
Malam itu Gilar masih asyik menyeruput kopi dan menyesap rokok bersama teman-temannya di rumah Agus. Sesekali tampak Mang Parto mondar-mandir dari dalam rumah lalu keluar rumah sembari memegang koran yang ia pilin sedemikian rupa, memukul-mukulnya ke punggung yang hanya di tutupi kaos oblong. Agus bilang Bapaknya lagi pusing mikirin nyamuk yang sudah di basmi, tapi gak mati-mati. Padahal baru minggu kemarin tim penyemprot disinfektan Komplek daerah itu datang.
Gelak tawa mereka baru berhenti menjelang tengah malam. Malam ini Gilar lagi-lagi menjadi satu-satunya orang yang tersisa di rumah Agus. Sang tuan rumah yang sudah terbiasa hanya membiarkan Gilar merebahkan diri dengan santai di sofa tengah rumah, berhadapan dengan televisi yang sedang menyala.
Agus duduk di kursi samping tempat Gilar tiduran. Menyesap batang rokok yang tinggal sisa setengah.
"Lo belum nembak si Gita?"
"Belum."
"Masih gak niat pacaran sama si Anggita?"
"Heueuh."
Agus melirik ke arah Gilar yang tengah menahan kepalanya dengan satu telapak tangan. Lelaki itu hanya termangu memandang televisi yang tengah menayangkan sinetron di saluran ikan terbang.
Selama mengenal Gilar, baru kali ini ia melihat lelaki itu enggan memacari seorang wanita yang berhasil mendekatinya. Hampir setiap wanita yang ketahuan genit menggodanya, pasti selalu di manfaatkan Gilar untuk di jadikan sebagai pacarnya. Entah itu untuk sekedar bersenang-senang, atau hanya memanfaatkan pacarnya yang ternyata anak tajir.
"Kenapa sih gak mau pacaran sama tuh cewek? Wajahnya bukan lumayan lagi, tapi cantik banget. Pinter lagi. Soal si Rangga sih cetek! Dia gak ada apa-apanya!" tukas Agus enteng.
Gilar beringsut mengubah posisinya menelungkup. Menaruh dagunya di atas bantal yang tadi ia jadikan alas tidur. Mendongak ke arah Agus yang sudah kehabisan rokoknya.
"Gue juga bingung, Gus. Biasanya gue gak kayak gini."
Agus melongo. Ia meraih gelas kopi yang di taruh tepat di atas meja kecil yang ada di tengah kursi. Menyeruputnya perlahan namun seolah enggan berhenti.
"Lo percaya gak kalau gue bilang dia terlalu baik buat jadi pacar gue?"
Agus tersedak. Cairan kopi tumpah dari mulutnya ke sebarang arah. Gilar mencoba menghindar. Setelah itu terdengar gelak tawa lepas dari Agus. Gilar mengubah lagi posisinya menjadi duduk. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Tuh, kan! Malah diketawain!" protes Gilar.
Agus masih terkekeh. Beringsut mencondongkan tubuhnya ke arah Gilar yang tengah memasang wajah kebingungan.
"Lo habis ketemu malaikat, yah? Nyadar diri juga lo!" Agus lagi-lagi tertawa terbahak. "Dia gak tahu gimana brengseknya lo, yah? Dimanjain terus sih. Di ajak pacaran kagak. Cemen lu! Berani PDKT tapi gak berani macarin! Dasar cowok PHP!"
Agus tertawa terpingkal-pingkal. Sudah lama ia ingin mengatakan hal ini pada Gilar semenjak lelaki itu berubah ketika mengenal Anggita. Lelaki itu berubah menjadi sosok malaikat pelindung yang selalu mengekori Anggita. Menjadi seorang pendiam di dalam kelas hingga jarang lagi bercengkerama dengannya ataupun Dika, hanya demi duduk di samping Anggita dan memandangi gadis itu seharian.
Mata Gilar memicing ke arahnya. "Gue kan udah bilang. Otak gue tiba-tiba isinya kayak gitu. Jadinya gak tega buat ngajakin dia pacaran. Padahal mah sayang banget kali, Gus!"
Agus tergelak. "Pantesan lu berubah kayak preman kampung yang takut sama bininya! Belum jadian aja lo udah kayak suami yang takut istri di depan si Anggita! Sayang lu sama dia itu kayaknya tulus, bro."
"Gitu, yah? Kok gue gak nyadar sih!"
"Lo tahu rasanya cemburu aja baru kemaren-kemaren, ****! Lupa?
Wajah Gilar berubah bingung. Mendengar kalimat yang tak terduga dari sahabatnya membuat ia menerawang kembali awal kedekatannya dengan Anggita.
Ia, Agus dan Dika terbiasa duduk berdekatan di pojok kelas semenjak masuk SMA Marga. Beruntung ketiganya di tempatkan di kelas yang sama. Ketiganya terbiasa selalu datang terlambat, menyontek tugas, diam-diam bermain ponsel saat ada Guru, atau bolos berjamaah demi tugas di lapangan.
Sejak awal ia juga sering memerhatikan sikap Rangga yang bossy. Mereka tak mengacuhkannya. Toh Rangga pun tak pernah berurusan dengan mereka.
Ia tak ingat pasti kapan awalnya Rangga mulai merisak Anggita. Gadis itu selalu di jadikan bulan-bulanan ke bossy-annya yang sering menyebut dirinya anak Kepala Sekolah. Tentu saja tak ada seorang pun yang berani melawan ulahnya selain Gladis, namun tentu saja itu bukan lawan yang sebanding.
__ADS_1
Gilar dan kawan-kawannya hanya membiarkan. Itu urusan sepele menurut mereka. Lagi pula mereka enggan berurusan dengan hal kecil seperti itu, apalagi jika harus berurusan dengan lelaki pengecut yang selalu berlindung di balik kekuasaan orang tuanya. Mereka enggan berurusan dengan seorang pengadu yang mentalnya seperti seorang anak kecil.
Namun, hari itu tiba-tiba Gilar tergerak untuk menendang tubuh Rangga. Ada rasa puas menyeruak tatkala memandang tubuhnya yang tersungkur ke lantai. Ia sejenak menoleh ke arah Anggita yang melongo kaget. Saat itu ia tak memiliki niat apa pun selain hanya melerai pertikaian para bocah ingusan hanya karena sebuah buku. Balasan Rangga yang hendak memukulnya pun tentu saja bisa di tangkisnya dengan mudah.
Untung saja Erik secepatnya menarik mundur Rangga. Karena jika tidak, mungkin lelaki itu bisa menjadi kelinci percobaannya dalam berlatih menguatkan pukulannya sebelum kembali bertugas di lapangan.
Sesaat ia memandang Anggita yang termangu saat ia mengembalikan bukunya. Gadis itu tak bergeming, namun bisa ia lihat bibir gadis itu gemetar ketakutan. Gilar pun berinisiatif duduk di sampingnya, meski harus mengusir Gladis ke arah belakang.
Hari itu, beberapa jam sebelum bel pulang berhenti. Tak hentinya ia memandang wajah Anggita yang cantik dari samping, meskipun hanya sesekali mencuri pandang. Gadis itu tak bergeming, namun sudah jelas ia masih gemetar ketakutan melihat kakinya yang enggan berhenti bergoyang. Entah masih takut karena Rangga atau karena keberadaan dirinya, Gilar tak tahu.
Sepulang sekolah ia di hadang oleh Rangga. Lelaki itu dengan berteriak keras meminta Gilar untuk tak ikut campur urusannya. Mengancam sang ketua geng motor akan di keluarkan dari sekolah jika berani melawan perintahnya. Tentu saja mendapatkan ancaman seperti itu Gilar enggan meladeni. Teriakan keras Rangga hanya di anggapnya seperti rengekan anak kecil yang meminta sebuah permen.
"Gue itu anak Kepala Sekolah Marga! Kalau lo mau terus ada di sekolah ini, gak usah nyari masalah sama gue! Ngerti? Dasar preman!"
Gilar mencebik. Ia terkekeh kecil mendengar kalimat Rangga.
"Ternyata lo tuh emang anak kecil yah, Rang. Beraninya ganggu cewek, pake acara bangga-banggain diri segala." Timpal Gilar sembari melangkah perlahan mendekat ke arah Rangga.
Kedua lelaki itu berdiri berhadapan dekat. Saling memandang dengan tajam.
"Jangan bikin malu kaum cowok! Jangan pernah ganggu Anggita lagi! Karena dia inceran gue sekarang! Ngerti?"
Raut wajah Rangga mengeras. Tangannya melayang begitu saja mengenai wajah Gilar. Namun, lelaki itu hanya beringsut sedikit dari tempatnya. Memegang pipinya sebentar lalu mendelik ke arahnya. Gilar menyeringai.
"Anggita cuma milik gue! Jangan pernah berani nyuruh gue jauhin dia! Gue itu anak Kepala ...," kalimatnya terhenti tatkala sebuah tonjokan mendarat di perutnya. Rangga tersungkur ke tanah. Meringis kesakitan namun juga kesal.
Gilar mendekat ke arahnya. Mencengkeram kerah bajunya hingga sebagian tubuh Rangga terangkat.
"Kita lihat! Siapa yang bisa dapetin Anggita. Lo? Atau gue?" tantang Gilar kemudian.
Sesekali ia menyeringai ke arah Rangga yang selalu gagal mendekati Anggita. Apalagi semenjak ia selalu berkeliaran di samping gadis itu, Rangga benar-benar kesulitan mendekati Anggita. Sampai ia rela menghadang kehadiran Rangga saat mengetahui lelaki itu berani menyambangi rumah Anggita. Tentu saja ia tak tinggal diam. Ia sengaja membawa rekan segeng-nya untuk menggertak lelaki itu.
Tingkahnya yang selalu mengekori Anggita seperti menjadi kebiasaan yang enggan ia lepaskan. Tak jarang ia membuntuti bus yang Anggita pakai untuk berangkat dan pulang sekolah. Memerhatikan gadis itu naik dan turun dari bus dengan selamat, serta tiba di tempat tujuan yang tepat.
Tak jarang pula ia membuntuti Anggita dan teman-temannya menghabiskan waktu sepulang sekolah. Melihat tawa gelak Anggita yang tak pernah ia umbar selama di sekolah, dapat ia rasakan ketika gadis itu menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tak jarang ia ikut tersenyum melihat wajah Anggita yang tengah berbahagia dan tertawa lepas.
"Cantik!" gumamnya dalam hati.
Saat keduanya kembali menjadi teman sekelas, Gilar ingin kembali menjadi teman sebangku Anggita. Namun, niatnya urung ia lakukan saat melihat Anggita begitu nyaman bercengkerama dengan Gladis dan Fajar. Nanti, pikirnya. Ia tak ingin merusak kebahagiaan Anggita bersama teman-temannya. Mungkin saat pelajaran sudah mulai ia akan duduk di belakang Anggita, rencananya begitu.
Namun, kedatangan Randi menggagalkan rencananya. Ia hanya terus memerhatikan gadis itu dari arah belakang. Mencari cara jitu agar bisa dekat lagi di sekitar Anggita.
Saat istirahat tiba. Ia hendak mengajak Anggita menghabiskan waktu di kantin bersama. Meski hanya beberapa menit, ia ingin ada waktu untuk bersama Anggita. Masa bodoh dengan penilaian teman-temannya yang sudah menganggapnya budak Anggita. Perasaannya terus menerus merongrong ingin menemui gadis itu.
"Hai, Gita! Kita ketemu lagi!"
Murid baru itu menyapa Anggita dengan santai. Ketemu lagi? Tentu saja ia di landa rasa penasaran. Selama mengekori Anggita, ia tak pernah tahu bahwa gadis itu kenal dengan Randi.
"Kalian saling kenal?" tanya Gladis kemudian.
Anggita mengangguk ragu.
"Kenal banget malah. Dia kan pernah makan malem di rumah saya!"
__ADS_1
"Randi!" teriak Anggita menimpali.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba membuatnya merasa jengkel dan marah. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja. Mencoba untuk meredam amarahnya yang tiba-tiba bergelora, namun entah karena alasan apa.
Matanya ia paksa untuk terpejam, namun telinganya enggan menuli. Terus menerus mendengar obrolan mereka akan alasan Randi bisa mengenal Anggita. Saat Anggita keluar dari kelas, barulah Gilar berani mengangkat kepalanya. Matanya terarah pada sosok Anggita yang perlahan lenyap dari pandangannya.
"Dia udah punya pacar, Faj?" tanya Randi.
Gilar mematung. Dapat ia rasakan maksud lain dari pertanyaan lelaki itu pada Fajar. Ia memilih keluar kelas dengan sengaja melewati lelaki itu. Berjalan secepat mungkin sebelum mendengar percakapan mereka lebih jauh.
Langkahnya terus melaju ke arah kantin. Amarahnya mulai tak terkendali. Terasa ada yang sesuatu yang mengganggu perasaannya, namun ia tak tahu apa. Hingga langkahnya terhenti saat Fajar berjalan berdampingan dengannya.
"Anak baru itu kenal sama si Gita?" Gilar memberanikan diri mencari jawaban rasa penasarannya.
"Iya! Ayah mereka temenan ternyata."
"Oh ... gitu ternyata. Bahaya nih!"
"Bahaya kenapa, Gil?" tanyanya kemudian.
Gilar tak menggubris. Ia berjalan cepat menuju kantin. Memesan makanan dan melahapnya secepat mungkin. Meski keberadaan Anggita tak jauh dari jangkauannya, Gilar enggan bergeming. Setelah itu ia berlari menuju lapangan basket. Menyeru para siswa yang tengah asyik bermain agar memberikannya bola. Tentu saja mereka menurut. Gilar berlari ke sana kemari bersama bolanya. Menubruk siapa pun yang menghadang tiap langkahnya.
Entah berapa lama ia berlarian di tengah lapangan hanya demi merebut bola dan berhasil memasukkannya ke dalam ring. Sampai keringat membasahi hampir setiap celah baju putihnya.
Belum pernah ia melihat Anggita begitu santai bercengkerama dengan lelaki lain selain dirinya dan Fajar. Apalagi Randi adalah murid baru di sana. Mengetahui fakta bahwa kedua ayah mereka berteman baik, tentu saja Gilar geram. Patutlah Anggita begitu nyaman mengobrol dengan Randi yang bisa dengan mudah masuk ke dalam lingkungan pertemanannya.
Saat bel masuk berbunyi kembali, Gilar berjalan dengan enggan memasuki kelasnya. Ia ingin lari atau bolos selama mungkin. Tapi, ia juga ingin melihat Anggita lebih lama. Memasuki ruang kelasnya, sejenak ia menangkap sorot mata Anggita tengah menatapnya. Hatinya terasa menghangat. Amarah yang sedang bergemuruh perlahan mereda. Jika bisa, ia ingin berlari ke arah Anggita dan menyapanya. Mengajaknya bicara sepanjang hari. Namun, melihat Randi yang memandang ke arah Anggita membuatnya urung.
Ia melangkah ke mejanya dengan amarah yang kembali menghampirinya. Ia tak tahu apa.
"Kenapa, Gil? Muka lo kusut gitu? Kalah maen basket?" tanya Agus yang duduk di sampingnya.
Gilar menoleh ke arahnya. Tatapan lelaki itu benar-benar menakutkan. Dapat Agus nilai bahwa emosi Gilar tengah di landa kemarahan. Spontan ia menepuk pundak lelaki itu dengan perlahan.
"Santai, Bro! Kenapa? Cerita sama gue!" tukas Agus mencoba tenang.
Gilar mendekatkan wajahnya ke telinga Agus.
"Gue gak suka sama si Randi!" ujarnya setengah berbisik.
Agus memandang punggung Randi daru kejauhan dengan heran.
"Emang kenapa? Dia bikin ulah sama lo?" tanyanya kemudian.
Gilar menggeleng. "Gue gak suka liat Anggita ketawa sama dia." Ungkap Gilar sembari menyilangkan kedua lengannya di atas dada. "Kok gue tiba-tiba jadi ngerasa jengkel aja denger mereka pernah ketemu. Lo tahu gue kenapa?"
Agus terkikik. Sekuat tenaga ia menutup mulutnya agar cekikikannya tak terdengar satu kelas.
"Lo gak tahu lo kenapa bisa jengkel gitu?" tanya Agus masih terkekeh.
Gilar menggeleng.
"Itu namanya cemburu, ****! Dasar cowok brengsek! Bisa juga lo ngerasa cemburu! Insaf makannya. Jangan mainin cewek mulu. Kualat sekarang lu!"
__ADS_1
"Cemburu? Gue?"