TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 34 KESEMPATAN


__ADS_3

Di bawah remang cahaya lampu temaram, sesosok tubuh tersungkur berulang kali dengan erangan kesakitan yang tertahan. Entah berapa banyak sosok lain yang berdiri kokoh membentuk lingkaran sempurna. Bergantian melayangkan tendangan ke arah sosok yang entah sudah sejak kapan di jadikan sasaran amukan.


Seorang di antara sosok-sosok yang melingkar itu melangkah perlahan ke arah sosok yang sudah kepayahan dengan tubuh telentang dan napas tersengal. Ia berjongkok dengan menarik rambut si korban dengan kasar hingga wajahnya tampak terlihat.


"Ini yang lo mau, kan? Tapi, gue belum puas! Temen gue mati di tangan lo! Lo siap mati di tangan gue? Atau teman segeng lo bakalan kena getahnya juga!" ancam Erik dengan wajah penuh kemenangan.


Di tangannya ada rambut Gilar yang sudah basah, keringat bercampur darah hingga berbau aroma amis. Gilar mencoba membuka matanya yang sudah bengkak. Gagal. Ia mulai bersuara, hanya terdengar parau.


"Jangan ... ganggu ... temen ... gue ...."


Lirihnya membuat Erik tertawa penuh kemenangan. Di bantingnya kepala Gilar yang sudah kepayahan. Tubuh lelaki itu terbujur lemah meski mencoba untuk bangkit.


"Jadi, lo siap mati rupanya? Lo siap gak ketemu pacar lo Anggita juga?" tantang Erik antusias.


Tangan Gilar mencoba meraih Erik yang hanya diam saja seolah menunggu lelaki itu bereaksi. Bajunya berhasil di cengkeram Gilar meski tak terlalu kuat. Erik menyeringai penuh kemenangan.


"Jangan pernah sentuh Anggita! Urusan lo cuma sama gue!"


Suara peringatan Gilar hanya terdengar lirih pilu. Erik tergelak puas, di imbangi tawa rekan-rekannya. Gilar menguatkan cengkeramannya membuat tawa Erik terhenti.


"Beresin urusan lo sama gue sekarang juga! Paham?" ancam Gilar dengan suara parau.


Gilar tersungkur. Kepayahan. Tubuhnya telentang tak berdaya. Erik bangkit dan menendang tubuhnya beberapa kali, memastikan lelaki itu memang sudah tak berdaya.


Erik memberikan isyarat pada rekan-rekannya untuk pergi. Meninggalkan Gilar yang masih belum berkutik. Suara lirihnya kini mengeluarkan kata Anggita. Dengan mata yang mulai terpejam dalam dan tubuh yang tak lagi bergerak. Pandangannya kabur. Perlahan menjadi gelap. Pekat.


***


Anggita kelimpungan karena Gilar absen hampir satu minggu lamanya tanpa alasan. Agus yang menjadi sasaran pertanyaannya lebih sering mengelak dan menghindar dari Anggita. Ia seolah sama-sama tak tahu di mana keberadaan Gilar seminggu ini.


"Dia pasti ada di rumah kamu, Gus!" tuduh Anggita hari itu.


Agus menggeleng enggan.


"Gue gak tahu, Git. Dia gak pulang-pulang! Mungkin emang lagi ada urusan kali!" timpal Agus enteng.


"Pernah kayak gini?"


Agus terpegun sesaat.


"Sering!"


"Tapi, pulang lagi ke rumah kamu?"


"Kadang. Seringnya ngurung diri di rumahnya."


"Udah kamu cek ke rumahnya?"


"Udah. Gak ada dia."


"Kamu beneran gak tahu di mana dia?"


Agus memukul mejanya keras membuat Anggita terkesiap.


"Dia udah keluar dari geng motor sesuai keinginan lo, Ta. Lo pikir aja akibatnya apa!"

__ADS_1


Agus secepat kilat berlalu. Anggita terpegun bimbang. Ia senang bahwa Gilar menepati syarat yang ia ajukan. Tapi, entah kenapa ada perasaan ganjil yang tiba-tiba menyeruak di hatinya. Perkataan Agus membuat kekhawatirannya semakin menjadi. Ia ingin memastikan semua baik-baik saja. Namun, Gilar yang tak bisa di temui, tak bisa dihubungi, membuat ketakutannya semakin besar. Ia ingin terkaannya salah.


"Ta, aku mau ngomong sama kamu."


Sosok yang mengajaknya bicara itu berasal dari arah seberang meja. Anggita hanya melirik sejenak sebelum akhirnya memilih berpaling.


"Ini penting, Ta!"


Teriakan itu membuat Anggita lagi-lagi hanya mampu mendengus kesal. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Fajar yang sudah berada di belakangnya. Menatapnya berang dan kesal.


"Aku lagi gak mau ngomong apa-apa sama kamu, Faj. Gak penting!" kilah Anggita.


"Aku minta maaf, Ta."


"Aku maafin. Udah, yah? Aku sibuk!"


Anggita pergi berlalu secepat mungkin. Fajar termangu dengan wajah putus asa. Ini bukan pertama kalinya ia meminta maaf. Namun, sikap gadis itu yang malah selalu menghindar darinya membuat Fajar semakin merasa bersalah. Ia ingin kembali akrab dengan Anggita seperti dulu. Ia rindu bercanda tawa dengan Anggita.


"Kesalahan kamu terlalu besar, Faj." Suara dari arah belakangnya membuat Fajar menoleh. "Coba kalau kamu ada di posisi Anggita. Kira-kira kamu bakalan kayak gimana?" tantang Randi kemudian.


Fajar terdiam sejenak. Ini pun bukan pertama kalinya ia diingatkan Randi akan kekecewaan Anggita terhadapnya.


"Aku bakal pura-pura lupa dan baikan lagi. Itu lebih baik ketimbang renggang sama temen kayak gini." Kilah Fajar membela diri.


Randi mencebik.


"Pemikiran kamu terlalu enteng, yah. Jangan mandang segala hal berdasarkan logika. Tapi, pake perasaan juga. Apalagi Anggita itu cewek. Perasaannya lebih sensitif daripada pemikirannya!" timpal Randi mengingatkan.


"Dia pinter. Aku yakin dia cuma butuh waktu buat jauhin aku. Setelah itu dia pasti lupa. Aku cuma butuh waktu beberapa saat lagi buat sabar." Fajar enggan mengalah dengan asumsinya.


Randi mangut-mangut mengerti. Menepuk pundak lelaki itu sebentar lalu meninggalkannya.


***


"Ada yang nyari kamu. Ceweknya cantik. Pacar, yah?" goda Mang Parto padanya.


Agus menarik lengan ayahnya itu. Berseru agar kembali ke tempat bengkelnya. Ayahnya tak berhenti bersiul meledeknya yang mampu membuat Agus kehilangan kata-kata.


"Kenapa gak bilang aja aku pacarnya Gilar?" timpal Anggita yang berhasil membuatnya kikuk.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Agus tak acuh. "Mending lo pulang aja. Orang yang lo cari gak ada di sini!"


Anggita merengut.


"Kamu bilang Gilar udah keluar dari Geng Motor?"


"Iya! Dia bukan urusan kita-kita lagi! Dia bebas!" teriak Agus meradang.


"Bebas ke mana?"


Kedua pundak Agus terangkat bersamaan, "mana gue tahu! Bukan urusan gue lagi!"


Anggita menatap Agus berang. Lelaki itu seperti tak suka ditanyai tentang Gilar. Padahal dari cerita Gilar, Agus itu lebih dari sekedar sahabatnya. Ia sudah seperti saudara Gilar yang lahir dari rahim berbeda.


"Kamu sahabatnya masa gak tahu sih?" tuntut Anggita.

__ADS_1


Agus mendesah berat. Satu tangannya mengusap-usap pelipisnya bingung. Kening Anggita mengerut heran.


"Sahabat apaan sih? Gak usah sok tahu deh! Sana pergi! Gue sibuk!"


Agus melangkah cepat meninggalkan Anggita yang masih berdiri terpaku. Kaget akan pengusiran yang dilakukan Agus padanya. Sikap lelaki ini tak sebaik yang ia dengar dari cerita Gilar. Ia juga tak yakin apakah Gilar hanya mengarang cerita demi membuat pikirannya berbaik sangka saja.


Anggita mulai meninggalkan rumah Agus dengan langkah putus asa. Beberapa kali ia menolehkan kepala ke belakang, berharap Agus atau Gilar tiba-tiba muncul.


Mendengar kabar Gilar sudah keluar dari Geng Motor bukannya malah membuat Anggita senang, ia malah di landa kekhawatiran karena lelaki itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Harusnya Gilar mengabarinya langsung, bukan sekedar kata-kata serupa gurauan yang keluar dari mulut orang lain. Anggita percaya tak percaya. Baginya Gilar tidak sedang keadaan baik-baik saja. Ia khawatir. Ia ingin melihat wajah lelaki itu sedetik saja. Menyaksikan sendiri bahwa lelaki itu memang baik-baik saja.


Anggita perlahan menjauh meninggalkan rumah Agus. Menyisakan tanda tanya yang masih menggelayuti pikirannya.


Dari balik tirai rumahnya, Agus memerhatikan gadis itu menghilang dari pandangannya. Agus menghela napas berat sebelum akhirnya ia lari sekuat tenaga melewati tangga menuju lantai dua. Ia buka pintu salah satu kamar yang saling berseberangan. Menatap nanar sosok lelaki yang tengah berdiri terpaku memandangi jendela. Berbalut kain-kain putih hampir di seluruh kepalanya dan lengannya.


"Dia masih cantik. Bikin kangen jadinya." ujar sosok itu yang perlahan membalikkan badannya dengan susah payah.


Agus melangkah ke dalam kamar perlahan. Membantu Gilar tidur kembali di ranjang. Wajahnya lebam parah. Kelopak matanya masih menyisakan memar dan beberapa luka jahitan ada di sana. Lelaki itu hanya bisa patuh terlentang di ranjang sembari menatap langit-langit kamarnya.


"Harusnya lo gak keluar dari Geng kalau cuma gara-hara cewek, Dang! Lo harus putusin cewek kayak dia!" tantang Agus berang.


Gilar tersenyum kecil.


"Gue gak bisa nolak maunya dia apa sekarang. Gue gak mau bikin dia kecewa terus."


"Imbasnya lo dalam bahaya! Dia harus tahu itu!"


"Lukanya bisa sembuh kok. Lo tenang aja!"


Agus berdecih. Ia palingkan wajahnya dari Gilar. Ia tak menyangka Gilar akan berani mempertaruhkan nyawanya hanya demi seorang Anggita. Kalau saja Gilar tak pandai bertarung, mungkin ia sudah meninggal di tempat pengeroyokan. Gilar juga begitu bodoh tidak mengabari kondisinya. Malah meneleponnya untuk di jemput setelah tubuhnya ringsek di keroyok puluhan orang hingga sekarat.


"Harusnya gue biarin lo mati di gudang busuk itu! Lo udah berubah jadi cowok pengecut! Sama cewek aja takut! Cemen lu!" gerutu Agus kesal. "Harusnya lo nyari cewek yang bisa nerima lo apa adanya. Bukan yang mau ngerubah lo jadi jauh sama temen-temen lo kayak gini!"


Gilar beringsut mengubah posisi tidurnya. Menghadap dinding membelakangi Agus. Agus bergumam tak jelas sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan Gilar.


***


Sengaja Fajar menunggui Anggita di beranda rumahnya. Kedatangan gadis itu ia sambut sehangat mungkin, berharap ada respon baik yang akan ia terima. Sayangnya, Anggita memilih mengabaikan keberadaannya. Kalau bukan ia sendiri yang mencegat Anggita, mungkin gadis itu akan menutup pintu rumahnya rapat-rapat.


Setelah memaksa gadis itu agar meluangkan waktu beberapa menit saja, akhirnya ia dapat bertemu Anggita lebih lama. Mengutarakan isi pikirannya selama ini. Alasan kenapa ia bertindak lebih jauh tanpa sepengetahuan Anggita. Dan gadis itu hanya diam mendengarkan Fajar berbicara.


"Aku pengen kita temenan kayak dulu lagi, Ta." Pinta Fajar setengah memelas.


"Silakan! Itu hak kamu, Faj." Timpal Anggita tak acuh.


"Tolong jangan cuekin aku, Ta!"


Anggita menyeringai. Ia menoleh ke arah Fajar dengan tatapan sinis.


"Itu hak aku, Faj. Kamu gak berhak larang!" Anggita meradang.


Fajar terdiam kelu. Ia tak menyangka Anggita akan bersikap sedingin ini padanya.


"Aku cuma gak mau kamu dalam bahaya kalau deket sama si Gilar, Ta!" Fajar membela diri.


Anggita tergelak membuat Fajar keheranan.

__ADS_1


"Oh, yah? Terima kasih kalau gitu. Aku terharu!" Anggita menoleh ke arah Fajar dengan tatapan sinis. "Tolong kamu pergi dari rumahku sekarang, Faj. Aku ngerasa kamu juga berbahaya buat aku!"


Anggita bangkit dari kursinya, melangkah ke dalam rumah dan menutup pintunya hingga berdebam keras. Fajar terpegun.


__ADS_2