TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 20 KEPUTUSAN ANGGITA


__ADS_3

"Gilar!" panggil Anggita enggan ketika lelaki itu melewati bangkunya selepas bel istirahat berbunyi.


Anggita masih duduk di kursinya. Sedangkan Gilar menghampiri dirinya. Tubuhnya perlahan turun tepat di depan meja Anggita dengan posisi berlutut, meletakkan kedua tangannya yang di pakai untuk menopang dagunya. Gilar memandang ke arahnya sembari tersenyum. Anggita kikuk.


"Kenapa, Gita ... ?" tanyanya perlahan.


Anggita salah tingkah. Di liriknya Gladis yang sudah bersiap ke kantin. Tanpa instruksi, gadis itu melambaikan tangannya dan pergi keluar kelas. Anggita menyeru namanya namun Gladis memilih terus melangkahkan kakinya.


"Heh! Kenapa, Gita? Kok malah manggil si Gladis sih!" protes Gilar yang masih dalam posisi yang sama. Mukanya sedikit berubah cemberut karena Anggita tiba-tiba mengabaikan dirinya.


"Gini, Gil. Tadi pagi ...," tiba-tiba tubuh Anggita mendingin. Tangannya gemetaran tak karuan. Mulutnya pun kelu enggan melanjutkan kalimatnya. Namun, pikirannya sejak pagi terus terusik oleh pertemuannya dengan Desi.


Melihat Anggita yang tampak enggan, Gilar bangkit dan berjalan entah ke arah mana. Mata Anggita mengekori langkah lelaki itu yang ternyata duduk di kursi Gladis. Tubuh Gilar tepat menghadap ke arahnya, meskipun tubuh Anggita tetap pada posisi menghadap ke arah mejanya.


"Tadi pagi ada apa?" tanyanya kemudian.


Sosok Rangga yang tiba-tiba muncul di depannya, membuat Anggita bungkam. Ia memandang lelaki itu dengan tatapan waspada, takut-takut ada kejadian tak terduga lagi seperti minggu lalu. Ia benar-benar selalu merasa akan terjadi perkelahian lagi jika dirinya tengah bersama Gilar.


Anggita bernapas lega tatkala Rangga memilih pergi berlalu, meskipun kedua pasang mata mereka sejenak saling bertemu. Anggita tentu saja memandang tajam ke arahnya, berharap lelaki itu paham maksud dari tatapannya agar tak perlu mengganggunya lagi.


"Pagi tadi itu ...," lagi-lagi ucapannya terpaksa terputus tatkala Fajar berkelebat melewati mereka.


Lelaki gendut itu bahkan sempat menepuk pundak Gilar dan menyapanya, yang tentu saja di balas Gilar dengan santai. Meskipun setelahnya Anggita merasakan kecanggungan kembali.


"Kenapa, Ta? Ada apa pagi tadi?" Gilar kembali melemparkan pertanyaan serupa padanya.


Kelas sudah sepi saat itu. Hanya ada mereka berdua. Anggita bernapas lega. Tak terjadi apa pun ketika ia berada dekat Gilar. Ia menoleh ke arah Gilar, hanya kepalanya saja, tubuhnya masih tetap pada posisi yang sama.


"Pagi tadi ada yang ngajakin aku kenalan."


"Cowok? Siapa?"


"Cewek, Gil."


"Oh. Bagus! Terus?"


"Dia minta nomor kamu ke aku."


"Terus?"


"Katanya kamu yang nyaranin."


"Terus?"


"Kamu bisa ngasih sendiri ke orangnya, kan?"


"Terus?"


"Kenapa kamu malah nyaranin dia minta nomor kamu ke aku?"


"Terus?"


"Jawab, Gilar! Bilang terus-terus aja dari tadi!" Anggita jengkel.


Gilar tersenyum.


"Terus, kamu ngasih gak?"


Anggita menggeleng. "Nggak ... belum .... Hmm ... kamu yang bilang dulu jangan ngasih nomor sakral kamu ke sembarang orang."


Gilar mangut-mangut. Ia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Anggita termangu kebingungan.


"Heh! Gilar!" serunya lagi ketika Gilar hampir keluar dari dalam kelasnya.


Gilar membalikkan tubuhnya.


"Kenapa lagi, Ta?" tanyanya enggan.


"Jadi ini gimana ceritanya?"


"Cerita apa, Ta?"


"Kasih jangan nomornya?"


Gilar terdiam sejenak.


"Terserah kamu aja!"


Gilar menghilang dari pandangan Anggita. Gadis itu termangu sendirian.


***


Anggita berjalan enggan menuju kantin. Bergumam tak jelas memikirkan percakapannya dengan Gilar. Ia tak yakin apa yang harus dilakukannya nanti jika berhadapan dengan Desi. Tepat beberapa langkah sebelum masuk kantin, Desi tiba-tiba muncul di hadapannya dengan wajah semringah. Anggita terkejut bukan main.


"Gimana, Kak?" tanya Desi penuh semangat. "Minta nomor Kak Gilar, dong!" pintanya kemudian.


Anggita menelan ludahnya dalam-dalam. Ia gamang. Kedua ujung bibirnya terpaksa ia angkat demi meredam perasaannya yang tiba-tiba ingin segera pergi dari sana.


"Minta ke temen-temennya aja!" jawab Anggita tak acuh.


Ia mencoba melangkahkan kakinya pergi, namun Desi menahan lengannya tiba-tiba.


"Aku suka sama Kak Gilar." Ungkap Desi enteng.


Tubuh Anggita membeku seketika. Sekujur tubuhnya dingin bukan main. Ia bahkan merasa kakinya tak menapaki tanah saat ini. Sejenak tubuhnya limbung, meski sekuat tenaga ia mencoba untuk menguatkan diri.

__ADS_1


"Oh! Terus?" sanggah Anggita seolah tak acuh.


"Aku boleh deketin dia, kan?" tanya Desi penuh harap.


"Maksud kamu?"


Desi melepaskan cengkeramannya. Ia menoleh ke sana kemari di mana tak ada seorang pun tengah memperhatikan mereka, meski suasana di luar kantin cukup ramai. Desi tersenyum tatkala pandangannya terarah ke lapangan bola basket yang dapat terlihat dari tempat mereka berdiri. Anggita ikut mengarahkan pandangannya ke arah Desi kini terpaku sembari tersenyum senang.


Ada Gilar yang lagi-lagi tengah bermain basket bersama murid lain yang entah siapa. Sesaat Anggita memandang Desi lekat yang mengaku menyukai Gilar. Ini kali pertama bagi Anggita ada seorang gadis yang mengaku secara terang-terangan menyukai lelaki itu di hadapannya.


"Aku tahu Kak Gita deket banget sama Kak Gilar," Desi kembali membuka suara. Ia alihkan pandangannya ke arah Anggita yang ternyata tengah memandanginya lekat. "Semua orang udah tahu itu. Dan kalian belum resmi pacaran."


Desi menyeringai. Kening Anggita mengerut.


"Aku suka sama Kak Gilar dan mau dia jadi pacar aku!" Ujar Desi penuh tekad.


Anggita terdiam kelu. Ia benar-benar tak tahu harus bereaksi seperti apa berhadapan dengan gadis ini. Semua perkataan gadis itu benar dan tak dapat ia elak satu pun.


"Kalau Kak Gita gak mau ngasih nomornya, gak masalah! Aku pergi dulu, Kak."


Desi berlalu pergi meninggalkan Anggita dalam suasana hati yang kacau. Ia benar-benar tak mampu berkata apa pun untuk membela diri akan setiap perkataan gadis itu. Mulutnya seolah terkunci mati hingga enggan mengatakan apa pun.


***


Randi memandang tajam ke arah Gladis yang sedari tadi menendang ujung sepatunya. Gadis itu berkomat-kamit tak jelas sembari menggoyangkan kepala ke sana ke mari. Randi menggeleng enggan memperhatikannya. Namun, gadis itu malah terus menerus menendang ujung sepatunya.


"Apa sih?" tanyanya ketus.


Gladis menaruh jari telunjuknya di mulut, mengisyaratkan Randi agar diam. Jari telunjuknya mengarah ke arah Fajar yang duduk di samping Randi, namun arah pandangannya tertuju ke arah Anggita yang tengah mengobrol dengan seorang siswi di luar kantin.


"Kamu kenal cewek itu siapa, Dis?" tanya Randj tiba-tiba.


Gladis mematung tatkala pandangan Fajar kini tertuju ke arahnya.


"Itu ... adik kelas katanya," jawab Gladis enggan, "namanya Desi."


"Kok kamu bisa kenal dia?" tanya Randi penasaran.


"Tadi pagi dia yang ngenalin diri."


"Terus ngapain ngobrol sama si Gita lama gitu?" tanya Randi curiga.


Gladis melirik ke arah Randi sejenak sembari menendang-nendang ujung sepatunya lagi. Namun, Randi tak mengerti akan isyarat kebingungannya. Malah menanggapinya dengan kerutan kening. Gladis menghela napas berat.


"Tadi dia minta nomor si Gilar sama si Gita," jawab Gladis enggan.


"Nomor si Gilar? Buat apa?" Randi semakin penasaran.


Gladis mengangkat kedua bahunya sebagai balasan. Kedua ujung bibirnya ia angkat tinggi-tinggi agar membentuk sebuah senyuman paling meyakinkan Ransi bahwa hanya sampai situ saja ia tahu kebenarannya.


Obrolan keduanya terhenti tatkala Anggita datang dan duduk di samping Gladis.


Gladis menatap tajam ke arahnya, namun sayang Fajar tak tahu. Randi pun menoleh ke arah Fajar sembari memasang raut keheranan. Sedangkan Anggita masih terpaku enggan menjawab.


"Cuma ngobrol doang, Faj." Jawab Anggita enteng. Meskipun kenyataannya, tubuhnya terasa lunglai.


Beruntung Fajar tak memperpanjang percakapan mereka. Memilih mengalihkannya ke hal yang lain. Meski ia yakin ada sesuatu yang serius telah terjadi antara ia dan adik kelas itu. Fajar enggan membahasnya di sini, apalagi ada Randi dan Gladis. Ia tak mau membuat mereka curiga dengan semua pertanyaan yang hendak ia lontarkan pada Anggita nantinya.


"Nanti ada yang jemput lagi gak, Ran?" tanya Gladis tiba-tiba. "Jum'at kemarin dia di jemput pake mobil, loh! Kalian gak tahu, yah?" sindir Gladis pada Fajar dan Anggita yang memasang wajah kebingungan.


Randi mendengus kesal.


"Gimana kalau hari ini kita main ke rumahnya?" timpal Anggita tiba-tiba. Ia melemparkan senyum ejekan kepada Randi yang memelototinya. "Rumahnya gede, loh!" tambah Anggita kemudian.


"Wah! Ayo! Aku setuju!" seru Gladis penuh semangat.


"Aku gak bisa," timpal Fajar.


Anggita dan Gladis manyun. Randi terkekeh.


"Sorry. Kalau cuma cewek doang, saya gak izinin masuk rumah. Takut fitnah!" timpal Randi membela diri.


"Kalau aku nebeng pulang bareng kamu boleh gak, Ran?" tanya Gladis.


Randi memelototinya.


"Nggak!" jawab Randi tanpa tedeng aling.


"Dasar pelit!"


"Terserah!"


***


Kali ini Bu Risma yang menjemputnya lagi. Beberapa saat setelah memasuki mobil, ia menahan lengan Ibunya yang hendak memutar setir. Tatapannya tertuju ke arah Anggita yang di bonceng oleh Fajar.


"Anak itu seriusan?" gumamnya.


"Seriusan apa, Ran?" timpal Bu Risma yang keheranan akan tingkah Randi yang tiba-tiba.


Randi menggeleng pelan. Berusaha keras untuk tak memedulikan apa pun yang sempat dilihatnya. Namun, sebuah ketukan yang berasal dari kaca mobil di sampingnya membuat Randi terkejut bukan main. Bukan malah langsung membuka kaca jendela, ia malah memberikan Bu Risma isyarat agar langsung mengemudikan mobilnya.


"Itu ada yang ngetuk pintu manggil kamu, Ran!" protes Bu Risma sembari berusaha membuka jendela kaca di samping Randi.


Namun, Randi menggagalkan usahanya.

__ADS_1


"Gak usah, Bu. Randi gak kenal dia!"


Bu Risma tentu saja tak percaya. Ia benar-benar membukakan jendela itu hingga terbuka sempurna. Randi menghela napas berat, berusaha keras tak melirik sedikit pun ke arah seseorang yang tiba-tiba mengetuk jendela mobilnya.


"Assalamu'alaikum, Tante. Aku Gladis. Temen sekelasnya Randi. Boleh ikut nebeng gak?" ujar Gladis tanpa basa-basi.


Bu Risma terkekeh geli. Sementara Randi langsung memelototinya dengan tajam.


"Apaan sih? Kita gak searah! Sana pergi!" usir Randi tanpa belas kasih.


Gladis manyun.


"Rumah aku di Komplek A, Tante. Boleh, yah? Temen aku si Anggita malah di anterin sama si Fajar. Aku ditinggal sendirian deh!" ungkap Gladis.


Randi berdecak sebal.


"Oh. Arahnya sama nih kebetulan! Masuk aja!" timpal Bu Risma mengiyakan.


Randi berseru kesal. Namun, Bu Risma tak menggubris dan membiarkan Gladis masuk ke dalam mobilnya. Duduk tepat di belakang Randi yang sama sekali enggan menoleh ke arahnya.


"Temennya Anggita juga?" tanya Bu Risma.


Gladis mengiyakan tanpa basa-basi.


Mobil mulai melaju perlahan. Gladis terus tersenyum memandangi Randi yang sama sekali enggan menoleh ke arahnya. Memilih memalingkan wajahnya ke arah luar jendela sembari sesekali menaik turunkan kaca matanya.


"Oh, iya, Tante. Randi kenapa sih pake jaket terus? Di kelas juga. Di luar juga. Eh, di dalem mobil juga!" celetuk Gladis sekenanya.


Spontan Randi menoleh ke arah Bu Risma sembari menggeleng dengan antusias. Bu Risma hanya terkekeh.


"Kenapa gak nanya Randi aja?" timpal Bu Risma kemudian.


Tiba-tiba wajah Gladis menyembul di antara kursi kemudi Bu Risma dan tempat duduk Randi. Sontak Randi menjauhkan tubuhnya. Sementara Bu Risma memegangi dadanya dengan satu tangan sembari tertawa.


"Randi-nya gak mau ngomong, Bu. Malah pas jam Olahraga, dia malah diem di pinggiran lapangan. Padahal yang lain lagi kerja rodi jadi atlet!" protes Gladis.


"Saya di kasih tugas tulis, tahu!" timpal Randi membela diri.


Gladis menjulurkan lidahnya tak peduli. Bu Risma terus menerus tertawa melihat interaksi keduanya.


"Kalian kok kayak musuhan gitu sih?" tanya Bu Risma.


"Aku perhatian sama dia, Bu. Cuma dia-nya gak mau diperhatiin!" Gladis membanggakan diri.


"Siapa juga yang mau di perhatiin sama tukang ghibah?" sela Randi tak terima.


"Aku bukan tukang ghibah, Ran. Tapi suka berdiskusi! Biar pinter!"


Randi berdecak.


"Berdiskusi masalah hubungan Anggita sama cowok-cowoknya? Itu sih ngeghibah, Neng!" Randi nyolot.


Gladis tersipu.


"Duh! Aku di panggil Neng sama Randi, Tante! Ya, ampun ... ada kemajuan juga pedekate sama kamu, Ran!"


"Woy! Ngomong apaan sih?"


Gladis memukul-mukul mulutnya berkali-kali.


"Keceplosan! Pura-pura gak denger aja, yah!" pinta Gladis sembari mencoba menutup kedua telinga Randi dengannya.


Sontak saja Randi menjauhkan diri dari Gladis. Sementara Bu Risma tertawa tak henti-henti.


"Duh! Kamu polos banget, Gladis. Nyampe bisa keceplosan gitu." Ujar Bu Risma yang membuat Gladis langsung terdiam.


"Efek suka ngeghibah, Bu!" ujar Randi ketus.


"Gak apa-apa. Toh keceplosannya juga di depan calon mertua!" timpal Gladis bangga.


Randi mendengus kesal.


"Anak cowok Tante cuma Randi, kah?" tanya Gladis tiba-tiba.


Randi melongo.


"Nggak. Kakak pertama Randi cowok kok. Tapi udah nikah!" ungkap Bu Risma.


"Alhamdulillaah. Kalau begitu aku gak akan mudah berpaling sama yang lain, Ran. Tenang! Saat ini kamu fokusnya aku!" ungkap Gladis penuh semangat.


"Kamu gila yah, Dis! Ngomong gitu depan Mamah saya?" timpal Randi berang.


Gladis termenung sesaat. Wajahnya merengut sedih.


"Iya, Ran. Kayaknya aku udah gila! Bener-bener gila pengen dapetin kamu."


Bu Risma terkekeh kembali. Randi melemparkan tas yang ada di bawah kekinya spontan ke arah Gladis yang dengan sigap menangkapnya.


"Duduk yang bener sana! Gak usah ngaco kalau ngomong!" teriak Randi kesal.


Gladis manyun tak terima.


"Duduk aja dulu, Gladis. Kamu tenang aja! Nanti Tante bantu cara pedekatenya!"


Mulut Randi menganga lebar.

__ADS_1


"Mamah! Ngomong apaan sih?" tukasnya berang.


Gladis tersenyum riang sembari memeluk tas Randi yang dilemparkan padanya tadi. "Terima kasih, calon mertuaku!" ucapnya penuh semangat.


__ADS_2