TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 35 SUARA DARI ANGGITA


__ADS_3

Berkali-kali layar ponsel itu ku ketuk. Tombol hijau berkali-kali ku sentuh. Mendekatkan lempengan benda abu-abu itu ke telinga, berharap ada suara lain menyambutku selain suara operator wanita yang sudah ratusan kali ku dengar.


Kamu di mana Gilar?


Katamu kita sudah pacaran. Tapi, kamu raib tanpa kabar tak sampai sehari setelah kita meresmikan hubungan di depan nisan Ibumu. Aku terharu bukan main. Seolah kamu tengah melamarku untuk di ajak menikah, meski nyatanya hanya sekedar pacaran. Di depan pusara Ibumu yang begitu mewah. Di bawah pohon Kamboja yang terpaksa menggugurkan bunga-bunganya. Sepertinya hanya demi kita pohon itu rela gugur, yah? Setuju, gak?


Sudah seminggu kamu menghilang tanpa jejak. Agus menolak berkali-kali di tanyai tentangmu. Ia begitu galak dan membuatku takut. Meski begitu, tak ada seorang pun yang bisa ku tanyai selain dia. Jadi, sekuat hati aku melawan perasaan takut itu. Aku hanya ingin tahu keberadaanmu, Gilar!


Ku beranikan diri mendatangi rumah Agus. Berbekal alamat yang ku pinta dari staf TU setengah merengek. Tapi, nihil! Tak ada dirimu di sana. Aku malah kena usir Agus. Padahal Mang Parto menyambutku dengan ramah. Seperti katamu, Mang Parto begitu baik.


Aku juga sempat ke rumahmu yang kau bilang berdekatan dengan rumah Agus. Tapi, rumah itu begitu usang. Rumput di halamannya lebat dan tinggi. Kaca-kaca jendelanya sudah ada yang pecah. Bahkan tampak beberapa bagian pondasi temboknya sudah gugur termakan usia. Ini mirip rumah angker, Gilar. Aku tak tahu berapa lama kau meninggalkan rumah ini. Rumah yang penuh suka dan duka seperti ceritamu.


Aku berjalan putus asa kembali ke rumah. Menaiki bus yang pernah kita naiki bersama. Sengaja aku duduk di bangku yang sama pula. Hanya mampu membayangkan keberadaanmu duduk di sampingku. Berceloteh ria hingga kita tertawa bersama.


Ah, aku kangen kamu, Gilar.


Jalanan yang ku pandangi dari balik jendela bus membuat rinduku semakin menggerutu. Jalanan yang pernah kita lalui bersama di atas motor merahmu. Memeluk erat dirimu meski dengan perasaan pilu. Menyandarkan kepala meski hanya sekedar menopangkan rasa ngilu. Saat itu begitu indah meski kenyataannya kita belum bersama. Tapi, aku menikmati masa-masa sulit untuk melupakanmu. Kamu selalu aku rindu, Gilar.


Aku ingin berbagi banyak cerita denganmu, Gilar.


Pertemanan di antara lelaki dan perempuan sudah aku sadari tidak ada yang murni. Aku tak tahu harus menyikapi semua perbuatan Fajar seperti apa. Aku muak, kesal, kecewa, juga sedih. Aku tak yakin harus menyalahkannya atau tidak. Toh perasaan manusia tidak bisa kita atur semaunya. Juga perasaan Fajar padaku, aku tak bisa melarangnya untuk berhenti menyukaiku.


Sama seperti saat aku diam-diam menyukaimu. Untuk melupakanmu begitu sulit dan menyakitkan. Tapi, mempertahakan perasaan yang sama pun sama-sama sulit dan menyakitkan. Begitu sukar bagiku untuk berada di dekatmu untuk meredam rasa rindu. Sekedar hanya melirikmu dari kejauhan saja begitu enggan aku lakukan. Aku takut ketahuan karena diam-diam memperhatikanmu.


Kenapa kita begitu sulit untuk sekedar bersama, Gilar?


Ada saja satu alasan yang selalu membuat aku terpaksa memangkas jarak demi menebar rindu. Ada saja alasan bagi kita terpaksa berpisah sebelum kenangan manis itu sempat bertambah. Apa kita memang tidak di takdirkan bersama, Gilar? Tapi, kenapa Tuhan selalu membiarkan perasaanku hanya terarah padamu? Tuhan jahat! Dia membuat aku selalu merindukanmu.


Aku berharap bus mencegahku untuk pulang. Berjalan sendirian ke rumah sering kali mengundang rasa rinduku padamu. Sesekali aku bahkan memegang erat tanganku sendiri seolah kamu ada di sini. Kita berjalan beriringan sambil mendengarkan ceritamu.


Aku kangen kamu, Gilar.


***


Hari berganti hari. Kursimu kosong tanpa penghuni. Agus bahkan tak jarang membolos. Sempurna sudah! Tak ada seorang pun yang bisa kutanyai lagi tentangmu. Mulutku bahkan kelu setiap Guru membahas keberadaanmu. Pertanyaan yang sulit ku jawab saat ini adalah tentang kehadiranmu.


Kabarku dan Fajar sepertinya tak akan berubah baik. Aku memilih tak lagi menganggapnya teman. Jelas sekali sebuah perasaan suka tak akan begitu mudah untuk berubah. Aku tak mau menambah rasa sakitnya jika tetap membuatnya di dekatku. Lagi pula yang aku rindu itu hanya kamu, Gilar.


Sudah sering aku memandangi jendela kelas yang entah itu terbuka atau tertutup, tiba-tiba hadir sosokmu. Berlenggok santai memasuki ruangan meski sudah berjam-jam berlalu. Tak apa kamu telat datang juga, asalkan aku bisa melihatmu seharian nanti.


Ah, Gilar. Kamu di mana sebenarnya?


Bagaimana kabarmu di sana?


Setidaknya balas saja pesan-pesanku meski hanya sekedar tulisan satu huruf atau tanda titik semata. Kalau kamu malas mengetik, coba saja angkat telepon dariku. Aku menunggu suaramu meski hanya sekedar seruan lirih memanggil namaku.


Aku salah apa, Gilar?


Kamu menyesal sudah menjadi pacarku?


Inikah alasan kenapa kamu tidak bisa menjadi pacarku karena kamu bisa saja raib?


Kenapa bisa begitu?


Jelaskan semua padaku, Gilar?


Aku sudah putus asa mencarimu. Tidak ada yang bisa kutanyai lagi. Aku nekat kembali ke tempat di mana kita resmi berpacaran. Bunga Kamboja sudah kehabisan bunga. Sepertinya hujan lebat kemarin sore membuat mereka berjatuhan dan menghilang tanpa jejak.


"Gilar di mana yah, Bu?"


Jangan anggap aku konyol karena bertanya pada Ibumu!


Dalam bayanganku dia tiba-tiba duduk termangu di kepala nisan dengan kedua lutut tertekuk. Memandangiku dengan iba. Ataukah sedang menertawakanku karena kelimpungan mencarimu?


Ah, aku butuh pelukan hangat. Tapi di sini hanya ada angin dingin yang berembus cepat. Aroma pemakaman membuatku semakin kecil. Di sini hanya ada orang mati telentang di bawah tanah. Tak ada yang menjawab jerit tanyaku selain keheningan.


"Gilar kabur ke mana yah, Bu?"


Lagi-lagi hanya suara angin yang menjawab. Tepukan dedaunan seolah menertawakan kebingunganku. Jika pohonnya bukan milik Tuhan, mungkin aku akan memakinya saja.

__ADS_1


Aku menyerah, Gilar!


Aku merindukanmu.


Jalanan yang ku lalui terasa sepi seperti kuburan. Tak ada bedanya. Suara dengingan lalu lalang kendaraan tak ubahnya bagai embusan angin yang bising. Di sini serba terang, namun di dalam hatiku gelap gulita. Tak ada kamu di sini malah semakin gulita. Aku perlu melihat wajahmu sebentar saja. Sedetik saja.


***


Aku lari dari kejauhan seperti orang gila. Malam bahkan membuat pandanganku gelap gulita. Tapi, aku kenal sosok yang berdiri di ambang pintu rumahku. Dari jarak 100 meter saja aku sudah bisa menerja kehadiranmu. Aku lari seperti orang gila. Menembus kegelapan tanpa peduli ada tikus tertabrak ketika aku sedang berlari.


Aku berhambur ke pelukanmu. Merangkul pundakmu erat dengan napas ternengah-engah. Juga air mata kerinduan yang tak bisa ku protes lagi untuk diam.


"Aku kangen kamu, Gilar!"


Kedua tanganmu semakin erat merengkuhku. Kita saling mendekap nyata, bukan bayanganku semata. Kamu hendak melepaskan pelukanku, namun aku mengelak. Aku tak mau kehilangan kamu lagi. Mungkin saja kamu akan kabur lagi setelah pelukanku terlepas, bukan?


"Aku gak akan pergi, Gita." Jawabmu meyakinkanku.


Aku tak percaya! Tak akan pernah! Pelukanku akan semakin mengerat karena aku tak percaya pada perkataanmu barusan.


"Mau jalan-jalan, gak? Aku laper."


Tawaranmu konyol. Aku melepas pelukanku dengan wajah cemberut. Tidak bisakah kamu menikmati momen manis ini?


Cemberutku sirna. Berubah kebingungan mendapati wajahmu penuh bekas luka. Tak terlalu parah memang. Namun, itu bukan luka baru.


"Kamu berantem?"


Kamu menggeleng mantap dengan senyuman lebar. Jelas aku semakin khawatir. Kamu mau membual? Aku tidak akan terperdaya lagi!


"Terus ini apa?"


Jari jemariku mulai menyentuh perlahan luka-luka di wajahmu. Mata-mataku meneliti setiap jengkal tubuhmu takut-takut ada luka lain yang dapat ku lihat.


Ku raih tanganmu yang masih tertutup kain putih. Keduanya! Aku menatapmu tajam meminta jawaban. Namun, kamu malah tersenyum tak bersalah.


"Kamu berantem?"


Aku mencoba menerka apa yang hendak kamu sampaikan. Kata-kata yang sepertinya enggan kamu ungkapkan. Nihil! Aku tak dapat membaca ekspresimu. Aku hanya mampu mengobati rinduku dengan terus memandangmu. Aku gagal memahamimu.


"Kamu ninggalin pacar kamu, Gilar! Kamu harusnya minta maaf!" teriakku padamu.


Kamu mengangguk patuh. Tersenyum lebar dengan tangan yang kini menggenggamku.


"Aku minta maaf, Gita."


Aku belum puas merindukanmu.


"Jalan-jalan, yuk!"


Aku mengangguki ajakanmu. Menuruti tarikan tanganmu yang entah akan membawaku ke mana. Aku rela pergi denganmu, Gilar. Tak apa! Karena aku merindukanmu! Sangat!


***


Kenapa kamu hanya diam saja, Gilar?


Kamu tak seperti biasanya seperti ini! Apa selama kamu menghilang, ada yang mengubah kebiasaanmu menjadi serius begitu. Tatapanmu begitu kosong. Hanya mengarah ke arah depan sambil tetap menggandeng tanganku.


"Kita mau ke mana, Gilar?" tanyaku basa-basi.


"Jalan-jalan aja."


"Makannya gimana? Katanya kamu laper?"


"Gak jadi laper, Git."


Langkah kita jauh sekali. Jika biasanya hanya mengelilingi kompleks perumahan, kamu kini menuntunku hingga jalan raya. Kakiku sebenarnya sudah pegal. Tapi, demi rinduku padamu, aku akan kuat.


Kamu lebih tak bicara ketika memasuki keramaian. Hanya sesekali mengalihkan pandangan ke sekitar. Tanpa ekspresi. Aku membuntutimu dengan patuh. Memerhatikanmu dengan lekat.

__ADS_1


Kamu kenapa, Gilar?


"Kita mau ke mana?" teriakku padamu.


Kamu menoleh ke arahku.


"Bentar lagi nyampe!" balasmu.


Aku mengangguk mengerti. Tak ingin bertanya lagi apa-apa. Yang penting saat ini aku bersama denganmu.


Jalanan yang kita lewati mulai sepi. Hanya ada ruko-ruko tertutup yang di jaga para pengemis. Genggaman tanganmu semakin erat. Langkah kita semakin melambat.


Sejenak aku termangu ketika melihat tak jauh di sana ada kerumunan pemuda-pemuda bermotor. Langkahku begitu berat namun kamu menuntunku erat. Langkah kita semakin mendekat dan ku harap kita bisa melaluinya dengan cepat. Tapi, kamu malah menghentikan langkahmu tepat di depan mereka. Aku takut, Gilar!


Tiba-tiba kamu membalikkan badanmu menghadap ke arahmu. Aku terpegun bingung. Kamu mau apa?


"Ini teman-teman se-geng-ku, Gita." Ungkapmu begitu saja.


Mataku mengedar ke arah pemuda-pemuda di belakangmu. Tak ada yang aku kenal kecuali Agus. Selebihnya hanya orang asing bagiku.


"Maaf, Gita. Aku gak bisa tinggalin mereka."


Aku terpegun sejenak. Memerhatikan mata-mata di belakangmu yang juga sedang memperhatikanku. Mereka tak seurakan preman jalanana yang aku sering lihat ketika pulang-pergi sekolah dari dalam bus. Tak ada yang beranting maupun berkalung aneh. Rambut mereka pun tampak seperti orang biasa. Tak ada yang berwarna aneh atau gayanya nyentrik. Benarkah ini teman-teman geng motormu, Gilar?


Sejenak aku merasa risi juga takut. Pandangan mereka seolah ingin menerkanmu di balik gaya mereka yang begitu normal. Aku spontan menarik tanganmu menjauh dari mereka beberapa langkah.


"Maksud kamu apa? Kamu mau berantem?" terkaku khawatir.


"Syarat yang kamu bilang beberapa minggu lalu, Git. Aku gak bisa penuhi syarat itu!"


Aku menelan salivaku. Benar dugaanku, bukan? Ucapanmu kala itu yang begitu enteng menyanggupi syarat itu nyatanya terlalu sulit untuk di capai.


"Lalu?" timpalku menggantung.


"Kamu tidak bisa jadi pacarku, kan?"


Aku terkekeh geli. Keningmu mengerut kebingungan.


"Kenapa syaratnya tidak bisa kamu penuhi? Seminggu ini kamu ke mana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


Kamu terdiam sejenak. Memandangiku lekat seolah ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan.


"Aku di keroyok geng Erik."


Tubuhku mendadak mendingin, Gilar. Ketakutan. Memerhatikan kembali bekas luka di wajahmu. Spontan aku membuka kaosmu. Mulutku menganga lebar. Kamu mencoba menepis, namun terlambat. Aku membalikkan badanmu, ku buka lagi baju bagian belakangmu hingga punggungmu tampak. Memar. Semua lebam.


"Ini karena kamu kuar dari geng motor?" tanyaku ragu. Penuh perasaan tidak enak dan khawatir.


Kamu berbalik mengarahkan tubuhmu padaku. Mengangguk dengan mata dingin.


Aku beringsut mundur. Mencoba tak membayangkan apa saja yang di lakukan Erik dan kawan-kawannya padamu. Aku tak pernah melihat luka separah itu. Melihat Ibu jariku teriris saja aku sudah menangis meraung.


"Maaf, Gilar. Aku minta maaf ...." lirihku memohon ampun. Aku ceroboh. Aku tak tahu jika kamu benar-benar keluar dari geng motor.


"Aku juga minta maaf, Gita. Aku gak bisa penuhi syaratmu. Terlalu berat!" timpalmu putus asa.


Aku merasa sangat bersalah karena bertindak ceroboh. Sudah mencelakaimu sampai sejauh ini. Aku juga kesal karena geng motormu begitu sulit melepaskanmu. Kenapa harus ada imbalan yang kamu terima meski hanya sekedar ingin terbebas dari lingkungan itu.


Sudah tahu berbahaya, kamu pun masih betah berada di sana. Aku tak tahu alasanmu itu apa. Solidaritas? Pertemanan? Jati diri? Tapi, lingkunganmu nyatanya berbahaya, Gilar!


"Aku sayang kamu, Gilar." hanya itu yang bisa ku akui. Dari segenap rindu yang ku pendam selama ini, hanya kalimat ini yang berhasil mewakili.


Kamu perlahan mendekat ke arahku. Tatapanmu begitu sendu. Penuh kesedihan mendalam. Kamu menarikku dalam pelukanmu. Tak bisa ku elak, aku membalas pelukanmu.


"Aku sayang kamu, Gilar."


Hanya terdengar suara detak jantungmu di dalam sana. Berirama cepat dan keras. Ada juga kehangatan di sekujur tubuhku. Aku tak lagi ingin kehilanganmu dengan alasan apa pun. Aku tak peduli. Apa pun. Aku hanya ingin bersamamu.


"Kamu masih mau jadi pacarku, Gita?"

__ADS_1


"Iya, Gilar. Aku masih mau."


__ADS_2