
Gladis mencebik mendapati Gilar tengah berlutut di depan meja Anggita, menopang dagu di kedua lengannya yang saling bertumpu di tepi meja. Memandangi teman sebangkunya dengan senyum yang tak pernah berhenti terurai.
"Heh! Punya malu dikit dong! Di sini banyak yang jomblo! Gak usah pacaran di kelas kek!" pekik Gladis geram. Beberapa kali mengetuk meja untuk mengalihkan pandangan Gilar. Anggita terkekeh geli.
"Kamu aja yang jomblo, Dis! Yang lain mah enggak!" ejek Gilar.
Gladis tergelak. Menepuk berulang kali pundak lelaki itu hingga terdengar ringisan. Meski merasa risi karena tingkah polah Gilar yang berbeda, Gladis memilih cepat-cepat meninggalkan kelas. Buru-buru menenteng tasnya dan berbaur dengan siswa lain di luar sana.
Gilar bangkit dari posisinya saat Fajar hendak melewatinya. Ia sengaja mencegat lelaki itu. Mengulurkan tangannya seolah hendak mengajaknya bersalaman. Fajar termenung sesaat.
"Sorry! Anggita pilih gue! Dan gue pilih dia!" ujarnya penuh keyakinan.
Anggita terkesima. Bingung dan khawatir. Ia enggan menatap Fajar lebih lama. Risi.
"Iya," timpal Fajar membalas uluran tangan Gilar. "Selamat!"
Lelaki itu memilih tidak memperpanjang percakapan. Gilar mengedipkan sebelah matanya ke arah Anggita. Entah apa maksudnya.
Lalu, ia ulurkan tangannya ke muka Anggita yang masih duduk di kursinya. Tak memerlukan waktu lama bagi Anggita untuk membalas ulurannya. Membiarkan langkahnya mengikuti jejak Gilar lewat tarikan tangannya. Hanya dengan memandangi punggung lelaki itu saja sudah membuat hati Anggita terpingkal-pingkal.
"Hari ini mau ke mana, Gita?" tanya Gilar sembari menoleh ke arahnya. Menyejajarkan langkahnya dengan Anggita yang terus menerus menurut patuh.
"Terserah." Asalkan dengan Gilar, ke mana pun mereka pergi tak akan jadi masalah bagi Anggita.
"Jalan-jalan lagi di Kompleks perumahan kamu, gimana? Udah lama gak nengokin tetangga kamu yang suka ngeghibah." Gilar terkekeh sendiri.
"Lagi? Gak bosen?" Anggita merengut kecewa. Setidaknya Gilar harus membedakan antara aktivitas pedekate dan pacaran, kan?
Gilar tergelak. Ia menggenggam tangan Anggita semakin erat. Seiring langkah mereka yang semakin mendekati tempat parkir. Berpasang-pasang mata sudah menyambut mereka. Tatapan iri, bingung, kecewa, bahagia, semua tampak begitu nyata. Anggita bahkan tak ada waktu lagi untuk sekedar berbenah diri agar terlihat pantas berdampingan dengan Gilar.
"Kamu sukanya pantai, gunung, mall, atau tempat lain mungkin? Selain Kompleks Perumahan kamu!" sindir Gilar tak acuh dengan berpasang mata yang tengah memperhatikannya. Ia seolah tak terusik sedikit pun.
Anggita menoleh bimbang. Ia bergumam tak jelas. Gilar memilih naik ke motornya, menyalakan mesin dan baru menoleh ke arah Anggita.
"Naik dulu aja deh! Biar aku yang putusin kita mau ke mana. Kamu kelamaan mikir!" protes Gilar setengah mengejek.
Anggita merengut. Patuh duduk di belakang Gilar. Tak malu-malu lagi melingkarkan kedua lengannya di pinggang lelaki itu. Riuh gemuruh menyorakinya, namun ia memilih bergeming. Tersenyum malu dengan terus berbisik agar Gilar cepat-cepat melajukan motornya.
Motor Gilar melesat membelah keramaian. Meliuk-liuk menepis kepadatan kendaraan, membuat Anggita mau tak mau harus mengencangkan pegangan. Tamparan angin berhasil membuat rambut Anggita berkeliaran bebas. Di sapunya anak-anak rambut yang keluar dari ikatan dengan tetap mengembalikan tangannya memeluk tubuh Gilar. Seolah enggan barang sejenak pun meninggalkan momen manis yang harusnya memang dinikmati sepasang kekasih.
"Kita mau ke mana jadinya Gilar?" teriak Anggita sekuat tenaga. Semoga telinga Gilar yang tertutupi helm itu mendengarnya.
"Ke tempat yang enak buat pacaran!" balas Gilar penuh antusias.
Anggita mencubit bagian kecil perut Gilar. Lelaki itu meringis dan tertawa di saat bersamaan.
"Becanda mulu deh! Yang bener dong jawabnya!" timpal Anggita geram.
"Beneran, Gita! Emang kamu maunya ke mana? Tempat pengajian Ibu-ibu? Silakan! Nanti aku carikan mesjid yang ada acara pengajiannya."
Gilar terkekeh. Anggita menepuk pundak lelaki itu berkali-kali.
"Ih! Becanda mulu ah! Terserah kamu aja lah! Pusing ngobrol sama kamu mah! Gak nyambung!" protes Anggita kesal.
__ADS_1
"Tenang aja. Aku bakalan bawa kamu ke tempat yang aman kok. Sebelum magrib udah aku kembalikan ke rumah. Percaya gak?" tawar Gilar.
"Enggak tuh! Kamunya kebanyakan bohong!"
"Sekarang udah kebanyakan jujur kali, Ta."
"Suka-suka kamu aja deh!"
Anggita mengeratkan pelukannya. Menempelkan kepalanya di punggung Gilar. Memejamkan mata lekat seolah memang rela Gilar membawanya pergi ke mana pun. Cukup dengan Gilar saja. Ke mana pun.
Laju motor Gilar sudah lama menjauhi pusat kota. Berbelok ke arah jalan besar menyusuri deretan rumah sepi. Lalu lalang kendaraan tak lagi terasa. Berganti semilir angin menderu keras membekaskan rasa dingin. Menaiki beberapa jalanan berkelok, menikung, dan menanjak lagi. Akhirnya Gilar membelokkan motornya ke sebuah gerbang tak berpintu, menaruh motornya di tempat parkir yang langsung berhadapan dengan sebuah danau besar.
Anggita mengedar sekeliling. Matanya membulat sempurna menyelidik tiap sudut tempat yang lebih mirip hutan baginya. Pepohonan besar berdiri kokoh membentuk rimbunan rancu, berdaun lebat, lengkap dengan gemerisik angin yang berembus lamban.
Dingin.
Gilar melangkah menuju undakan tangga hitam yang jumlahnya tak dapat ia hitung. Di sampingnya beberapa rumah panggung dengan dinding kayu berdiri kokoh. Sepi tak bersuara. Tak ada siapa pun yang ada di sana kecuali keduanya.
"Kamu ngajakin aku ke sini buat apa, Gil? Awas aja kalau macem-macem!" ancam Anggita.
"Enggaklah! Ini kan tempat wisata. Gak boleh di jadiin tempat macem-macemin kamu. Gak berkelas! Gak berlevel buat kamu!"
"Maksudnya kamu emang niat macem-macemin aku, gitu?" terka Anggita geram.
Anggita mencebik. Mempercepat langkahnya mendahului Gilar. Terdengar suara seruan memanggil namanya, namun Anggita memilih berlalu.
***
"Sejak kapan kamu suka sama aku, Gilar?"
"Gak inget, Ta."
Anggita mangut-mangut mengerti.
"Alasan kamu suka sama aku apa?" Anggita masih menyudutkan Gilar dengan pertanyaannya.
"Karena cantik, mungkin?"
"Itu doang?" tuntut Anggita tak puas.
"Pinter. Cantik. Pinter. Cantik ...."
"Masa cuma itu doang, sih?"
Gilar terkekeh.
"Terus kamu maunya apa? Perlu yah aku punya alasan buat suka sama kamu?" timpal Gilar membela diri. Ia tak pandai mengungkapkan perasaan yang bisa membuat perempuan puas. Apalagi ini kali pertamanya sungguh-sunggih mencintai seorang wanita. Tak ada kata yang bisa menjelaskan perasaannya pada Anggita. Terlalu kompleks.
"Perlu lah! Kali aja kamu cuma mau maen-maenin aku doang, kan? Biar aku siap-siap dari sekarang buat patah hati!" Anggita geram. Ia yakin Gilar tak sepolos yang ia katakan. Lelaki itu pasti sudah pernah menghombali perempuan lain sebelum ia.
"Aku gak punya alasan apapun buat suka sama kamu, biar gak ada satu alasan pun buat aku benci sama kamu."
Anggita terpegun. Terdengar menghangatkan hati, namun begitu ganjil.
__ADS_1
"Cieh, bisa gombal juga! Aku terharu!" tukas Anggita.
"Nah, kan? Giliran ngomong jujur malah di sangka gombal! Cewek maunya apa sih dari cowok, Ta?"
Anggita mengangkat kedua bahunya bersamaan. Gilar menoleh ke arahnya dengan tatapan gemas.
"Makannya, jadi cowok tuh harus peka!" tuntut Anggita.
Gilar mendesah berat.
"Hubungannya apa, Ta?" Kening Gilar mengerut tajam.
"Pikir aja sendiri!" Anggita tak acuh.
Gilar mendadak menghentikan langkahnya. Imbasnya Anggita turut berhenti melangkah, memandang Gilar kebingungan.
"Kenapa sih? Mau pulang gak? Udah mau malem! Tadi bilangnya sebelum magrib mau anterin aku pulang!" Anggita mengingatkan.
"Aku suka sama kamu, Gita."
Di tatapnya Anggita lekat.
"Aku tahu." Anggita tak acuh. Gadis itu memilih melemparkan seringainya.
"Aku sayang sama kamu."
Gilar meriah kedua tangan Anggita. Menggenggamnya erat.
"Harusnya sih begitu."
Anggita tetap bersikap tak acuh.
"Aku cinta sama kamu."
Gilar merangsek perlahan mendekati Anggita yang masih tak acuh.
"Oh, itu emang kewajiban kamu jadi pacar aku."
Sebuah kecupan mendarat di pelipis Anggita. Lama. Anggita terpegun memandangi jakun Gilar yang ada di hadapannya. Naik turun tak karuan. Anggita menelan salivanya dalam. Merasakan bibis basah Gilar yang mendarat di keningnya terasa begitu lembek. Dingin. Namun, hatinya mendadak riang gembira kepayahan.
Kecupan itu perlahan menghilang. Menyisakan perasaan berkecamuk di dalam hati Anggita. Ragu-ragu ia melemparkan senyuman saat Gilar kembali menatapnya. Wajah keduanya teramat dekat hingga Anggita terpaksa menahan aliran napasnya lebih lama. Ia takut aroma udara napasnya tercium bau di hidung Gilar.
"Perasaan seorang Gilar cuma buat kamu, Gita." lirih Gilar berdengung merdu.
Anggita mengangguk ragu.
"Dan perasaan seorang Anggita harusnya cuma buat seorang Gilar." Terka Gilar memaksakan isi hatinya.
Anggita lagi-lagi mengangguk patuh. Di tatapnya wajah Gilar yang semakin mendekat. Menggenggam tangannya begitu erat. Hanya dalam sekejap Anggita limbung akan sentuhan aneh di bibirnya. Ia terperanjat akan sensasi dingin dan lembut di bibirnya. Sebuah sentuhan manis yang berlangsung lama. Membuat matanya spontan terpejam menyisakan gelap.
Aku hanya untuk kamu, Gilar. Batin Anggita.
Aku hanya untuk kamu, Gita. Batin Gilar menyahut.
__ADS_1
***TAMAT***