
"Woy!" seru Agus sembari menepuk lengan Gilar keras. Gilar terkesiap dari lamunannya secepat kilat. "Malah bengong! Kenapa? Masih galau ngajakin dia pacaran atau nggak?"
Gilar berdecak sebal. Momen manis yang akan ia ingat terpaksa di ganggu oleh seruan sahabatnya. Ia melemparkan bantal di dekatnya ke arah Agus hingga lelaki itu tertawa terbahak. Gilar bangkit dari duduknya dan melangkah keluar ruangan. Masih diiringi gelak tawa Agus yang seolah tengah meledeknya.
Ia pun bukannya tak mau mengakui. Rasa cemburu dan sayang yang ia rasakan terhadap Anggita adalah hal baru baginya. Selama menjalin kasih dengan berbagai gadis, ia tak pernah serius berbagi perasaan apa pun. Ia mendapatkan banyak hal dari kekasih-kekasihnya dulu, namun ia tak pernah memberikan apa pun pada mereka termasuk perasaannya.
Mendapatkan pelukan hangat dari kekasihnya dulu tak sedikit pun menggoyahkan hatinya hingga menimbulkan nafsu tertentu. Namun, ketika ia pertama kali membonceng Anggita, kedua sisi bajunya di jawil dengan enggan oleh gadis itu. Hati Gilar terpingkal-pingkal bukan main. Hanya sesekali melihat jari jemari Anggita menyentuh bajunya pun rasanya ada kehangatan yang menjalari seluruh tubuhnya. Ia senang bukan kepalang. Sepanjang perjalanan tersenyum bahagia hingga tak mau melewatkan sedetik pun memandangi wajah Anggita dari kaca spion.
Berciuman bukanlah hal yang tabu baginya. Pamornya sebagai ketua geng motor tentu saja membuat ia bisa mendapatkan segalanya termasuk menikmati rasanya berciuman. Namun, hanya ada perasaan jijik setelahnya yang ia rasakan. Ia muntah berkali-kali setelah berciuman dengan kekasihnya dulu atau di paksa berciuman oleh kekasihnya. Sahabat se-geng-nya tak jarang menertawakan dirinya. Menyebut Gilar sebagai lelaki lemah yang kalah oleh sebuah ciuman. Sungguh. Gilar jijik. Bibir gadis-gadis itu beraroma tak sedap baginya.
Namun, ketika Anggita menempelkan kepalanya di punggung Gilar malam itu, ia senang juga sedih di saat bersamaan. Hatinya yang tengah di landa amarah selepas memukuli Erik agar ia buka mulut, seketika luluh dan kembali menghangat. Jawilan tangan Anggita lagi-lagi membuatnya tak berhenti tersenyum. Berkali-kali mencoba untuk menarik tangan yang sudah pernah di genggamnya, namun gagal. Ada rasa enggan yang kadang terlalu berlebihan merongrongnya. Hingga ia begitu segan melakukan tindakan tak patut pada gadis itu tanpa izinnya. Ia benar-benar ingin menghormati Anggita sebagai seorang perempuan.
Momen kecil bersama Anggita menjadi kenangan yang tak ingin ia lupa. Menghabiskan waktu bersama gadis itu adalah masa yang ingin ia perpanjang sampai tua, jika bisa. Tak jarang ia pun membayangkan dirinya dan Anggita tertawa bersama di beranda sebuah rumah yang entah milik siapa. Menikmati kopi dan roti bakar pada pagi hari. Berjalan sambil bergandengan tangan di jalanan yang sepi. Ah, ia ingin kebersamaannya dengan Anggita bisa lebih lama lagi. Ia ingin bayangannya pun terwujud menjadi kenyataan.
Namun, lagi dan lagi, perasaan enggan itu sering membuatnya urung mengajak Anggita berpacaran.
"Aku sayang kamu, Gita."
Kalimat itu adalah gambaran besar setiap mimpinya bersama Anggita yang enggan terwujud. Terlalu sering ia berkaca diri dan menilai betapa tak adilnya Tuhan jika membiarkan Anggita jatuh dalam pelukannya. Ia hanyalah lelaki brengsek yang entah sudah berapa kali menyakiti harga diri seorang wanita. Entah sudah berapa kali hampir meregang nyawa musuh-musuhnya. Apa Anggita akan menerima jika tahu semua hal ini?
Ya! Bisa saja Anggita mau. Bisa saja Anggita memaklumi kekhilafannya. Tapi, ia tidak! Gilar tak cukup berani memiliki gadis baik semacam Anggita. Ia tak mau mengotori hidup Anggita. Rasa sayangnya pada Anggita tak harus berwujud menjadi sepasang kekasih dalam status pacaran. Bagi Gilar, rasa sayang itu biarlah membentuk kalimat yang akan selalu di dengar Anggita. Biarlah rasa sayangnya itu berubah wujud menjadikannya sosok pelindung yang akan selalu mengawasi Anggita setiap detiknya. Baginya, rasa sayang untuk Anggita adalah membuat gadis itu selalu dalam keadaan baik-baik saja. Tidak boleh ada satu pun lelaki yang berani menyakitinya sehelai rambut pun. Gilar tak akan membiarkan hal itu terjadi selama Anggita dalam hatinya.
Gilar merogoh ponsel dari saku celananya. Menekan layarnya beberapa kali. Tak lama ia mendekatkan ponselnya ke telinga, menunggu seseorang yang di teleponnya menjawab.
"Assalamu'alaikum, Gilar!" seru suara dari seberang sana.
Terdengar begitu meneduhkan hati. Hingga ia tak bisa menahan senyumannya untuk terurai.
"Wa'alaikum salam, Anggita. Belum tidur?"
"Belum. Kamu?"
"Belum juga. Kenapa belum tidur? Udah tengah malam lewat loh!"
"Gak apa-apa. Kamu sendiri kenapa telepon? Udah tengah malam lewat loh!"
Gilar terkekeh. Begitu juga suara Anggita di seberang sana yang ikut-ikutan terkekeh. Entah jam lamanya keduanya mengobrol asyik malam itu melalui ponsel. Bukan membicarakan masalah perasaannya yang tengah di landa galau dan kasmaran. Tapi, hanya membahas hal remeh temeh tentang kegiatan Anggita di sekolah. Juga tentang rencana kegiatan Gilar selama ia menjalani masa skorsing.
Setiap mendengar suara Anggita berceloteh panjang, tak jarang Gilar tersenyum sembari membayangkan gadis itu tengah duduk di sampingnya. Seperti ketika mereka menjadi teman sebangku dulu. Suara Anggita yang lembut. Tawa Anggita yang renyah. Rambut panjang Anggita yang lebih membuatnya lebih cantik ketika di kepang satu. Ah, Gilar ingat betul setiap detail dari diri Anggita meskipun kebersamaan keduanya terbilang singkat.
"Aku sayang kamu, Anggita!" ujarnya kemudian.
"Ngomong gitu lagi!" tukar Anggita seolah sudah terbiasa.
"Kamu gak marah aku ngomong kayak gitu?"
"Terima kasih udah sayang sama aku, Gilar." Jawab Anggita tegas.
Gilar tersipu.
"Kamu sayang gak sama aku, Ta?" tanya Gilar kemudian.
Ada jeda diam dari Anggita di seberang sana. Entah apa yang di pikirkan gadis itu atas pertanyaan lancangnya. Mengajak berpacaran saja ia tak bisa. Tapi malah bertanya apalah gadis itu menyayanginya? Gilar menepuk jidatnya berkali-kali atas kebodohannya.
"Gak usah di jawab, Ta. Pertanyaannya emang susah!" timpal Gilar di tengah kediaman Anggita yang tak lagi bicara.
"Aku bisa jawab kok. Mau denger jawabannya gak?"
__ADS_1
Tidak! Jika Anggita bilang tidak, ia akan sangat lega. Biarlah lelaki brengsek ini menyayangi gadis itu secara sepihak. Setimpal dengan apa yang telah diperbuatnya selama ini. Akan ia anggap sebagai hukuman Tuhan yang terbilang manis.
Tapi, jika Anggita menjawab Ya .... Tidak! Ia tidak boleh mendengar pernyataan sayang dari gadis yang tengah di elu-elukannya sepanjang waktu. Bisa saja ia sekarang langsung tancap gas menghampiri gadis itu di rumahnya dan memeluknya erat. Menghujaninya dengan ciuman. Tidak! Itu adalah hal terbodoh yang tak boleh ia lakukan terhadap gadis suci seperti Anggita. Ia tidak boleh menghancurkan harga diri gadis itu yang merupakan mutiara paling berharga bagi kedua orang tuanya. Tidak! Gilar tidak boleh menjadi pria brengsek di kehidupan yang akan diingat Anggita selamanya. Setidaknya begitu saja sudah cukup.
"Nggak, Ta. Gak usah! Aku tidur, yah! Assalamu'alaikum!"
Belum sempat mendapat jawaban dari Anggita, buru-buru Gilar mematikan ponselnya. Bangkit dari duduknya dan berjalan mondar-mandir ke sana kemari tak jelas. Kepalanya ia garuk-garuk walau tak gatal.
Ia penasaran setengah mati. Apakah Anggita menyayanginya atau tidak? Tapi ... ia tak ingin berubah menjadi lelaki brengsek hanya karena berhasil mendapatkan hati Anggita. Tidak! Tidak boleh! Gadis yang sangat ia sayangi dan cintai ini harus ia jaga baik-baik. Seutuhnya. Sesempurna mungkin.
***
Anggita membuang ponselnya ke sebarang arah. Ia tarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Gilar bodoh!" gerutunya kesal.
Tubuhnya bergelinjang ke sana kemari di sertai teriakan tak jelas. Berkali-kali ia mengumpati Gilar di tengah teriakannya. Tak lama, kepalanya menyembul perlahan keluar dari balik selimut. Wajahnya bersemu merah. Berkali-kali matanya terpejam dalam.
"Maunya apa sih dia? Bikin orang baper aja! Dasar cowok PHP! Bilang sayang terus tapi gak bisa pacaran? Aneh! Cowok aneh! Aaaaarrrrgggghhhh .... Gilar bodoh!"
Anggita bangkit dan turun dari ranjang. Berjalan ke sana kemari tak tentu arah. Ujung jarinya ia gigit gemas. Gemeretak giginya terdengar rancu. Wajahnya cemas bukan kepalang.
"Apa aku ngaku sayang juga kayak dia?" tanyanya bermonolog.
"Enggak! Aku cewek! Harga diriku bisa turun kalau ikut-ikutan niru dia bilang sayang-sayangan. Padahal kan gak pacaran juga! Apa kata dia nanti?" gerutunya kesal sendiri.
Anggita duduk di pinggiran ranjang. Masih dengan raut wajah cemas juga bingung.
"Kenapa sih dia jadi kebiasaan gitu bilang sayang? Emangnya aku cewek apaan coba! Dasar Gilar bodoh!"
Tubuh Anggita terhempas kembali ke alas ranjangnya. Satu tangannya ia taruh di atas kening. Mencoba memejamkan mata demi melupakan percakapan ambigu dengan Gilar.
Tentu saja Anggita bahagia. Rasa bahagia bertambah menjadi berkali-kali lipat ketika lelaki itu mulai dengan entengnya mengucapkan kalimat sayang. Ambigu memang. Entah apa maksudnya. Tapi, hati Anggita senang bukan main. Sering kali ia bersorak senang tatkala Gilar sudah menghilang dari pandangannya.
Suara azan subuh membuat Anggita terkesiap. Ia memandang jam dinding yang tergantung di atas pintu dengan wajah melongo.
"Untung besok hari minggu." ujarnya lega.
***
Entah sudah berapa lama Rangga berlarian mengitari sebuah lapangan Futsal yang ada di dekat sebuah gedung besar. Mentari sudah menyingsing di ufuk timur. Seseorang dari arah belakang mencoba menyejajarkan langkahnya. Tak ada siapa pun di sana kecuali mereka.
"Lo ketemu si Gilar kemarin?" tanya Erik yang berhasil berlari beriringan dengan Rangga.
Keringat sudah membasahi hampir setiap celah baju olahraga yang di dominasi warna abu-abunya. Sementara Erik dengan santai terus mengiringi laju larinya hanya dengan memakai celana jeans panjang hitam dan kaos biru.
"Iya. Gue suka ladenin orang belagu kayak dia!"
Wajah Rangga mengeras. Ia berhenti berlari dan berkaca pinggang.
"Sekuat itukah dia? Paling cuma kuat fisik doang! Tapi otaknya kosong!" gerutu Rangga enteng. "Gimana luka lo?"
"Kecil! Bentar lagi juga sembuh!" timpal Erik sembari mengikuti langkah Rangga yang perlahan berjalan ke arah tepian lapangan.
Keduanya duduk di sebuah kursi panjang berbahan besi. Mengarahkan pandangan ke lapangan yang mulai ramai oleh anak-anak remaja yang hendak bermain futsal.
"Lo mau nyerah ngejar si Anggita? Lawan lo si Gilar, Rang. Dia bukan lawan yang enteng! Apalagi akhir-akhir ini mereka jadi makin deket."
__ADS_1
Rangga menoleh ke arahnya. Menatap Erik tajam.
"Gak akan pernah! Anggita cuma milik gue!"
"Tapi Anggita gak kapok juga meskipun udah hampir celaka gara-gara ulah si preman itu! Nyalinya gede juga buat terus-terusan deket sama si Gilar."
Rangga menyeringai.
"Kalau kekerasan gak bisa bikin Anggita benci dari Si Gilar. Masih harus ada cara yang lebih smart buat bikin mereka pisah selamanya! Bikin Anggita benci Gilar selamanya! Banyak cara! Gue tahu itu!"
Rangga meraih tas yang tak jauh dari kakinya. Mengambil sebuah botol minuman dan meneguknya perlahan. Erik hanya memandangnya dari samping. Ia tak pernah menyangka akan kegigihan Rangga hanya demi mendapatkan Anggita, meskipun gadis itu jelas-jelas sudah menolaknya berulang kali.
"Kenapa sih lo ngebet banget pengen si Anggita? Masih banyak cewek yang ngantri pengen sama lo, Rang! Lebih cantik dari si Anggita."
Rangga menandaskan minumannya hingga tak bersisa. Ia biarkan tangannya menghapus sisa air yang menempel di tepian bibirnya. Ia terkekeh kemudian. Membuat Erik memandangnya heran.
"Lo beneran suka sama dia? Atau ... ada alasan lain?" tanya Erik penasaran.
Rangga masih enggan menjawab. Ia sibuk tertawa sendiri membuat orang-orang di sekitarnya mulai memerhatikan.
"Gue suka sama dia." Ungkap Rangga setengah lirih. Ada senyuman kecil terurai di akhir kalimatnya.
Sorot mata Erik memicing.
"Gue beneran suka sama si Anggita, Rik. Lo tahu kenapa?"
Erik menggeleng.
"Karena gue gak punya alasan buat gak suka sama dia."
Erik membeku. Baru kali ini ia mendengar ucapan manis yang keluar dari mulut Rangga.
Karena biasanya lelaki itu lebih sering mengeluarkan kalimat perintah yang tak boleh di tolak. Lebih sering mengumpat ketimbang memuji. Lebih sering bercak sebal. Lebih sering berteriak kesal. Lebih sering membanting barang-barang ketika emosi melandanya.
Namun, ia tak habis pikir seorang Rangga memiliki sisi manis yang hanya ditujukan untuk satu orang yaitu Anggita. Sayang, ia lebih sering memperlihatkan sikap bossy dan posesif di depan Anggita. Nyatanya di belakang gadis itu, lelaki satu ini benar-benar menyukai gadis itu.
"Harusnya lo bersikap lebih baik ke dia."
Rangga menggeleng.
"Sorry. Gue gak mau pura-pura baik di depan cewek yang gue suka. Gue pengen jadi diri gue sendiri di depan dia. Nunjukkin rasa suka gue dengan cara jujur, bukan sok-sok-an lemah lembut. Karena gue pengen dia bisa nerima gue apa adanya."
Erik termangu. Ia tak tahu Rangga memiliki pemikiran demikian lewat setiap tindakannya selama ini yang malah membuat Anggita enggan mendekatinya. Andai saja Anggita tahu betapa tulusnya Rangga menyukainya. Andai saja.
"Gue tahu Anggita jadi takut sama gue. Tapi, gue gak mau berubah jadi orang lain demi bikin dia suka. Enggak! Gue tetep mau jadi diri gue sendiri. Dan nunjukkin rasa suka gue ke dia dengan cara gue. Gue gak mau nipu dia dengan jadi cowok sok lemah lembut!"
"Sampai kapan lo mau kayak gini?" tanya Erik yang membuat Rangga tersenyum lebar.
"Sampai gue punya satu alasan buat gak suka sama dia. Satu aja cukup!"
Erik membeku. Rangga bangkit dari duduknya sembari menyampirkan tasnya di pundak.
"Dan satu hal lagi, Rik," Rangga sejenak menoleh ke arah Erik yang masih duduk di bangku, "gue gak suka cara lo lawan Gilar pake kekerasan apalagi bikin Anggita dalam bahaya!"
Wajah Erik kebingungan.
"Rang, gue ...."
__ADS_1
"Gue balik. Bye!"