
"Gak ajak si murid baru ke kantin, Faj?" tanya Gladis yang berdiri di samping Anggita. Kepalanya sedikit mendongak, mengarahkannya pada Fajar yang berdiri di sisi lainnya.
Fajar menggeleng sembari mengemut si permen jari kaki merah, "bawa bekal dari rumah katanya."
Anggita dan Gladis mangut-mangut mengerti.
"Tumben yah yang pake jaket di kelas gak di tegur. Apa gara-gara dia anak baru?"
Anggita dan Fajar menoleh ke arah Gladis bersamaan.
"Bener juga kamu, Dis. Kok aku gak nyadar, yah?" timpal Anggita sambil menggamit lengan Gladis.
Saat ketiganya kembali ke dalam kelas, didapati ketiganya Randi tengah berdiri saling berhadapan dengan Rangga. Raut wajah Rangga tampak terlihat marah. Gladis buru-buru menghampiri keduanya. Mendorong Rangga menjauh dari murid baru itu.
"Dia ngapain kamu, Ran?" tanya Gladis sembari menyelidik setiap jengkal tubuh Randi.
Randi beringsut menghindar. Anggita menarik Gladis menjauh dari Randi hingga berdiri di sampingnya. Lelaki kurus itu hanya mengangkat kedua bahunya dan melenggang santai menuju kursinya. Duduk kembali seolah tak terjadi apa pun. Rangga pun memilih pergi berlalu keluar kelasnya tanpa mengatakan apa pun pada mereka.
Anggita, Gladis dan Fajar saling melemparkan pandangan. Tak ada percakapan lagi antara ketiganya. Fajar memilih berjalan menyusul Randi dan duduk kembali di kursinya. Gladis menggamit lengan Anggita dan menyeretnya keluar kelas. Anggita hanya patuh meski kecurigaan terburuk tengah mengelabui perasaannya.
Gladis mengajak Anggita duduk di depan kelasnya, mengarahkan pandangan mereka ke lapangan basket. Jari telunjuk Gladis terangkat, kemudian mengarahkannya ke arah lapangan.
"Ada Gilar, Ta! Lihat Gilar aja, oke!"
Mata Anggita mengikuti arah jari telunjuk Gladis. Benar saja! Gilar tengah bermain bola basket bersama murid lain. Entah kenapa ada perasaan kosong yang tiba-tiba menghantamnya. Meski mereka masih di kelas yang sama, meski ia tak lagi di risak oleh Rangga, entah kenapa Anggita merasa seperti sudah kehilangan sesuatu.
Ia menoleh ke arah Gladis sejenak. Gadis itu tengah asyik bertepuk tangan dan bersorak senang. Ada sesuatu yang ingin di katakannya, tapi ia enggan. Harusnya ia senang bahwa di kelas barunya sekarang, Gladis kembali menjadi teman duduknya setelah beberapa bulan terakhir, Gilar mengambil alih kursi temannya. Tapi, ada perasaan kecewa dan juga kehilangan yang tiba-tiba ia rasakan. Senang dan sedih sedang berbaur di hatinya.
Jika boleh berkata jujur, ia rindu keberadaan Gilar di sampingnya. Meski masih bisa memandangnya dari kejauhan, sesekali, namun harapannya terlampau besar agar Gilar kembali menemani tiap waktunya selama di kelas. Ia sadar, sejauh ini hubungan keduanya tak lebih dari sekedar teman. Sikap Gilar yang selalu menjaganya, bersikap baik padanya, jauh dari kesan ketua geng motor yang menakutkan, membuatnya harus merasakan rasa suka sebelah pihak. Ia tak pernah tahu perasaan Gilar padanya. Lelaki itu tak pernah berbicara soal perasaan, pacaran, rindu, atau sekedar rasa suka. Tak pernah!
Lelaki yang tengah berlompatan di lapangan dengan bola basket itu, lebih sering melakukan tindakan yang selalu membuat Anggita kebingungan. Senang. Baper. Khawatir. Membuat hatinya kadang merasa bahwa Gilar pun mungkin merasakan hal yang sama seperti dirinya.
Tapi, kenapa tak pernah ada satu kalimat pun yang menggambarkan perasaan itu? Apakah Anggita terlalu percaya diri bahwa Gilar memiliki perasaan yang sama dengan dirinya? Atau sebenarnya Gilar tak punya perasaan apa pun terhadapnya? Tapi, kenapa? Kenapa ia menyuruh Rangga untuk tidak mengganggunya? Kenapa ia selalu meminta tempat duduk Gladis untuk menjadi teman sebangkunya? Kenapa ia datang malam itu dan melarangnya keluar rumah? Kenapa ia mau berurusan dengan Rangga? Kenapa ia selalu ada di sekitar Anggita?
Tahukah Gilar, bahwa sikapnya itu membuat perasaan Anggita terganggu oleh rasa suka sebelah pihak? Perasaan yang hanya di penuhi dengan terkaan.
Gladis menyikutnya, "tepuk tangan dong! Malah bengong aja. Aa-nya masukin bola ke dalam ring, Ta!" ujar gadis itu semringah.
Anggita hanya tersenyum kecil, kembali memandangi Gilar yang tengah merayakan keberhasilannya memasukkan bola.
Bel masuk berdenging.
Anggita menopang dagunya di atas tangan kirinya. Pandangannya terpaku ke arah pintu yang sesekali di buka teman-temannya yang baru masuk ke dalam kelas. Bola matanya bergerak tatkala ia melihat puncak kepala si rambut ikal muncul dari balik jendela. Mata Anggita mengikutinya dengan saksama. Saat pintu itu kembali terbuka, sosok Gilar muncul dari baliknya. Degup kencang di dalam dadanya bergemuruh membuat sekujur tubuhnya mendingin. Sekuat tenaga Anggita memandang Gilar.
Saat mata lelaki itu dan matanya saling bertemu, Anggita meremas tangan kanannya yang berada di bawah bangku dengan erat. Ia angkat kedua sudut bibirnya perlahan, membentuk sebuah senyuman harapan bahwa Gilar setidaknya akan membalas senyumannya. Gilar memang memandangnya.
__ADS_1
Keduanya saling pandang begitu lama sampai Anggita tak ingat berapa detik waktu sudah berlalu. Namun, lelaki itu memilih berlalu tanpa sebuah senyuman balasan sedikit pun. Raut wajahnya tanpa ekspresi. Anggita tak tahu harus mengartikannya seperti apa. Ada rasa sakit yang menggelitik di hatinya. Ada rasa kecewa dan rindu yang semakin menyelimuti perasaannya.
Sepanjang pelajaran siang itu Anggita kehilangan minat dan semangat. Meski yang mengajar hari itu Pak Reza, Guru Bahasa Jepang yang tengah diidolakan para siswi di sekolah karena ketampanannya yang disebut-sebut mirip artis Korea V BTS. Anggita lebih banyak melamun dan diam meskipun Gladis terkadang mengajaknya bicara. Pikirannya sibuk mengartikan adegan saling pandang antara ia dan Gilar tadi.
Entah kenapa sorot mata Gilar membuatnya pilu. Matanya sayu. Auranya dingin. Tidak seperti Gilar yang ia kenal beberapa bulan ke belakang. Gilar yang selalu menyapanya setiap pagi. Gilar yang selalu mengajaknya bercanda meski di tengah jam pelajaran. Gilar yang selalu ada di sampingnya dengan senyuman ceria. Gilar yang selalu ada di sampingnya. Apakah karena Rangga sudah tidak mengusiknya? Ah, Anggita berharap ia di risak lelaki posesif dan bossy itu. Anggita ingin di selamatkan iblis berhati malaikatnya lagi. Anggita ingin duduk di samping Gilar lagi. Ia rindu ketua geng motor XXX itu. Sangat rindu!
Sikutan Gladis membuyarkan lamunannya. Gadis itu hanya menoleh ke arah teman sebangkunya dengan enggan.
"Kita sekelompok yah, Ta! Sama Fajar dan Randi juga. Gimana?"
Anggita termenung, "kelompok apa, Dis?"
Gladis terbelalak. Ia menaruh punggung kepalanya di dahi Anggita.
"Kamu sakit, Ta? Gak biasanya gagal fokus gini!"
Gladis menekan-nekan dahinya membuat Anggita merengut.
"Kenapa si Gita, Dis?" Fajar nimbrung.
"Dia sakit kayaknya, Faj. Gak fokus sama pelajaran barusan nyampe nanya kelompok apa segala!"
Fajar memandangnya lekat, "istirahat aja sana di UKS, Ta!"
Anggita enggan memperpanjang obrolan. Mereka tak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat itu. Anggita memilih berpaling dan menopang kepalanya di atas kedua tangan yang ia taruh sejajar di atas bangku. Memandang arah pintu yang seharusnya saat bel masuk tadi berbunyi tak ia pandangi jika hanya kekecewaan yang ia dapatkan. Rindunya tak terobati. Rasa kehilangan semakin mengerubunginya.
Entah kenapa. Ada rasa ingin kembali merebut tempat duduk Gladis lagi agar ia bisa menjadi teman sebangku Anggita. Namun, ia tak punya alasan sekarang. Sejak tahun ajaran berganti, Rangga tak lagi mengusik Anggita. Gadis itu menjadi lebih banyak mengobrol dengan teman sekelasnya. Tampak lebih nyaman berinteraksi tanpa takut di ganggu. Ah, salahkah Gilar jika berharap Rangga kembali merisak Anggita? Ia ingin sebuah alasan agar bisa ada di samping gadis itu. Hanya memandangi punggungnya saja membuat hatinya merasa rindu. Ia ingin rindunya terobati. Ia ingin menjadi teman sebangku Anggita lagi. Ia ingin memandang gadis itu dengan leluasa lagi. Ia ingin sebuah alasan untuk berada di samping Anggita seperti dulu lagi.
Gilar tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ia meyakinkan diri. Melangkahkan kakinya mantap menuju ke arah depan kelas. Tak ada yang memperhatikannya kecuali Rangga yang duduk di bangku paling pojok dekat jendela sana. Gilar berdiri tepat di depan bangku Anggita, membuat gadis itu yang sedari tadi memilih memandang pintu, kini beralih memandangnya. Anggita tercekat. Tubuhnya perlahan berubah posisi menjadi siap siaga. Sedangkan Gilar, tiba-tiba berjongkok sembari menaruh kedua tangannya di atas meja. Kepalanya mendongak hanya kepada Anggita. Kedua gadis itu memandang ke arahnya dengan heran.
"Kalian udah dapet anggota kelompok?" tanya Gilar kemudian.
Anggita mengangguk dengan enggan. Mendapatkan reaksi demikian, tubuh Gilar mendadak terasa dingin.
"Telat sih!" ledek Gladis, "ada Fajar sama Randi. Masih kurang dua! Mau?"
Gilar bangkit dari posisinya, "oke! Kerja kelompoknya kapan?" balasnya penuh semangat.
Ia memandang ke arah Anggita dengan senyuman lebar. Gadis itu perlahan mampu tersenyum meski pikirannya kembali menerka akan maksud dari sikap Gilar ini.
"Aku juga ikut kelompok ini!" sebuah suara membuat pandangan Gilar dan Anggita sama-sama menoleh.
Rangga tengah berdiri tak jauh dari tempat Gilar berada. Kedua tangannya berkaca pinggang dengan kepala di angkat lebih tinggi. Anggita berdecak sebal.
"Kok jadi pada mau masuk kelompok ini sih? Kalau mau ribut, sana diluar! Jangan di sini!" teriak Gladis sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah Rangga dan Gilar secara bergantian.
__ADS_1
Gilar tertawa kecil, "ribut apa atuh, Neng! Suudzon wae kerjaannya!"
"Iya, nih! Orang cuma mau ikut kerja kelompok doang kok!" timpal Rangga tak mau kalah.
Gladis memandang keduanya dengan tatapan menyelidik, "tumben akur! Kena pelet apaan nih bisa kompakan gini?"
Rangga dan Gilar saling berpandangan sejenak. Keduanya enggan berkomentar. Memilih mengarahkan pandangannya ke arah lain.
"Udahlah, Dis. Lagian kelompok kita juga baru empat orang. Nambahin mereka gak masalah dong!" Fajar menimpali yang langsung mendapatkan acungan jempol dari Gilar. Randi memilih tersenyum kecil.
"Ya, udah. Gimana paketu aja deh!" Gladis mengalah. Ia memandang tajam ke arah Rangga yang berada di depannya, "awas yah kalo coba-coba ganggu Anggita lagi! Langsung aku coret nama kamu dari kelompok kita! Inget itu!"
Rangga mengangguk ragu. "Iya! Iya! Bawel!"
"Gimana kalau kerja kelompoknya di rumah Anggita aja?"
Pertanyaan Fajar langsung diiyakan oleh Rangga.
"Jangan! Di tempat lain aja. Di perpustakaan kota aja gimana?" timpal Randi yang membuat Rangga geram.
Gilar memandang Randi sejenak.
"Aku setuju!" Gilar menanggapi dengan mantap.
Anggita menoleh ke arah Gladis, "di perpustakaan kota aja, Dis. Itung-itung memberdayakan fasilitas pemerintah! Kan sayang kalau gak di gunain?" timpal Anggita yang membuat Gladis hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Oke! Aku ikut kalian aja deh!" Fajar akhirnya ikut mengiyakan saran Randi.
Rangga tak dapat bereaksi apa pun selain mengangkat kedua tangannya, mengikuti keinginan anggota kelompok lain. Meski ia ingin sekali berkunjung ke rumah Anggita lagi.
***
Anggita, Gladis dan Randi berdiri di depan gerbang. Sesekali kepala mereka bergantian menoleh ke dalam sekolah. Siang itu panas terik. Anggita mengikat rambutnya sembarangan, membiarkan anak-anak rambutnya yang berkeringat tampak kepayahan. Sementara Gladis mengibas-ngibaskan ujung kerudungnya. Raut wajahnya mengernyit seiring terik yang menerpa wajahnya. Gladis menoleh ke arah Randi yang tampak begitu tenang, meskipun jaket abu-abu itu tetap enggan terlepas dari tubuhnya.
"Gak kepanasan, Ran?" tanya Gladis kemudian.
Anggita ikut menoleh. Randi hanya menggeleng tak acuh.
"Aneh juga Guru-guru gak marah ada yang masih pake jaket di kelasnya. Kamu nyogok para Guru yah? Biar mereka bebasin kamu pake jaket seenaknya!" Celoteh Gladis membuat kepala Anggita sesekali mengangguk mengiyakan.
"Karena dia anaknya dokter kali, Dis!" sela Anggita menambahkan.
"Dokter?" mata Gladis terbelalak, "beneran? Wah! Anak tajir dong!"
Obrolan ketiganya terhenti tatkala Gilar, Rangga dan Fajar datang beriringan dengan motor mereka masing-masing. Terparkir tepat di pinggiran jalan secara berurutan. Gladis menarik tangan Anggita dan membawanya ke samping Gilar yang masih memegang kendali motor.
__ADS_1
"Kamu sama si Gilar aja! Biar aku sama si Rangga. Oke?"
Anggita tak bereaksi. Ia memilih menoleh ke arah Gilar yang kini tengah memandangnya.