TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 13 PERTENGKARAN


__ADS_3

Gladis, Fajar dan Randi duduk di kursi seberang ranjang Anggita tengah tertidur pulas. Lukanya sudah di obati. Sebuah plester motif Doraemon membalut luka di pipinya. Perban putih pun sudah menutupi luka di sikunya.


"Dia ke banting keras banget tadi! Gak akan ada luka dalem kan, Ran? Kamu anak dokter pasti tahu! Itu loh kayak di drama Korea. Apalagi kepala Gita juga sempet kebentur tembok lapangan. Gak akan bikir amnesia, kan?" cerocos Gladis panjang lebar.


Randi menghela napas panjang, "gak akan. Tenang! Anggita cuma syok aja."


"Apa kita biarin dia sendirian aja? Takutnya tidurnya jadi gak nyenyak kalau kita ngobrol gini!" sahut Fajar sembari menoleh ke arah Gladis dan Randi yang duduk di kedua sisi tubuhnya.


Gladis mengangguk.


"Iya juga sih!" seru Gladis membenarkan.


Gladis mengikuti Fajar dan Randi yang sudah bangkit dari duduknya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat kedua lelaki itu pun berhenti melangkah.


"Kamu aja yang jaga dia sendirian. Takutnya pas bangun, Gita butuh sesuatu," ujar Randi sembari menunjuk ke arah Gladis.


Gadis itu mematung. Sejenak menoleh ke arah Anggita yang masih terpejam. Randi melangkah kembali diikuti Fajar yang tak berkomentar sedikit pun. Pintu ruang UKS berdebam. Gladis kembali duduk di kursi seberang ranjang Anggita. Tak beberapa lama kemudian, ia melihat Anggita membuka matanya. Gladis spontan beringsut menghampirinya. Ia duduk di tepian ranjang Anggita. Menunggu gadis yang tengah bangkit dari tidurnya duduk sempurna.


"Kamu **** atau apa sih, Ta? Udah tahu mereka lagi berantem. Malah sok-sok-an melerai! Kamu tuh cewek, Gita! Tenaga kamu gak sekuat mereka!"


Anggita hanya termangu mendapatkan teguran keras dari sahabatnya. Ia biarkan gadis itu melontarkan kalimat demi kalimat yang semuanya berisi kekhawatiran.


"Awas aja tuh si Gilar! Berani-beraninya dorong cewek! Bakal aku kasih perhitungan dia!" Gladis murka.


Anggita mengusap bahu gadis itu. Kemarahannya sejenak melunak.


"Salah aku, Dis. Udah tahu mereka lagi berantem, aku malah sok-sok-an nimbrung! Jangan salahin Gilar. Dia juga lagi emosi mungkin," timpal Anggita.


"Masih aja kamu belain dia, Ta! Sebuta itukah rasa suka kamu sama si ketua geng motor itu? Gak kapok kamu sama kejadian kemarin!"


Gladis meradang. Ia sebenarnya enggan membahas kejadian hari kemarin yang hampir saja membuat ia kehilangan Anggita. Namun, melihat temannya itu masih saja membela Gilar, Gladis tentu saja meradang. Tak mungkin ia biarkan sahabatnya itu di bodohi oleh rasa suka hingga memaklumkan semua kejadian yang sangat membahayakan dirinya. Ia yakin benar bahwa Gilar-lah yang membuat Anggita terjebak dalam bahaya.


"Maaf, Dis. Bukannya mau belain dia. Tapi...."


Suara ketukan pintu menghentikan kalimat Anggita. Gladis beranjak dari tepian ranjang, mengintip sedikit ke arah pintu yang perlahan terbuka. Raut wajahnya semakin berang. Ia menoleh ke arah Anggita sejenak.


Anggita mematung. Gilar muncul dari balik tirai dengan wajah penuh luka. Keduanya saling bertatap. Namun, Gilar berpaling dan beralih memperhatikan Gladis yang berdiri tak jauh darinya sedang menatapnya berang.


"Bisa tinggalin aku sama Gita, gak?" tanya Gilar memelas.


Ia tahu teman Anggita tengah marah besar padanya. Patut, sudah dua kali ia membuat Anggita dalam bahaya. Dua hari berturut-turut.


"Kalau nggak, kamu mau apa? Huh!" balas Gladis ketus.


"Cuma bentar kok, Dis. Please."


Gladis menoleh ke arah Anggita yang hanya terdiam, memelototi keduanya tanpa bereaksi. Ia mendengus sebal. Langkahnya ia entak-entakkan dengan sengaja sebelum menutup pintu UKS, meninggalkan Gilar dan Anggita berduaan.


***


Tatapan mata Gilar enggan berpaling barang sedikit pun dari Anggita yang tengah duduk di sampingnya. Mengobati luka gores di jari-jari tangannya akibat ulahnya memukul Erik secara serampangan. Wajahnya yang tadi kusut pun perlahan memudar seiring luka yang berhasil di bersihkan Anggita sebagian. Meski luka lebam di wajahnya malah semakin bertambah banyak.


"Aku di skor dari sekolah, Ta."


Setiap Gilar membuka mulut, Anggita enggan bereaksi apa pun. Ini sudah ke sekian kalinya ia mengajak Anggita berbicara. Namun, gadis itu malah tak bergeming dari aktivitas barunya untuk membersihkan luka Gilar.


"Ngomong dong, Ta. Diemnya cewek lebih menakutkan ketimbang cerewetnya loh!"


Anggita menutup kotak P3K. Menaruhnya kembali di dalam lemari yang ada di pojok ruangan.


"Kenapa kamu mukul Erik?" tanya Anggita sembari duduk di kursi seberang Gilar.


"Dia dalangnya, Ta! Kejadian kemarin itu ulah temen-temen dia!"

__ADS_1


Gilar mendadak berang. Sorot matanya penuh amarah.


"Kamu yakin? Tahu dari mana?"


Anggita mencoba bersikap tenang. Meski nyatanya jantungnya bergemuruh ketakutan mengetahui alasan Gilar berkelahi di lingkungan sekolah. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya selama menjabat sebagai ketua geng Motor.


"Temen-temen udah nyari tahu dari sumber paling bisa dipercaya, Ta! Erik itu ternyata ketua geng Motor YYY! Aku pernah berurusan sama mereka dan menang. Katanya itu buat balas dendam!"


Tak pernah Anggita melihat Gilar begitu menggebu-gebu dalam berbicara. Nada bicara yang biasa lelaki itu gunakan biasanya rendah dan santai. Sesekali diiringi kalimat canda yang mampu membuat Anggita enggan berhenti tersenyum. Bahkan semalam pun ketika keduanya bertemu, Gilar tak pernah sedikit pun mengeluarkan amarahnya. Inikah perilaku asli sang Ketua Geng Motor? Apakah selama ini Gilar hanya berakting menjadi seseorang yang baik di depannya?


"Gak ada Erik kemarin, Gil ...," Anggita mencoba menekan suaranya agar tetap stabil, "belum tentu juga itu Erik, kan? Lagian ini di sekolah. Kamu gak pernah kayak gini sebelumnya, Gilar."


"Ulah temen dia itu keterlaluan, Ta! Dia hampir celakain kamu kemarin!"


"Gilar ...."


"Mereka pengecut, Ta! Banci! Berani lawan seorang Gilar saat dia sendirian!"


"Gilar ...."


"Aku gak akan berani mukul dia tadi kalau temen-temen dia gak berani nunjukin diri kemarin pas kita lagi makan! Kita lagi makan, Ta! Cuma lagi makan! Mereka yang gak sopan!"


"Gilar ...."


"Mereka bakal tahu akibatnya nanti, Ta! Berani-beraninya ganggu orang yang gak bersalah! Urusan sekolah dan urusan geng Motor itu beda, Ta! Mereka harus belajar cara ngebedain urusan pribadi sama umum! Biar gak bodoh!"


Plak!


Sebuah tamparan mendapat di pipi Gilar yang masih lebam. Lelaki itu terdiam. Termangu. Berhenti menambah lagi kalimat yang sudah tersusun acak di pikirannya. Tatapannya tertuju pada Anggita yang kini sudah berdiri di depannya. Ada tangis yang keluar dari dua mata gadis itu yang mampu membuat Gilar mati kutu.


"Aku udah bilang! Keluar dari Geng Motor, Gilar! Kamu bukan cuma bahayain diri kamu sendiri, tapi juga orang di sekitar kamu! Kamu ngerti gak, sih?" Anggita murka.


Gilar enggan menanggapi. Ia palingkan wajahnya ke sebarang arah asalkan tidak memandang Anggita.


Gilar bangkit dari duduknya. Anggita terenyak. Keduanya saling berdiri berhadapan. Kedua mata mereka saling menatap tajam. Enggan ada yang mengalah satu pun.


"Jangan pernah nyuruh aku keluar dari geng motor lagi, Gita."


Nada suara Gilar merendah, seolah di tekan paksa. Anggita termangu. Air matanya kian deras mengalir.


"Karena orang sempurna kayak kamu gak akan pernah tahu arti dari kehidupan bagi seorang Gilar!"


Langkah Anggita beringsut mundur perlahan.


"Orang yang hidupnya enak kayak kamu, gak akan pernah ngerti!"


Anggita termenung.


"Maaf, Gita. Mungkin aku emang salah karena udah sayang sama kamu. Iri sama kehidupan kamu. Tapi satu hal yang pasti. Aku gak bakalan keluar dari Geng Motor demi siapa pun, termasuk kamu! Ini hidupku. Pilihanku. Jadi, kamu gak usah ikut campur! Ngerti?"


Gilar melangkahkan kakinya secepat kilat. Membuka pintu UKS dan menutupnya setengah di banting. Suara benturannya membuat Anggita terduduk lemas. Berkali-kali ia meremas kerah bajunya sendiri. Menangis tergugu.


***


Anggita kembali ke kelasnya. Kedatangannya di tengah pelajaran, dengan hanya mengucap salam dan kemudian langsung duduk di samping Gladis, membuat Guru yang sedang mengampu juga teman di kelasnya hanya terdiam. Anggita tak bergeming. Sorot matanya tampak kosong. Ia hanya tersenyum saat Gladis menyapanya.


Gilar yang duduk tak jauh di belakangnya berpaling. Memilih memandang ke arah luar jendela. Sementara Rangga, sibuk memainkan jemarinya di atas layar ponsel, menyembunyikan kedua tangannya yang tengah memegang ponsel di bawah bangku. Seringainya berulang kali tersungging.


Saat jam istirahat tiba, Anggita memilih duduk sendirian di dalam kelas. Sedang di sampingnya ada Rangga yang entah sejak kapan sudah berada di sana.


"Kemarin pulang sama siapa, Ta?"


Anggita tak bergeming. Rangga menaruh siku kirinya di atas meja, menopang kepalanya hingga menoleh ke arah Anggita.

__ADS_1


"Jangan dekat-dekat si Gilar lagi, Ta. Aku bilang juga apa? Dia itu berbahaya! Gak baik buat kamu, Gita!"


Anggita masih enggan bergeming.


"Aku masih suka sama kamu, Ta. Aku ngelarang kami deket sama dia itu karena aku gak mau kamu dalam bahaya kayak kemarin! Eh, ternyata kejadian, kan? Coba kalau aku gak ke sana! Gak tahu deh nasib kamu kayak apa!"


Suasana masih hening. Rangga berbicara sendirian namun tampak tak terusik. Perlahan tangannya mulai menyentuh punggung Anggita, mengelusnya perlahan-lahan.


"Aku gak bakal bikin kamu dalam bahaya, Ta. Aku janji! Aku bakal ngelindungin kamu gak kayak si Gilar. Kamu gak usah khawatir! Akan aku urus dia biar dapet hukuman yang setimpal!"


Anggita mendongak. Ia menepis tangan Rangga. Memandangnya setajam mungkin.


"Ini ulah kamu kan, Rang?" tanya Anggita dengan suara tertekan.


"Maksud kamu apa, Ta? Aku gak ngerti." Rangga berkilah.


Anggita menyeringai, "kamu pikir aku ****, Rang? Ini yang kamu bilang bakal berubah? Huh! Berubah jadi pahlawan kesiangan? Sorry! Akting kamu norak!, Rang! Aku gak sebego itu!"


Anggita bangkit dari duduknya. Tangan Rangga berhasil menahannya. Menggenggamnya erat sampai usaha Anggita untuk melepaskan diri pun hanya berujung kegagalan. Anggita mendelik sebal. Rasa sakit di sikunya terpaksa ia tahan


"Kamu nuduh aku?" Rangga berang.


"Aku gak nuduh kamu kok! Kamu kali yang nyadar diri!" Anggita terkekeh.


"Maksud kamu apa sih, Ta? Ngomong tuh yang jelas dong!"


Rangga semakin kesal. Genggamannya semakin erat. Namun, Anggita seolah tak takut akan tindakannya. Gadis itu hanya terkekeh meski rasa ngilu di lukanya yang masih baru mulai menjalar.


Terdengar suara gebrakan pintu yang membuat keduanya menoleh. Randi berjalan cepat menghampiri keduanya dan membantu Anggita melepaskan diri. Ia tarik pergelangan tangan Anggita hingga gadis itu berdiri di belakangnya. Anggita melepaskan tangannya perlahan. Sejenak menatap punggung kecil Randi yang kini ada di hadapannya.


"Jadi cowok gak usah kasar-kasar sama cewek! Gak malu sama jenis kelamin? Huh! Tangannya luka!" teriak Randi berang.


"Gak usah ikut campur deh anak baru! Gak usah sok pahlawan!" Rangga menantang. Matanya melotot dengan kedua tangan berkaca pinggang.


Randi terkekeh. "Jadi gosip tentang anak Kepala Sekolah yang sok penguasa itu bener yah. Belagu!"


Rangga berjalan menghampiri Randi. Namun, Anggita buru-buru menghalangi keduanya. Hanya tersisa tatapan dua lelaki yang enggan saling mengalah. Anggita mendorong paksa Randi keluar kelas, meninggalkan Rangga dalam suasana penuh amarah. Di tendangnya kursi sembarang hingga mengeluarkan bunyi dentuman keras. Anggita semakin mendorong tubuh Randi menjauh hingga suara kekesalan Rangga tak terdengar lagi.


Langkah keduanya terhenti saat Gladis dan Fajar setengah berlari menghampirinya dari arah berlawanan.


"Katanya mau istirahat di kelas, Ta," Gladis menggamit lengan gadis itu, "kok malah keluar?"


"Si Rangga gangguin dia tadi!" ujar Randi meradang, "bener-bener belagu tuh anak! Sama cewek berani main kasar! Pengecut!"


"Beneran, Ta?" Gladis menuntut jawaban, "luka kamu gimana?"


Anggita hanya mengangguk lesu. Ia melangkah sembari menarik Gladis. Tiap pertanyaan yang terlontar dari temannya hanya ia tanggapi dengan anggukan. Setibanya di dalam kelas, beberapa kursi dan bangku sudah bergeser tak beraturan. Beberapa jungkir balik dan ada beberapa yang kaki kursinya hampir patah. Anggita sejenak mematung.


Buru-buru Fajar membereskan semua kekacauan yang sudah ia ketahui siapa dalangnya lewat penjelasan Randi. Anggita memilih tak acuh. Kembali duduk di kursinya. Menelungkupkan kepala di atas kedua lengannya. Ia ingin sendirian.


Dua hari ini permasalahan yang ia hadapi terlalu mendadak. Padahal kemarin ia baru saja merasakan bahagia bisa berboncengan dengan Gilar. Bercengkerama kembali dengannya. Makan bakso di pinggir jalan terasa seperti makan di restoran bintang lima.


Pernyataan Gilar begitu manis untuk ia ingat. Namun, pertengkaran tadi malah membuat mereka lagi-lagi harus terpisah jarak. Keadaan sekitar seolah membuat harapan mereka untuk bersama semakin rumit. Masalah yang datang malah semakin menyekat keduanya.


Anggita berusaha keras mengalihkan perhatiannya pada pelajaran. Meski matanya hanya tertuju pada papan tulis, pikirannya begitu sulit di ajak kompromi. Berulang kali Anggita mengucek matanya, takut-takut ada sesuatu yang membuat pandangannya kadang-kadang kabur.


Ponselnya bergetar beberapa kali. Awalnya Anggita tak acuh. Toh ia tak biasa membuka ponsel dalam kelas. Namun getarannya malah membuatnya semakin penasaran. Ia rogoh ponsel dari saku roknya. Memandang sekilas pesan yang ia terima beberapa kali, namun isinya sama. Sejenak ia menoleh ke arah Fajar. Lelaki itu tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya. Jemari Anggita mulai membalas pesan itu.


Anggita: Oke, Faj. Tapi cuma berdua aja yah?


Ponsel masih dalam genggamannya. Gladis menoleh namun tak berhasil menangkap apa yang di lakukan Anggita. Tak lama ponselnya bergetar kembali.


Fajar: Sip! Aku jemput kamu di rumah yah.

__ADS_1


Anggita: Oke, Faj.


__ADS_2