TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 29 TAK BISA PUTUS


__ADS_3

Hatinya berlonjak riang. Pagi-pagi sekali Gilar sudah datang ke rumahnya dengan dalih motornya ketinggalan di Sekolah, jadi harus berangkat dengan bus. Tentu saja Ibu dan Bapaknya mengizinkan. Apalagi ini pertemuan kedua mereka dengan Gilar.


Anggita memilih duduk di kursi paling depan yang dekat dengan jendela. Sementara Gilar memilih duduk di sampingnya, tanpa sungkan. Gadis itu tak berani menoleh lama-lama ke arahnya. Sebisa mungkin menyembunyikan senyuman riangnya agar tak ketahuan Gilar.


"Kamu mau tahu kenapa aku masuk Geng Motor, Ta?" tanya Gilar tiba-tiba.


Anggita mengangguk pelan. Ia beranikan diri memandangi lelaki yang katanya ingin berbagi keberengsekan hidupnya pada Anggita.


"Iseng, Ta."


Wajah Anggita cemberut.


"Katanya mau jujur!" protes Anggita tak percaya.


Gilar terkekeh. Bersyukur bahwa Anggita kali ini tidak bisa lagi ia tipu.


"Ibuku meninggal pas aku mau Ujian Nasional SMP. Untung aja bisa lulus. Bapakku kayaknya bener-bener gak rela kehilangan Ibu, dia pun nyusul beliau dengan cara ngajakin aku minum baygon."


Kening Anggita mengerut. "Maksud kamu? Itu beneran apa cuma bualan?" Tak mungkin ada orang tua di dunia ini yang mau membunuh anaknya sendiri, bukan?


Gilar tersenyum kecil. Anggita pasti sulit mempercayai ceritanya yang lebih terdengar seperti dongeng pengantar tidur.


"Aku cuma mau bilang jujur aja kejadiannya kayak apa, menurut sudut pandangku yang udah berubah." Gilar memandang Anggita lekat. Tak banyak berharap gadis itu nanti masih akan tetap mau di sampingnya atau tidak setelah tahu kisah nyata hidupnya yang serupa dongeng.


Anggita memilih bungkam. Meski cerita awalnya saja sudah membuatnya tercekat dan ketakutan, Anggita harus bertahan. Ia harus mendengarkan semua kejujuran Gilar, barulah setelah itu ia bisa mengambil sikap akhir. Tetap bersama Gilar atau pergi.


"Kamu ingat Mang Parto? Bapaknya Agus tempat aku biasa nongkrong sama anak-anak!"


Anggita mengangguk tanpa ragu.


"Mang Parto yang menemukan aku dan Bapak sudah terkapar di rumah. Sayangnya, rencana Bapak gagal aku jalani. Dia pergi sendirian bertemu Ibuku."


Alih-alih merasa sedih, Anggita malah lebih merasa terhibur mendengar penuturan khas Gilar. Cerita sedihnya ia kemas begitu apik hingga tak menimbulkan iba bagi pendengarnya. Mungkin, Gilar memang tak ingin siapa pun iba padanya, terka batin Anggita.


"Rumahku dan rumah Mang Parto memang bersebelahan. Setelah kejadian itu, aku lebih sering tidur di rumahnya. Bukan takut sebenarnya, cuma aku bingung kalau tiba-tiba malem lapar, harus minta makan ke siapa. Ibu dan Bapak sudah gak ada."


Anggita tersenyum kecil. Ia benar-benar tak bisa membedakan apakah Gilar berkata jujur atau sedang berdongeng.


"Maaf. Bukan maksud aku ngetawain hidup kamu yang sebenernya sedih. Cara kamu nyeritainnya bikin aku gagal buat sedih, Gil!" kilah Anggita masih tetap tak bisa berhenti tersenyum.


"Gak apa-apa, Git. Aku emang gak mau bikin kamu sedih gara-gara dengerin cerita aku." Timpal Gilar menenangkan.


Bus terus melaju menembus hiruk pikuk kota. Gilar masih terus melanjutkan kisah sedihnya yang gagal membuat Anggita bersedih.


Menjadi anak yatim piatu saat menginjak remaja memang membuat Gilar begitu terpukul. Ia bahkan tak tahu harus tetap hidup atau tidak. Ia menyayangkan tubuh mudanya yang gagal menyerap sari-sari baygon itu. Nyawanya tetap hidup. Hidup sebatang kara harus mulai ia jalani.


Beruntung ia memiliki tetangga tanpa pamrih seperti Mang Parto. Hidup menduda dengan seorang anak bernama Agus nyatanya tak menyurutkan niatnya berbagi kasih sayang dengan yang lain. Gilar dapat merasakan ketulusan Mang Parto saat ia tengah terpuruk karena ditinggal kedua orang tuanya secara beruntun.


Namun, ia dan Agus tak bisa begitu saja menjadi akrab. Menyadari bahwa kasih sayang Ayahnya satu-satunya mulai terbagi menjadi dua, Agus sering diam-diam mengajak Gilar bertengkar. Ala laki-laki tentunya. Mang Parto kadang membiarkan ia dan Agus berkelahi hebat, melampiaskan kekesalan mereka yang memiliki alasan berbeda.


Agus tak rela Ayahnya menduakan dirinya. Gilar kesal karena tak memiliki Ayah sebaik Mang Parto.


"Mang Parto pernah bilang, aku sama Agus kayak kembar."


Anggita cekikikan. Gilar juga. Jika mengingat masa-masa awal ia dan keluarga kecil Mang Parto, hanya kenangan indah saja yang bisa Gilar ingat. Bahkan, pertengkaran dengan Agus pun adalah kenangan indah yang tidak mau ia lupakan.


"Kembar dari mana coba? Beda banget, tahu!" timpal Anggita geli. Membayangkan wajah Agus dan Gilar berdampingan saja, ia tak menemukan di mana letak kesamaan mereka sehingga Mang Parto memanggil mereka kembar.


"Jenis kelamin, Git."


Anggita tergelak.


"Itu mah namanya sejenis, Gilar. Bukan kembar!" protes Anggita.

__ADS_1


Keduanya tertawa terbahak.


"Mang Parto bilangnya kembar karena kelamin kita sama katanya." Tegas Gilar lagi.


Anggita tak mampu menghentikan tawanya. Sampai ia memegangi perutnya karena kesakitan. Gilar yang memerhatikannya tak bergeming sedikit pun. Ia senang bisa menikmati tawa Anggita yang sudah lama ia rindukan. Ia juga senang Anggita mau mendengarkan kejujurannya dengan sabar.


Tak lama, bus berhenti tepat di depan sekolah mereka. Gilar dan Anggita turun berurutan. Berjalan beriringan menuju Sekolah mereka.


"Ceritanya di lanjut nanti, yah. Aku pergi duluan, Git! Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam!"


Anggita biarkan matanya mengikuti sosok Gilar yang berlari menjauh darinya. Memasuki gerbang Sekolah lebih dulu darinya.


Sebuah tepukan di pundaknya membuat Anggita menoleh spontan. Randi berjalan sejajar di sampingnya sembari tersenyum simpul.


"Cieh! Ada yang ke Sekolah bareng. Kok bisa?" goda Randi.


Anggita mencebik.


"Efek di kejar Gladis bikin kamu jadi cowok kepo, yah?" sindir Anggita tak mau kalah.


Randi mendengus kesal. Ia risi jika terus di sangkut pautkan dengan gadis berhijab itu.


"Apaan sih? Kok jadi ke dia lagi? Gak nyambung!" protes Randi kesal.


Anggita terkekeh puas melihat reaksi kesal Randi jika membahas Gladis. Kadang ia juga merasa iri akan kedekatan mereka yang tak masih membuat keduanya berteman baik. Bersikap normal ketika berada di kelas. Berseteru layaknya teman biasa. Yang lebih, hanya sikap terang-terangan Gladis saja yang tak jarang menyatakan ketertarikannya pada Randi.


Langkah kaki lelaki itu semakin cepat. Menyesal karena berani menggoda Anggita yang malah membuatnya kalah untuk saling menyindir. Meski ia tahu, ada sesuatu yang baik terjadi antara sejoli itu. Apalagi ketika menyaksikan sendiri keduanya turun dari bus berurutan dengan wajah semringah.


***


"Kok Kak Gilar baru angkat teleponnya, sih? Aku nungguin Kakak jemput!" teriak suara di seberang saluran teleponnya.


"Aku jemput Anggita." aku Gilar.


Hening. Tak terdengar lagi suara Desi dari seberang sana. Gilar menunggu reaksi gadis itu akan perlakuannya.


"Oh, gitu. Oke deh. Gak apa-apa. Lain kali harusnya Kak Gilar bilang aja!" timpal Desi seolah tak terkejut.


Gilar bergumam tak jelas. Ia gagal membuat gadis itu marah dengan kejujurannya. Harus ia akui, ia kasihan karena Desi benar-benar berjuang keras mempertahankan hubungan mereka. Meski normalnya, perempuan harusnya marah ketika kekasihnya mengaku telah bersama wanita lain, bukan?


Ia sendiri juga enggan memutuskan hubungan mereka, meski tadinya ia berniat mengakhiri hubungan searah ini secepatnya. Ada hal lain yang menjadi alasan Gilar tak bisa memutuskan gadis itu. Tapi, ia juga tak bisa menjelaskan alasannya kepada Anggita. Gadis itu pasti akan menganggapnya tengah berbual.


Gilar perlu membuktikan sesuatu hal terhadap Anggita. Harus.


"Tapi, sepulang sekolah nanti kita pulang bareng, yah?" pinta Desi memelas.


"Aku ada janji sama Anggita." Timpal Gilar enteng. Berharap gadis itu benar-benar marah.


"Oh, gitu. Oke deh! Lain kali aja."


Klik!


Sambungan terputus.


***


Desi membanting ponselnya ke meja. Mendengus kesal beberapa kali setelah saluran teleponnya dengan Gilar ia putus. Kalau bukan demi tawaran Fajar, mungkin Desi sudah meminta putus saja dari lelaki yang terang-terangan jalan dengan perempuan lain.


Tapi, kenapa Gilar memilih berkata jujur padanya? Entah di sengaja atau tidak, Gilar seperti tak pernah menganggapnya kekasih sungguhan. Jarang membalas pesan. Semaunya mengangkat telepon. Mau menjemputnya hanya karena Desi yang merengek dan memaksa. Tak pernah bisa di ajak bicara banyak, selalu saja menghindar. Lelaki itu pun tak pernah mengatakan akan memutuskannya.


Seruan dari arah luar kelas membuyarkan pikiran Desi. Anisa berjalan dengan cepat memasuki kelas dan duduk di sampingnya dengan memasang wajah antusias.

__ADS_1


"Lo harus peringatin si Anggita itu, Des!" seru gadis itu begitu bersemangat.


Desi menyeringai kecil.


"Emang kenapa lagi? Gue takut labrak dia ah! Si Rangga ngancem gue pake DO segala!" kilah Desi tak peduli.


"Dia berangkat bareng sama Kak Gilar. Pake bus! Berdua! Banyak loh saksinya!" cerita Anisa begitu antusias.


Desi terpegun. Perkataan Gilar ternyata memang benar adanya. Ia pikir lelaki itu hanya ingin memanas-manasi dirinya saja. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ia melakukan hal ini demi tawaran menggiurkan Fajar, bukan benar-benar menyukai lelaki itu. Jadi, biarkan saja gosip seperti ini merebak. Lagi pula yang malu itu Anggita. Karena semua sudah tahu bahwa Gilar adalah kekasihnya.


"Kok malah diem sih!" protes Anisa gemas. "Gue temenin lo deh labrak tuh cewek ganjen! Biar tahu rasa!" sambung Anisa geram.


Desi menyeringai kecil. Anisa hanya bisa terdiam memperhatikan Desi yang mulai menggerutu tak jelas.


"Udahlah! Biarin aja! Toh semua orang tahu kok kalau gue itu pacarnya Gilar. Dan kita belum putus!" Desi meyakinkan.


Anisa mangut-mangut mengerti. Mencoba menerima alasan Desi menolak ajakannya untuk melabrak Anggita.


Sebuah seruan keras terdengar nyaring. Anisa dan Desi spontan menoleh ke arah pintu kelasnya. Wina muncul setengah berlari. Berhenti tepat di meja mereka dengan napas terengah.


"Kak Gilar sama Kak Anggita pacaran!" teriak Wina antusias.


Anisa dan Desi sejenak saling berpandangan.


"Kata siapa?" tanya Anisa penasaran.


Desi memilih memperhatikan percakapan.


"Anak-anak di kantin! Mereka lagi pada ngegosipin mereka!" timpal Wina penuh semangat. "Dan lo itu perebut pacar orang, Des!" sambung Wina sembari memandang Desi lekat.


Desi tercekat. Anisa terperangah. Wina menunggu reaksi Desi untuk menyangkal atau membenarkan apa yang ia dengar.


"Mereka gak pernah pacaran!" protes Desi meyakinkan. "Mereka cuma temenan. Kak Gilar nerima gue jadi pacar dia! Kalian percaya gue, kan?" Desi memandang kedua temannya mencari dukungan.


Ia sudah menceritakan secara detail bagaimana Gilar bisa menerima cintanya, meski hanya melalui saluran telepon. Ia dan Gilar juga pernah berboncengan ke Sekolah, hanya berdua. Itu menjadi bukti yang cukup kuat bahwa mereka benar-benar berpacaran, bukan?


"Lo selingkuhan dia kali, Des." terka Wina tanpa tedeng aling.


"Gue bukan selingkuhan dia!" Desi ngegas.


"Bisa aja waktu itu Gilar lagi ada masalah sama Kak Anggita. Terus kebetulan lo nembak dia. Terus dia nerima lo deh! Bisa aja, kan?" terka Anisa yang mulai meragukan cerita Desi.


"Bisa jadi tuh! Lagian lo juga nembak Kak Gilar lewat telepon! Bisa aja yang jawab bukan dia, kan?" tambah Wina memanas-manasi.


Desi menggebrak meja dengan kasar hingga membuat kedua temannya terhenyak kaget. Dia memandangi Anisa dan Wina bergantian dengan tatapan berang.


"Kalian gak percaya sama gue?" tanya Desi berapi-api.


Wina dan Anisa saling melempar pandang.


"Bukan gak percaya cerita lo. Gue cuma bantu lo aja biar paham situasi. Bisa aja kan lo emang di manfaatin sama si Gilar buat jadi selingkuhannya?" Anisa berdalih.


Desi mencebik kesal. Tak percaya bahwa temannya malah mencurigainya sebagai selingkuhan Gilar.


"Lagian kita juga belum lama di Sekolah Marga. Kali aja emang mereka beneran pacaran. Terus putus. Terus nyambung lagi deh!" timpal Wina tak mau kalah argumen.


Desi menggebrak mejanya lagi. Matanya melotot tajam ke arah keduanya. Napasnya terdengar keras dan cepat. Wina beringsut menjauh dari meja. Sedangkan Anisa memilih bangkit dari duduknya.


"Gue bakal buktiin ke kalian berdua kalau gue bukan selingkuhan Gilar!" aku Desi begitu percaya diri. "Kalau gue bisa buktiin itu semua, kalian harus berlutut dan minta maaf ke gue nantinya! Ngerti?" ancam Desi berang.


Anisa dan Wina saling mendekat. Saling meraih kedua tangan dan berbagi usapan menenangkan. Desi memilih kembali duduk di kursi dengan wajah berang.


Akibat ulah Gilar yang secara terang-terangan jalan bersama Anggita, membuat posisi dirinya sebagai pacar berubah menjadi selingkuhan. Ia tidak bisa membiarkan namanya tercoreng begitu saja. Akan ia buktikan bahwa Gilar benar-benar pacarnya. Bukan Anggita.

__ADS_1


__ADS_2