
Selepas melambaikan tangan ke arah Gladis yang baru turun dari mobilnya, Bu Risma langsung tertawa lepas tatkala mulai melajukan mobil menjauh dari rumah Gladis. Randi memilih menyandarkan kepalanya ke kursi, meremas erat keningnya yang tiba-riba nyeri akibat ulah Gladis yang tanpa di duga.
"Kamu punya temen kayak gitu juga di kelas?" tanya Bu Risma masih tertawa.
"Nasib sial, Mah. Biasanya dia cuma jago ngeghibah doang di kelas. Gak tahu tuh dia punya bakat frontal kayak tadi! Pedekate? Cih! Nggak sudi!"
"Hush!" timpal Bu Risma sembari menepuk pundak anak lelakinya perlahan, "jangan kayak gitu! Nanti kamu beneran suka loh sama dia!"
Randi mendengus kesal.
"Gak mungkin, Mah! Gak mungkin!"
"Bisa jadi, loh!"
"Asal Mamah gak bantu dia apa-apa!"
"Tapi, Mamah suka cara dia ngomong jujur. Keliatannya juga masih polos!"
"Terlalu polos! Nyampe mulutnya susah di kunci rapat! Denger gosip dikit aja langsung rame dia mah! Nggak! Randi gak mau suka sama cewek kayak dia! Riweuh ah!"
Bu Risma kali ini memilih tersenyum. Hatinya benar-benar lega melihat Randi yang sedang kalang kabut karena tiba-tiba di dekati seorang gadis yang terang-terangan mengatakan tengah mendekatinya. Belum pernah ia melihat anaknya semarah ini hanya karena seorang gadis. Biasanya Randi akan marah jika bersangkutan dengan kesehatannya yang tiba-tiba menurun, memaksanya untuk menghabiskan waktu di rumah dan absen dari Sekolah.
Sudah sering Randi mengeluh karena teman-temannya terlalu memanjakan dirinya. Bersikap seolah ia barang antik yang harus di jaga setelah tahu kondisi fisiknya yang sebenarnya. Maka dari itu, Bu Risma paham saat Randi enggan menceritakan kondisinya kepada teman-teman baru di sekolah Marga. Mungkin ia belum siap di perlakukan serupa orang yang tak bisa apa-apa.
Kemunculan Gladis pun adalah tak pernah ia duga. Gadis polos itu benar-benar berani bukan hanya dalam ucapan, tapi tindakannya yang terkesan tak sopan. Tapi, Bu Risma senang bukan main melihat reaksi Randi yang begitu kesal karena tingkah temannya. Mungkin inilah yang diinginkan Randi selama ini. Diperlakukan normal seperti yang lain. Di dekati seorang gadis bukan karena alasan di kasihani, terka Bu Risma.
"Gladis yah, namanya? Mamah suka sama dia, Ran." Ungkap Bu Risma tiba-tiba.
Randi memandang ke arahnya bingung.
"Apaan sih, Mah? Jangan ikut-ikutan ngaco kayak dia deh!" protes Randi tak terima.
"Maksudnya, Mamah suka dia jadi temen kamu. Sama kayak Anggita dan Fajar yang sering kamu ceritain itu loh. Yang anak rangking satu!"
"Ih, amit-amit! Dia pengecualian, Mah!"
Bu Risma hanya bisa terkekeh. Ia tahu anaknya tak benar-benar serius mengatakan hal itu. Mengingat bagaimana sengitnya perdebatan ia dan Gladis tadi, Bu Risma bisa menangkap jelas bahwa keduanya berteman dengan baik. Meski Gladis ternyata memiliki maksud terselubung yang langsung membuka kedoknya sendiri.
Mengingat hal itu Bu Risma tak bisa menahan tawa. Ia biarkan Randi memandangnya bingung. Toh ia tahu, Randi pun sama senangnya dengan dirinya.
"Ayah udah dapet informasi dari Rumah Sakit di Singapura. Kabar baik loh, Ran!" ungkap Bu Risma antusias.
Namun, tanggapan Randi hanya mangut-mangut tak peduli. Raut wajah kesalnya berubah murung seketika.
***
"Kamu gak mau cerita sesuatu ke aku, Ta? Soal adik kelas tadi di kantin."
Anggita masih menyeruput minuman berwarna putih yang ada di gelas cup itu dengan tenang. Meskipun Fajar menatapnya lekat tak sabar menanti jawaban gadis itu.
Anggita mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Menghela napas panjang sembari meletakkan minumannya di atas meja, penyekat antara ia dan Fajar yang duduk saling berhadapan.
Gadis itu tak langsung membuka suara. Matanya mengedar ke arah jalan yang tepat berada di samping tempat mereka duduk bersama.
"Dia minta nomor Gilar, Faj."
Fajar mangut-mangut.
"Kamu kasih gak?"
Anggita menggeleng.
"Kenapa?" tanya Fajar lagi.
"Nggak aja."
Fajar tersenyum kecil.
"Dia bilang suka sama si Gilar." Ungkap Anggita enggan.
Ia tadinya ingin menutup rapat perasaannya yang tiba-tiba kalut. Hanya saja entah kenapa semua itu terlontar begitu saja di hadapan Fajar. Meski ia tahu bahwa seharusnya ia bisa mengurangi keterbukaan dirinya pada lelaki ini semenjak ia menawarkan diri untuk menemani Anggita. Pernyataan yang di tangkap Anggita mengandung arti lain dari sebuah perhatian terhadap sesama teman.
Baginya Fajar adalah tempat ternyaman berbagi segalanya. Teman terbaik yang tidak boleh dilepas hanya karena sebuah perasaan suka yang tiba-tiba merongrong salah satunya. Anggita ingin menjaga keutuhan pertemanannya dengan Fajar. Sebaik mungkin. Maka dari itu, ia memilih berpura-pura lupa dan berlagak bodoh saja akan pernyataan lelaki itu. Demi menjaga hubungannya dengan Fajar tetap di zona yang nyaman. Teman. Itu sudah lebih dari cukup.
Ia yakin, Fajar bukannya tak tahu bagaimana perasaannya terhadap Gilar. Ia juga tak tahu maksud dari perkataan Fajar demikian itu untuk apa. Apakah demi mengubah arah hatinya? Lalu berpaling ke arahnya? Menjadikannya pelampiasan? Tidak! Anggita tidak akan pernah mempergunakan Fajar demikian.
Lelaki itu terlalu berharga hanya untuk di jadikan tempat pelampiasan. Baginya dengan menjaga keutuhan pertemanannya sudah lebih dari cukup.
"Terus, kamu mau bagaimana sekarang?" tanya Fajar kemudian.
Anggita tersenyum kecil.
__ADS_1
"Gak tahu, Faj. Dia saingan pertama aku, tahu!"
Anggita cekikikan. Fajar hanya memerhatikannya dengan saksama. Ia sadar, membuat Anggita berpaling dari Gilar bukanlah hal mudah.
Meskipun ia lega, setelah pernyataan terselubungnya tempo hari, Anggita masih bersikap seperti biasanya. Berbagi apa pun tanpa sungkan. Ini lebih dari cukup baginya sekarang. Membuat Anggita masih tetap nyaman berada di sampingnya adalah sebuah pencapaian besar. Mungkin ia hanya perlu bersabar sedikit lagi, membiarkan Anggita menikmati perasaannya terhadap Gilar hingga bosan. Mungkin ia hanya perlu bertahan sedikit lagi, hingga Anggita mau memalingkan arah hatinya pada Fajar. Mungkin sedikit lagi, pikir Fajar.
Tiba-tiba Anggita bangkit dari kursinya. Menyampirkan tasnya di belakang.
"Mau pulang sekarang, Ta?"
"Aku pulang naik bus aja, yah. Makasih, Faj. Assalamu'alaikum!"
Tanpa mendengar persetujuan darinya, Anggita memilih pergi begitu saja.
"Wa'alaikum salam!" balas Fajar sembari terus menatap langkah Anggita yang semakin menjauh.
Selepas Anggita menghilang dari pandangannya, Fajar merogoh ponselnya dari saku celana. Menelepon seseorang yang entah siapa. Tak lama setelah telepon terputus, buru-buru ia berlari menuju tempat parkir. Melajukan motornya secepat mungkin.
Tak lama, motornya memasuki area sekolah yang sudah mulai sepi. Setengah berlari Fajar melangkahkan kakinya ke arah kantin. Matanya mengedar ke segala penjuru ruangan yang sudah sepi. Seseorang di ujung kantin melambaikan tangannya. Fajar buru-buru menghampiri.
"Lama banget sih Kak pacarannya! Bete tahu!" gerutu seorang gadis yang tadi melambaikan tangan padanya; Desi.
Gadis itu tersenyum lebar tatkala Fajar duduk berhadapan dengannya sembari memasang wajah serius.
"Gimana? Kak Gita masih belum nyerah juga?" tanya Desi kemudian.
Fajar menggeleng mantap.
"Kamu bilang apa aja tadi sama dia?" tanya Fajar serius.
"Bilang kalau aku suka sama Kak Gilar."
Fajar terdiam sejenak.
"Dia nganggap kamu saingannya." Ungkap Fajar tak berdaya.
Desi tertawa terbahak.
"Oh, yah? Ya, ampun, Kak! Gimana dong? Kok aku malah tambah pengen dapetin Kak Gilar, yah?"
"Jangan becanda! Dia ketua Geng Motor, tahu! Udah! Cukup! Aku hargai perasaan Anggita. Dia bener-bener suka sama Gilar. Gak ada tempat buat aku selain jadi temennya. Itu udah cukup kok!"
"Permainan baru di mulai, Kak? Jangan jadi cowok pengecut gitu dong! Kakak duduk manis aja. Oke? Tahu-tahu Anggita nemplok sama Kakak!"
Fajar hanya terdiam.
"Sini! Minta nomor Kak Gilar!"
Tanpa basa-basi, gadis itu langsung merenggut ponselnya yang ia taruh di saku celana. Tentu saja Fajar terkejut bukan main.
"Gak sopan!" teriak Fajar geram.
"Halah! Sok suci banget sih, Ka! Udah pernah tidur bareng ini juga!"
"Heh! Jaga itu mulut! Gimana kalau ada yang denger? Huh!"
Desi mengembalikan ponselnya dengan meletakannya di meja. Menatap Fajar dengan tatapan meledek.
"Tinggal bilang jujur aja hubungan kita apa, Kak Faj! Gak usah ribet deh!"
Fajar mencebik.
"Nyesel aku minta bantuan kamu, Des! Dasar cewek gila!"
Desi tak acuh. Ia malah bersiul-siul senang sembari menekan layar ponselnya dengan semringah. Fajar yang menyaksikan hanya bisa bergidik ngeri.
***
Gilar tengah memandangi rumah Anggita lekat. Beberapa kali pandangannya teralih ke arah rumah dan jalan. Sudah berjam-jam lamanya semenjak ia pulang dari sekolah menunggui kedatangan Anggita.
Suara getaran ponselnya membuat perhatiannya teralih. Sebuah nomor baru muncul di layar ponselnya. Dengan santai Gilar menekan layar itu dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Dengan Mang Parto, Ahli motor terkemuka di seantero Nusantara. Apa pun masalah yang bersangkutan dengan motor Anda, saya bisa mengatasinya hanya dengan kedipan mata. Ada yang bisa saya bantu?" cerocos Gilar tanpa jeda seolah tak peduli akan siapa yang hendak meneleponnya.
"Hai, Kak Gilar! Aku Desi. Ingat? Yang minta nomor Kakak pagi tadi sebelum upacara!" balas suara di seberang sana tak kalah semangat.
Seketika raut wajah Gilar murung.
"Anda salah sambung!" timpalnya kemudian sebelum menutup saluran teleponnya tak acuh.
Tak lama ponselnya kembali bergetar. Asalnya tetap dari nomor yang sama. Dengan enggan Gilar menanggapinya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya ketus.
"Aku suka sama Kak Gilar. Mau jadi pacar aku, gak?"
"Sorry! Gak minat!"
"Daripada PHP terus ke Kak Gita, mending biarin dia hidup bebas, Kak. Kasihan loh! Dia cewek! Aku siap kok jadi tumbal biar Kak Gita lupain Kak Gilar juga!"
"Cewek gila!"
"Kak Gilar yang lebih gila! Permainin hati orang baik kayak Kak Gita. Gak kasihan apa?"
Di saat yang bersamaan, pandangan Gilar terpaku ke arah Anggita yang setengah berlari menuju ke arahnya. Lambaian tangan gadis itu ia balas dengan antusias.
"Bukan urusan kamu!" tukas Gilar tak acuh.
"Pikirin dulu aja tawaran aku. Aku beneran suka sama Kak Gilar kok. Gak apa-apa kalau aku cuma jadi pelampiasan juga. Yang penting Kak Gilar jadi pacar aku. Itu aja kok! Aku gak minta apa pun!"
Klik!
Sambungan terputus bersamaan dengan kedatangan Anggita di hadapannya. Gilar beringsut turun dari motor dengan sikap canggung. Meskipun ia berusaha keras mengumbar senyuman selebar mungkin, tak dapat ia mungkir percakapan barusan membuat isi kepalanya penuh ide-ide baru akan kelanjutan hubungannya dengan Anggita.
Ia juga tak mau berlama-lama mempermainkan perasaan gadis itu. Ia tahu benar apa yang tengah di lakukannya selama ini malah semakin membuat perasaan sukanya kian membesar, membuat keinginannya untuk memiliki Anggita seutuhnya semakin kuat. Sampai ia lupa diri siapa sebenarnya dirinya. Seberapa brengsek dirinya di belakang Anggita.
"Ngapain kamu disini, Gil?" tanya Anggita membuyarkan lamunannya.
"Mau ngajakin kamu jalan kaki lagi, Ta."
"Kirain kalau udah beres skorsingnya, berhenti dateng ke sini!"
Anggita tersipu malu. Sekuat tenaga Gilar menjaga sikap canggungnya agar tetap santai.
"Kalau pake motor aja, gimana? Aku pengen beli martabak telor yang ada di deket alun-alun."
"Boleh, Ta. Boleh!"
Gilar enggan menginterupsi apa pun. Firasatnya mengatakan bahwa ia harus melakukan apa yang Anggita mau saat ini. Pikirannya kacau balau. Di isi beragam rencana baik dan buruk yang datang di saat bersamaan demi kelanjutan hubungannya dengan Anggita. Ia tak yakin esok akan seperti apa perasaannya. Ia tak yakin keyakinannya akan seperti apa esok. Ia juga tak yakin keputusan apa yang harus ia ambil sekarang. Namun, satu hal yang pasti, ia tak boleh lama-lama mempermainkan gadis ini.
Seperti biasanya Anggita selalu menjawil dua ujung bajunya selama berboncengan di motor. Sedang ia akan mencuri kesempatan agar dapat menikmati wajah semringah Anggita dari balik kaca spion. Namun, entah kenapa ada perasaan sakit yang tiba-tiba menghantuinya. Ia benar-benar kalang kabut. Bisakah ia lari membawa Anggita pergi saja?
Menjelang magrib keduanya baru kembali ke rumah Anggita. Gilar menolak keras permintaan gadis itu yang menawarkannya untuk masuk ke dalam rumah.
"Gita!"
"Apa?"
"Aku sayang kamu, tapi maaf kita gak bisa pacaran."
"Ngomong gitu lagi! Bosen tahu!"
Anggita membalikkan badannya memunggungi Gilar. Membuka pintu gerbang perlahan dengan raut wajah kesal.
"Aku serius, Ta!"
Anggita membalikkan badannya kembali.
"Terus mau kamu apa?" tanya Anggita ketus.
Gilar mematung.
"Entahlah, Ta. Aku takut kamu juga sayang sama aku."
Kening Anggita mengerut.
"Semoga cuma aku aja yang sayang sama kamu. Kamu gak boleh balik sayang ke aku!" sambung Gilar kembali.
"Kenapa gak boleh? Aku sayang sama kamu juga kok!"
Anggita meremas gagang pintu gerbang erat. Kata-kata yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya keluar juga. Sementara Gilar mendadak termangu menatapnya lekat.
"Kok malah bengong? Kenapa aku gak boleh sayang sama orang yang juga sayang sama aku?"
Perasaan Anggita tiba-tiba berkecamuk kesal. Bukan tanggapan baik yang ia dapatkan dengan mengungkapkan perasaannya, tapi malah diamnya Gilar yang seolah tak senang dengan pengakuannya.
"Aku pulang yah, Ta! Assalamu'alaikum!"
Anggita buru-buru keluar kembali dari balik gerbang rumahnya hendak menghentikan Gilar. Namun lelaki itu langsung melaju kencang dengan motornya tanpa sempat bicara apa pun.
"Wa'alaikum salam." balasnya lirih.
Bukan ini yang Anggita inginkan. Bukankah harusnya Gilar senang bahwa perasaan keduanya sama? Kenapa ia malah kabur tanpa mengatakan apa pun setelah pengakuan Anggita? Apa benar mereka tak bisa pacaran? Tapi, kenapa? Apa alasannya?
__ADS_1