TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 19 SATU ALASAN


__ADS_3

Rangga ingat betul awal mula dirinya jatuh hati pada Anggita. Gadis yang selama hampir setahun terakhir ini membuat dirinya menjadi budak cinta. Ia bahkan tak peduli dengan cibiran Erik yang sering mengatainya mabuk cinta, hingga rela mengekori keberadaan Anggita sampai membuat gadis itu ketakutan.


Ia tak ingat kapan itu terjadi dan karena alasan apa. Hari itu kelas sedang tidak di hadiri Guru, ia lupa alasannya karena apa. Saat itu ia tengah berdiri di samping Fajar. Tiba-tiba seseorang mendorongnya hingga tersungkur. Tentu saja ia berang.


"Bisa diem gak sih! Ganggu orang lagi belajar tahu!" teriak gadis itu pada Rangga.


Rangga termangu. Semenjak menginjakkan kaki di sekolah Marga, apalagi ketika semua orang tahu bahwa dia adalah anak Kepala Sekolah itu. Tak ada yang pernah berani mengganggunya atau menolak perintahnya. Namun, tiba-tiba seseorang mendorongnya hingga tersungkur ke lantai. Tentu saja harga dirinya merasa di rendahkan. Apalagi pelakunya adalah seorang gadis. Semakin jatuhlah harga dirinya sebagai seorang lelaki. Tentu saja Rangga tak terima. Ia bangkit dan mendekat ke arah gadis itu dengan kesal.


"Gak usah ikut campur!" teriaknya berang.


Lagi-lagi gadis itu mendorong tubuhnya hingga beringsut mundur, "dasar banci! Berani juga yah lawan cewek! Jangan mentang-mentang kamu anak Kepala Sekolah, kamu bisa seenaknya. Pengecut!"


Rangga terdiam. Tak pernah ada seorang pun yang berani merendahkannya seperti ini. Bahkan mengatainya banci. Melihat keberanian gadis itu spontan membuat Rangga juga di landa malu dan kagum di saat bersamaan. Selama ini ia lebih sering di dekati dengan rayuan manis oleh para gadis, tak jarang pula selalu mengelu-elukannya sebagai anak Kepala Sekolah Marga. Ia bak pangeran yang di puja begitu banyak bidadari.


Namun, baru kali ini ada gadis yang berani melawannya dan merendahkan dirinya sebagai anak Kepala Sekolah Marga. Bukannya semakin marah dan kesal, Rangga malah merasakan bahagia bukan kepalang. Kejujuran gadis itu membuatnya terkesima. Di pandanginya gadis itu dengan lekat, hingga kedua ujung bibirnya berhasil terangkat bersamaan.


Sejak hari itu ia mulai memerhatikan Anggita dari jauh. Gadis pintar itu lebih memesona ketika tersenyum dan serius belajar. Saban hari ia selalu memandangi Anggita dari kejauhan, membuat perasaan suka terhadapnya perlahan tumbuh semakin besar.


Tentu saja ia tak ingin berlama-lama menjadi pemuja rahasia yang selalu mencuri pandang Anggita tanpa gadis itu tahu. Dengan berani ia menyatakan cintanya pada Anggita. Ia tak tahu trik khusus apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan Anggita. Selama ini ia lebih sering mendapatkan pernyataan cinta ketimbang menyatakannya.


"Gita, kamu jadi pacarku, yah?"


Namun, gadis itu menolaknya tanpa pikir panjang. Membuat Rangga tentu saja tak terima akan penolakan tersebut. Ini kali pertamanya ia menyatakan cinta pada seseorang. Selama mendapatkan pernyataan cinta dari para gadis, ia selalu mengiyakan kemauan mereka. Tapi, pernyataan cinta untuk kali pertamanya malah mendapatkan penolakan.


Rasa kesal dan malu bercampur menjadi satu. Bukan malah membuatnya patah semangat untuk mendapatkan Anggita. Rangga justru semakin tertantang untuk memiliki gadis itu.


Hampir setiap hari ia akan mengekori Anggita. Mengajaknya mengobrol, memintanya mengerjakan sesuatu yang remeh temeh, duduk di sampingnya, atau memandangnya dari kejauhan. Sampai hal itu menjadi kebiasaan baru baginya untuk selalu berada di sekitar Anggita. Meskipun gadis itu berkali-kali menolak keberadaannya, ia tak peduli.


Inilah caranya mencintai gadis yang ia mau. Terserah dengan pandangan orang terhadapnya. Ia pun tak peduli akan seberapa bencinya Anggita karena terus-menerus ia ganggu. Bagi Rangga, tak ada yang namanya sebuah pendekatan dengan cara manis. Ia akan lakukan apa pun tanpa rencana. Bertindak semaunya. Mendekat seenaknya. Agar Anggita tahu bahwa inilah caranya mencintai gadis itu tanpa kepura-puraan.


***


Ketidakhadiran Gilar selama satu minggu di sekolah, tentu saja di manfaatkan Rangga sebaik mungkin. Mengekori gadis itu menjadi hobi barunya kembali. Bedanya, ia lebih sering berdiam diri atau termangu memandangi gadis itu. Beruntung Anggita tak acuh padanya lagi. Lebih baik menurutnya. Ketimbang terus menerus berdebat dengan Anggita yang tak pernah ada ujungnya. Ia yang tak ingin jauh dari Anggita, sedang Anggita yang ingin jauh darinya.


Tak apa! Sudah biasa ia seperti ini. Kali ini ia ingin lebih banyak diam dan menikmati keindahan Anggita dari dekat dengan tak mengusiknya. Karena ternyata memang Anggita benar-benar tak menyukainya.


Ia ingat betapa heroiknya gadis itu melerai Gilar yang tengah membabi-buta di tengah lapangan. Memukul Erik dengan ganas hingga tak ada seorang pun yang berani melerai. Gadis itu benar-benar tak kenal takut hingga rela terkena imbas lewat sikutan dari Gilar.


Ada perasaan kesal juga senang di saat bersamaan. Betapa Anggita benar-benar telah jatuh hati pada sang ketua geng motor. Namun, ia pun senang karena akhirnya Anggita tahu betapa ganasnya Gilar ketika tengah bertarung melawan musuhnya. Anggita harus tahu bahwa sikap manis Gilar selama ini, diamnya Gilar selama di sampingnya, hanya akal bulusnya untuk membuat gadis itu jatuh hati.


Gilar adalah sang ketua geng motor berwatak iblis. Ia bisa menyembunyikan jati dirinya dengan menjadi siswa pendiam yang lebih sering berkumpul bersama rekan-rekan segeng-nya saja. Tapi, ia tak akan bisa membohongi Anggita selamanya. Akan ada masa di mana Anggita tahi betapa beringasnya Gilar ketika sudah berhadapan dengan yang namanya kekerasan.


Meski ia lagi-lagi harus menelan kecewa. Karena Anggita-nya begitu sulit berpaling ke arahnya. Melihat sosoknya yang apa adanya. Ia sadar betul betapa bossy dan posesif dirinya, tapi itu hanya ia lakukan untuk Anggita. Ia hanya ingin melindungi gadis itu, terutama dari rangkulan Gilar yang entah akan berbuat apa padanya.


Ia rela memperebutkan Anggita dengan lelaki yang memimpin gerombolan preman jalanan, sedangkan dirinya hanya berkekuatan tekad seorang diri. Semua ia lakukan demi melindungi Anggita.


Sampai hari jum'at, Rangga pasti akan selalu mencari celah agar bisa berada di dekat Anggita. Harapannya ada dua. Pertama, Anggita dapat berpaling ke arahnya. Kedua, dirinya dapat berpaling dari Anggita. Namun, selama berhari-hari menemani Anggita, ia malah semakin sulit membuang rasa sukanya.

__ADS_1


"Aku hanya butuh satu alasan buat gak suka kamu, Git. Tapi gak ada!" gumamnya dalam hati.


Tanpa Rangga sadari, selama berhari-hari ia mengekori Anggita, ada satu pasang mata yang tak pernah lekat memerhatikan mereka. Bersikap waspada juga untuk menjaga Anggita. Meski ia tahu, apa yang ia lakukan tak akan mengubah arah hati Anggita yang sudah terarah ke tempat Gilar.


Fajar hanya bisa mendengus sebal tatkala Anggita lebih malah membiarkan Rangga sering mengekorinya. Entah apa sebabnya Anggita tiba-tiba melunak. Namun, ia pun tak memiliki nyali untuk mengusir keberadaan Rangga. Ia tak mau berurusan lebih banyak dengan lelaki itu karena ia tahu, ia pasti akan kalah.


Berkali-kali pula ia mengirimkan pesan pada Anggita agar waspada. Mengatakan apa yang dia inginkan jika memang tak ingin Rangga berada di sekitarnya. Namun, gadis itu tak bergeming. Ia malah selalu membalasnya dengan senyuman hangat yang membuat Fajar semakin di landa cemburu.


Tanpa mereka tahu, Anggita bukannya terlihat luluh membiarkan Rangga berada di sekitarnya. Karena ada hal yang lebih penting yang membuat perasaannya selalu bahagia. Tanpa yang lain tahu, Gilar selalu menghabiskan waktu dengannya selama seminggu itu. Selepas ia pulang dari sekolah, setibanya di rumah, ia akan mendapati Gilar sudah menunggunya di beranda rumah. Kemudian mereka akan berjalan kaki mengelilingi Komplek perumahan. Begitulah seterusnya aktivitas Anggita dan Gilar.


Bagi Anggita, kebersamaannya setiap sore itu sudah cukup menjadi obat ketidak hadiran Gilar di sekolah seharian. Esok harinya ia akan lebih bersemangat memangkas waktu di sekolah demi segera pulang ke rumah untuk menemui Gilar. Ia bahkan tak peduli akan keberadaan Rangga yang mengekorinya. Toh lelaki itu kini lebih jinak dan tak banyak berulah, atau bahkan mengajaknya berdebat.


"Si Rangga masih suka gangguin?" tanya Gilar sore itu.


Anggita menggeleng. "Paling suka duduk deketan sih. Tapi lebih banyak diem. Gak kayak dulu suka nyuruh ini itu!"


Gilar tersenyum. Menerka bahwa gertakannya ampuh membuat Rangga sadar diri.


"Senin nanti kita berangkat ke sekolah bareng, gimana?" ajak Gilar kemudian.


Anggita terdiam sejenak. Bukannya tak ingin, tapi ia sudah bisa menerka apa yang akan terjadi pada dirinya jika sampai mengiyakan ajakan itu. Berboncengan dengan Gilar adalah hal paling sakral yang pernah ia lakukan. Bisa-bisa ia benar-benar hilang akal di hadapan lelaki itu jika keduanya semakin terus menikmati waktu bersama.


Belum ada kata resmi pacaran di antara keduanya hingga saat ini. Gilar tak pernah lagi membahas soal sayang-sayangnya. Bahkan tak pernah lagi mengatakan sayang padanya. Seolah itu hanya ingatan serupa mimpi bagi Anggita, namun lekat dalam ingatannya.


Gilar bodoh, pikirnya terus.


Kenapa sih susah banget ngajakin pacaran? Kalau udah resmi pacaran, gak mungkin juga Anggita menolak ajakan berangkat bersama ke sekolah, kan? Dasar cowok PHP!


Anggita ingin menggerutu pada Gilar. Menerjang lelaki itu dengan beragam pernyataan dan pertanyaan yang selama ini menggelayut di pikirannya. Namun, selalu saja pikiran lebih baik menikmati momen saat ini membuat niatnya urung. Ia berada dalam zona hubungan tanpa status.


"Kamu gak mau di bonceng sama aku? Takut, yah?" terka Gilar.


Anggita meremas buku jarinya gemas. Menahan semua isi pikirannya agar tak sampai keluar. Bisa jatuh harga dirinya jika mengatakan bahwa Gilar cowok PHP yang mudah bilang sayang tapi gak bisa pacaran. Belum pacaran atau punya status resmi tapi udah mau di ajak boncengan. Apa kata dia nanti? Anggita gadis murahan? Oh, tidak! Akan di taruh di mana harga dirinya nanti jika mengatakan hal itu.


Gilar bodoh!


Andai saja ia bisa mengorek isi kepala lelaki itu. Akan ia cari tahu satu alasan saja kenapa ia tak bisa mengajaknya berpacaran. Itu hal mudah, kan? Remaja seusia mereka itu dalam hal pacaran adalah hal lumrah. Apalagi dia ketua geng motor. Kenapa sih nyampe gak bisa ngajak pacaran?


Anggita gemas bukan main. Daripada menanggapi pertanyaan terakhir Gilar, ia memilih mempercepat langkah kakinya hingga membuat lelaki itu berkali-kali meneriaki namanya. Anggita tak bergeming. Ia terus melangkah pergi menjauh. Mencoba membuang semua pertanyaan yang menggelayutinya.


Gilar bodoh, gerutunya berulang kali.


***


Selepas upacara bendera usai, Anggita dan Gladis tak langsung melangkah menuju kelas mereka. Kedua gadis itu tertawa cekikikan entah mengobrolkan apa. Langkah keduanya terhenti tepat ketika seorang gadis berambut sebahu tiba-tiba menghadangnya. Mengurai senyuman lebar hingga gigi-gigi gingsulnya tampak jelas terlihat. Anggita dan Gladis saling berpandang keheranan.


"Hai, kak Gladis!" sapanya gadis itu semringah.

__ADS_1


Gladis yang di sapa mengerutkan kening.


"Hai, kak Anggita!" sapa gadis itu lagi.


Anggita tersenyum keki.


"Kenalin! Aku adik kelas kalian. Kelas X-A. Namaku Desi!" timpal gadis itu lagi sembari mengulurkan tangannya di antara Anggita dan Gladis.


Gladis yang pertama kali menyambut uluran tangan itu. Menyapa balik tak acuh. Anggita pun sama. Meski rasa kebingungan tiba-tiba melandanya.


"Ada urusan apa, yah?" tanya Anggita kemudian.


Desi malah cengengesan tidak jelas. Tersenyum seolah tersipu malu karena sesuatu hal. Anggita dan Gladis memandangnya bingung. Keduanya saling bersikutan agar segera pergi saja.


"Aku mau minta tolong sama kak Gita ...," ungkapnya ramah.


"Minta tolong apa, yah?"


"Kak Gita kenal sama yang namanya Gilar Syahputra, kan?"


Anggita bergumam tak jelas. Melirik ke arah Gladis dengan tatapan kebingungan.


"Kenal .... Dia temen sekelas aku." timpal Anggita enggan.


Desi tersenyum lebar. Buru-buru ia mengeluarkan ponsel yang kemudian ia genggam erat.


"Boleh minta nomor kak Gilar, gak?" tanya Desi penuh semangat.


Anggita terpaku. Gladis berdecak sebal. Ia malah lebih memilih tak menatap gadis itu karena merasa risi oleh tingkah sok imutnya.


"Kok mintanya ke aku?" Anggita kelimpungan. Ada perasaan jengkel yang tiba-tiba membuatnya kehilangan minat meladeni si adik kelas. Firasatnya menjadi tak baik.


"Soalnya Kak Gilar nyaranin aku minta nomornya dari Kak Gita." ungkap gadis itu enteng.


Gilar yang nyaranin? Anggita termangu. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia bahkan tak tahu maksud dari tindakan Gilar. Padahal bisa saja ia sendiri yang memberikan nomornya pada Desi. Kenapa harus melalui dirinya? Anggita bingung setengah mati.


Ia ingat betul perintah Gilar saat ia tiba-tiba mendapatkan pesan seseorang bernama Dango. Ia melarang Anggita memberikan nomornya ke siapa pun karena katanya nomornya itu sakral. Sampai saat ini, Anggita memegang titah itu. Tapi, Desi meminta nomornya atas saran Gilar? Apa maksud semua ini?


"Boleh gak, Kak Gita?" tanya Desi kembali.


Anggita menggamit lengan Gladis.


"Lain kali aja, yah. Aku sibuk mau ngambil buku di perpustakaan. Ayo, Dis!"


Anggita menarik Gladis mengikuti langkahnya. Untungnya sahabatnya itu menurut saja. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah Desi yang langsung memasang wajah kecewa.


Gadis berambut sebahu itu hanya menatap punggung kedua kakak kelasnya yang semakin menjauh. Mendengus kesal berkali-kali. Bibirnya maju mundur berkali-kali.

__ADS_1


"Aku harus dapetin Kak Gilar! Harus!" gumamnya penuh tekad.


__ADS_2