
Gilar menghentikan motornya tepat di depan rumah Anggita malam itu. Saat Anggita baru turun dari motornya, terdengar seruan memanggil nama gadis itu dari arah dalam rumah. Keduanya menoleh bersamaan. Bu Lala dan Pak Wijaya setengah berlari menghampiri keduanya. Bu Lala membuka gerbang sembarang, memburu Anggita dan memeluk anak semata wayangnya itu erat.
Pak Wijaya yang menyusulnya hanya termangu. Sesekali dua jarinya mengusap kedua matanya. Gilar pun turun dari motor. Berdiri di samping motornya dengan kepala tertunduk. Ia biarkan Ibu dan anak itu saling berpelukan.
"Kamu siapa?" tanya Pak Wijaya sembari memandangnya penuh keheranan.
Gilar meraih tangan kanan pria itu, menariknya ke atas keningnya.
"Gilar, Pak."
Bu Lala melepaskan pelukannya. Meski masih enggan melepaskan Anggita jauh dari jangkauannya. Matanya yang sudah berair kini beralih memandangnya. Gilar yang di liputi rasa bersalah hanya mampu tertunduk lesu.
"Ini temennya Gita. Satu sekolah sama Gita, Yah." Bu Lala ingat betul pernah bertemu muka sekali dengan Gilar. Apalagi ketika anaknya mengakui tengah menyukai lelaki itu.
"Kenapa pulang selarut ini? Dari mana saja kalian?" tanya Bu Lala dengan nada lebih tinggi.
Ada sorot mata tajam terarah pada Gilar hingga lelaki itu lagi-lagi memilih tertunduk. Patutlah Ibunya marah. Pasti ia khawatir anak semata wayangnya pulang larut begini. Dan ini karena ulahnya.
"Maaf, Bu. Itu karena...."
Belum sempat Gilar meneruskan perkataannya, Anggita menyerobot, "habis kerja kelompok, Bu. Maaf. Hape Gita kehabisan baterai jadi gak bisa ngabarin."
Gilar mendongak. Ia semakin merasa bersalah karena membuat Anggita berbohong kepada orang tuanya. Keduanya sejenak saling berpandang.
"Kita masuk dulu kalau begitu. Gilar juga ikut!" pinta Pak Wijaya.
"Maaf, Pak. Gilar pulang aja, yah. Gilar cuma mau nganter Gita pulang." Sesekali punggungnya membungkuk. Dua tangannya saling berpilin menutupi rasa malu dan bersalah.
"Masuk dulu aja, Gilar. Gak baik nolak tawaran orang tua. Mereka gak akan jahatin kamu kok!" sela Anggita ketus.
Gilar mengangguk pelan.
***
Gilar duduk di seberang Pak Wijaya. Lelaki itu sibuk memandangi isi rumah Anggita yang di penuhi pigura foto-foto ketiganya. Terutama foto Anggita yang lebih mendominasi. Ia tersenyum sesekali melihat foto gadis itu semasa masih kecil. Lucu dan tentu saja cantik. Pak Wijaya yang memperhatikan tingkah teman anak gadisnya memandang penuh selidik.
"Beneran cuma temen Gita aja? Bukan pacarnya, kan?"
Gilar membeku. Ia jelas tak akan lupa pernyataan rasa sayangnya tadi pada Anggita. Namun, dengan bodohnya ia malah menaburkan benih racun dengan mengatakan tak bisa berpacaran dengan gadis itu. Sungguh! Gilar menyayangi Anggita. Tapi, ia tak tahu harus bertindak seperti apa untuk membuktikan rasa sayangnya itu. Mengajaknya pacaran, apakah itu solusi terbaik? Bagaimana jika Anggita berada dalam situasi berbahaya lagi karena ia adalah pacar ketua geng motor? Sungguh! Gilar tak benar-benar tulus mengatakan tak bisa berpacaran dengan gadis itu. Ia hanya bingung harus berbuat apa dengan perasaannya.
"Bukan, Pak." jawab Gilar enggan.
Mata Pak Wijaya menyelidik. Seolah tak percaya akan perkataan Gilar barusan.
Bu Lala datang sembari membawa nampan berisi dua gelas minuman berwarna merah. Di taruhnya satu di depan Gilar, beralih menaruh lagi satu gelas di depan Pak Wijaya. Bu Lala duduk tak jauh dari Pak Wijaya. Membiarkan nampan itu tersimpan di bawah meja.
"Kenapa nyampe pulang selarut ini kerja kelompoknya, Gilar?" tanya Bu Lala masih penasaran.
Pak Wijaya dan Bu Lala menatapnya tajam. Menunggu jawaban meyakinkan dari lelaki itu. Gilar menelan ludahnya berulang kali. Hanya balas menatap. Berkali-kali mencoba untuk membuka suara namun urung ia lakukan.
"Susah Bu, tugasnya!" terdengar suara teriakan dari arah dalam rumah.
Ketiganya mendongak. Tak lama Anggita muncul dengan baju yang berbeda. Wajahnya sudah tak sembab dan lusuh lagi. Meski rambutnya hanya diikat sembarang hingga anak-anak rambutnya masih suka berkeliaran, Anggita terlihat sangat cantik. Ia pun duduk tak jauh dari Gilar.
__ADS_1
"Gita aja nyampe lupa buat kabarin Ibu, kan? Saking susahnya, Bu. Coba aja tanya sama si Fajar! Kebetulan kita satu kelompok tuh."
Anggita melirik Gilar sekilas. Lelaki itu mengangguk ragu.
"Iya, Bu. Tugasnya emang susah banget! Anak pinter kayak mereka aja kewalahan," timpal Gilar membuat kebohongan keduanya semakin menganga.
Malam itu menjadi malam pertama bagi Gilar merasakan kehangatan keluarga Anggita. Tak dapat ia tolak tawaran untuk menikmati makan malam bersama. Menikmati hidangan sayur lodeh, goreng tempe, dan ikan asin yang disediakan khusus untuk menyambut mereka yang pulang larut. Ada obrolan ringan menyelingi kebersamaan mereka. Gilar tak menampik betapa nyamannya berada di sana. Ia juga sudah berani mengajak Ayah Anggita bercanda. Tak jarang menggoda Bu Lala yang ternyata humornya bisa menyaingi humor anak muda.
Hampir menjelang tengah malam Gilar berada di rumah itu. Keasyikan mengobrol dan mendengarkan sepak terjang Pak Wijaya mengarungi kehidupan sebagai seorang pemimpin keluarga membuatnya enggan undur diri untuk pulang.
"Yang Bapak cari dalam mencari rezeki itu bukan besaran nominalnya, Gil. Tapi barokahnya. Itu yang paling sulit! Semasa Bapak masih lajang, Bapak sering foya-foya, hura-hura. Main seenaknya nyampe lupa waktu. Sering bolos sekolah. Badunglah disebutnya. Bapak itu anak nakal sekali. Tak pernah merasakan kekurangan uang sedikit pun. Orang tua Bapak itu kaya raya loh! Tapi, entah kenapa, semua yang Bapak lakukan hanya semakin membuat Bapak kosong. Tak punya tujuan. Sering merasa tidak puas. Padahal apa yang kurang? Jika ditilik dari segi duniawi, saat itu Bapak punya segalanya. Tapi disini, Gilar," Pak Wijaya menyentuh dadanya dengan jari telunjuknya, "ada yang kosong. Kosong sekali!"
Gilar tersenyum. Memandang Pak Wijaya seolah ia menjadi muda. Ia seperti melihat dirinya sendiri. Tapi, ia belum mengerti apa yang di maksud kekosongan bagi Pak Wijaya?
"Sampai akhirnya Bapak menikah. Bertemu Ibu Anggita. Mengarungi biduk rumah tangga ternyata tak semanis sinetron atau drama korea. Lika-likunya banyaaak sekali. Soal keuangan hanya segelintir masalah. Dari masalah-masalah inilah Bapak semakin berkaca diri. Lari ke sana kemari meminta pertolongan. Meminta bantuan rekan-rekan semasa berfoya-foya. Tapi, apa? Mereka tak bisa membantu. Mereka masih dalam kondisi yang sama. Tak stabil. Dan Bapak pun tak stabil.
Sampai suatu hari Bapak tak sengaja mendengarkan seorang ustaz berceramah. Bapak lupa siapa beliau. Tapi, berkat ceramah beliaulah Bapak bisa seperti sekarang.
Begini inti dari ceramahnya, Gilar. Allah telah memberikan manusia segalanya, hanya manusialah yang tak sadar diri sudah di beri segalanya. Bumi untuk berpijak, langit untuk berteduh, tanaman untuk di pilah agar bisa di makan, hewan untuk dinikmati yang bisa di sembelih. Apa lagi coba yang kurang? Semua sudah Allah kasih! Mata untuk melihat, hidung untuk mencium, mulut untuk berbicara, telinga untuk mendengar, tangan untuk meraba, kaki untuk melangkah, dan nyawa untuk tetap bisa menikmati hidup. Tapi apa yang di perbuat manusia? Mereka tak pernah bersyukur sedikit pun atas nikmat yang Allah telah berikan."
Gilar dijalari rasa kagum akan sosok Ayah Anggita yang memang menurunkan kebaikan hatinya itu pada sang anak. Mendengarkan cerita panjang lebar Pak Wijaya tak sedikit pun membuatnya suntuk.
"Jadilah Bapak kerja apa pun saat itu. Dari mulai kuli di pasar, kondektur angkot, tukang ojek, jadi satpam mesjid, sampai akhirnya bisa bekerja di tempat Pak Wahid. Bagi Bapak yang penting semua pekerjaannya halal. Allah Ridha dan Bapak mensyukurinya."
Tak lupa juga kisah tentang perjuangan Bu Lala untuk mendapatkan Anggita berhasil ia dengarkan. Terlahir dari rahim lemah yang berkali-kali merasakan keguguran. Kehadiran Anggita adalah anugerah yang paling indah bagi keduanya, cahaya paling bersinar setelah cahaya sebelumnya meredup kembali ke pangkuan Tuhan. Sempat kedua matanya hendak menetes, ketika Bu Lala menceritakan kembali kerja kerasnya untuk mempertahankan nyawa Anggita. Hingga berwasiat pada Pak Wijaya agar lebih mengutamakan keselamatan anak mereka ketimbang dirinya.
Saat itu malam sudah sangat larut. Rembulan tepat di atas langit. Gilar menyalakan mesin motornya, sedang Anggita termangu di depan gerbang.
"Hati-hati, Gil." ujar Anggita.
Anggita tak bergeming.
"Dan terima kasih. Keluarga kamu menyenangkan."
Senyuman Gilar terurai. Anggita balas tersenyum lagi padanya. Ia membalikkan badan melangkah memasuki gerbang. Mengunci gerbang itu meski Gilar masih belum beranjak.
"Gita!" seru Gilar kemudian.
Anggita menoleh ke arahnya. Tatapannya kosong. Tidak ada senyum maupun aura kemarahan.
"Sampai ketemu besok!" sambung Gilar.
Motor melaju cepat seolah Gilar enggan memperpanjang waktu berada di sana meski ingin. Anggita sejenak tak beranjak dari sana. Termangu menatap punggung lelaki itu hingga menghilang dari pandangan.
***
Melihat Anggita bersikap seperti biasanya, Gladis sedikit lega. Ia berusaha keras tak membahas soal kejadian kemarin. Meski ia dilanda rasa penasaran bagaimana caranya Anggita pulang hari kemarin.
Sikap Fajar dan Randi pun tak jauh berbeda. Mereka seolah lupa bahwa hari kemarin sudah mengalami kejadian yang tak di duga. Berlarian untuk kabur dari kejaran preman yang entah siapa dan hendak apa mereka. Meski satu hal yang pasti, Gilar adalah jawabannya.
Setelah bel masuk berbunyi. Gilar muncul dengan wajah penuh lebam. Sejenak ia memandang ke arah Anggita, namun gadis itu lebih banyak tertunduk meski ia berjalan melewatinya secara perlahan. Ia duduk di bangku paling belakang, memandangi punggung Anggita yang masih enggan bergeming.
Ponselnya bergetar. Gilar merogoh dari saku celananya. Wajahnya tiba-tiba mengeras. Tangannya meremas ponselnya dengan erat. Saat itu Rangga muncul dari balik pintu. Gilar bangkit dan berjalan ke arahnya dengan wajah penuh amarah. Rangga yang merasakan tatapan itu ditujukan padanya, memilih berhenti melangkah hingga keduanya berdiri saling berhadapan di depan kelas. Kali ini Anggita mendongak. Rasa takut dan khawatir melandanya bersamaan. Semua mata pun tengah tertuju pada mereka. Malah ada yang bersiap menyalakan kamera ponsel, menduga bahwa akan terjadi perkelahian sengit antara keduanya.
__ADS_1
Kepalan tangan Gilar semakin erat. Anggita yang memperhatikannya mulai beringsut bangkit dari duduk. Melangkah perlahan menghampiri keduanya. Hendak melerai terlebih dahulu sebelum benar-benar terjadi kerusuhan. Namun....
"Di kelas berapa Erik sekarang?" tanya Gilar kemudian.
Anggita menghentikan langkahnya. Termangu kebingungan. Kening Rangga mengerut keheranan.
"XI IPS 5," jawab Rangga tegas, "kenapa memangnya?"
Namun, pertanyaan di abaikan oleh Gilar. Lelaki itu melangkah pergi sesaat setelah ia menjawab pertanyaan lelaki itu. Langkahnya setengah berlari dengan tangan terkepal keduanya. Anggita yang melihatnya kembali duduk di bangku. Mencoba mencerna keadaan dan tindakan Gilar pagi itu. Rangga pun memilih duduk di bangkunya. Melupakan pertanyaan aneh yang terlontar dari mulut rivalnya.
Tak lama berselang. Terdengar suara teriakan yang bergemuruh. Teriakan yang tak jelas. Seruan di mana-mana. Kadang di selingi tepuk tangan. Kelas Anggita juga menjadi gaduh. Beruntung belum ada Guru yang masuk ke ruangan.
"Ada yang berantem di lapangan!"
Sebuah teriakan membuat mata di dalam kelas Anggita menoleh ke arah lapangan yang bisa dilihat jelas dari balik jendela kaca. Beberapa memilih berhambur keluar, berdiri di koridor sekolah. Anggita pun memilih keluar kelas, merangsek maju menerobos keramaian. Hanya beberapa detik hampir semua murid memenuhi lapangan. Berlomba seperti dirinya hanya agar bisa berdiri di barisan depan.
Anggita mematung tatkala menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ada orang yang saling melemparkan tinju. Menonjok lawan tanpa memikirkan dirinya yang sudah berlumur luka lebam. Tubuh Anggita gemetaran menyaksikan dua orang yang sedang beradu kekuatan enggan mengalah satu orang pun. Di tambah lagi tak ada seorang pun yang mau melerai mereka yang sudah berdarah-darah.
Anggita meyakinkan diri. Menguatkan nyali. Ia berlari ke arah keributan. Mencoba melerai dengan berteriak meski tak di gubris.
"Gilar! Berhenti!" serunya sekuat tenaga.
Namun suaranya hanya sekedar bisik yang hilang dalam kebisingan. Saat Gilar berhasil mengunci tubuh lawannya, menduduki tubuh lawannya sembari terus melemparkan tinjunya. Anggita menghampirinya. Memegang lengan lelaki itu. Sekuat tenaga menariknya untuk melepaskan sang lawan.
Bug!
Anggita terhempas. Terkena tepisan Gilar yang berkekuatan seperti seekor kuda liar tengah mengamuk. Ia tersungkur di alas lapangan. Meringis kesakitan. Gilar yang menyadari tindakannya, mematung memandangnya penuh penyesalan. Beruntung lawannya sudah kepayahan. Hanya telentang dengan luka di mana-mana, memercik darah di baju seragamnya.
Gilar melangkah secepat mungkin menghampiri Anggita.
"Gita, kamu gak apa-apa?" tanyanya penuh khawatir.
Ia bantu Anggita bangkit. Siku gadis itu lecet parah. Di pipinya pun ada luka gores yang memerah darah kering. Anggita hanya termangu. Tubuhnya gemetaran. Ia memandang Gilar lekat namun enggan mengatakan apa pun.
"Ada apa ini?" tanya Pak Heri yang baru datang kemudian.
Memandangi Gilar dengan baju koyak dan muka lebam. Juga Anggita yang berdiri di depannya dengan luka siku lecet parah. Pandangannya teralih pada lawan yang berhasil di taklukan Gilar.
"Erik! Gilar! Kalian menghadap saya di ruang Guru! Sekarang juga!" teriaknya berang.
"Seseorang bawa Anggita ke UKS! Cepat!"
Gladis menerobos dan menghampiri Anggita. Sejenak ia mendelik ke arah Gilar penuh amarah. Lalu, memboyong Anggita perlahan untuk mengikuti langkahnya. Fajar dan Randi yang berdiri di antara keramaian, tanpa komando memberikan ruang jalan bagi keduanya. Bertugas seolah bodyguard yang hendak membawa artis terkenal ke atas panggung. Menyediakan jalan selebar mungkin agar artisnya bisa melangkah ke atas panggung tanpa hambatan. Sementara Rangga, berdiri di ambang pintu kelasnya. Menyeringai sendirian tanpa suara. Barulah saat melihat Anggita berjalan tertatih di dampingi Gladis, diekori Fajar dan Randi, seringainya lenyap. Ia berlari sekuat tenaga menghampiri Anggit.
"Ta, kamu kenapa?" tanyanya penuh khawatir.
Matanya menyelidik. Di dapati luka lecet parah di siku Anggita. Juga luka gores memerah darah kering di pipinya.
"Aku bawa ke UKS!"
Rangga hendak menarik lengan Anggita, namun di tepis oleh Randi secepat kilat.
"Biar kita aja yang bawa!"
__ADS_1
Rangga tak bergeming. Keempatnya melangkah meninggalkannya sendirian.