
"Kamu suka sama si Gladis?"
Randi spontan menoleh ke arah Fajar yang tengah membereskan bukunya ke dalam tas landaknya. Beruntung tak ada siapa pun di sana selain keduanya dan beberapa siswa di pojok sana yang belum juga pulang.
"Ih! Apaan sih? Nggaklah! Mana ada yang suka cewek tukang ghibah kayak dia, Faj." Ujar Randi tak terima.
"Emang beneran tipe kamu kayak Lady Gaga?" Fajar memandang ke arah Randi serius.
Randi tergelak.
"Itu idola saya, Faj. Mana ada tipe cewek kayak Lady Gaga di Indonesia! Ada-ada aja kamu. Standar saya gak setinggi itu kok kalau soal cewek."
Randi hanya beralasan demi menjauhkan Gladis darinya. Ia sungguh tak nyaman dengan sikap gadis itu yang tiba-tiba mengakui perasaannya secara terang-terangan. Gadis itu terlalu liar untuk di hadapi. Semoga saja dengan dalihnya ini Gladis mundur dengan sendirinya.
"Tipe cewek kamu kayak siapa emang?" tanya Fajar penasaran.
Randi beringsut bangkit dari duduknya. Matanya mengerling tak tentu arah. Fajar masih menunggu jawaban darinya dengan terus memperhatikan lelaki itu.
Ketika Randi lebih memilih melangkah pergi, Fajar mengikutinya segera.
"Kayak Anggita mungkin." Timpal Randi yang mampu membuat Fajar diam membeku beberapa saat.
"Kenapa Anggita?" tanya Fajar enggan.
"Sejauh ini sih dia cewek yang paling normal di mata saya. Yang lain cuma modal cantik doang! Tapi isi otaknya kosong semua." Randi yakin penilaiannya tak salah.
"Kamu suka juga sama si Anggita? Saingannya Gilar sama Rangga, loh!" Tanya Fajar setengah menakut-nakuti. Berharap lelaki itu undur diri menjadi pesaingnya yang lain setelah Gilar berhasil ia depak.
Randi terkekeh geli.
"Nggaklah! Sebagian besar tipe saya ada dalam diri Anggita. Pinter dan cantik. Tapi, tipe saya itu yang paling penting adalah muslimah sejati. Anggita kan gak berhijab, Faj."
Mendengar jawaban Randi tentu saja Fajar hanya bisa melongo. Tak ia sangka tipe lelaki yang diincar teman sebangkunya jauh dari yang ia bayangkan.
"Gladis bukannya berhijab juga, yah?" timpal Fajar yang di sambut seringai kecil dari bibir Randi.
"Iya sih, Faj. Saya agak canggung sebenernya soalnya dia ada plusnya yaitu agresif dan terang-terangan. Takut ngerusak citra dia sebagai muslimah. Makannya saya kaget pas dia tiba-tiba bilang lagi pedekate ke saya. Mending saya tolak dari sekarang sebelum citranya makin buruk!"
Fajar mengangguk mengerti. Ia tak habis pikir bahwa Randi bisa berpikir sejauh itu akan tindakan Gladis.
"Berarti kamu suka dong sama Gladis?"
Randi terkekeh geli.
"Duh, apaan sih! Emangnya rasa suka itu gampang banget yah datangnya? Saya baru di sini aja belum sebulan. Gak tahu tuh gimana ceritanya si Gladis bisa tiba-tiba suka ke saya. Saya sih nganggepnya dia lagi bercanda aja. Toh namanya juga cewek! Apalagi dia tahu saya anak dokter. Mungkin karena alasan itu, bukan murni beneran suka."
Bagi Randi yang minim pengalaman dalam hal wanita, tentu saja ia tak mau kegeeran begitu saja ketika Gladis menyatakan rasa sukanya. Hanya dengan menganggap gadis itu tengah bercanda saja mampu membuat hubungan mereka sampai saat ini tidak canggung. Bagi Randi, merasakan perasaan suka terhadap lawan jenis tidaklah mudah.
Bukan ia tak mau menerima perasaan gadis itu. Namun, ia benar-benar belum memiliki perasaan apa pun padanya. Daripada membuat gadis itu berharap banyak, baginya lebih baik menyatakan apa yang ia rasakan secara terang-terangan sejak awal. Mengungkapkan apa adanya perasaan dia. Toh ia pun tak menutup kemungkinan akan perubahan perasaannya nanti. Hanya saja, saat ini, ia tak sedang memiliki perasaan khusus apa pun pada gadis itu. Bahkan pada gadis mana pun.
"Saya balik duluan yah, Faj. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
***
"Kakak yang jemput? Tumben!" ejek Randi sesaat setelah memasuki mobil berwarna merah itu.
__ADS_1
Bukannya menanggapi pertanyaan Randi, Kak Nina malah sibuk menolehkan kepalanya ke arah belakang, depan, dan samping Randi secara bergantian. Melihat tingkah aneh Kakaknya, kening Randi mengerut.
"Nyari apaan sih, Ka?" tanya Randi kembali.
"Ceweknya mana? Gak ikut nebeng lagi?" timpal Kak Nina sembari menepuk paha Randi perlahan.
"Cewek apaan?" Randi memandangnya keheranan.
"Itu loh! Yang ngaku lagi pedekate! Mana sih ceweknya?"
Randi mendelik sebal ke arah Kakaknya. Jadi ini alasan sang Kakak mau menjemputnya hari ini. Randi memilih diam daripada menjawab pertanyaan Kakaknya yang tak penting menurutnya.
Namun, sebuah ketukan dari arah jendela sampingnya mampu membuat Randi terdiam kaku. Gladis lagi-lagi menggedor jendela mobil yang menjemputnya, padahal mobilnya sudah berbeda warna.
Alih-alih membuka kaca jendela, ia buru-buru meminta Kakaknya langsung menyalakan mesin mobil. Sayang, Kakaknya malah membuka jendela kaca di sampingnya dengan menyambut sapaan gadis itu dengan ramah.
Percakapan remeh-temeh keduanya berhasil membuat Gladis lagi-lagi ikut menjadi salah satu penumpang dadakan. Randi memilih berpura-pura tak mengenali gadis itu dan membiarkan Kakaknya yang meladeni ocehan tak penting dari gadis berhijab itu.
"Kakak dokter juga?" tanya Gladis antusias.
"Baru coass tingkat dua kok. Belum sah jadi dokter beberan!"
Gladis mangut-mangut dengan mulut membentuk huruf O besar.
"Coass itu apa, Kak?" tanya Gladis kemudian.
"Bilang Oh tapi gak tahu Coass itu apa!" timpal Randi ketus.
Obrolan Kak Nina dan Gladis nyatanya berlangsung semakin heboh seiring mobil yang kian melaju menjauh dari Sekolah. Membahas perihal wanita berhijab, emansipasi, tentang perasaan wanita, bahkan sampai membahas Drama Korea yang sedang mereka berdua tonton.
Merasa jengah akan suara tawa mereka, sedikit ia membuka kaca jendelanya. Membiarkan angin menerpa tubuhnya yang sudah terbalut jaket. Sedikit suara mereka tak terlalu kentara terdengar, berbaur dengan suara deru mesin kendaraan yang juga melaju bersamaan.
Namun, tiba-tiba kaca jendela kembali tertutup. Randi terenyak dan menoleh ke arah Kak Nina dengan tajam. Tepat saat hendak membuka mulutnya untuk protes, Kak Nina lebih dulu mengarahkan jari telunjuk ke arahnya.
"Kamu jangan buka jendela kayak gitu dong! Giliran kumat aja, Kakak yang berabe, Ran! Kita lagi di jalan, tahu!" sentak Kak Nina berang. Raut wajahnya mengeras seolah Randi sudah melakukan kesalahan fatal.
Gladis tercekat memperhatikannya. Ia tak mengerti apa yang dibicarakan Kak Nina barusan hingga membuat nada suaranya begitu tinggi yang di tunjukkan pada Randi. Padahal, lelaki itu hanya membuka kaca jendela. Tapi reaksi Kak Nina akan apa yang dilakukan Randi, dimatanya terlalu berlebihan.
"Kumat apa, Kak? Emang Randi kenapa?" tanya Gladis penasaran. Ia yakin telinganya tak salah menangkap beberapa kata yang di ucapkan Kak Nina yang hanya tertuju pada Randi.
Menyadari bahwa Kakaknya sudah hampir membongkar rahasianya, Randi memilih diam dan menuruti kata Kakaknya. Berharap Kak Nina tak menjawab pertanyaan Gladis secara jelas.
"Randi belum cerita emang?" timpal Kak Nina bingung.
Randi bergumam tak jelas. Kepala Gladia mendongak memandang ke arah Kak Nina yang tengah menyetir mobil.
"Cerita soal apa yah, Ka?" tanya Gladis semakin penasaran. Beberapa saat ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Randi yang masih diam.
Sebuah tepukan di pundak Randi melayang dari tangan Kak Nina.
"Kamu gimana, sih? Kamu belum cerita apa-apa ke temen kelas kamu?" timpal Kak Nina dengan suara yang lagi-lagi kembali meninggi.
"Udah deh, Kak! Gak usah gaduh gitu! Repot banget sih! Gak penting juga mereka tahu!" Randi membela diri bahwa apa yang dilakukannya sudahlah benar.
"Mereka harus tahu dong, Ran! Apalagi kondisi kamu makin jelek akhir-akhir ini! Gimana kalau kamu tiba-tiba kumat di Sekolah? Huh! Siapa yang bakalan nolong kamu kalau mereka gak tahu apa-apa?" Kak Nina berang.
Kak Nina tiba-tiba menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah supermarket yang menyediakan tempat parkir. Dia menoleh ke arah belakang di mana Gladis masih menunggu jawaban akan pertanyaannya. Jelas gadis itu semakin kebingungan tatkala memperhatikan perdebatan antara kakak beradik itu barusan.
__ADS_1
"Randi punya penyakit asma, Dis." Ungkap Kak Nina kemudian.
Randi mendengus kesal. Melirik kakaknya sejenak dengan raut wajah tajam, sebelum akhirnya memilih keluar dari dalam mobil. Meninggalkan kedua gadis itu melanjutkan pembicaraan.
"Asma?" Raut wajah Gladis tiba-tiba menegang.
"Iya. Sejak lahir dia punya penyakit itu. Sampai sekarang."
"Sejak lahir?" Mata Gladis terbelalak. "Emang parah banget, yah? Bukannya yang punya penyakit asma bisa sembuh pake inhaler gitu, yah?"
Kak Nina menggeleng pelan.
"Gak sesimple itu, Dis." Timpal Kak Nina sembari menoleh ke arah luar kaca mobil. Randi sudah pergi entah ke mana.
Panjang lebar Kak Nina menjelaskan kondisi sebenarnya dari Randi. Pertanyaan yang menggelayuti di pikiran Gladis pun satu per satu terjawab. Tentang kenapa lelaki itu tak pernah kena tegur karena memakai jaket di dalam kelas. Tentang kenapa lelaki itu selalu duduk di pinggir lapangan selama mata pelajaran olahraga. Tentang kenapa lelaki itu seperti orang yang tengah meregang nyawa ketika datang tergesa untuk mengabarkan kondisi Anggita. Tentang kenapa lelaki itu tak pernah mencicipi satu buah pun jajanan yang ada di kantin sekolah.
Randi memiliki tubuh yang lemah. Penyakit asma memang terdengar familiar, umum di derita siapa pun, tapi Gladis sama sekali belum pernah satu kali pun berurusan dengan orang yang mengidapnya.
Dari penjelasan Kak Nina, Gladis dapat menangkap pesan bahwa penyakit yang sangat umum ini nyatanya begitu menyiksa bagi para penderita. Kumatnya penyakit ini sering di anggap hal sepele karena bisa menggunakan alat semacam inhaler yang muat di saku sekali pun.
Tidak! Bagi penderitanya sendiri, penyakit ini nyatanya benar-benar merepotkan. Randi tak boleh kedinginan, tapi juga tak boleh kepanasan. Fisik Randi harus tetap dalam kondisi prima, tapi terlarang baginya untuk berolahraga secara berlebihan. Makanan harus serba sehat. Menjauhi hal-hal yang kotor.
"Randi pasti marah kalau Kak Nina cerita ini ke aku. Gimana dong?" keluh Gladis bimbang.
Ia senang bisa mengetahui kondisi Randi. Ia pun bertekad akan menjaga lelaki itu sebaik mungkin di sekolah. Tapi, melihat tingkah Randi yang memilih keluar mobil meninggalkan keduanya, membiarkan Kakaknya membuka semua rahasianya, Gladis bisa menangkap bahwa Randi tak ingin ada seorang pun di Sekolahnya tahu tentang kondisinya.
"Gak apa-apa. Toh ini buat kebaikan dia juga kok! Dia sendiri yang pengen sekolah kayak orang normal lain. Padahal kita sekeluarga udah nawarin dia buat home schooling. Dianya yang gak mau! Yah, ini resikonya! Harus ada yang tahu kondisinya selama keluarganya gak bisa pantau!"
"Para Guru kan tahu, Kak?"
Kak Nina mendengus.
"Emangnya semua Guru punya waktu cuma merhatiin satu murid kayak dia? Enggaklah! Guru tuh tanggung jawabnya seluruh murid, bukan cuma dia doang. Bisa aja di dalam kelas dia aman-aman aja. Tapi, kalau di luar kelas? Pas lagi ngerjain tugas kelompok misalnya? Atau pas lagi nongkrong misalnya?"
Gladis mengangguk mengerti. Kebimbangannya akan kemarahan Randi sedikit terobati, meskipun ia tak tahu harus bersikap seperti apa ketika bertemu muka dengan lelaki itu nanti. Apa ia harus berpura-pura tak tahu atau bagaimana?
"Titip Randi yah, Dis. Kakak udah nitip ke Anggita, tapi dia belum tahu kondisi Randi kayak apa. Kakak belum cerita apa pun." Pinta Kak Nina penuh harap.
Gladis kikuk kebingungan. Ia tak tahu harus mengiyakan atau menolak permintaan itu. Hanya seulas senyum yang berani ia tawarkan, meski hatinya bimbang ketakutan.
Sejurus kemudian Randi sudah kembali masuk ke dalam mobil. Kedua mata gadis itu memandangnya lekat, namun memiliki makna berbeda.
"Udah beres ngobrolnya? Balik, yuk!" Kilah Randi berpura-pura tak acuh. Membuat dua gadis itu hanya bisa mengangguk canggung.
Selama perjalanan, mata Gladis tak hentinya memandang ke arah Randi yang memilih melemparkan pandangannya ke arah luar jendela. Hatinya berkecamuk bingung harus berhadapan dengan lelaki itu seperti apa. Ia hanya mampu diam membisu membiarkan pikirannya terus menerus mengingat percakapan tadi dengan Kak Nina.
Di balik sikap diam lelaki itu di sekolah, Gladis tak pernah tahu bahwa dia menghadapi hidup dan matinya setiap saat sendirian. Andai saja ia tahu sejak awal pun mungkin hanya akan menganggap Randi bersikap lebay akan penyakitnya yang memang biasa dialami orang-orang. Tapi, penjelasan detail dari seorang Dokter semacam Kak Nina nyatanya mengubah pandangannya itu.
Jika di hitung lebih saksama, selama 17 tahun Randi menanggung penyakitnya sendiri. Bertarung melawan waktu yang bisa saja berhenti di detik itu juga. Napas yang seyogianya dapat membuat seseorang terus hidup, nyatanya juga dapat membuat seseorang berada di ambang kematian.
"Pura-pura aja kalau di Sekolah! Saya gak mau di gosipin orang-orang!"
Suara Randi membuyarkan pikiran Gladis. Dengan patuh gadis itu mengangguk perlahan. Masih dengan arah pandangan yang tetap sama.
"Gak akan terjadi apa pun selama saya di Sekolah! Saya jamin!" sambung Randi meyakinkan.
Kak Nina hanya sebentar menoleh ke arah adiknya yang masih belum mau melihat ke arahnya atau pun Gladis. Jika saja Tuhan bisa di ajak berkompromi, ia ingin menggantikan posisi Randi saat ini juga. Masa remaja yang harusnya dinikmati dengan ceria, tanpa beban, bebas pergi ke mana pun, bebas melakukan apa pun, terpaksa harus di batasi hanya untuk Randi.
__ADS_1