
“Aku mau putus dari Kak Gilar! Dan kita harus minta maaf sama Kak Anggita!”
Desi sudah tak ingin lagi berurusan dengan Gilar. Lelaki yang ia pikir begitu mudah terbujuk rayu oleh tawarannya, nyatanya memiliki pola pikir yang tak pernah ia duga sebelumnya. Harusnya ia tak tergoda oleh tawaran Fajar yang memang menggiurkan bagi siswa dengan otak rendahan seperti dirinya. Ia tak pernah sangka, hanya demi memiliki kacung seperti seorang Fajar, ia rela menyerahkan dirinya di permainkan oleh Gilar.
“Jadi ini alasan si Gilar masih deketin Gita? Harusnya kamu lebih lihai ngejaga tuh cowok!” tuduh Fajar berang.
Ia mana mungkin percaya omongan Desi akan ancaman Gilar yang katanya tidak akan melepaskan gadis itu selain membuat Fajar mengaku jujur karena telah menyuruhnya menggoda Gilar.
“Kamu sendiri yang waktu itu inisiatif ngegodain si Gilar, kan? Kamu yang maksa-maksa minta nomor telepon dia! Aku cuma ngikutin permainan kamu aja, Des! Kamu yang udah ngelangkah terlalu jauh!” Fajar terus memojokkan posisi Desi. “Aku berani ngambil jalan ini karena kamu juga!”
Desi meraung keras. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Dari sisi mana pun ia tetap di salahkan. Mencoba melepaskan diri dari Gilar, ia harus membuat Fajar mengakui kesalahannya. Mencoba membuat Fajar mengaku jujur pada Anggita malah membuat dirinya menjadi kambing hitam. Desi frustrasi. Langkah yang telah ia ambil nyatanya memang salah. Harusnya ia tak terlalu terlena karena mempermainkan Kakak kelas popular seperti Anggita dan Gilar. Belum lagi ancaman Rangga terus menerus menghantui pikirannya.
‘Terus sekarang kita harus gimana, Kak? Aku cuma mau putus dari Kak Gilar! Itu aja! Aku gak bakalan nagih tawaran Kak Fajar. Aku gak mau lagi berurusan dengan kalian!” teriak Desi pasrah.
“Kamu yang harus minta maaf sama Anggita! Kamu sendiri yang merencanakan ini semua! Aku cuma ngikutin kamu aja, Des.” Timpal Fajar membela diri.
Desi mencebik. Satu ujung bibirnya terangkah angkuh. Ia memandang Fajar dengan tatapan jijik. Tak menyangka sifat asli lelaki tercerdas di Sekolah Marga ini bermulut tajam. Otaknya yang cerdas ternyata begitu lihai menyudutkan orang, hingga membuat dirinya sendiri hanya sebagai korban. Desi mendesis sebal. Ia bertekad tak akan mau lagi berurusan dengan Kakak kelasnya yang populer.
“Oh! Jadi maksud Kak Fajar, di sini tuh aku yang salah? Begitu?” tantang Desi berang.
“Itu kamu sadar sendiri, kan?” timpal Fajar tak acuh.
Desi tergelak. Tak tahu harus menimpali apa lagi perkataan lelaki di hadapannya. Namun, tawanya langsung terhenti tatkala pandangannya terpaku ke arah pintu atap yang kini di jaga oleh dua orang berseragam seperti dirinya. Berkali-kali ia menelan salivanya sendiri. Pikirannya buntu tak tahu harus bertindak apa. Jika saja bisa, ia ingin lari dari situasi ini sejauh mungkin.
Fajar memandang Desi bingung. Gadis yang tadinya tertawa terbahak mendadak terdiam hanya dalam waktu sepersekian detik. Ia arahkan pandangannya ke sisi yang sama dengan Desi. Fajar termangu sesaat.
Belum sempat Anggita berkata apa pun, gadis itu memilih pergi dari atap secepatnya. Rangga buru-buru menyusulnya dengan terus memanggil nama gadis itu. Namun, Anggita memilih abai dan terus melangkahkan kakinya secepat mungkin. Berlari ke arah yang tak ia rencanakan.
***
Sepanjang pelajaran berlangsung, Anggita bersikap aneh lagi. Ia menjadi pendiam dan pemurung. Gladis yang menyadari perubahan sikap gadis itu hanya bisa menerka-nerka bahwa mungkin saja gadis itu bermasalah lagi dengan Gilar.
Sementara Fajar di belakangnya sama-sama kehilangan konsentrasi. Setiap saat hanya memandangi punggung Anggita yang enggan menoleh barang sedikit pun. Kakinya yang gemetaran menimbulkan ketidaknyamanan Randi yang duduk di sampingnya. Berkali-kali pertanyaan khawatir dilontarkan lelaki berkaca mata itu yang hanya di balas Fajar dengan anggukan tak acuh.
***
Fajar berhasil mencegat langkah Anggita tepat di halte bus yang biasa digunakan Anggita menunggu bus yang mengarah ke rumahnya berhenti. Namun, gadis itu memilih diam ketika ia menyapanya dan bertanya hal remeh temeh.
“Ini bukan salahku, Git! Aku dijebak!” aku Fajar putus asa.
Sejenak Anggita menoleh ke arahnya. Tatapannya begitu dingin. Tanpa ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Tak lama, gadis itu memilih memalingkan wajahnya kea rah lain.
“Kamu harusnya percaya temen kamu sendiri, kan?” Fajar masih enggan menyerah. “Lagi pula aku selalu nemenin kamu di saat kamu butuh. Aku juga gak pernah maksa kamu buat jadi pacar aku, Git. Aku cuma mau kamu baik-baik aja.”
Anggita memejamkan kedua matanya lama. Menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Kepalanya ia angkat hingga mendongak menatap atap halte. Ia ingin segera pulang. Jatuh ke ranjang dan tertidur pulas di sana. Selama mungkin. Jika bisa, ia ingin terbangun lagi di hari pertamanya masuk Sekolah Marga. Ia hanya akan berteman dengan Gladis. Hanya dengan Gladis. Hubungan pertemanan di antara perempuan dan laki-laki memang nyatanya tidak pernah murni.
“Kamu mau aku bagaimana, Faj? Menurut kamu, aku harus gimana? Huh!”
Anggita menatap lekat Fajar yang tiba-tiba terdiam kelu. Lebih baik mendapatkan amukan langsung dari Anggita, ketimbang perlakuan dingin gadis itu yang seolah tak mau berurusan dengannya lagi.
“Kamu masih mau jadi temen aku, kan?” timpal Fajar memelas.
Anggita tersenyum kecil. Pikirannya sedang ingin mengabaikan lelaki itu.
Sebuah motor tiba-tiba berhenti di depan halte. Anggita senang ia datang. Tanpa menunggu tanda apa pun, Anggita beringsut bangkit dari duduknya. Menghampiri Gilar yang masih duduk di motor dengan pandangan mengarah padanya. Tanpa ada percakapan apa pun, Anggita langsung duduk di belakang lelaki itu. Kembali menjawil kedua sisi bajunya. Tanpa menunggu komando apa pun, Gilar melajukan motornya secepat mungkin. Membawa Anggita menjauh dari jangkauan Fajar. Lelaki gembul itu hanya mampu terpaku kebingungan.
***
Jawilan Anggita melemah. Terlepas begitu saja hingga terkulai lemah di atas paha gadis itu. Dari balik kaca spion, Gilar hanya bisa memerhatikan raut wajah Anggita yang tampak dingin. Seolah ada sesuatu hal yang berat menindih emosi bahagia dan sedihnya bersamaan.
Meski ragu, tangan kiri Gilar meraih tangan kiri Anggita yang cepat-cepat ia tarik hingga melingkar di bagian pinggannya. Tubuh Anggita sontak terpental ke punggungnya.
__ADS_1
“Aku udah putus dari Desi!” Teriak Gilar meyakinkan.
Anggita tersenyum kecil.
“Aku gak nanya kok!” Timpal Anggita tak acuh.
“Kita pacaran, yah, Git!”
“Itu nanya atau apa sih?”
“Kamu pasti mau jadi pacar aku! Jadi gak usah nanya lagi!”
“Pede!”
Gilar tergelak. Anggita terkekeh. Satu tangan kanannya dengan pasrah melingkar di pinggang Gilar, saling bertaut dengan tangan kirinya yang lain. Ia sandarkan kepalanya di punggung lelaki itu. Mencoba mengenyahkan pikiran buruk yang menyelubunginya. Penuh rasa kekecewaan sebenarnya. Rasa kecewa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Terlalu kecewa.
“Aku gak akan bawa kamu pulang ke rumah dulu!” teriak Gilar kembali.
“Aku mau pulang, Gilar. Aku capek!” timpal Anggita dengan teriakan yang tak kalah nyaring.
“Maaf, yah. Tapi, aku maksa! Aku mau nyulik kamu dulu!”
Laju motor semakin kencang. Pelukan Anggita semakin erat. Ia tak lagi menginterupsi perkataan lelaki itu. Semoga Anggita tidak sedang bermimpi menjadi pacar Gilar. Tindakan lelaki itu masih sulit ia terka.
***
Di bawah rimbunnya pohon Kamboja yang tengah berbunga, beberapa kali ada kelopak putih jatuh dari atas kepalanya. Anggita memilih memungutnya, memindahkannya ke atas batu nisan biru langit dan menatanya dengan rapi. Di depannya ada Gilar yang tengah mengelus puncak nisan berkali-kali. Bergumam tak jelas sambil sesekali mendaratkan bibirnya ke atas kepala nisan dengan khidmat.
"Ini Ibuku, Git. Dia lagi tidur. Mudah-mudahan kedatangan kita gak ganggu beliau, yah?"
Anggita mengangguk pelan. Tersenyum setulus mungkin untuk meredam kecanggungan.
"Dia pacar aku, Bu. Namanya Anggita. Juara 2 di kelas Gilar. Pinter, yah? Gilar juga. Beda ranah kepinterannya aja kok. Tapi, yang penting kita masih satu spesies."
Anggita mau tak mau lagi-lagi terkekeh. Ia gagal ikut berduka karena di ajak Gilar mengunjungi tempat peristirahatan Ibunya.
"Bapak kamu di kubur di mana?" tanya Anggita kemudian.
"Gak tahu! Mang Parto gak ngasih tahu." timpal Gilar enteng.
Kening Anggita mengerut.
"Kok gitu?" Anggita penasaran.
"Mang Parto nolak ngasih tahu."
Anggita terpegun.
Lama Gilar bercakap dengan nisan Ibunya, seperti seorang anak kecil tengah mengadu karena kalah tarung dari lawannya. Berkali-kali Anggita terkekeh mendengar curahan hati Gilar yang kebanyakan menyinggung dirinya. Tak jarang, Anggita juga menimpali untuk membela diri. Gilar membuat posisi Anggita seolah perempuan jahat yang telah mengabaikan perasaan Gilar.
"Jangan bohong di depan orang tua! Heh! Dosa!" ancam Anggita kemudian.
"Aku cuma ngomong jujur kok, Git."
"Dia yang pacaran sama Desi, Bu! Dia yang jahat!" adu Anggita ikut terbawa suasana hayalan yang Gilar ciptakan. Seolah obrolan keduanya memang di hadiri sosok Ibu tak kasat mata milik Gilar.
"Kan dia yang nawarin, Ta. Aku mana boleh nolak! Gak mau sombong!" Gilar membela diri.
"Pura-pura polos kamu! Dasar cowok brengsek!"
"Biarin! Yang penting udah bisa jadi pacar kamu."
__ADS_1
"Dih! Ngaku-ngaku! Ngajakin pacaran aja nggak!"
"Gak diajakin juga kamu pasti mau kok!"
"Pede!"
"Jadi kamu gak mau jadi pacar aku?"
"Giliran nawarin, malah nawarin penolakan! Aneh!"
"Kamu mau jadi pacarku gak, Gita?"
Anggita terpegun. Memandang Gilar yang malah menatap nisan Ibunya ketimbang dia. Padahal jelas ia dengar pertanyaan itu ditujukan padanya.
"Aku mau. Tapi ada syaratnya!"
Gilar mengalihkan perhatiannya pada Anggita. Dengan kening mengerut bingung.
"Syarat apa?" tanya Gilar enggan.
"Keluar dari Geng Motor. Itu syaratnya."
Gilar termangu. Hanya mampu terus memandang Anggita lekat. Begitu juga Anggita. Ia biarkan dirinya terus memerhatikan Gilar yang masih belum mau menyanggupi syaratnya.
"Oke! Aku bakal keluar dari Geng Motor."
Mata Anggita membulat tak percaya mendengar Gilar menyanggupi syaratnya begitu saja. Setelah berkali-kali mereka berseteru akibat Gilar yang keukeuh ingin berada di Geng Motor XXX.
Gilar tersenyum demi meredam kebingungan Anggita yang malah terpegun bingung. Meski tak yakin akan keputusannya saat ini, ia hanya ingin mencoba meyakinkan Anggita bahwa perasaannya benar-benar tulus. Jika memang gadis itu keukeuh ingin ia menjauh dari Geng Motor, mungkin akan ia lakukan.
"Kamu yakin bisa keluar dari Geng Motor?" tanya Anggita masih tak yakin akan pernyataan Gilar.
Ia jelas ingat betapa Gilar begitu antusias membela keputusannya untuk berada di lingkungan Geng Motor. Jika hanya demi menjadi pacarnya ia keluar dari Geng Motor, Anggita malah merasa hal itu begitu janggal. Meski ia senang Gilar menyanggupi syaratnya yang sebenarnya hanya guyonan semata. Ia jelas ingat bagaimana Gilar membela dirinya dan Geng Motornya.
"Yakin kok!" Timpal Gilar enteng.
"Gak akan ada resiko apa-apa kalau kamu keluar dari geng Motor?" Anggita hanya khawatir.
"Gak akan! Palingan di jauhin doang sih."
Anggita mangut-mangut mengerti. Meski terdengar sepele, namun perasaannya begitu mengganjal. Ia juga enggan meminta Gilar agar lebih meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar bisa keluar dari geng motor dengan mudah seperti yang dikatakannya.
Gilar bangkit dari posisi jongkoknya. Mengulurkan satu tangannya ke depan muka Anggita.
"Aku antar kamu pulang, yah!"
Anggita meraih uluran tangan itu meski ragu. Sebuah senyuman ia umbar demi menutupi kekhawatirannya. Gilar menuntunnya berjalan keluar dari area pemakaman. Sedang ia melangkah patuh mengikuti jejak-jejak langkah Gilar.
***
Anggita sejenak berdiri di dekat Gilar yang masih duduk di motornya. Pandangannya hanya terarah ke arah depan. Gilar ikut mengarahkan pandangannya, meski hanya mampu menatap sosok yang di lihat Anggita dengan tak acuh.
"Aku pulang yah, Git! Besok aku jemput kamu pagi-pagi!" ujar Gilar yang berhasil membuat Anggita menoleh ke arahnya. Mengangguk dengan raut wajah sedih.
Sesaat Gilar memandang sosok yang di pandang Anggita. Sebelum berlalu melajukan motornya kencang. Anggita menghela napas panjang. Mencoba menenangkan perasaannya yang tak karuan.
Ia melangkah perlahan menuju gerbang rumahnya dengan kepala sedikit tertunduk canggung. Sosok yang ia tatap menyapanya sejak dari kejauhan, namun Anggita memilih abai. Buru-buru ia melangkah ke gerbang rumahnya, membukanya secepat mungkin dan masuk ke dalam rumah.
Ia abaikan panggilan yang menyerukan namanya berulang kali. Anggita sedang enggan bertemu dengannya. Dengan Fajar yang ternyata menunggunya tadi. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa menghadapinya. Ia tak mau memikirkan masalah yang membuat perasaannya buruk.
Ia hanya ingin bersenang-senang bersama Gilar. Hanya itu. Kenapa terasa begitu sulit?
__ADS_1