TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 6 JANJI


__ADS_3

Motor Fajar berhenti tepat di depan rumah Anggita, saat gerimis mulai mengucur petang itu. Didapati keduanya, Rangga tengah duduk di kursi beranda rumah Anggita, menyelidik kedatangan keduanya.


"Perlu aku temenin, Ta?" tanya Fajar setengah berbisik.


Anggita menggeleng sembari tersenyum manis.


"Kamu pulang aja. Udah mau malem juga, Faj! Nanti Mamah khawatir."


"Oke. Kabari kalau ada apa-apa yah?"


"Tenang aja. Dia gak akan berani ngapa-ngapain aku! Orang ini rumah aku sendiri. Gimana sih?"


"Eh, bener juga sih. Ya udah! Aku pulang dulu yah, Ta. Jaga diri baik-baik. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Hati-hati juga di jalan, Faj!"


Fajar pergi berlalu. Anggita membuka gerbang dengan santai. Duduk di seberang Rangga tanpa menoleh sedikitpun ke arah lelaki itu.


"Ada apa lagi, Rang? Kita udah ngobrol tadi siang di perpustakaan!" Anggita ketus.


Tiba-tiba Rangga bangkit dari kursi dan melangkah mendekati Anggita. Gadis itu terhenyak. Bersikap siaga takut Rangga tiba-tiba mendaratkan pukulan atau menamparnya. Namun, lelaki itu malah berlutut tepat di hadapannya. Membuat gadis itu mematung kaku dan kebingungan.


"Apa lagi sih? Mau ngajakin aku pacaran lagi? Basi tahu!" Anggita kesal.


Sorot mata Rangga menatapnya lekat. Dapat ia rasakan keteduhan dari tatapannya saat itu. Lelaki itu bukan hendak menyakitinya. Anggita mencoba menenangkan diri, bersikap seolah semua memang akan baik-baik saja.


"Maaf, kalau selama ini sikap aku bikin kamu gak suka, Ta. Aku janji bakalan berubah! Kasih aku kesempatan buat buktiin ke kamu kalau aku bener-bener tulus sayang sama kamu."


Suara Rangga merendah tak seperti biasanya. Ada getaran aneh yang berdesir di hati Anggita, membuatnya melunak hingga rela mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang keluar dari mulut lelaki di hadapannya.


"Aku tahu kalau kamu sayang sama aku. Seluruh sekolah udah tahu itu, Rang! Kamu gak perlu buktiin apa-apa lagi kalau kamu emang sayang sama aku."


Anggita masih memilih ketus. Ia enggan melunak hanya karena lelaki itu tengah berlutut di hadapannya.


"Terus kenapa kamu selalu nolak ajakan aku buat jadi pacar kamu?"


"Karena aku gak bisa, Rang! Aku gak punya perasaan apapun ke kamu. Bagi aku, kamu cuma temen kelas biasa aja. Sama kayak Gladis dan Fajar."


"Berarti perasaan kamu ke si Gilar itu berbeda?"


Anggita terdiam sejenak. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyeruak jika Rangga benar-benar tahu bagaimana perasaannya terhadap Gilar.


"Dia juga cuma temen biasa kok. Buktinya nyampe sekarang kita gak pacaran, kan?" Anggita berdalih.


Sungguh, jauh di lubuk hati Anggita ia menaruh perasaan khusus terhadap Gilar. Ketua geng motor yang selalu dipandang seperti iblis itu baginya memiliki hati seputih malaikat, mampu membuatnya nyaman berada di dekatnya, hingga terkadang ia selalu rindu akan kehadirannya. Ia sadar semua ini berkat Rangga yang selalu merisak dirinya. Kemunculan Gilar bak pahlawan tanpa sayap yang tiba-tiba merengkuh ketakutan dan kesendirian Anggita, membuat gadis itu merasakan aman yang ia cari selama ini. Berlindung dari risakan Rangga yang keterlaluan. Apalagi iming-iming anak Kepala Sekolah nyatanya membuat Anggita menyesal berurusan dengan Rangga. Namun, semenjak kedatangan Gilar di hidupnya, Anggita mulai menikmati masa sekolahnya. Keberadaan Gilar seperti tameng yang kokoh tak terkalahkan, mampu menahan serangan bertubi-tubi dari sosok Rangga yang posesif dan bossy. Dan nyatanya, Rangga hanya takluk ketika berhadapan dengan lelaki itu. Keberuntungan dan kesialan yang datang menghampiri Anggita di saat bersamaan. 


"Aku janji, mulai hari ini aku bakalan berubah, Ta. Tapi, aku gak tahu apa yang harus aku rubah agar kamu suka sama aku!" 


"Gak usah berubah hanya demi aku suka sama kamu, Rang. Cukup jadi diri kamu sendiri aja! Gak usah repot-repot bikin aku suka sama kamu."


"Tapi, Ta...."


"Cukup! Aku gak mau bahas apa-apa lagi sama kamu! Aku udah muak! Terserah kamu mau berubah jadi apa pun, aku gak peduli. Terima kasih karena udah sayang dan suka sama aku. Tapi, maaf. Aku gak bisa bales perasaan kamu itu. Permisi!"


Anggita bangkit dari kursi dan melangkah melewati Rangga yang masih dalam posisi berlutut.


"Aku bakal berubah dan bikin kamu suka sama aku, Anggita. Aku janji!" seru Rangga yang membuat Anggita menoleh ke arahnya.


Sesaat ia menoleh ke arah lelaki itu, namun setelahnya ia memilih membuka pintu rumah dan melangkahkan kakinya masuk. Menutup pintunya rapat. Membiarkan Rangga terdiam tanpa tanggapan.


"Aku janji, Ta! Aku bakal berubah dan bikin kamu suka sama aku!" Rangga bertekad.


***


Hari-hari menjelang ujian akhir semester benar-benar masa ketenangan bagi Anggita. Semenjak Rangga memaklumatkan diri akan berubah, lelaki itu tak lagi mengganggu waktunya di dalam kelas. Bahkan, Anggita bisa menikmati kembali suasana kantin yang sudah lama tidak ia jamah. Sering ia dapati lelaki itu lebih memilih menghindar, memalingkan wajah meski saling berpapasan, bahkan ia tak pernah lagi berkunjung ke rumahnya malam-malam.


Ujian semester berlalu. Hari-hari remedial pun tiba. Anggita lebih sering menunggui Gladis di depan kelasnya, menunggu gadis itu mengikuti remedial  yang hampir ia lakukan setiap hari selama seminggu pasca ujian akhir semester. Meski keberadaan Rangga tak pernah luput dari pandangannya, lelaki itu tak pernah berani lagi mendekatinya. Bahkan sekedar bertegur sapa pun tidak. Meski hatinya berjingkrak riang, namun ada sedikit kekosongan akan kerenggangan antara keduanya. Ia yakin itu bukanlah karena ia rindu. Hanya saja, pertengkaran keduanya sudah seperti rutinitas yang sayang untuk dilewatkan.


Hari jum'at itu adalah hari remedial terakhir. Anggita tengah menikmati siomay di kantin sendirian, hanya sedikit siswa yang mondar-mandir di sana. Suasana hampir menjelang sore, bahkan beberapa kedai kantin pun sudah tutup. Pandangannya terpaku pada sosok lelaki berjaket abu-abu dengan kacamata yang bertengger di depan matanya. Anggita menyelidik dengan teliti, ia yakin benar lelaki itu bukan dari sekolahnya. Terlihat jelas dari celana bercorak yang ia kenakan, sedangkan sekolah Anggita mewajibkan siswanya bercelana abu-abu. Seorang wanita muda berkerudung putih mengiringi langkahnya. Sekilas wajah keduanya tampak serupa membuat Anggita berspekulasi bahwa mereka bersaudara. Lelaki itu tiba-tiba menoleh ke arahnya yang membuat Anggita langsung berpaling.


"Gimana? Suka gak sama sekolahnya?" tanya wanita itu pada si lelaki berjaket abu-abu itu.


Anggita menoleh kembali untuk memperhatikan keduanya.


Lelaki itu mengangguk sembari melihat sekeliling, "suka. Lumayanlah! Yang penting deket rumah, Kak."


Anggita bersorak dalam hati. Dugaannya benar! Wanita itu adalah saudaranya, lebih tepatnya kakak lelaki itu. Tapi, siapakah lelaki itu? 


Belum sempat rasa penasarannya terjawab, ponselnya tiba-tiba berdering. Gladis meneleponnya.


"Iya! Aku di kantin!"

__ADS_1


----


"Oh, oke! Aku kesana sekarang! Bye!"


Buru-buru Anggita menggendong tasnya. Melangkah berlalu melewati lelaki itu yang ternyata tingginya hampir sama dengannya. Tubuh kurusnya begitu kontras terlihat tatkala keduanya saling berpandangan, rahang pipi lelaki itu tampak jelas terlihat. Tak ada teguran sapa atau perkataan apa pun, keduanya hanya saling melewati. Namun, lelaki itu memilih terus menoleh ke arah Anggita yang melangkah semakin jauh. 


"Anggita?" lirihnya kemudian.


Kakaknya menepuk pundak lelaki itu, "kenapa? Kenal sama cewek barusan?"


Lelaki itu menggeleng mantap.


"Cuma baca namanya di nametag. Anggita Putri Wijaya. Wijaya itu satpam pribadi ayah, kan?"


Kakaknya terdiam sejenak. Matanya berputar tak tentu arah.


"Oh... Pak Wijaya itu! Iya, bener! Itu putri semata wayangnya kali!"


"Kayaknya sih gitu!"


"Oh, iya! Entar malem kan ada party di rumah. Pak Wijaya pasti bawa anaknya. Sekalian aja kamu kenalan!"


"Apaan sih? Ogah!"


"Temenan sama supir ayah gak bikin rugi kok!"


"Gimana kalau anaknya jorok?"


"Tinggal di suruh jadi bersih kali!"


Lelaki itu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Anggita pergi. Namun, jejak gadis itu telah menghilang. Ada senyuman kecil tersungging di wajahnya. Diikuti nama Anggita yang terus menerus ia rapal.


Sementara itu, Anggita mendapati Gladis tengah menangkupkan wajahnya di atas meja. Kepalanya tertunduk penuh hingga saat Anggita menyapanya, gadis itu baru mengangkat kepalanya. Bibir Gladis manyun, beberapa kali nafas keluar dari sana.


"Gimana hasilnya? Bagus?" tanya Anggita sembari duduk di seberang Gladis.


Gladis menggeleng pelan. Matanya tampak kelelahan.


"Mungkin kita gak akan sekelas lagi, Ta."


"Loh, kenapa?"


"Nilai yang berhubungan sama jurusan IPA tuh anjlok semua! Aku udah pasrah. Gak apa-apa deh di kelas IPS juga."


"Udah final, Ta. Semua nilaiku kebanyakan di sekitar nilai rata-rata. Udah ah! Main yuk!"


"Main ke mana?"


"Ke mana aja deh! Si Fajar mana? Kok di telepon gak diangkat sih!"


Gladis menekan-nekan layar ponselnya dengan kasar. Bibirnya berdecak berkali-kali.


"Aku harus cepet pulang, Dis. Ibu sama Ayahku ada acara nanti malem. Aku disuruh ikut mereka. Sorry...," Anggita tersenyum memelas sembari menangkupkan kedua tangannya di atas meja, "Fajar udah pulang dari tadi siang. Katanya mau bantu Mamahnya jualan!"


"Ih! Kalian semua jadi anak berbakti pada orang tua ceritanya? Terus aku gimana?"


Bahu Anggita terangkat bersamaan. Ia bangkit dari duduknya dan melambaikan tangan. Berlalu pergi meninggalkan Gladis sendirian.


***


Anggita turun dari taksi mengikuti Pak Wijaya dan Bu Lala yang sudah lebih dulu berdiri di luarnya. Ditatapnya rumah dua lantai itu dengan seksama. Cat putih tampak lebih mendominasi. Di depannya ada taman rumput luas yang hanya ditumbuhi satu pohon mangga yang belum berbuah. Anggita melangkah mengikuti kedua orang tuanya. Setelah menekan bel hampir tiga kali, seorang pria paruh baya dengan beberapa rambut putih menyelinap di antara rambut hitam di kepalanya menyambut mereka. Lelaki itu memeluk ayahnya erat, saling memberikan tepukan dan senyuman. Sedang Ibunya hanya bersalaman dan bertanya kabar. Lelaki itu kini beralih kepadanya, mengulurkan tangannya sembari memandangnya lekat.


"Anggita yah?" tanya lelaki itu.


Anggita membalas uluran tangan lelaki itu dengan kedua tangannya, kemudian menariknya hingga ke kening.


"Iya, Pak," balas Anggita yang langsung membuat lelaki itu tertawa.


"Panggil aja Om. Om Wahid aja!"


Anggita mengangguk malu. Om Wahid lalu memboyong Ayahnya diikuti ia dan Ibunya memasuki rumahnya. Mata Anggita mulai menyelidik isi ruangan yang pertama kali menyambutnya. Kursi bercorak batik tertata melingkar di ruangan itu. Di dinding sebelah kanannya terdapat beberapa lukisan ikan koi yang di dominasi warna orange seolah tengah berenang di sebuah kolam. 


Om Wahid dan Ayahnya duduk di kursi berbeda. Duduk saling berhadapan. Ibu dan Anggita duduk di samping Ayahnya. Pandangan Anggita kini terpaku ke dinding sebelah kiri yang hampir luput dari pindaianya. Pigura besar itu menampung lima orang di dalamnya, ada Om Wahid yang tengah menggenggam tangan seorang wanita berkerudung putih di sampingnya. Wajahnya terlihat tua. Anggita bisa menilai jelas bahwa wanita itu pastilah istrinya. Lalu, pandangannya beralih ke arah seorang lelaki yang berdiri di belakang keduanya, tubuhnya tinggi kurus dengan kacamata bertengger di wajahnya. Di sampingnya ada seorang wanita yang tengah tersenyum manis dengan kerudung putih seperti istri Om Wahid. Keningnya mengkerut, ada perasaan tak asing dengan wajah wanita muda itu. Lalu ia alihkan pandangannya ke arah lelaki muda di sisi lain lelaki tinggi itu, sama-sama berkacamata dan kurus. Perbedaan tinggi tubuhnya begitu kontras. Lagi-lagi ia merasa tak asing dengan wajah lelaki muda itu juga. Namun, meski berkali-kali mencoba mengingat siapa keduanya, Anggita gagal mengenali siapa mereka.


Sebuah seruan membuyarkan fokus Anggita ketika di dapatinya wanita tua yang ada di pigura itu kini ada di hadapannya. Berpelukan dengan Ibunya dengan wajah semringah.


"Ini pasti Anggita. Iya, kan?"


Anggita bangkit dan meraih tangan wanita itu, menariknya ke kening. Kemudian keduanya saling berpelukan.


"Iya, Tante…," Anggita ragu.

__ADS_1


"Tante Rahma," timpal wanita itu, "panggil Tante Rahma aja." Senyuman Tante Rahma mengurangi rasa canggungnya.


"Sebentar!" Tante Rahma menolehkan kepalanya ke arah dalam ruangan, "Randi! Nina! Tamunya sudah datang! Kemari sebentar!" teriak wanita itu disusul kemunculan seorang wanita berkerudung maroon dan lelaki muda dengan kaos blouse putih polos.


Wanita berkerudung maroon itu mengulurkan tangannya terlebih dahulu pada Anggita.


"Nina!"


Dibalasnya tangan itu dengan enggan.


"Anggita!"


Lelaki berkaos putih gantian mengulurkan tangannya ke Anggita.


"Randi!"


Anggita memandangnya sejenak sebelum ia membalas uluran tangan lelaki itu.


"Anggita!"


Randi buru-buru melepaskan tangannya. Anggita sejenak terpaku memandangi tangannya yang masih terulur. 


"Kita tadi papasan di kantin sekolah. Inget ga?"


Pertanyaan Kak Nina membuat Anggita menoleh ke arahnya. Sejenak terdiam sembari memandang Kak Nina dan Randi bergantian.


"Ah! Yang di kantin, yah?" Anggita ingat.. 


Randi adalah lelaki berjaket abu dengan celana corak yang ia temui di kantin, bersama Kak Nina yang mengikutinya. Anggita tersenyum penuh kemenangan karena bisa mengingat keduanya yang hanya pernah berpapasan sekilas.


Kak Nina tampak senang Anggita bisa mengingat keduanya. Namun, Randi memilih tak acuh dan langsung duduk di kursi seberang. Disusul Kak Nina dan Tante Rahma yang duduk di sampingnya. Randi yang duduk tepat di seberang Anggita terus memasang wajah tanpa ekspresi. Anggita yang memperhatikan lelaki itu pun memilih pura-pura tak pernah bertemu muka, menyimak obrolan kedua orang tua mereka yang tak bisa dimengerti. Bahkan selama kedua keluarga itu memutuskan untuk menyantap hidangan makan malam di ruang makan, Anggita memilih menyimak sembari mencuri pandang Randi yang tak pernah sekalipun tersenyum ketika yang lain tertawa. Lelaki itu lebih banyak diam dan melamun sendiri.


"Anggita cita-citanya jadi apa?" pertanyaan dari Om Wahid membuat Anggita terhenyak.


"Hmm... cita-cita Gita...," Anggita berpikir keras.


Selama ini ia hanya ingin belajar dengan tenang, mendapatkan nilai terbaik di semua mata pelajaran demi mempertahankan beasiswanya. Itu saja!


"Jadi dokter? Guru?" tanya Om Wahid lagi.


Anggita tersenyum kaku. Ia benar-benar tak memiliki jawaban yang benar atas pertanyaan tersebut.


"Saya membebaskan Gita mencapai cita-citanya sendiri, Pak. Mungkin saat ini dia masih banyak menimbang," timpal Ayah Anggita.


"Kalau Randi cita-citanya jadi apa?" giliran Bu Lala yang mengajukan pertanyaan pada anak bungsu Om Wahid.


Randi yang sedari tadi diam kini mengarahkan pandangannya ke semua pasang mata yang tengah tertuju padanya.


"Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Tante." jawabnya tanpa ragu.


"Wah! Jadi keluarga dokter atuh yah nanti jadinya, Pak?" sela Ibu Lala menerka.


Om Wahid tertawa terbahak, "itu pilihan mereka sendiri, Bu. Saya sih bersyukur kalau memang mereka ingin mengikuti jejak saya!"


Randi tiba-tiba bangkit dari duduknya membuat tawa ayahnya terhenti, begitu juga tawa yang lain. Semua mata kembali tertuju ke arahnya termasuk Anggita.


"Randi mau istirahat."


Tanpa menunggu tanggapan, Randi pergi begitu saja. Membuat Om Wahid berdecak berkali-kali yang hanya disenyumi oleh ayahnya.


"Tidak apa-apa, Pak." Ayah menangkan Om Wahid.


"Anggita sekolah di SMA Marga yah?" tanya Om Wahid.


Anggita mengangguk ragu.


"Titip Randi, yah!" ujar Om Wahid kemudian.


Kening Anggita mengkerut.


"Dia pindah ke SMA Marga semester depan nanti!"


Anggita mengangguk enggan. 


Selepas Randi pergi, Kak Nina mengajak Anggita pergi ke luar rumah. Kak Nina membawa Anggita ke sebuah gazebo yang ada tak jauh dari taman, berada di bagian paling belakang rumahnya yang tak tampak dari jalan. Keduanya duduk di sana ditemani beberapa biskuit dan minuman. Anggita enggan memulai percakapan sampai tiba-tiba Kak Nina duduk di sampingnya dan meraih tangannya, menggenggamnya erat dengan sorot mata memelas.


"Kakak boleh minta tolong sama Gita?" tanya Nina kemudian.


"Minta tolong apa, kak?"


"Tolong kamu jadi temen Randi, yah!"

__ADS_1


Anggita mematung. Matanya sedikit terbelalak mendengar ucapan Kak Nina. Ia tak tahu harus bereaksi apa selain memaksakan ujung bibirnya terangkat untuk membentuk sebuah senyuman.


__ADS_2