar ia tahan tadi. Gilar membuat dirinya salah tingkah lagi. Dasar cowok PHP!, rutuk batin Anggita berang.
"Kamu laper gak, Git?" tanya Gilar tiba-tiba.
"Aku udah makan roti barusan." Timpal Anggita enteng.
"Pengen makan bakso, Git. Aku gak suka roti. Gak enak! Gak menantang buat di makan!"
"Oh!" balas Anggita mencoba tak acuh.
"Roti itu lembek. Takut bikin tubuh aku ikutan jadi lembek." Kecoh Gilar.
Mata Anggita memicing menatapnya.
__ADS_1
"Kan gak lucu kalau Ketua Geng motor tiba-tiba berubah kemayu gara-gara makan roti." Kilah Gilar.
"Kamu ngomong apaan sih?" protes Anggita tak mengerti.
"Roti, Git. Aku lagi ngomongin roti!" timpal Gilar antusias.
"Dasar ngaco!" Anggita kesal.
"Kalau kamu gak apa-apa makan roti. Biar pinter!" Gilar enggan menyudahi obrolan.
"Udah pinter kok!"
"Itu pasti gara-gara makan roti."
"Apa hubungannya roti sama pinter?"
"Gak ada!"
Anggita mendesis kesal. Ia layangkan sebuah pukulan tepat di bahu Gilar hingga membuat lelaki itu meringis dan tertawa di waktu bersamaan.
"Tapi, roti gak bikin kamu jadi lemah yah, Git? Pukulan kamu keras juga. Mantan petinju, yah?" Gilar menggodanya lagi.
"Bukan! Aku keturunan Muhamad Ali! Puas?" Anggita geram.
"Pantesan cantik."
Kening Anggita mengerut. "Hubungannya Muhamad Ali sama cantik?"
"Gak ada!"
Sebelah tangan Anggita terkepal siap melayangkan tinjunya lagi. Gilar sudah bersikap waspada menerima serangannya. Namun, gadis itu malah menatapnya dengan tajam. Gilar terkekeh. Membuat Anggita urung melayangkan tinjunya. Memilih ikut tersenyum meski wajahnya ia palingkan ke arah lain.
"Aku kangen kamu, Anggita."
Mata Anggita mendelik ke arah Gilar. Lelaki itu hanya diam termangu membalas tatapannya.
"Turun sana! Arah rumah kita beda!" bentak Anggita.
Gilar tersenyum kecil.
"Maaf, yah. Jaga diri kamu baik-baik. Hati-hati kalau deket sama cowok. Mereka semua brengsek, Git!"
"Kamu juga brengsek, dong?" Anggita menantang.
Gilar terdiam sejenak.
"Kayaknya sih gitu." Kilah Gilar. "Aku turun pas kamu turun aja, yah. Kalau tiba-tiba ada yang gangguin kamu, nanti biar aku yang ngadepin." timpalnya bangga.
Bukan Anggita enggan menanggapi serius kalimat rindu itu, ia hanya takut Gilar tiba-tiba kabur lagi. Lelaki itu seolah tak suka jika perasaan mereka selaras. Hanya mau menunjukkan perasaan sendiri tanpa mau peduli perasaan Anggita sebenarnya seperti apa.
***
Anggita berjalan enggan diikuti Gilar di sampingnya. Daripada menjatuhkan pandangan ke arahnya, Anggita memilih menatap langkah kakinya yang selalu selaras dengan Gilar. Gadis itu hanya mampu menggigit bibirnya gemas. Hatinya bergemuruh riang namun juga kesakitan.
Gilar milik Desi!
Kalimat itu terus saja terngiang di pikirannya meski saat ini Gilar tengah bersamanya. Bersikap biasa saja seolah tak pernah terjadi hal yang serius di antara mereka. Seolah Gilar lupa bahwa Anggita sempat mengutarakan perasaannya juga. Gilar seolah tak merasa bersalah telah mengutarakan rindunya beberapa saat yang lalu.
"Gak akan ada yang marah nih tiba-tiba nganterin aku? Nanti ceweknya ngamuk lagi!" sindir Anggita membuka percakapan.
Gilar bergumam tak jelas. Tetap mengimbangi langkahnya yang kian mendekat ke arah rumah. Jalanan yang sama yang pernah mereka lalui beberapa hari yang lalu, dengan keadaan yang berbeda. Dengan perasaan berbeda pula.
"Gak apa-apa. Dia yang suka sama aku kok!" timpal Gilar enteng.
Anggita menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Mencoba menyelidik bahwa Gilar serius dengan perkataannya barusan.
"Kalau udah pacaran, berarti kamu juga suka sama dia." Terka Anggita dengan perasaan berkecamuk.
Gilar menyeringai. Kakinya kini menendang-nendang udara seolah ada bola di depannya.
"Yang pacaran emang harus saling suka, yah?" Gilar berkilah.
Anggita mengangguk ragu. Tak yakin akan tanggapannya, juga bingung akan pertanyaannya.
"Kalau cuma dia yang suka tapi akunya enggak, itu berarti gak bisa pacaran, yah?" Gilar berdalih.
Anggita terpegun. Bingung harus menanggapi pertanyaan ambigu Gilar seperti apa.
"Gak tahu tuh! Aku gak pernah pacaran!" Anggita memilih tak acuh.
"Aku sering di ajak pacaran, Git." aku Gilar. "Aku terima aja karena gak bisa nolak. Apalagi kalau ceweknya tajir. Lumayan, bisa jajan gratis!"
Anggita menghentikan langkahnya. Menatap Gilar dengan wajah tak percaya akan pengakuannya.
"Kamu sebenernya mau ngomong apa sih, Gilar? Aku pusing tahu jawabnya!" Anggita kesal.
"Aku cuma mau ngaku aja apa yang aku alami."
"Ngaku sama aku? Buat apa?"
"Buat belajar jujur, Git."
__ADS_1
"Untungnya buat aku apa? Jujur sama pacar kamu aja sana! Jangan sama aku! Bikin aku salah paham terus! Tahu?"
Anggita melangkahkan kakinya melewati Gilar dengan perasaan bingung. Ia lagi-lagi terperangkap dengan perasaan harap karena Gilar berhasil merobohkan rencananya untuk melupakan Gilar.
"Aku cuma mau jujur sama kamu aja, Git."
Terdengar suara Gilar dari arah belakangnya. Melangkah mengikuti Anggita namun enggan mengimbanginya.
"Aku gak butuh kejujuran kamu kok! Gak ada untungnya juga buat aku!" Anggita geram.
"Biar kamu tahu seberapa brengseknya aku!"
Langkah Anggita kembali terhenti. Tubuhnya berbalik menghadap Gilar yang tepat berada di belakangnya. Lelaki itu menunduk seperti ketakutan tatkala Anggita menatapnya.
"Buat apa juga kamu jujur sama aku? Pengen di ceramahin! Sorry! Aku bukan ustadzah!" teriak Anggita kesal.
Kepala Gilar mendongak perlahan.
"Kamu gak suka aku jujur sama kamu, Git?"
Anggita mendesis. "Buat apa kamu jujur sama aku? Huh! Pamer?"
"Aku mau nguji kamu, Git."
"Nguji? Kamu pikir aku ini apa? Huh!"
"Orang yang aku sayang."
Anggita terdiam kelu.
"Hubungannya sama nguji aku?"
"Aku mau tahu reaksi kamu kalau tahu gimana brengseknya aku."
Hening. Amarah Anggita perlahan meluruh. Ia kini mulai paham sedikit demi sedikit sikap ambigu lelaki itu padanya selama ini. Lebih banyak menghindar dengan banyak berkilah.
"Ini alasan kamu gak bisa pacaran sama aku? Karena kamu ngerasa jadi cowok brengsek?" terka Anggita.
Gilar menunduk pilu. Anggita memang cerdas memahami perasaannya.
"Seberapa banyak kejujuran yang mau kamu kasih tahu ke aku?" tanya Anggita penuh harap.
Gilar mendongak dengan wajah serius.
"Semua! Gak cukup sehari buat nyeritainnya, Git."
"Obrolan kita seminggu yang lalu, itu jujur atau bohong?"
"Jujur, Git. Hal yang baiknya aja."
Anggita memejamkan mata dalam. Pantas saja ia merasa begitu asyik mendengarkan cerita Gilar. Bahkan isi pikirannya terus menerus menganggap lelaki itu adalah Ketua Geng motor berhati malaikat.
"Aku harus pulang sekarang. Ibu sama Bapak pasti khawatir." Ungkap Anggita putus asa.
"Gak apa-apa, Git. Kita lanjut besok lagi aja ngobrolinnya."
"Kamu gak akan kabur lagi?" aku Anggita ketakutan.
Gilar tersenyum kecil.
"Maaf. Kali ini aku gak akan kabur lagi kok!" janji Gilar.
"Yakin?" Anggita ragu.
Tiba-tiba Gilar beringsut mendekatinya. Merengkuh tubuh gadis itu dalam sebuah pelukan hangat. Anggita mematung kikuk. Jantungnya berpacu cepat. Hatinya terpingkal-pingkal bahagia.
"Aku janji gak akan kabur lagi, Anggita!"
Kedua tangan Anggita terkepal erat enggan membalas pelukannya. Menekan sekuat tenaga perasaan bahagia yang tengah melandanya. Ia tidak mau Gilar tahu betapa senangnya ia bisa bersama Gilar lagi. Ia rindu Gilar. Rindunya terobati dengan sebuah pelukan.
"Aku kangen kamu, Gita." Lirih Gilar terdengar di telinganya. Begitu lembut.
"Aku juga kangen kamu, Gilar. Tapi, kamu udah jadi pacar orang! Berarti aku orang ketiga, yah?" gumam Anggita kecewa.
"Yang penting aku sayangnya cuma sama kamu aja."
"Tapi, kamu pacaran sama cewek lain!"
Gilar melepas pelukannya. Kedua tangannya memegang bahu Anggita dengan erat. Memandangi gadis yang tengah menatapnya penuh ancaman.
"Kamu mau aku putus sama dia?"
Anggita tak bergeming.
"Terserah! Itu hak kamu!" timpal Anggita pura-pura tak acuh.
"Ok. Aku belum bisa putus sama dia sekarang, Git."
Anggita mencebik. Melepaskan kedua tangan Gilar dari bahunya.
"Cowok brengsek!"
__ADS_1
Gilar terkekeh.