
Gebrakkan telapak tangan Gladis di mejanya membuat Anggita tersentak. Gadis berkerudung itu memandangnya dengan penuh selidik.
"Kenapa sih? Ngagetin aja deh!" protes Anggita sambil mengelus dadanya perlahan.
Kepala Gladis celingukan. Menoleh ke sana kemari seolah mencari sesuatu yang hilang. Meski arah pandangannya berakhir pada Anggita lagi. Mata gadis itu memicing tajam, membuat Anggita merasa tak nyaman.
"Kenapa sih? Ngomong kek! Gak usah pelototin aku kayak gitu!" protes Anggita risi.
"Kamu udah jadian sama si Gilar?" tanya Gladis penasaran.
Mata Anggita terbelalak.
"Enggak!" Anggita ngegas. Kalut mendengar pertanyaan yang membuatnya salah tingkah.
"Ada banyak saksi yang ngeliat kalian satu bus bareng. Sambil cekikikan katanya!" Gladis mulai menyelidik.
Anggita tergelak keras. Tak menyangka kebersamaan ia dan Gilar bisa menimbulkan berita palsu seperti itu. Lagi. Tentu saja ia tak marah, karena sudut pandang orang lain terhadapnya pastilah berbeda. Lagi pula berita itu tak seluruhnya bohong.
"Emang satu bus bareng. Tapi, kita gak jadian kok!" kilah Anggita meyakinkan.
Gilar sendiri yang bilang belum bisa memutuskan Desi, tapi rasa sayangnya hanya untuk Anggita. Ah, dasar cowok brengsek! Gara-gara dia, Anggita selalu rela menjadi bahan gunjingan di Sekolah.
"Terus ngapain satu bus bareng sama pacar orang?" selidik Gladis curiga.
Anggita tersenyum kikuk. Sahabatnya yang satu ini memang tak bisa berpura-pura menahan rasa penasaran. Mulutnya selalu mudah mengeluarkan isi pikirannya secara spontan. Membuat si lawan bicara selalu tersudut dan memilih menyerah.
"Ceritanya panjang. Kamu pasti bakalan bilang aku cewek bodoh." terka Anggita putus asa. Tidak ada seorang perempuan pun yang mau jalan bersama lelaki yang sudah memiliki kekasih, kecuali kalau perempuan itu bodoh seperti dirinya.
Gladis beringsut mendekati tempat duduknya. Menaruh tasnya di meja dan duduk menghadapkan tubuhnya ke Anggita.
"Pasti kamu punya alasan! Kamu gak mungkin segampang itu buat jadi cewek bodoh, Git!"
Gladis memandang lekat Anggita. Ia yakin apa yang di ucapkannya benar. Anggita tak mungkin ceroboh dan mau jadi cewek bodoh.
Anggita menghela napas panjang. Gladis selalu bisa membaca isi pikirannya. Sekali pun mulutnya begitu licin dalam berbicara, ia tahu bahwa isi kepalanya pun sama licinnya. Kritis. Kecuali dalam hal pelajaran. Itu yang Anggita herankan.
Panjang lebar Anggita menjelaskan apa yang sedang ia alami. Alasan kenapa ia dan Gilar tiba-tiba dekat lagi. Meski sudah jelas bahwa Gilar bukan lagi miliknya. Seantero Sekolah Marga tahu itu!
Berkali-kali kening Gladis mengerut tak mengerti. Cerita Anggita mampu membuat rasa penasarannya malah berujung kebingungan. Sikap lelaki seperti Gilar terlalu absurd dan menjengkelkan. Siapa pun yang diperlakukan seperti Anggita, pasti akan sulit untuk melupakan lelaki itu.
"Kamu belum tahu alasan dia gak bisa pacaran sama kamu?" tanya Gladis ikut-ikutan heran.
Anggita menggeleng mantap.
"Sejauh ini, aku cuma tahu kalau dia ngerasa jadi cowok brengsek dan gak pantes aja jadi pacar aku."
"Bagus! Punya kesadaran diri juga tuh cowok! Tapi kok tetep brengsek sih sikapnya? Minta di banting tuh anak!" Gladis emosi.
Anggita bergumam tak jelas. Ia sendiri yang sudah berkali-kali terkena modus PHP lelaki itu saja begitu sadar betapa brengseknya dia. Tapi, entah kenapa, Anggita begitu menikmati setiap momen manis kebrengsekan lelaki itu. Gilar memberikan sensasi berbeda dalam hal tertarik terhadap lawan jenis. Ia seperti memiliki magnet rahasia yang membuat Anggita begitu rela menikmati kebrengsekkannya.
Gilar brengsek!
"Randi gimana?" Anggita mengalihkan pembicaraan.
Gladis mendengus sebal. Meracau tak jelas bahwa usahanya mendekati lelaki itu selalu berakhir kegagalan.
"Masa aku harus berubah jadi Lady Gaga, sih?" protes Gladis.
"Gak usah! Jadi diri sendiri aja kenapa sih! Dia-nya mungkin pengen fokus ngejar nilai bagus dulu. Kan calon Dokter!"
Gladis tersenyum kecil. Namun, senyuman kecilnya langsung mengembang sempurna dengan mata mengarah lurus ke arah lain. Anggita mengikuti arah mata temannya. Menolehkan kepalanya ke arah pintu kelas. Ada Randi baru memasuki kelas dengan tatapan datar.
"Loh? Tadi ke mana dulu, Ran?" tanya Anggita kebingungan. Jelas ia melihat Randi berjalan cepat mendahuluinya.
"Ke perpus. Mau ngambil buku Biologi. Eh, banyak temen si Gladis lagi ngeghibahin kamu, Git!" sindir Randi.
Raut wajah Gladis merengut. "Temenku cuma Anggita, Ran! Dan dia lagi ada di sini! Bukan perpus!" timpal Gladis membela diri.
Randi mangut-mangut mengerti.
"Siapa yang ghibahin aku?" timpal Anggita penasaran.
Gladis memasang telinga jeli. Anggita menunggu tanggapan lelaki yang mulai sibuk meniup debu tak terlihat di atas mejanya.
__ADS_1
"Gak tahu! Gak kenal! Cewek-cewek sih kebanyakan." Aku Randi enteng.
Gladis dan Anggita saling melempar pandangan. Tanpa mengatakan apa pun, keduanya sudah paham apa yang di maksud Randi. Anggita lagi-lagi jadi bahan gunjingan.
"Cowoknya nih yang brengsek! Minta di santet ala The Cursed nih! Santet online, Git. Mau gak?" tawar Gladis begitu antusias.
Anggita hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala pelan.
"Aku gak mau gengsi lagi, Dis." Aku Anggita putus asa.
"Maksudnya?" kening Gladis mengerut. Randi memasang wajah serius memerhatikan obrolan kedua gadis di depannya.
"Aku gak mau pura-pura lagi. Aku suka sama Gilar. Dan aku mau tunjukkin itu mulai sekarang!" Anggita tersenyum kecil. "Aku capek bohong terus sama perasaan sendiri. Usaha aku buat lupain dia itu suka gagal terus." Sambung Anggita jujur.
Gladis dan Randi saling melempar pandangan. Keduanya sadar akan perasaan Anggita yang hanya condong ke arah Gilar. Bahkan usaha Fajar yang terus menerus mendekati Anggita nyatanya tak mampu merobohkan kekokohan perasaan gadis itu.
"Fajar tahu kamu masih suka sama Gilar?" timpal Randi tiba-tiba.
Kening Anggita mengerut.
"Sorry! Kita gak sengaja denger dia ngaku mau deket kamu terus pas di UKS!" aku Randi.
Gladis menepuk lengan lelaki itu perlahan. Bergumam tak jelas sembari mendekatkan jari telunjuknya ke bibir. Anggita terkekeh di buatnya.
"Jadi kalian udah tahu?" terka Anggita.
Gladis mengangguk enggan. Randi memilih diam memerhatikan reaksi gadis itu selanjutnya.
"Sebenernya aku agak risi juga sih. Kasihan Fajar. Dia udah baik banget mau hibur aku. Tapi, aku gak bisa lupain Gilar gitu aja. Aku juga gak mau jadiin dia pelampiasan!" aku Anggita putus asa. "Jadinya aku jadi agak canggung deket sama dia lagi."
"Pantesan nempelnya di aku terus!" protes Gladis.
Anggita terkekeh.
"Bagus, Git. Mending tegas aja dari sekarang kalau emang kamu gak ada rasa sama dia. Tinggal urusan dia masih mau deket kamu atau enggak. Yang penting kamu gak ada niatan manfaatin dia!" Timpal Randi bijak.
Gladis dan Anggita berseru riuh. Tak menyangka akan mendengar pepatah bijak yang keluar dari mulut Randi.
"Kalimat tadi buat kamu juga, Dis!" aku Randi tiba-tiba.
"Saya hargai perasaan kamu. Tapi, saya gak bisa janji bisa ngebales itu semua. Selama perasaan saya ke kamu cuma sekedar temen, sikap saya ke kamu pun akan sekedar temen."
Pipi Gladis mengembang. Matanya mendadak sayu dengan raut wajah kecewa. Anggita menepuk pundak gadis itu perlahan.
"Saya suka temenan sama kalian. Rame! Riweuh! Capek juga karena kalian heboh! Saya nyaman di zona ini. Tapi, saya gak akan terganggu sama perasaan Gladis ke saya." lanjut Randi sembari mengalihkan pandangannya ke arah Gladis. "Itu hak kamu, Dis. Saya gak bakalan larang. Gak bakalan jauhin kamu juga. Saya gak mau cuma gara-gara perasaan suka ke lawan jenis, pertemanan yang awalnya asyik malah jadi gak asyik lagi." sindir Randi.
Anggita merengut. Ia tahu arah ucapan Randi itu tertuju padanya.
"Kamu gak ngerasa risi kayak Anggita ke Fajar, kan?" tanya Gladis khawatir.
Randi menggeleng mantap. Senyum Gladis merekah. Sedang Anggita memandang Randi dengan tatapan tajam.
"Aku kayak gitu karena gak enak, Ran. Dia-nya tiba-tiba jadi serius gitu. Kan bikin aku risi dan makin gak nyaman." aku Anggita membela diri.
Randi mangut-mangut paham.
"Itu hak kamu, Gita. Saya gak nyalahin kok! Cuma berbagi pendapat aja." Randi berkilah.
Terdengar teriakan keras dari arah luar kelas. Ketiganya saling berpandangan bingung. Gladis yang pertama kali bangkit dari duduknya, berjalan ke arah pintu kelas untuk mengamati keadaan. Tiba-tiba, tangan Gladis melambai ke arah mereka mengisyaratkan untuk mendekat. Meski ragu, Anggita dan Randi akhirnya memilih patuh.
Anggita berdiri tepat di belakang Gladis. Randi menyusul di barisan terakhir. Kepala ketiganya sama-sama mengarah ke koridor sekolah. Dengan wajah terperangah dan bingung.
Ada Desi tengah berteriak tak jelas kepada Gilar yang tengah berjalan ke arah mereka. Desi menarik lengan lelaki itu hingga keduanya berdiri berhadapan. Gilar tak bergeming. Desi mendengus kesal.
"Bilang ke mereka kalau Kak Gilar beneran pacar aku!" perintah Desi murka.
Gilar terpegun tanpa ekspresi.
"Kamu pacarku! Puas?" timpal Gilar datar.
Desi tertawa penuh kemenangan. Ada Anisa dan Wina yang memperhatikan tingkah Desi dengan wajah ketakutan.
"Kalian denger sendiri, kan? Gue bukan selingkuhan Kak Gilar. Gue pacar dia!" teriak Desi bangga.
__ADS_1
Anisa dan Wina tersenyum kecil. Memandang ke arah sekeliling yang mulai mengerubuni Desi dan Gilar. Entah berapa pasang mata yang menyaksikan.
"Balik sana ke kelas! Cuma gitu doang, kan?" perintah Gilar tak acuh.
Lelaki itu memilih melangkahkan kaki menjauh dari sana, mengabaikan seruan yang di tujukan padanya. Langkahnya bahkan enggan berhenti saat mendapati Anggita tengah memerhatikannya dari ambang pintu kelas. Ia memilih terus melenggang menuju ke dalam kelasnya tanpa banyak bicara.
"Apaan sih? Geje!" gerutu Gladis. "Masuk yuk! Gak penting, Git!"
Namun, langkah Anggita yang hendak kembali ke kelasnya harus berhenti tatkala sebuah seruan memanggil namanya begitu lantang. Sejenak Gladis dan Anggita saling berpandangan, sambil melemparkan bibir tersungging dan anggukan kepala. Randi yang masih ada di sana memilih memerhatikan reaksi mereka atas panggilan itu.
Gladis dan Anggita berdiri memasang wajah enggan. Mereka bahkan sempat saling melempar senyum sebelum akhirnya berdiri saling bergandengan tangan. Bersiap menyambut kedatangan seseorang yang telah menyeru nama Anggita dari kejauhan. Randi mematung kikuk di belakang keduanya.
"Ada apa sih teriak-teriak segala? Kayak monyet di hutan aja!" protes Gladis saat Desi berada dekat dengan mereka.
Desi menyeringai. Kedua lengannya ia lipat di depan dada sembari memandang keduanya dengan pongah.
"Kak Gita gak usah ganjen jadi cewek! Dasar binal!" ketus Desi berang.
Randi terbelalak mendengar hal itu. Gladis mencebik geram. Sedang Anggita memilih menghela napasnya dalam-dalam.
"Terus mau kamu apa? Huh!" tantang Gladis. "Si Gilar kan udah ngaku kalau dia pacar kamu."
"Kak Gita jauhin Kak Gilar dong! Sadar diri kalau dia itu bukan punya Kakak!" Desi geram. "Kakak tuh yang ngegodain Kak Gilar terus, kan?"
"Kalau iya, kenapa?" timpal Anggita menantang.
Gladis dan Randi sama-sama memandangnya dengan mata terbelalak. Tiba-tiba Gilar muncul kembali di tengah keduanya.
"Dasar cewek binal! Gak tahu malu banget sih Kak? Bangga yah udah godain pacar orang? Huh!" protes Desi sembari berkaca pinggang.
"Aku yang ngegodain Anggita." Timpal Gilar enteng.
Desi terhenyak.
"Kak Gilar kok malah belain dia, sih?" protes Desi kesal sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah Anggita.
Anggita bergeming. Ia terpaku pada Gilar yang baru saja mengakui kedekatannya di hadapan semua orang.
"Karena aku sayangnya cuma sama Anggita." Jawab Gilar enteng. Ia bahkan sempat mengedipkan sebelah matanya ke arah Anggita.
Terdengar seruan bergemuruh. Desi terperangah bingung. Anisa dan Wina spontan berdiri di samping gadis itu sembari menggamit lengannya. Gladis dan Randi hanya mampu terkekeh puas dibuatnya. Tak menyangka bahwa Gilar akhirnya akan mengakui perasaan di saat seperti ini. Di hadapan pacarnya sendiri.
Gilar brengsek!
"Tapi, Kak Gilar pacar aku!" Desi bersikukuh.
"Kamu yang nawarin diri buat jadi pacar aku. Dan aku terima tawaran kamu! Karena aku cowok yang gak pernah bisa menolak tawaran dari siapa pun." Timpal Gilar dingin.
Desi mencebik. Kedua tangannya terkepal erat.
"Kak Gilar jahat! Aku mau putus dari Kakak!" teriak Desi murka.
Gilar menyeringai. Ia mulai melangkah mendekati Desi dengan terus menatap gadis itu lekat. Anisa dan Wina yang tampak ketakutan memilih melangkah mundur meninggalkan Desi mematung kesal sendirian.
Gladis spontan menarik tangan Anggita untuk mundur juga. Menjauhkan diri dari Gilar maupun Desi. Melihat seringai Gilar, Gladis merasa tak nyaman dibuatnya.
"Serius mau putus?" tanya Gilar dingin.
"Iya! Aku mau putus dari Kak Gilar! Kakak brengsek!" rutuk Desi berang.
Gilar tergelak. Tawanya membahana yang berhasil membuat semua yang mendengarnya spontan beringsut mundur.
Gilar mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Desi yang bergeming. Kepalanya ia dekatkan ke telinga Desi dengan tatapan enggan.
"Kamu bisa jadi pacar seorang Gilar dengan mudah. Tapi, gak akan semudah itu untuk putus dari Gilar!" bisiknya penuh ancaman. "Ada syaratnya kalau kamu mau putus dari Gilar!"
Tubuh Desi beringsut mundur. Ia mulai merasakan ketakutan mendengar ancaman Gilar. Sementara Anggita hanya mampu memperhatikan bingung perubahan sikap Desi yang awalnya begitu emosional, kini berubah menjadi ketakutan. Ia tatap lekat punggung Gilar. Mencoba menerka apa yang hendak ia lakukan pada gadis yang diakuinya tak bisa diputuskan dari status pacaran.
Tak lama, Desi semakin melangkan kakinya mundur perlahan. Setelahnya ia memilih lari tanpa menoleh ke arah belakang lagi. Gilar tergelak lepas. Membuat kerumunan perlahan membubarkan diri.
"Kamu ngapain dia, Gilar?" tanya Anggita dari arah belakang.
Gilar menoleh ke arahnya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Kamu juga bakalan tahu nanti, Git."
Gilar menyeringai.