TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 33 KESALAHAN


__ADS_3

Gladis dan Randi saling melempar pandangan. Melihat Anggita yang mengacuhkan Fajar meski lelaki itu terus berdiri di sampingnya. Beberapa siswa mulai berdatangan, memilih abai dengan kecanggungan di antara mereka.


"Ada yang mau aku omongin, Ta. Tapi gak di sini."


Sudah ke sekian kalinya Fajar memelas, meminta Anggita tak mengabaikannya. Namun, Anggita memilih bergeming. Berpura-pura sibuk mengerjakan ini dan itu.


"Kalian kenapa? Berantem?" tanya Gladis memberanikan diri memecah kecanggungan. Meski ia bisa menerka ada sesuatu hal terjadi antara keduanya yang membuat Anggita bersikap berbeda.


"Aku lagi pengen sendirian, Faj." Anggita memelas.


Ia bangkit dari kursinya dan berjalan melewati Fajar yang hanya mampu terdiam. Gladis memilih menyusul Anggita, sedang Randi masih betah memperhatikan mereka. Ia tak acuh.


***


Gladis menggamit lengan Anggita yang masih memilih diam. Ia hanya mengikuti langkah Anggita dengan patuh. Sesekali memandang gadis itu dengan raut wajah penasaran.


"Aku takut, Dis." Ungkap Anggita tiba-tiba. Gadis itu menoleh ke arah Gladia dengan tatapan mengiba. "Aku takut pemikiran aku salah. Tapi, aku udah neti duluan."


Gladis manyun.


"Ngomong yang jelas dong, Ta. Aku gak paham kamu ngomongin siapa atau apa." Gladis merengut.


"Fajar, Dis. Kemaren aku liat dia ngobrol sama si Desi."


Gladis mendadak menghentikan langkahnya.


"Desi? Kok bisa?" Gladis bingung.


Anggita menggeleng enggan.


"Aku takut kalau aku cerita, kamu malah sama-sama neti kayak aku. Aku bingung harus gimana!"


"Ceritan aja apa yang kamu lihat dan denger, Ta."


"Aku gak mau bikin kamu jadi ikutan neti juga ke si Fajar, Dis!"


"Kalau emang itu fakta, kenapa enggak?"


Anggita bimbang. Ia saja mencoba berkali-kali menganggap semaunya hanya mimpi belaka. Namun, tetap saja gagal.


Sebuah sapaan memanggil namanya membuat Anggita dan Gladis bersamaan menoleh. Di dapati keduanya Desi tengah berdiri di depan mereka. Memasang wajah bingung dan ketakutan.


"Sana lo! Kita lagi gak mau berurusan sama cewek kayak lo!" Gladis berang. Tangannya mengibas keras mencoba menghalau kedatangan Desi.


"Aku minta maaf, Kak Gita." aku Desi penuh iba. "Ini semua salah Kak Fajar!"


Kening Gladis mengerut. Ia tatap Anggita yang lagi-lagi memilih diam termangu.


"Kamu ada hubungan apa sama si Fajar?" timpal Gladis penasaran.


Desi bergumam tak jelas. Sesekali memperhatikan Anggita yang masih bergeming.

__ADS_1


"Aku cuma ngikutin mau dia apa, Kak. Dia bilang mau ngerjain semua tugas sekolahku selama satu tahun. Siapa juga yang mau nolak tawaran kayak gitu?" Ungkap Desi membela diri.


"Maksudnya apa sih, Ta?" Gladis masih mencoba membuat Anggita buka suara. Meski gadis itu hanya terus diam dengan pikirannya sendiri.


"Aku udah putus dari Kak Gilar. Aku gak bakalan lagi ganggu kalian! Jadi tolong bilang sama Kak Gilar, kalau aku udah penuhin syarat yang dia mau." Aku Desi putus asa.


Anggita memilih melangkah pergi. Meninggalkan Desi dan Gladis dalam bimbang.


***


Anggita terpekur sendirian di pojok kantin. Duduk termangu memandangi gelas minuman berwarna orange di depannya. Gladis datang dan duduk di depannya tanpa bicara. Hanya memerhatikan gadis itu termangu tanpa kata.


Tiba-tiba Fajar datang ke mejanya, diikuti Rangga yang mengikutinya dari belakang. Gladis terenyak bingung. Sesekali Fajar melirik ke arah belakangnya dengan raut wajah ketakutan.


"Aku ... minta maaf, Ta." Ujar Fajar dengan suara gemetaran.


Anggita menoleh ke arahnya. Hanya memandang tak acuh tanpa bereaksi apa-apa.


"Ini apaan sih, Rang? Gak usah sok bossy lagi deh jadi cowok!" timpal Gladis berang sembari menarik lengan Fajar menjauh dari Rangga.


Namun Rangga buru-buru merentangkan lengannya. Menahan Fajar agar tak melangkahkan kakinya sedikit pun.


Gladis menoleh ke sana ke mari. Keramaian mulai memandang ke arah mereka. Berkali-kali ia menyeru nama Anggita agar bicara. Namun, gadis itu memilih diam saja.


"Ngomong dong! Jelasin semua! Biar gak ada salah paham lagi. Lo anak paling pinter, kan?" tantang Rangga enggan mengalah. Sesekali tangannya mendorong tubuh Fajar untuk bereaksi.


Anggita tiba-tiba bangkut dari duduknya. Melangkah mendekati Fajar sambil terus menatapnya tajam. Dingin. Tak acuh. Pandangannya kosong. Fajar hanya mampu beringsut mundur bingung. Dengan kepala sesekali tertunduk.


Fajar terpegun. Gladis hanya mampu memperhatikan bingung. Entah apa kesalahan yang telah di perbuat Fajar hingga membuat Anggita begitu banyak berubah. Melebihi ketika gadis itu di permainkan Gilar. Melebihi ketika gadis itu di permainkan Rangga.


Anggita berlalu meninggalkan keramaian. Rangga tersenyum penuh kemenangan. Sedang Gladis memandang Fajar penasaran.


"Kamu ngapain Gita, Faj?" tanyanya kemudian.


Rangga mencebik. Fajar bergumam tak jelas.


"Jawab dong! Tuh ada yang nanya!" teriak Rangga memanas-manasi.


Gladis mendelik sebal ke arahnya.


"Kamu gak usah ikut campur!" teriaknya pada Rangga.


Rangga menyeringai tak acuh sebelum akhirnya memilih meninggalkan keduanya yang masih menjadi pusat perhatian. Gladis mengibas-ngibaskan tangannya meminta kerumunan bubar. Setelah itu ia menarik Fajar duduk di kursi bekas Anggita.


"Cerita, Faj! Ada apa sebenernya?" paksa Gladis.


Fajar mengusap wajahnya penuh. Mendesah berat sebelum akhirnya membuka suara. Mendengar cerita Fajar yang memang sengaja ingin memisahkan Gilar dan Anggita, Gladis hanya mampu meredam amarahnya kuat-kuat. Ia tak menyangka Fajar yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya sendiri ternyata malah membuat Anggita terluka hanya karena rasa sukanya.


Panjang lebar Fajar menjelaskan kebenaran akan keterlibatannya dalam hubungan Desi dan Gilar. Gladis hanya mampu merapatkan bibirnya gemas. Meski tak tahan akan cerita Fajar, sebisa mungkin ia mencoba bersikap tenang. Demi mendengar keseluruhan kisah yang Fajar alami.


"Aku yang salah, Dis. Aku ngaku itu!" aku Fajar memelas.

__ADS_1


"Kamu kok tega, Faj?" Gladis tak percaya. Fajar yang ia kenal begitu baik terhadap mereka selama ini. Tak pernah ada kecurigaan sedikit pun bahwa lelaki itu akan berbuat hal yang membuat Anggita terluka.


"Aku cuma gak mau Anggita dalam bahaya lagi, Dis. Aku mau jagain dia. Aku mau dia ada di samping aku!" ungkap Fajar penuh penyesalan.


Ia tak pernah menyangka cara yang ia pilih malah menjerumuskan dirinya dan Anggita dalam suasana renggang. Yang ia inginkan hanyalah Anggita tetap baik-baik saja. Menjauhkan gadis itu dari Gilar dan Rangga adalah sebuah solusi terbaik menurutnya.


"Kamu gak bisa egois kayak gitu, Faj! Kamu gak jauh beda dari si Rangga kalau kayak gitu. Caramu terlalu kasar! Nyakitin Anggita!" Gladis berang.


Kepala Fajar tertunduk penuh. Kedua ujung jari telunjuknya mengetuk-ngetuk papan meja cepat.


"Aku pengen temenan lagi sama Anggita. Kalau tahi bakal kayak gini, aku mending pura-pura gak suka aja sama dia, Dis. Aku nyesel!" lirih Fajar memelas penuh iba.


Gladis mendesah berat.


"Sorry! Aku gak bisa bantu apa-apa. Keputusan ada di tangan Anggita. Dia yang kamu sakitin! Dan aku gak mau bantu kamu karena itu sama aja dengan aku nyakitin Anggita."


Gladis bangkit dari duduknya dengan perasaan berat. Melangkah pergi meninggalkan Fajar dalam kalut.


***


Gladis mendapati Anggita tengah tertunduk penuh di bangku kelasnya. Randi yang duduk di belakangnya beberapa kali menepuk punggung gadis itu. Gladis berjalan ke arah bangkunya, langsung memeluk Anggita erat.


Anggita beringsut bangkit. Membalas pelukan Gladis tanpa bicara. Gladis pun hanya mampu menepuk punggung sahabatnya perlahan. Jika ia ada di posisi Anggita, ia juga akan merasakan kekecewaan dan kebimbangan yang sama.


"Ada apa sih sebenernya? Kayaknya cuma saya aja yang gak ngerti deh." Protes Randi gemas.


"Fajar belum cerita?" timpal Gladis.


Randi menggeleng. Anggita melepas pelukannya dengan raut wajah penuh kesedihan. Gladis meriah tangan gadis itu dan menggenggamnya.


"Kamu gak sendirian, Ta. Kamu masih punya aku! Sahabat kamu! Ilang satu gak akan bikin kamu kesepian kok!" Ungkap Gladis menenangkan.


Anggita mengangguk perlahan.


"Aku harus gimana sama Fajar? Aku bingung, Dis." Lirih Anggita putus asa.


"Itu hak kamu, Gita. Masih mau temenan sama dia atau nggak, dia harus nerima. Apa yang menurut kamu baik, lakuin aja. Gak usah ngerasa gak enak! Pentingin dulu perasaan kamu sendiri. Jangan bohongin perasaan kamu terus!"


Randi mendesah berat. Kedua gadis itu membuatnya kebingungan akan percakapan mereka.


"Si Fajar yang nyuruh si Desi godain si Gilar, Ran!" ujar Gladis tiba-tiba.


Randi terperangah.


"Segitunya dia suka sama kamu, Ta?" timpal Randi sembari menoleh ke arah Anggita.


Anggit menggeleng penuh. Ketiganya terdiam. Sama-sama tak tahu harus bereaksi apa lagi. Sampai tiba-tiba Fajar datang ke dalam kelas mereka. Anggita memilih kembali menangkupkan kepalanya di meja. Tertunduk penuh hingga wajahnya hanya mampu menatap kegelapan. Sedang Gladis dan Randi berpura-pura menyibukkan diri mereka.


Menyadari perubahan teman-temannya, Fajar memilih duduk di kursinya. Termangu sendiri. Tak mengajak siapa pun berbicara. Ia sadar kesalahannya begitu besar dan tak mungkin bisa di maafkan begitu saja.


Fajar memandangi punggung Anggita lekat. Ia ingin menepuk pundak gadis itu dan bertekuk lutut meminta maaf setulusnya. Tidak! Ia ingin mengulang kembali waktu. Menjadi pengagum rahasia dan berpura-pura tak tertarik pada gadis itu. Andai saja ia bisa. Ia ingin kembali ke titik itu. Titik di mana ia dan Anggita masih berteman baik.

__ADS_1


__ADS_2