TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 36 SUARA DARI GILAR


__ADS_3

"Kamu masih mau jadi pacarku, Gita?"


Akan aku terima apa pun keputusanmu, Gita. Setelah kamu tahu kenyataan di balik menghilangnya aku. Inilah duniaku! Dunia geng motorku! Kamu berhak menolakku. Tapi, aku akan selalu menerimamu di hatiku.


"Iya. Aku masih mau, Gilar."


***


Ini kali pertamaku membawamu menembus malam. Menghirup angin dingin bersama kawan-kawanku. Aku harap kamu suka, Gita.


"Semuanya berapa orang, Gilar?" tanyamu di samping cuping telingaku. Teriakanmu hanya terdengar gema syahdu bagiku.


"20 motor, Gita! Beberapa berboncengan! Beberapa lagi enggak!" balasku sama-sama berteriak. Sedikit menolehkan kepala agar suaraku terdengar olehmu.


"Kok motor mereka bagus-bagus? Kamu kok nggak? Katanya ketua geng motor!"


Aku tergelak. Pertanyaanmu begitu menyakitkan, Gita. Tapi, aku suka.


"Kamu pengen aku naik motor gede juga?" balasku menerka.


"Iya!"


Terdengar suara tawamu tergelak.


"Alasannya apa?" tanyaku.


Kamu bergumam tak jelas.


"Biar keliatan ganteng, Gilar!"


"Emang sekarang aku gak keliatan ganteng?"


"Enggak!"


Kita tertawa bersama. Menertawakan diriku yang kamu ejek. Sesenang itukah kamu, Gita?


Kamu semakin memelukku erat. Kepalamu menempel erat di pundakku. Aku harap kamu tidak mendengar degup jantungku yang tak karuan. Nanti aku bisa malu karena salah tingkah. Masa ketua Geng Motor bisa sejatuh cinta ini pada seorang perempuan? Mau di mana aku menaruh muka gantengku ini, Gita!


Tak bisa aku mengajakmu berkeliling lama-lama. Apalagi ramai begini.bersama kawan-kawanku. Setelah berpisah dari mereka, aku akan kembali membawamu pulang. Aku tak mau orang tuamu khawatir lagi gara-gara kamu pulang kemalaman.


"Kamu mau anter aku pulang, yah?" tanyamu.


"Iya! Ibu Lala sama Bapak Wijaya pasti khawatir!"


Hanya terdengar gumaman tak jelas di belakang punggungku. Entah kamu sedamg menggerutu senamg atau sedih karena akan aku pulangkan ke rumah orang tuamu.


"Besok aku jemput ke Sekolah!" timpalku hendak menghibur.


"Gimana kalau besok kita bolos aja?" tawarmu tiba-tiba.


Aku ingin menatap wajahmu lekat-lekat. Takut-takut kamu kerasukan setan atau ganti kelamin. Orang cantik dan pintar di Sekolah Marga tak mungkin mengajakku untuk bolos! Apalagi kamu itu paling jarang absen di Kelas.


Tapi, yang bisa aku lakukan hanya menoleh ke arahmu sejenak. Ternyata wajahmu sedang terpaku di belakang pundakku. Sedikit miring hingga saat aku menoleh, jantungku hampir saja loncat dari tempatnya. Wajahmu begitu cantik, Gita! Aku gak tahan ingin menciummu!


"Mau ngapain?" tanyaki berdalih menutupi rasa kekagumanku dan grogiku.


"Pengen pacaran sama kamu terus!"


Aku tersenyum. Senang dan bahagia. Jadi begini rasanya benar-benar menyukai orang yang juga menyukai kita? Rasanya setiap kata yang kamu keluarkan itu selalu terdengar seperti lantunan lagu penyejuk hati, Gita. Aku senang mendengar suaramu. Di peluk olehmu. Melihatmu. Aku suka semua yang ada pada dirimu. Sangaaaaaat suka! Kamu ngerasain hal yang sama kayak aku nggak?


Enggak, yah?


Gak apa-apa. Aku gak keberatan kok ngerasa sangaaaaat suka sama kamu! Aku ikhlas lahir dan batin.


"Gak perlu bolos kalau mau pacaran, Gita! Nanti nilai kamu turun!" kilahki beralasan.


"Aku takut kamu kabur lagi, Gilar! Kamu kayak Jelangkung!"


Aku tersentak.


"Kok Jelangkung?" protesku tak terima.


Kamu nyamain aku sama jelmaan makhluk halus? Tega kamu, Gita! Masa Ketua Geng Motor di samain sama Jelangkung yang kepalanya batok kelapa plontos?


"Kamu datang sama perginya seenaknya aja! Sama kayak Jelangkung!"


"Kamu masih marah gara-gara aku ngilang? Kamu kan tahu alasannya apa!"


"Iya, tahu! Makannya gak pengen jauhan dari kamu!"


"Besok aku sekolah kok! Janji!"


Kamu terdiam membisu. Tak lagi membalas perkataanku. Aku tak bisa pastikan apa kamu marah atau sedang menertawakanku. Aku tak tahu.


Motor terus melaju menembus keheningan. Kamu diam dan malam pun sama-sama diam. Sesekali aku memandangmu dari arah spion. Kamu hanya terpaku di punggungku. Matamu terpejam seolah tengah tidur. Pelukanmu masih erat. Bahkan kadang-kadang terlalu erat hingga membuat isi perutku hampir keluar semua. Mimpi apa kamu, Gita?


Kita sampai di depan rumahmu. Mataku mengedar sekeliling dan begitu terharu karena rindu suasana rumahmu. Sejenak aku menoleh ke arahmu yang masih duduk di belakangku dengan pelukan erat.


"Kamu gak akan turun?" tanyaku penasaran.


"Enggak."


"Ibu sama Bapak ada di dalam. Sana pulang! Besok aku jemput!"


Kepalamu beringsut bangkit dengan memasang wajah cemberut. Kamu turun perlahan dari motor namun tanganmu terus saja menjawil bagian-bagian tubuhku.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


Kamu berdiri termangu dengan wajah sedih. Dua tanganmu kini sama-sama menjawil bajuku. Erat. Seperti anak kecil yang tengah merengek minta di belikan permen.

__ADS_1


"Aku kangen kamu, Gilar!"


"Aku juga. Sana masuk! Besok aku ke sini jamput kamu!"


"Janji? Gak akan kabur lagi?"


"Iya! Aku janji!"


Perlahan kamu melepas jawilanmu. Wajahmu masih saja memasang tampang cemberut. Membuatku merasa senang dan geli di saat bersamaan. Tak rela jika memalingkan wajah darimu. Kamu tetap begitu cantik, Gita. Sangaaaat cantik.


Aku pegang satu lenganmu dan menariknya mendekat ke arahku. Kamu tak berontak dan menolak. Aku mendaratkan sebuah kecupan di keningmu dan kamu termangu. Matamu membulat sempurna. Semakin mempercantik wajahmu yang ayu.


"Love you, Gita!"


Kamu hanya diam. Tak bicara. Bergumam pun tidak. Tubuhmu begitu kaku. Ku daratkan bibirku di pipimu. Lagi-lagi aku menciummu. Dan kamu masih termangu.


"Kamu gak apa-apa, Gita?" tanyaku sembari menggoyangkan lenganmu yang masih aku pegang.


Kamu menggeleng pelan.


"Terus kenapa bengong?" tanyaku lagi keheranan.


"Bingung."


"Bingung kenapa?"


"Karena kamu cium aku."


"Kok bingung?"


"Rasanya aneh."


"Aneh gimana?"


"Gak tahu!"


Kamu melepas lenganmu. Beringsut mundur menjauh dariku.


"Besok kamu jemput aku, kan? Janji? Awas kalau kabur! Aku laporin kamu ke polisi!" ancammu tiba-tiba.


"Iya. Besok aku jemput! Gak akan kabur lagi!"


"Dasar Jelangkung!"


Lebih baik kamu memanggilku brengsek saja, Gita. Aku takut di cari kawanan makhluk halus gara-gara panggilanmu.


***


Sengaja aku tidak membawa motorku. Menikmati waktu bersamamu di dalam bus membuat kita bisa bercengkerama bebas tanpa takut suara kita tak terdengar. Apalagi aku bisa menggenggam tanganmu erat di pangkuanku. Menciumi punggung tanganmu yang harum beraroma kerinduan.


Aku tak tahu harus menceritakan apa lagi selain betapa rindunya aku padamu, Gita. Mulai hari ini, esok, dan esoknya lagi, aku ingin tetap bersamamu. Merindukanmu. Mencintaimu. Dan menciumimu.


"Gak usah, Ta. Aku udah tahu kok!"


Keningmu mengerut tajam. Sorot matamu tertuju penuh keheranan padaku.


"Rangga yang cerita."


"Rangga?"


"Iya. Dia yang ngasih tahu aku soal Fajar sama Desi."


"Terus?"


"Udah kepalang tanggung juga aku di tawarin jadi pacarnya."


"Kenapa kamu gak mutusin?"


"Udah. Tapi, ada syaratnya!"


"Syarat?"


Aku mengangguk.


"Dia sama Fajar harus minta maaf sama kamu dulu. Harus ngaku sendiri kalau mereka yang udah bikin kita pisah terus. Ngomongin yang lain aja bisa, gak? Yang manis gitu! Gak usah masalah mulu! Capek, Git!"


Kamu terkekeh. Menyandarkan kepalamu di pundakku yang tentu saja aku balas dengan balik menyandarkan kepalaku di kepalamu. Pasti berat, yah? Sama! Pundakku juga sakit kok! Impas yah, Git.


Aku harap kamu tidak membenci Fajar, Git. Lelaki mana pun pasti tak akan sanggup untuk tidak menyukaimu. Apalagi sekelas Fajar yang hampir setiap hari dekat denganmu. Dia pasti sadar bahwa pesonamu bukan sekedar kecantikan. Siapa pun lelaki yang dekat denganmu pasti tak benar-benar murni ingin berteman.


Fajar tidak salah. Itu wajar! Artinya dia lelaki sejati karena punya rasa ketertarikan terhadapmu. Yang aku takutkan malah Randi. Takut dia tidak menyukaimu, tapi malah menyukai Fajar. Apalagi jika ingat dia sudah menolongmu waktu itu. Tapi, sikapnya padamu malah biasa-biasa saja. Atau jangan-jangan dia sebenarnya tertarik padaku, Gita?


"Randi ganteng gak kata kamu?" tanyaku tiba-tiba. Hanya ingin memastikan.


"Ganteng. Soalnya dia cowok!"


"Gantengan mana aku sama dia?"


"Kamu!"


Cepet banget jawabnya, Git. Sudah bisa dipastikan bahwa kamu berkata jujur. Aku sangat percaya diri!


"Aku sama Randi gak ada apa-apa kok. Aku tahu dia tertariknya sama Gladis." Ungkapmu.


"Yakin?"


"Cuma dianya gengsi. Kayak aku ke kamu. Pura-pura tak acuh tapi sebenernya suka."


"Kok kamu bisa tahu?"

__ADS_1


"Nebak random aja."


"Ngaco! Sok tahu kamu!"


Sepanjang bus melaju, kehangatan di antara kita terasa begitu lama yah, Git. Entah busnya yang melaju setengah merayap atau karena percakapan kita terlalu lama. Entahlah! Pokoknya gitu, lah! Aku suka sama kamu, Gita. Titik.


Kamu enggan melepaskan tanganku ketika kita sudah sampai di halte depan Sekolah. Aku juga gak mau melepaskan tanganmu, Gita. Berarti kita sama-sama saling ingin menggenggam, yah? Tenang aja. Aku suka kok!


Aku yang akan menuntunmu memasuki altar Sekolah. Membiarkan orang-orang tahu bahwa kamu adalah milikku seutuhnya. Sekarang dan kalau bisa sih selamanya saja.


Ada banyak pasang mata yang menatap kita. Kamu hanya tersenyum tak acuh. Tak memedulikan mereka dan terus mengajakku berbicara hal lain. Tak ada yang bisa kulakukan selain larut dalam percakapan berdua denganmu.


Meski terpaksa harus melewati jam kelas salimg berjauhan, tapi aku sangat menikmati waktuku memandangmu dari arah belakang. Entah kenapa punggungmu begitu indah di pandang. Penuh sayap, Gita. Cantik. Putih. Berkilauan. Di mataku, hanya kamu yang paling bercahaya dan sedap di pandang. Meski hanya punggung.


"Aku gak ke kantin, yah. Kamu sama Gladis aja!" ujarku saat melewatimu selepas bel istirahat berbunyi.


Kamu mengangguk patuh. Gladis berseru riuh. Aku pergi dulu yah, Git. Aku malu di cemooh temanmu itu.


Baru saja aku melangkahkan kaki keluar kelas, ada Rangga yang mengajakku mengikuti langkahnya. Aku tak riskan. Karena berkat dia, aku jadi tahu perasaanku padamu itu tulus. Dan tindakanku karena menerima Desi itu keputusan benar. Agar aku bisa membuktikan padamu mana yang namanya teman dan gebetan.


Kami berdua berdiri di balkon. Memandangimu yang berjalan beriringan hanya dengan Gladis. Di belakang kalian ada Randi. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa lelaki itu tidak termasuk jajaran pengagummu setelah aku, Rangga, dan Fajar. Semoga!


"Jadi, Gita pilih lo!"


"Kayaknya!"


"Gue gak akan nyerah buat dapetin dia!"


"Gue tahu! Itu hak lo. Gue gak akan larang! Makin banyak yang sayang sama Gita, gue makin tenang. Berarti makin banyak yang mau jagain dia."


"Awas aja kalau sampai lo sakitin dia lagi! Gue gak bakalan biarin lo hidup tenang!"


"Iya. Gue tahu!"


Kalau saja kamu tahu betapa Rangga juga sama-sama tulusnya menyukaimu, di balik sikap bossy dan posesifnya, mungkin kamu akan meliriknya. Meski dia tahu bahwa kamu memilihku, nyatanya dia menghargai itu. Tak berani main curang di belakang yang membuat kita renggang.


"Jangan sangkut pautin lagi gue sama Erik! Gue gak tahu masalah dia sama lo apa!" ungkap Rangga kemudian.


Aku tahu. Semua ini memang bermula karena ulahku.


"Gue titip Gita yah, Rang!"


"Gila, lo! Nitipin pacar sendiri sama yang naksir dia? Lo mau gue tikung beneran!"


"Gak apa-apa. Gue tahu lo baik kok! Cuma kabanyakan emang nyebelin!"


Kami terkekeh.


"Emang lo mau ke mana lagi? Ninggalin Gita?"


"Enggak. Gue gak mau ninggalin dia. Tapi, gue cuma takut tiba-tiba harus ninggalin dia!"


"Maksud lo?"


"Tugas gue banyak di luar sana!"


"Sok sibuk lo!"


"Gue takut Gita kenapa-napa kalau sama gue terus. Gue sadar diri! Gue juga gak bisa ngiket Gita di kehidupan gue selamanya meskipun gue mau."


"Ngaco lo!"


"Tinggal keluar dari geng motor aja susah bener deh!"


"Susah buat gue."


"Geng Motor gak akan bisa bikin hidup lo tenang, Gil! Apalagi kalau lo tahu dunia lo itu bahaya!"


"Gue gak bisa. Gue harus ada di sana!"


"Kenapa?"


"Banyak alasannya. Lo gak perlu tahu! Karena lo gak bakalan ngerti."


"Solidaritas? Halah! Bulshit! Solidaritas cuma bertahan di masa muda aja. Udah tua tuh yang bakalan setia cuma pasangan doang."


"Bukan gitu juga sih. Lebih rumit sebenernya!"


"Udahlah! Yang masuk akal aja. Makin lo dewasa juga yang lo butuhin bukan cuma sekedar temen. Tapi pasangan sejati!"


"Sok tahu lo!"


"Gue ngaca dari bokap, Gil! Orang dewasa kayak mereka nyatanya sering jalan sendiri-sendiri, bukan bergerombol kayak anak-anak muda yang mengagungkan solidaritas. Gak ada yang namanya jadi Pemimpin itu jamaahan."


"Omongan lo berat!"


"Persiapan buat nikah sama Gita!"


"Kalau dia mau!"


"Asalkan dia sama lo jauhan, gue bisa deketin dia!"


"Lo mau ngikutin dia kuliah juga?"


"Tergantung! Dia kan pinter. Selama bokap gue kaya, gue kejar dia aja."


"Oke! Gue terima tantangan lo! Siapa yang bakal nikah sama Gita. Gue atau lo!"


Aku dan Rangga saling bersalaman. Tak yakin juga tantangan kita itu seriusan atau enggak. Meskipun dari sorot mata Rangga, dia benar-benar tak ingin kehilanganmu, Gita. Dia benar-benar tulus mencintaimu. Meskipun caranya salah. Terlalu kasar dan menakutkan bagi perempuan. Tapi, bukankah itu menunjukkan betapa amatirnya dia dalam sebuah hubungan? Tidak bisa membedakan sikap manis terhadap teman dan gebetan. Dia masih polos, Gita. Lebih polos dari aku.

__ADS_1


__ADS_2