TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 26 PELAMPIASAN


__ADS_3

Gladis buru-buru menghampiri Anggita ketika melihat gadis itu memasuki area kantin. Menuntun gadis itu agar duduk di dekatnya setelah membeli beberapa camilan kecil yang kini berserakan di meja mereka.


"Katanya mau sendirian di kelas? Kok malah ke sini?" tanya Gladis khawatir.


Ia bukannya tak ingin menemani Anggita, tapi ia bingung harus berbuat apa pada seseorang yang tengah mengalami patah hati. Anggita lebih banyak diam dan murung. Seolah ingin mengisolasi diri dari keramaian.


Gladis tak menyalahkan sikap gadis itu. Wajar. Ia saja jika ada di posisi Anggita, mungkin tak akan jauh berbeda. Atau mungkin lebih parah lagi.


Anggita tak pernah menangis dan mengelih. Gadis itu lebih banyak memendam semuanya sendirian membuat Gladis yakin bahwa dengan membiarkan Anggita sendiri merupakan tindakan yang tepat.


"Laper, Dis. Randi sama Fajar ke mana? Kirain bareng kamu?" timpal Anggita mulai semringah.


"Gak tahu, tuh! Palingan ke perpustakaan." Timpal Gladis enteng.


Anggita hanya mangut-mangut mengerti. Memilih melahap camilan yang sudah ia beli sembari melanjutkan obrolan dengan Gladis, membahas hal yang ringan. Tertawa cekikikan membahas hal lucu. Sejenak melupakan pemikiran berat yang selama beberapa hari ini menggelayutinya.


Bagi Anggita, sahabat bukan tempatnya untuk berkeluh kesah semata, apalagi menjadikannya tempat untuk berlindung diri. Sahabat cukup menjadi pelipur lara di kala ia susah. Sahabat tak harus selalu tahu isi hatinya, agar suasana dalam persahabatan selalu hangat seperti ia dan Gladis.


Meski tanpa Anggita tahu, sedari tadi pikiran Gladis gamang. Semenjak pertemuannya dengan Kak Nina kemarin, ia tak hentinya mengkhawatirkan Randi namun tak tahu harus bersikap seperti apa. Memang ia suka lelaki itu, tetapi tak pernah membayangkan bahwa rasa sukanya itu akan menyeretnya mengetahui rahasia dari sosok anak kurus itu.


Namun, ia tahu. Anggita tengah menghadapi hari-hari yang berat. Melihat tawanya saat ini sudah cukup mengobati kekhawatirannya akan gadis itu.


***


"Kayaknya Kak Gita udah bisa lupain Kak Gilar deh."


Gilar yang tengah duduk di tepi lapangan menoleh ke arah sumber suara dengan wajah penuh peluh. Matanya memicing tajam memandangi Desi yang kini berdiri tak jauh darinya.


Gadis itu ikut duduk di samping Gilar. Lelaki itu tak bergeming. Memilih mengalihkan pandangannya ke arah lapangan.


"Kenapa gak pernah ajak dia pacaran aja, Kak? Aku tahu Kak Gilar sayang sama Kak Gita. Apa yang kurang dari dia?" timpal Desi penasaran.


Gilar terpegun. Mendengarkan gadis itu terus menerka-nerka isi hatinya, meski kebanyakan memang benar. Bukan ia tak mau mengajak gadis itu berpacaran. Ia hanya sadar diri. Sadar bahwa dirinya bukan yang terbaik untuk Anggita. Ia takut karena hubungan itu malah semakin membuatnya enggan melepaskan Anggita suatu saat nanti. Ia takut keiblisan dalam dirinya terpakai untuk mencengkeram Anggita. Ia tak mau.


"Urus saja urusan kamu sendiri." Ucap Gilar tak acuh.


Lelaki itu beringsut bangkit dari duduknya. Melangkah perlahan meninggalkan lapangan. Desi masih terus mengekor di belakangnya, mengikuti setiap langkahnya sambil terus menyeru namanya.


Namun, langkahnya terhenti tatkala Rangga tiba-tiba muncul di hadapannya. Kedua lelaki itu saling bertatap tajam. Desi yang ada di belakang Gilar kini beringsut berada di sampingnya. Menggamit lengan lelaki itu dengan bangga.


Rangga yang melihatnya hanya berdesis. Menatap Desi dengan tatapan tak acuh.


"Gue mau ngomong sama lo! Tapi, gak di sini!" tukas Rangga tanpa basa-basi. "Dan tanpa orang sini!" timpalnya sembari menunjuk ke arah Desi yang langsung bermuka masam.


Spontan Gilar melepaskan gamitan tangan gadis itu. Melangkah melewatinya dan Rangga tanpa mengatakan apa pun.


Desi menyerukan namanya, namun Gilar terus melangkah menjauh dari mereka. Langkah Desi tertahan oleh Rangga yang terus menghadangnya. Menatap gadis itu dengan tatapan jijik.


"Jangan pernah muncul di hadapan Anggita lagi! Atau lo, gue bikin DO dari sekolah ini! Ngerti?" ancam Rangga berang.


Tanpa Desi tahu, lelaki itu terus mengekori ke mana pun Anggita pergi. Menjaga jarak sejauh mungkin agar gadis itu tak risi. Ketika ia menghadang Anggita sebelum mencapai kantin, ada Rangga yang menangkap pertemuan keduanya. Mendengar obrolan mereka tanpa mereka sadari.


"Emang lo siapa? Berani-beraninya ancem gue? Huh!" balasnya tak kalah berang.


Rangga menyeringai penuh arti.


"Gue Rangga Mangkurat Hadi. Anak dari Kepala Sekolah Marga. Paham?"

__ADS_1


Wajah Desi mengeras. Kakinya beringsut menjauh dari Rangga. Belum genap ia sebulan di sekolah ini, tapi bukan berarti ia tak tahu soal kabar tentang anak dari Kepala Sekolah Marga yang terkenal bossy. Hanya saja, ia belum pernah bertatap muka langsung dengan lelaki itu.


"Sekali lagi lo nemuin Anggita, lo harus siap-siap berurusan sama gue. Ngerti?" ancam Rangga kembali.


Desi beringsut semakin melangkah mundur. Tubuhnya gemetar tak karuan.


"Tanya saja si gendut itu apa hubungan gue, Anggita, dan Gilar. Biar lo tahu, lo itu lagi berhadapan sama siapa!" Timpal Rangga berang.


Lelaki itu menyeringai sejenak ke arah Desi yang tengah terpegun. Memandang ke arah gadis itu dengan bangga. Ia melangkah meninggalkan gadis itu sendirian dalam kondisi ketakutan. Tak beberapa lama setelah sosoknya tak lagi terlihat, tubuh Desi ambruk terduduk di lantai.


"Rangga? Ada apa dengan Kak Rangga?" gumamnya penuh ketakutan.


***


"Harusnya lo minta gue DO lo dari Sekolah ini!" teriak Rangga sesaat setelah ia muncul dari balik pintu atap sekolah.


Gilar yang tengah berdiri tak jauh dari bibir atap, hanya tersenyum kecil mendengar suara itu. Kedua lelaki itu kino berdiri berjauhan. Menjatuhkan pandangan mereka ke arah yang berbeda.


"Sampe kapan lo mau pacaran sama tuh cewek?" tanya Rangga tak acuh.


Gilar masih terpegun. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah Rangga yang malah tengah memandangnya. Menunggu jawaban lelaki yang hanya diam mematung.


"Jaga aja Anggita baik-baik. Lo masih suka sama dia, kan?" kilah Gilar mengalihkan pembicaraan.


"Gak perlu lo suruh juga udah gue jagain! Terutama dari lo!" timpal Rangga penuh antusias.


Gilar terkekeh. Membuat Rangga hanya merengut kebingungan.


"Lo mau ngomongin itu doang ke gue?" terka Gilar.


Rangga terpegun. Ia tak tahu apakah ini cara yang benar untuk berbagi rahasia tentang Fajar pada Gilar. Apalagi mengingat lelaki itu sudah masuk ke dalam perangkap yang di buat oleh Fajar.


Gilar lagi-lagi terkekeh. Membuat Rangga kembali memandang ke arahnya keheranan. Seolah lelaki itu tak kaget akan kabar yang ia bagi.


"Gue tahu." Sanggah Gilar enteng.


Rangga terbelalak. Ia beringsut mendekat ke arah Gilar.


"Lo udah tahu? Terus lo diem aja? Nerima tuh cewek jadi pacar lo dan bikin Anggita kayak orang gila kemarin!" teriak Rangga berang. "Brengsek yah, lo!"


"Kebetulan aja cewek itu dateng di waktu yang tepat." Timpal Gilar dingin.


"Maksud lo?" Kening Rangga mengerut tak mengerti.


Saat itu, Gilar benar-benar menikmati perannya berada di sekitar Anggita. Menjadi lelaki pemuja gadis itu. Ia tak pernah berharap Anggita akan membalas rasa sayang yang dengan tulus ia berikan. Tak berharap dan tak ingin.


Sering kali ia juga berhasrat ingin membawa Anggita lari sejauh mungkin. Dari tempat saat ini mereka berdiri. Melupakan masa lalu kelam yang nyatanya selalu merongrong kehidupan Gilar yang tak pernah berubah. Ia tetaplah Ketua Geng motor yang telah banyak melukai lawannya. Tak terhitung. Meski ia selalu dapat mengingat wajah putus asa lawannya yang kalah dalam pertarungan.


Anggita terlalu baik untuknya. Ia tak sanggup membiarkan gadis itu membalas perasaan sayangnya. Saat gadis itu mengutarakan perasaannya, pikiran Gilar gamang. Senang bercampur menyesal.


Andai saja ada sebuah peluang di mana ia bisa menyucikan dirinya. Membersihkan segala bentuk kejahatan yang telah ia lakukan. Akan ia lakukan apa pun demi memantaskan diri bisa berdampingan dengan Anggita.


"Menjaga Anggita tetap baik-baik aja adalah bentuk rasa sayang gue ke dia. Gue gak butuh dia jadi pacar gue karena itu cuma formalitas yang gak ada gunanya." Ungkap Gilar lirih. "Dan menjauhkan diri dari Anggita adalah bentuk rasa cinta gue ke dia. Karena gue gak bisa mengikat Anggita di kehidupan gue selamanya. Gue gak bisa bawa dia masuk ke kehidupan gue lebih jauh lagi. Gue gak mau dia terluka karena gue nantinya."


Rangga termangu mendengarkan perkataan Gilar yang tak pernah ia harapkan. Lawan yang selama ini ia anggap sosok menakutkan, nyatanya berubah menjadi sosok lemah hanya karena membicarakan soal Anggita. Gadis yang telah menjadikan keduanya dua kutub yang selalu bersinggungan.


"Jadi lo sengaja pacaran sama tuh cewek?" terka Rangga.

__ADS_1


Gilar mengangguk pelan.


"Tapi gue gak tahu kalau dia suruhan si Fajar. Cewek itu dateng di waktu yang tepat." Kilah Gilar putus asa. "Ngelawan orang pinter emang beda, yah. Strateginya bikin gue gak bisa mikir panjang buat ambil keputusan."


Gilar terkekeh geli akan kebodohannya.


***


Anggita dan Gladis ikut berkerumun di depan mading sekolah, sibuk bertanya ini itu yang membuat para siswa tidak biasanya membuat kerumunan di tempat ini. Seseorang memberitahu mereka bahwa ada pengumuman penerimaan bakal calon Ketua OSIS baru yang akan diadakan dalam seminggu ke depan. Kedua gadis itu mangut-mangut mengerti.


"Udah ada satu kandidat yang mencalonkan diri dari kelas kalian." tukas lelaki berambut cepak yang sering di panggil Yana itu.


Anggita dan Gladis saling berpandangan bingung.


"Siapa?" tanya keduanya bersamaan.


"Rangga. Anak Pak Kepala Sekolah."


***


"Jadi, Kak Rangga juga suka sama Kak Gita? Kok Kak Fajar gak cerita sih?" Desi menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya dengan wajah marah. Fajar yang duduk di salah satu kursi hanya terdiam memerhatikan.


"Semenjak naik kelas, si Rangga gak pernah usil Gita. Aku pikir dia udah mundur." Timpal Fajar putus asa.


Fajar syok saat mendengar cerita Desi perihal ancaman Rangga padanya. Terkaannya selama ini salah. Rangga tak benar-benar mundur mengejar Anggita. Namun, ia juga tak tahu apa yang sedang direncanakan lelaki bossy itu.


Tubuhnya gemetar ketakutan. Ingatan akan perlakuan Rangga padanya setahun lalu selalu terngiang di pikirannya. Hal itu membuat rasa percaya dirinya benar-benar rendah. Ia ketakutan jika harus menghadapi dua lelaki yang memiliki kekuatan sama kuatnya, meski berbeda kuantitas. Ia telah salah menerka. Nyatanya Rangga dan Gilar masih sama-sama bersaing mendapatkan Anggita.


"Gimana kalau beneran dia DO aku? Gak! Aku gak mau, Kak! Aku milih mundur aja. Aku gak mau berurusan sama Kak Rangga!" ujar Desi kalut. "Aku mau putus aja sama Kak Gilar. Toh dia juga gak peduliin aku." timpalnya putus asa.


Desi buru-buru merogoh ponsel dari sakunya. Menekan-nekan layarnya beberapa kali. Namun, Fajar dengan sigap merebut ponsel itu yang sontak membuat gadis itu tercekat.


"Kak Fajar mau ngapain?" tanya Desi ketakutan.


"Kamu gak usah putus sama Gilar. Gak usah minta putus dan tolak ajakan putus dari dia. Sisanya, aku yang bakal tanggung jawab! Anggita harus lepas dari mereka!" Fajar mengerang berang. Sorot matanya menajam hingga membuat lutut Desi lemas.


"Kak Fajar udah gila!" teriak Desi tak kalah berang.


"Aku bakal ngerjain semua tugas sekolah kamu selama satu tahun. Dengan syarat, kamu gak akan pernah putus dari Gilar. Gimana?" tawar Fajar tanpa ketakutan.


Desi gamang. Tawaran Fajar betul-betul menggiurkan untuk seorang gadis pemalas sepertinya. Ia tak perlu bersusah payah mengerjakan tugas jika memang Fajar siap menggantikannya.


Tapi, bertahan menjadi pacar Gilar pun sama saja dengan menantang maut. Sampai hari ini sikap Gilar padanya begitu dingin dan tak acuh. Tak ada pembicaraan berarti di antara mereka selama ini. Lelaki itu begitu tertutup dan asyik dengan pikirannya sendiri.


"Cuma status pacaran. Tapi, aku gak mau ngelakuin hal lain selain itu, Kak. Ngerti?" timpal Desi mengecam.


Fajar mengangguk tanpa ragu. Keduanya saling melemparkan senyum simpul. Tanpa sadar dari balik pintu ruang kelas mereka yang tertutup, ada Gilar yang sedari tadi mendengar percakapan mereka dengan seksama.


Lelaki itu memilih diam terpegun tanpa suara. Berbalik arah melangkahkan kaki dengan gontay setelah merasa percakapan mereka sudah mencapai kesimpulan akhir. Entah apa yang hendak Gilar lakukan kali ini. Ia tersenyum penuh arti sepanjang koridor sekolahnya dengan langkah mantap.


Tak jauh dari tempatnya, ada sosok Anggita dan Gladis yang tengah saling bercakap bersama. Berjalan beriringan dengan wajah semringah. Buru-buru Gilar berbelok arah, memasuki ruang acak yang untungnya dalam keadaan kosong. Berdiri di balik pintu dengan wajah serius.


"Kak Nina emang nyenengin orangnya." terdengar suara Gladis samar-samar. "Dia malah dukung aku juga. Ya ampun! Rezeki nomplok bisa ngejar si Randi! Tinggal cowoknya aja itu mah, mau nggak nerima aku." Terdengar cekikikan geli dari suara kedua gadis itu.


"Enak banget yah bisa kayak gitu. Coba aku? Belum jadian udah patah hati aja." Tawa Anggita terdengar samar.


"Sabar, yah. Masih banyak cowok baik diluar sana yang pas buat kamu, Git. Contohnya si Yana!" Gladis tertawa di susul erangan Anggita yang tak terima ucapan temannya.

__ADS_1


Suara mereka makin menjauh. Makin tak terdengar jelas. Gilar perlahan membuka pintu. Menoleh ke arah dua gadis yang hampir lenyap dari pandangannya.


"Maafkan aku, Gita." lirihnya putus asa.


__ADS_2