TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 7 MURID BARU


__ADS_3

Di dalam taksi malam itu sepulang dari rumah Om Wahid, Ayahnya duduk di samping sopir sedang Anggita duduk bersebelahan dengan Ibunya. Anggita memilih mengarahkan pandangannya keluar jendela, mengamati cahaya lampu di pertokoan yang sudah tutup.


"Acara makan malemnya buat apaan sih sebenernya, Yah?" tanya Anggita tiba-tiba.


"Perpisahan, Ta!" Jawab Ayahnya tanpa ragu.


"Perpisahan gimana maksudnya? Ayah gak kerja lagi sama Om Wahid?"


"Iya, Ta. Ayah mau pensiun. Mau bantu usaha Ibumu! Lagian usahanya juga sudah mulai bagus dan maju. Kalau Ibumu ngurus karyawan sendirian kan kasihan."


"Iya, Ta," Ibunya menimpali, "kamu gak usah khawarir soal biaya kuliah nanti. Mau kuliah di mana pun akan kami izinkan. Tabungan hasil ayah kerja sama Om Wahid insya Allah cukup buat kuliah kamu!"


"Lagian Ayah juga udah tua. Kadang gak fokus kalau lagi nyetir! Pesangon dari Om Wahid juga lumayan besar loh. Uang itu biar Ibu gunakan buat nambah alat jahit sama karyawan baru."


Anggita memeluk Ibunya erat yang di balas dengan sentuhan lembut.


"Makasih, Ibu, Ayah. Anggita sayang sama kalian!" ungkapnya kemudian, "Anggita janji bakal jadi orang sukses dan bahagiain kalian!"


"Gak usah repot-repot bahagiain kita, Ta. Kita udah bahagia liat kamu tetap sekolah dan selalu dapat nilai bagus!"


"Maaf, Gita tadi gak bisa jawab waktu Om Wahid nanya cita-citanya Gita."


"Gak apa-apa. Ayah yakin kamu udah punya cita-cita kok."


"Gak perlu juga semua orang tahu cita-cita kamu itu apa, Ta. Cukup diri kamu sendiri aja. Lalu perjuangkan, bekerja keras untuk meraihnya, dan wujudkan!"


"Ayah sama Ibu gak akan neko-neko, Ta. Terserah kamu mau menjadi apa. Yang penting satu pesan dari kita, jadilah seseorang yang bermanfaat bagi orang lain."


Anggita semakin memeluk Ibu Lala erat. Sentuhan tangan sang Ibu membuat hatinya menghangat meski pikirannya masih dipenuhi akan permintaan Kak Nina.


Mendapatkan permintaan aneh dari orang yang baru dua kali ditemuinya itu tentu saja Anggita bingung harus bereaksi seperti apa. Diamnya menjadi jawaban yang dianggapnya aman. Menunggu Kak Nina melanjutkan kalimatnya agar ia semakin mengerti akan keadaan yang sebenarnya.


"Randi mau pindah ke SMA Marga, Ta. Kakak khawatir dia kesulitan buat bersosialisasi soalnya di sekolahnya yang dulu, temennya dikit banget!" ungkap Kak Nina sembari menghitung jemarinya dan mulutnya berkomat-kamit tak jelas.


"Mungkin ada 2 orang kali temennya itu! Dua-duanya cowok lagi. Agak takut sih kakak, tapi coba husnudzon aja."


Anggita tersipu. Karena nyatanya Anggita juga memiliki nasib yang sama dengan Randi.


"Pindahnya kapan, Kak?"


Anggita enggan mengiyakan namun juga tak berani untuk menolak.


"Semester baru nanti. Udah pembagian rapot?"


"Belum, Kak. Guru-gurunya masih sibuk ngurusin murid yang nilainya jeblok!"


Tawa menguar dari bibir keduanya.


"Yah pokoknya pas tahun ajaran baru aja, Ta."


"Emang Randi mau ngambil jurusan apa?"


"Udah jelas kali, Ta. IPA! Kan mau jadi dokter!"


Anggita mangut-mangut. Ia memandang sekilas tangannya yang masih di genggam Kak Nina. Ada perasaan hangat dan nyaman hingga ia membiarkan Kak Nina terus menggenggamnya. Ditatapnya wanita yang melanjutkan celotehnya itu dengan saksama. Mata bulatnya memancarkan sinar keteduhan yang membuat Anggita enggan berpaling. Hampir satu jam lamanya, ia dan Kak Nina mengobrol di gazebo sebelum akhirnya ia di jemput oleh Ayah dan Ibu untuk berpamitan. Sebuah pelukan mengakhiri pertemuan keduanya.


"Jangan lupa permintaan Kakak yang tadi yah, Ta. Randi anaknya baik kok. Cuma cuek aja!" bisik Kak Nita saat keduanya berpelukan untuk terakhir kali.


***


Anggita, Gladis, Fajar, Bu Lala dan seorang wanita berambut sebahu tengah asyik tertawa di lorong sekolah. Berjalan saling beriringan, Anggita dan Gladis berjalan paling depan, Bu Lala dan wanita berambut sebahu itu di belakang keduanya, dan Fajar berjalan mengekor di bagian paling belakang.


"Fajar juara umum, loh! Hebat anak Mamah Rami!" Puji Bu Lala sembari mencolek lengan wanita rambut sebahu itu; Mamah Rami.


"Alhamdulillaah. Anggita juga hebat bisa juara dua. Udah wajahnya cantik, pinter lagi! Paket komplit pokoknya!" Timpal Mamah Rami.


"Fajar juga pinter kok, Mah. Kok gak di puji juga anaknya? Kasihan loh! Nanti ngambek!" Sela Gladis diiringi tawa mereka yang bergemuruh di seisi lorong.


"Bosen ah puji dia! Udah keseringan dapet rangking mulu. Mamah malah berharap kali-kali dia gak usah dapet rangking aja!"


Tawa kembali meledak, termasuk Fajar yang menjadi bahan ejekan ibunya sendiri.


"Mamah macam apa yang mau anaknya gak dapet rangking? Astagfirullaah!" Fajar membuka suara sembari mengelus dadanya berulang kali.


"Lagian kelebihannya banyak banget sih. Nyampe tubuh aja berlebihan gitu! Diet kata Mamah juga, Faj!" Mamah Rami menimpali.


"Dih! Perbuatan siapa juga yang bikin anaknya gede gini? Berhenti jualan nasi padang! Nanti aku pasti jadi langsing!"


"Makanan di warung Nasi Padang Mamah emang enak sih. Gak ada tandingannya! Apalagi sambel ijonya itu loh. Wiiihhh... Favorit Gladis banget!" Sambung Gladis.

__ADS_1


"Kalau Gita sih suka sate padangnya. Bumbunya mantep banget! Pedes asem gimana gitu. Apalagi tusukan daging satenya gede-gede! Porsi maksimal!"


"Gimana kalau sekarang kita makan di warung nasi padang Mamah aja? Sekalian rayain kenaikan kelas kalian!"


"Setuju!"


Langkah kelimanya terhenti tatkala Gilar tiba-tiba menghampiri mereka. Bersalaman dan mengecup kedua punggung tangan Bu Lala dan Mamah Rami bergantian.


"Gilar, yah?" Bu Lala menunjuk ke arah Gilar yang memilih mengangguk sembari tersenyum kaku.


"Maaf, ganggu. Boleh bicara sama Anggita dulu?" tanya Gilar kemudian.


"Oh, iya. Boleh! Boleh!" balas Bu Lala.


"Culik aja sekalian, Gil! Gak usah di balikin!" sela Gladis setengah berteriak.


"Hush! Ngaco kamu!" Fajar menimpali.


Gilar dan Anggita berjalan menjauh. Berdiri saling berhadapan di depan ruang Guru yang membelakangi tempat parkir.


"Ada apa, Gil?" tanya Anggita membuka percakapan.


Tiba-tiba Gilar menyodorkan rapornya pada Anggita. Gadis itu hanya memandangnya bingung.


"Takutnya kamu penasaran aku masuk jurusan apa, Ta." Ungkap Gilar kemudian.


Meski malu, Anggita meraih rapor itu dan membukanya. Ada tulisan IPA tertera di bagian keterangan jurusan yang menjadi pilihan Gilar nanti. Anggita tersenyum kecil sebelum memberikan kembali rapor itu pada sang pemilik.


"Harus yah di omonginnya sekarang? Bisa lewat WA, kan?" timpal Anggita.


"Kuota aku habis, Ta. Udah berbulan-bulan gak bisa pake WA. SMS sama telepon aja susah! Harga pulsa melambung tinggi. Aku gak sanggup buat beli!"


"Iyalah! Gimana kamu aja deh, Gil!"


"Mudah-mudahan kita gak sekelas yah, Ta!"


Kening Anggita mengerut. Tapi, ia enggan memperpanjang obrolan hingga membungkam mulutnya rapat. Terlebih dari kejauhan, Ibunya tengah memperhatikannya.


"Aku pulang duluan yah, Ta. Salam buat Ayah kamu!" Gilar melangkahkan kakinya pergi.


"Cuma gitu doang?" tanya Anggita yang membuat langkah Gilar terhenti.


"Iya! Biar kamu gak penasaran aja. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam!"


Anggita pun beranjak dari tempat itu, menghampiri Bu Lala yang sudah menungguinya bersama yang lain. Gladis bersiul kencang. Fajar bertepuk tangan pelan. Bu Lala saling melemparkan senyum dengan Mamah Rami.


"Cieeehhh... ngobrol apaan tuh pake nyodorin rapot segala?" ledek Gladis.


"Gak ada yang penting kok. Pergi sekarang yuk! Udah laper nih!"


Anggita buru-buru menggamit lengan Gladis dan membawanya pergi menuju gerbang, diikuti Bu Lala, Mamah Rami dan Fajar di belakang mereka. Beberapa saat kelimanya harus berdiri termangu di halte yang tak jauh dari sekolah. Angkutan umum yang telah ditunggui akhirnya tiba. Kelimanya bergantian naik ke dalam angkot dan mobil pun melaju meninggalkan SMA Marga.


***


Pagi itu lama Randi menatap gerbang SMA Marga dari balik kaca mobil. Berkali-kali Kak Nina memintanya segera turun namun lelaki bermantel abu itu enggan.


"Kenapa sih? Buruan sana keluar! Telat nih mau kerja!"


Randi membuka pintu mobil. Tak lama setelah pintu tertutup kembali, mobil langsung melaju kencang. Berkali-kali Randi menghela napasnya, menghembuskannya kembali. Bel berdentang. Randi melangkahkan kakinya agak cepat, berhambur dengan murid lain yang sama-sama baru datang.


Bukan menuju ruang kelas murid, Randi berjalan ke arah ruang Guru. Pak Heri yang kebetulan baru saja keluar dari ruangan itu berpapasan dengannya. Randi mengucapkan salam diakhiri ciuman di punggung tangan lelaki berkemeja kotak-kotak abu itu.


"Randi Ogas Wahid, yah?" tanya Pak Heri kemudian.


Randi mengangguk mantap.


"Ikut Bapak!"


Randi berjalan mengikuti langkah lelaki yang mendekap laptop itu dengan patuh. Beberapa kelas yang sempat ia lewati sekilas ia pandangi. Dari dalam ruangan pun beberapa murid balik memandang ke arahnya. Langkahnya terhenti ketika Pak Heri membuka pintu kelas XI IPA 1 dan mengucapkan salam. Ia mengekor di belakang. Para murid di kelas itu memandang ke arahnya dengan tatapan menyelidik. Awalnya Randi merasa terganggu, namun saat pandangannya jatuh pada gadis berambut hitam terurai yang juga tengah memandangnya dari meja paling depan, tepat berada tak jauh dari ia berdiri, Randi tersenyum.


"Ada murid baru di kelas kita. Silakan perkenalkan diri!"


Randi menatap sekelilingnya. Meski matanya lagi-lagi berakhir pada gadis yang duduk tak jauh di depannya.


"Nama saya Randi Ogas Wahid. Pindahan dari SMA Agias. Terima kasih!"


Tepuk tangan yang di awali Pak Heri diikuti para murid. Setelah Pak Heri mempersilakan Randi memilih tempat duduknya, lelaki itu memilih duduk tepat di belakang gadis yang sedari tadi di tatapnya.

__ADS_1


"Hai, Randi!" sapa seorang yang duduk di samping Randi.


Mata Randi menyelidik lelaki yang tengah menyodorkan tangannya yang gempal.


"Kenalin. Aku Fajar!" Sambung Fajar pada Randi yang masih menatapnya lekat.


"Hai! Saya Randi!"


Randi lebih banyak diam selama kelas berlangsung. Meski Fajar sesekali berhasil mengajaknya bicara, namun lelaki itu lebih sering termangu sembari memandang punggung gadis yang ada di depannya. Saat bel istirahat berbunyi, Randi masih lekat memandangi gadis itu. Sebuah tangan tiba-tiba terjulur di depannya, membuat arah pandangannya teralih. Gadis berkerudung yang duduk di samping gadis yang tengah di tatapnya tengah tersenyum padanya.


"Kenalin! Aku Gladis! Temenan yuk?" Ujar Gladis penuh harap.


Randi membalas sodoran tangan Gladis, "Randi!" kemudian melepaskannya lagi.


"Jangan jutek dong!" gerutu Gladis.


Namun, Randi memilih mengabaikan. Tangan kanannya dengan mantap menepuk pundak gadis yang duduk di samping Gladis. Beberapa kali. Sampai akhirnya gadis itu menoleh dan memandang ke arahnya dengan kening mengerut. Randi tersenyum menyadari gadis itu tak melupakannya.


"Hai, Gita! Kita ketemu lagi!" Ujarnya kemudian yang membuat Gladis dan Fajar saling melemparkan pandangan keheranan.


"Kalian saling kenal?" tanya Gladis kemudian.


Anggita mengangguk ragu.


"Kenal banget malah," timpal Randi yang membuat Anggita menatapnya tajam, "dia kan pernah makan malem di rumah saya!"


"Randi!" seru Anggita yang membuat kedua temannya semakin keheranan.


Tapi, bukan hanya Fajar dan Gladis saja yang keheranan akan Randi yang ternyata sudah mengenal Anggita. Di barisan bangku yang sama dengan mereka tepatnya meja paling belakang, Gilar tengah mengamati mereka dengan saksama. Rasa penasaran dan kebingungan melanda pikirannya. Meski mata lelaki itu hanya memandangi Anggita, ada perasaan sakit yang menyelinap di hatinya tatkala gadis itu tersenyum riang bersama murid baru di kelasnya. Hatinya semakin terasa panas tatkala pandangan Anggita yang tak sengaja menatapnya, namun memilih berpaling dan mengobrol dengan teman-temannya kembali.


"Jadi ayah kalian temenan? Ya ampun! Kebetulan macam apa ini? Anak-anaknya bisa sekolah di tempat yang sama!"


Gilar menaruh kedua lengannya di atas meja lalu menangkupkan kepalanya. Ia pejamkan matanya erat, meski telinganya enggan menuli dari percakapan mereka.


"Takdir mungkin!" celetuk Randi.


Ujung mata Anggita meliriknya. Gilar mengepalkan tangannya sendiri. Fajar terdiam.


"Bahas yang aja kenapa? Gak penting tahu bahas soal beginian!" Protes Anggita sembari menarik tangan Gladis, "kantin yuk! Laper!"


Gladis mengikutinya dengan patuh. Randi memandanginya lekat.


"Dia udah punya pacar, Faj?" tanya Randi yang membuat lelaki di sampingnya merasa bimbang.


Gilar tiba-tiba bangkit dari kursinya. Melangkah dengan dingin keluar kelas. Fajar memerhatikan dengan saksama.


"Belum! Kenapa emang?" Jawab Fajar enggan.


Senyuman Randi mengembang. Diperhatikan jelas oleh Fajar yang merasakan aura panas tiba-tiba menusuk hatinya.


"Tapi, dia kayaknya udah suka sama seseorang," Fajar bangkit dari duduknya.


Randi menoleh dengan tatapan heran, "siapa?"


"Cowok yang barusan lewat!"


Fajar melangkahkan kaki pergi keluar kelas. Tubuhnya mendadak gemetar dan kepanasan. Dapat ia lihat Gilar tengah berjalan sendirian tak jauh dari tempatnya sekarang.


"Bodoh kamu, Fajar! Pengecut!" gerutunya merutuki diri sendiri.


Langkahnya ia percepat hendak menyusul Gilar yang semakin bisa ia dekati. Saat jarak keduanya sudah dekat, Fajar menyejajarkan langkahnya di samping lelaki itu. Gilar menoleh ke arahnya dan tersenyum.


"Hai, Faj! Mau ke kantin juga?" tanya Gilar ramah.


"Iya, Gil! Kamu?"


"Sama dong!"


Ada jeda kesunyian di antara keduanya meski langkah kaki mereka tetap beriringan.


"Anak baru itu kenal sama si Gita?" Gilar memberanikan diri mencari jawaban rasa penasarannya.


"Iya! Ayah mereka temenan ternyata."


"Oh... gitu ternyata. Bahaya nih!"


Kening Fajar mengkerut, "bahaya kenapa, Gil?" tanyanya kemudian.


Gilar memilih menggeleng dan menyembulkan senyuman lebar. Mempercepat langkah kakinya hingga tubuhnya menghilang dari pantauan Fajar. Sedang Fajar masih terpaku. Termangu. Mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut lelaki ikal itu.

__ADS_1


__ADS_2