TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 23 SEBUAH PENGKHIANATAN


__ADS_3

Melihat Gladis dan Anggita sama-sama datang dengan wajah kusut, Randi berinisiatif menghampiri keduanya. Menarik kursi sebarang dan menaruhnya tepat di depan bangku mereka.


"Kejadian langka liat muka kalian kusut gini. Kenapa kamu, Ta?" tanya Randi sembari memangku dagunya di atas satu telapak tangan. Mengarahkan perhatiannya pada Anggita.


Spontan Gladis merobohkan pertahanan lengan lelaki itu. Lelaki itu balas memandangnya dengan sebal. Sementara Anggita hanya memandang keduanya heran.


"Apaan sih? Sakit tahu!" protes Randi tak terima.


"Nanyanya salah alamat! Harusnya nanya ke aku, Ran. Kok malah nanya si Gita, sih!" gerutu Gladis sembari menunjuk ke arah Anggita yang hanya terbengong-bengong.


"Gimana saya, dong! Gak ada urusannya sama kamu!" keluh Randi kesal.


Lelaki itu menggeser kursinya agar lebih sejajar menghadap Anggita. Gladis terperangah. Anggita masih memperhatikan dengan bingung.


"Ih! Dasar cowok gak peka! Baru di PDKT-in udah nolak aja!" tukas Gladis kesal.


"PDKT? Maksudnya kamu suka sama si Randi, Dis?" tanya Anggita kemudian yang langsung diangguki oleh Gladis penuh semangat.


Tentu saja Randi langsung mencebik.


"Ogah!" timpal Randi kemudian sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.


Gladis manyun. Anggita terkekeh geli. Sejenak ia dapat menghilangkan perasaannya yang kacau balau akibat pertemuan mereka dengan tiga adik kelas yang tiba-tiba menghadang. Melihat tingkah polah Gladis yang tak malu-malu menunjukkan perasaannya sedikit membuatnya iri. Meskipun Randi terang-terangan menolaknya, namun hal tersebut tak membuat sahabatnya menyerah.


"Sejak kapan kamu suka sama dia, Dis?" tanya Anggita kemudian.


"Hmm ... kapan, yah? Sejak awal dia dateng ke kelas ini mungkin!" timpal Gladis di sertai tawa cekikikan yang terdengar renyah.


Anggita menoleh ke arah Randi yang tengah menatap tajam Gladis. Ia ikut-ikutan terkekeh. Sekalipun Gladis secara terang-terangan menyatakan perasaannya, hal itu tak membuat Randi pergi menjauh dari Gladis. Lelaki itu seolah menganggap perasaan gadis itu hanya omong kosong belaka yang tak harus dianggap serius.


"Alasannya kenapa?" tanya Anggita penasaran.


"Karena dia anak Dokter!"


Anggita tertawa terbahak atas jawaban spontan Gladis. Sementara Randi langsung menjitak keras pelipis Gladis setelah gadis itu menandaskan kalimatnya. Tentu saja erangan gadis itu malah semakin membuat Anggita kesulitan berhenti tertawa.


"Sama calon istri gak boleh KDRT, Ran!" Ujar Gladis setengah berteriak.


"Dasar cewek gila!" timpal Randi berang. "Awasi nih temen kamu! Akhir-akhir ini dia jadi gak waras, Ta!" sambuh Randi sembari mengarahkan jari telunjuknya pada Gladis. "Masa dia berani minta tebengan ke Mamah coba? Kebayang gak sih kamu malunya saya di depan si Mamah?"


Randi bergidik ngeri. Anggita memandang Gladis dengan mulut terperangah.


"Beneran? Kamu ketemu sama Tante Risma?" tanya Anggita penuh antusias.


Gladis mengangguk tanpa ragu. Spontan kedua gadis itu tertawa terbahak. Melihat hal itu Randi malah keheranan. Meminta bantuan pada Anggita malah mendapatkan tanggapan berupa tawa cekikikan.


"Gladis cewek baik kok, Ran. Dia sahabat terbaik aku! Aku dukung hubungan kalian loh!" ungkap Anggita di sertai tawa kekehan.


Gladis spontan bertepuk tangan. Sedang Randi hanya bisa merengut kesal.


"Dia cewek gila, Gita!" ujar Randi ketus.


"Cewek berani maksudnya, Ran?" timpal Anggita.


Randi mendengus kesal.


"Mamahnya malah mau bantu aku PDKT sama anaknya, loh!" ungkap Gladis bangga.


Anggita terperangah.


"Wah? Serius?" Anggita tertawa terbahak. "Kalau gitu aku juga mau bantu deh."


"Kalian gila! Tadi aja wajahnya kusut. Sekarang malah ketawa cekikikan kayak orang gila. Kalian sehat, kan?" timpal Randi tak terima.


Spontan Gladis dan Anggita bungkam. Keduanya saling melemparkan pandangan sejenak.


"Pacar si Gilar labrak si Gita barusan, Ran! Rese banget pokoknya tuh cewek! Kemarin aja sok manis gitu minta nomor si Gilar. Eh, hari ini berubah jadi Mak Lampir!" Ungkap Gladis sembari bergidig ngeri.


Anggita memilih bungkam. Gladis sudah mengatakan semuanya secara jelas. Sementara Randi hanya memilih diam mencerna setiap kalimat Gladis barusan.

__ADS_1


"Jadi, kamu sekarang sama Gilar gimana?" tanya Randi sembari menoleh ke arah Anggita. Gladis ikut mengarahkan pandangan kepada sahabatnya itu.


Sejenak Anggita kikuk. Kedua bahunya ia angkat sebagai jawaban. Ia pun tak tahu pasti bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Gilar. Hubungan? Selama ini mereka bahkan tidak memiliki hubungan terikat apa pun selain teman sekelas. Ah, Anggita bodoh.


"Ya, udah sih! Toh si Gilar bukan siapa-siapanya aku, kan?" ungkap Anggita seolah tak peduli.


Randi dan Gladis saling bertatapan heran.


"Maksudnya perasaan kamu ke dia, Git." Timpal Randi yang diangguki oleh Gladis.


Anggita terkekeh. "Kita cuma temenan kok. Gak lebih!" Ujarnya sok yakin. "Bahas yang lain aja, gimana? Bahas pacar orang lain mulu, ah! Aku gak mau kena labrak lagi. Malu!"


Randi dan Gladis mengangguk enggan. Mereka tahu Anggita bukan benar-benar tak ingin membahas tentang Gilar. Tak ingin memperkeruh suasana, keduanya memilih mengiyakan permintaan Anggita. Beralih dengan membahas rencana Gladis yang akan terus mengejar Randi secara terang-terangan di depannya.


Tentu saja Randi berang bukan main. Berkali-kali ia menjitak pelipis gadis berkerudung itu karena ocehannya yang terkesan mengada-ada. Gladis yang tak kapok terus menerus melayangkan godaan agar Randi menurut saja dan menikmati rasanya di dekati oleh seorang Gladis.


Anggita lagi-lagi hanya bisa terkekeh. Interaksi kedua temannya benar-benar ampuh membuat perasaannya yang tadinya buruk perlahan membaik. Ia pun perlahan sadar bahwa perasaannya terhadap Gilar mungkin sebaiknya di hentikan. Ia tak ingin lagi berurusan seperti tadi dengan Desi. Ia malu bukan main. Gosip tentang dirinya di sekolah ini seolah tak ada habisnya dan selalu dikaitkan dengan Gilar dan Gilar.


***


Desi menyeret Fajar ke sebuah ruangan kelas yang sepi diiringi Wina dan Anisa yang kompak menutup rapat pintu kelas itu. Fajar terkejut bukan main. Ia mendelik sebal ke arah Desi yang tengah memasang wajah memelas kepadanya.


"Apalagi sih, Des?" tanya Fajar ketus.


"Temen se-geng Kak Gilar emang ada di sekolah ini? Kok Kakak gak cerita?"


Kening Fajar mengerut. Beberapa kali menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


"Teman se-geng? Maksudnya?" timpal Fajar tak mengerti.


"Kak Gita nyuruh aku nanya ke temen se-gengnya Kak Gilar, Ka! Siapa mereka?"


Fajar mengangkat kedua bahunya bersamaan.


"Masa gak tahu sih? Apa Kak Gita bohong?" tukas Desi bingung.


Fajar melangkah pergi menyadari Desi tak lagi membutuhkan dirinya. Lelaki itu dengan santai keluar dari kelas sepi itu, meninggalkan ketiga gadis yang masih asyik membahas teman se-gengnya Gilar. Sepanjang koridor pun ia bukannya tak memikirkan perkataan Desi, tapi ia benar-benar tak tahu siapa teman se-gengnya Gilar.


Lelaki itu terbiasa duduk bersama Agus di barisan paling belakang. Lelaki kurus yang hobinya hanya tiduran di kelas sama seperti Gilar. Keduanya pun jarang terlihat pergi bersama. Mengobrol pun hanya tampak seperlunya.


Sepanjang koridor Fajar mulai menerka siapa sebenarnya teman se-geng yang di maksud Anggita. Bahkan saat insiden dia dan Gilar hampir di keroyok preman saat mengerjakan tugas kelompok bersama, Gilar sendirian. Lelaki itu sering bersama murid secara acak, tak pernah bergerombol hanya dengan orang yang sama. Fajar hanya berpikir bahwa lelaki itu menjadi Ketua Geng Motor yang beranggotakan orang-orang di luar sekolah.


Pikirannya buntu. Ia tak bisa menerka secara pasti siapa teman se-geng yang disebut Anggita. Tanpa Fajar sadari, ada sepasang mata yang tengah menatapnya lekat dari kejauhan tak lama setelah ia keluar dari kelas kosong itu. Sosok itu menendang-nendang dinding kelas dengan kesal. Masih dapat ia dengar suara gadis-gadis di dalam kelas itu masih membicarakan tentang Anggita dan Gilar.


Sosok itu kemudian mendobrak kelas tanpa permisi. Membuat ketiga gadis itu terenyak kebingungan.


"Jadi kalian biang keroknya! Dasar bocah ingusan!"


Rangga melangkah perlahan menghampiri ketiga gadis yang spontan saling berdekatan. Saling menggamit lengan rekannya satu sama lain dengan wajah gemetaran.


"Jadi elo cewek yang tiba-tiba jadi pacar si Gilar?" tanya Rangga dengan pongah sembari mengangkat jari telunjuknya yang ia arahkan langsung ke muka Desi.


"Aku ... aku ... cuma bantu Kak Fajar aja kok! Dia yang minta aku bikin mereka jadi jauh. Jadi aku deketin Kak Gilar dan ngajak dia pacaran. Lagian Kak Gilar nerima aku juga kok jadi pacarnya!"


"Kak Fajar? Lo siapanya dia?"


Desi menelan ludahnya dalam-dalam.


"Anak Pemilik Kedai yang di sewa Ibunya Fajar."


"Kenapa dia nyuruh lo bikin Anggita sama Gilar jadi jauh?"


Desi menoleh sejenak ke arah kedua temannya yang masih memegang lengannya erat.


"Karena Kak Fajar suka sama Kak Gita."


Rangga terkekeh kaku. Membuat ketiga gadis itu enggan barang sedikit pun ikut tersenyum.


"Ada pengkhianat rupanya di sini!" gerutunya kemudian masih diiringi tawa kekehan yang membuat isi ruangan itu menggema.

__ADS_1


***


Sejenak Fajar termenung di balik pintu kelasnya, mendengar tawa cekikikan Anggita, Gladis dan Randi yang entah membicarakan apa. Ada perasaan tak nyaman yang tiba-tiba merongrongnya. Namun, buru-buru ia tepis. Mendengar tawa Anggita, Fajar yakin bahwa yang dilakukannya adalah hal benar.


Ia harus segera memutus mata rantai perasaan Anggita pada Gilar. Tak di sangka cara yang ia lakukan cukup manjur. Anggita masih seperti biasa. Bersikap seperti biasa. Ia yakin bahwa gadis itu sudah benar-benar tak memiliki perasaan dengan Gilar. Rencananya berhasil. Hatinya bersorak riang.


Namun, langkahnya sesaat terhenti tatkala sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundaknya. Ia menoleh sejenak. Didapatinya Rangga tengah menyeringai padanya yang entah apa maksudnya. Buru-buru ia beringsut menjauhkan diri dari gapaian lelaki itu.


"Hai, Gendut!" sapa Rangga masih dengan bibir yang menyeringai.


Fajar memandangnya dengan tajam.


"Aku punya nama, Rang. Namaku Fajar!"


Rangga mangut-mangut mengerti. Ia tersenyum kecil sebelum akhirnya mendahuluinya memasuki kelas. Fajar membuntutinya dari belakang sembari merutuki Rangga yang masih saja memanggilnya Gendut.


Amarah Fajar semakin membuncah tatkala Rangga dengan santainya bergabung dengan percakapan ketiga temannya yang duduk saling berhadapan. Melihat Anggita yang tampak tak terusik akan kehadiran lelaki itu semakin membuat Fajar geram.


Ia bukannya lupa bahwa Rangga menaruh hati pada Anggita, namun lelaki itu bukanlah ancaman bagi Fajar. Toh Anggita sudah terang-terangan menyatakan diri tak menyukai anak Kepala Sekolah Marga itu.


Fajar melangkah perlahan ke kursinya. Membiarkan dirinya mencerna percakapan apa yang membuat ketiga temannya tadi tertawa cekikikan.


"Kamu sama si Rangga satu tipe, yah? Tipe gak tahu malu!" timpal Randi ketus.


Mendengar namanya disebut, Rangga menoleh sejenak ke arah Gladis sembari tersenyum. Gladis bergidik ngeri sembari mendorong Rangga untuk menjauh.


"Sorry! Kita gak sama! Aku gak posesif dan bossy kayak dia! PDKT cara aku tuh lebih baik kali dari dia. Lebih normal!" Gladis yang tak terima membela dirinya sendiri.


Randi mencebik.


"Normal dari mana? Huh! Dasar cewek gila!" gerutu Randi kesal.


Anggita masih tersenyum melihat perdebatan kedua temannya. Rangga pun ikut tersenyum dan membiarkan dirinya menjadi penonton saja. Meski sesekali ia mencuri pandang ke arah Anggita yang tengah tersenyum manis.


Senyuman Rangga mendadak lenyap tatkala tatapannya beralih ke arah Fajar. Firasatnya dulu memang tak salah. Lelaki gendut yang tiba-tiba mendekati Anggita dan menyatakan diri ingin berteman dengannya dan Gladis, nyatanya memang memiliki niat terselubung. Tak ada yang murni dalam hubungan pertemanan antara pria dan wanita, itulah yang ia sadari.


Rangga tak pernah menyangka bahwa saingannya selama ini bukan hanya Gilar. Yang secara terang-terangan selalu mengekori Anggita. Nyatanya saingannya adalah orang yang selalu berada dekat dengan Anggita. Orang yang di anggap Anggita sebagai sahabatnya.


Melihat sikap Anggita yang biasa saja di samping Fajar, memperlakukan lelaki itu seperti sahabatnya Gladis, membuat Rangga yakin bahwa gadis itu tak tahu bahwa Fajar menyukainya. Cara lelaki gendut itu teramat halus untuk selalu berada di samping Anggita hingga gadis itu tak menyadarinya.


"Segitu mah normal kali, Ran. Udah! Terima aja! Rasa sayang dari orang lain itu harus kamu hargai. Seenggaknya biarin Gladis PDKT!" timpal Anggita kemudian.


"Sorry, Git! Dia bukan tipe cewek yang saya incar!"


Gladis merengut. Rangga menertawakannya. Anggita tersenyum kikuk.


"Bilang! Tipe cewek kamu kayak apa emang, Ran? Aku bisa berubah jadi cewek yang sesuai tipe kamu kok!" Gladis menatap Randi dengan lekat menunggu jawaban dari lelaki itu.


Randi sejenak terdiam enggan.


"Kayak Lady Gaga!" jawab Randi tegas.


Mendengar jawaban itu bibir Gladis manyun. Anggita tertawa geli karenanya.


"Besok-besok kamu pake pakaian kayak Lady Gaga aja, Dis!" timpal Rangga mengejeknya. "Jangan lupa warnanya harus serba kontras!"


Anggita menepuk pundak Gladis perlahan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Les nyanyi juga biar suaranya sebagus Lady Gaga, yah!" timpal Anggita tak mau kalah.


Sebuah tepukan dari arah belakang pun membuat Gladis menoleh.


"Apa?" tanyanya ketus.


Fajar cekikikan.


"Jangan lepas kerudungnya, yah. Pengen liat Lady Gaga versi hijab itu kayak apa!"


Kelas menggema dengan suara tawa mereka. Hanya Gladis yang merengut karena menjadi bahan tertawaan.

__ADS_1


__ADS_2