TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 15 PENDEKATAN


__ADS_3

Gladis dan Randi berdiri mematung di dekat pintu UKS yang terbuka. Suara denting bel yang berbunyi membuat Randi buru-buru menyeret Gladis menjauh dari sana. Keduanya duduk berhadapan di salah satu meja kantin. Tak ada makanan apa pun yang tersaji di atas meja. Keduanya sibuk termangu dengan pikirannya masing-masing.


Randi melipat kedua tangannya yang ia taruh di depan dada. Sibuk mencerna kata demi kata yang baru saja di dengarnya. Begitu pula Gladis. Mulutnya tak berhenti ber-hmm, ber-ooh, atau kadang menelungkupkan kedua tangannya mengusap seluruh wajahnya.


"Itu artinya Fajar suka sama Gita, kan?"


Randi buru-buru membekap mulut Gladis. Menengok kanan-kiri yang sedang ramai. Ia mengangkat jari telunjuknya yang kemudian ia dekatkan ke bibir. Gladis mengangguk mengerti. Perlahan tangan Randi terlepas.


"Sejak kapan?" tanya Gladis setengah berbisik.


"Kamu yang kenal mereka lebih lama. Saya anak baru di sini."


Gladis mengangguk. Ia sendiri yang harusnya lebih sadar akan tingkah polah Fajar selama ini. Ia coba menelusuri jejak-jejak awal kedekatan mereka, terutama kedekatan antara Fajar dan Gladis.


Pertemanan Anggita dan Gladis sudah terjalin semenjak masa orientasi siswa. Memutuskan menjadi teman sebangku di hari pertama masuk sekolah. Kedekatan keduanya semakin erat tatkala Rangga mulai merisak gadis itu. Tak lama setelah itu, Fajar mulai menjadi dekat dengan mereka. Gladis tak terlalu ingat. Tapi, rentang waktunya tak jauh dari sana. Ia tak tahu alasan apa yang membuat Fajar tiba-tiba mau berteman dengan mereka. Semua terjadi begitu saja. Hingga saat ini. Bahkan ketiganya sering menghabiskan waktu bersama. Jadi, sangat sulit bagi Gladis menaruh curiga bahwa lelaki gendut itu sebenarnya tertarik pada Anggita.


Karena Anggita cantik? Bisa jadi. Tapi, kenapa tidak sejak awal ia mendekati Anggita. Kenapa baru saat Anggita di risak oleh Rangga karena penolakan cintanya?


Karena Anggita juara dua? Tak ada yang spesial. Fajar selalu meraih juara pertama. Selalu. Wajar memang jika menyukai Anggita yang sama-sama pintar. Tapi, apa itu bisa menjadi alasan Fajar menyukai Anggita?


Gladis sama sekali tak menemukan jawaban yang benar. Terkaannya hanya berujung pada kemungkinan yang tak masuk akal.


Bukankah Fajar tahu bahwa Anggita menyukai Gilar? Keduanya selalu menjadi tempat berbagi Anggita. Bahkan tak jarang Fajar selalu memuji keberanian Gilar setiap melindungi Anggita. Apa yang sebenarnya di inginkan Fajar?


Randi mengetuk-ngetuk meja mereka. Memberikan isyarat akan kedatangan seseorang di belakangnya. Gladis menoleh. Ia dapati Fajar dan Anggita berjalan beriringan, tertawa bersama seolah tidak ada sesuatu hal yang menarik terjadi di antara keduanya.


"Kita pura-pura gak tahu aja!" bisik Randi kemudian.


Gladis mengangguk patuh. Ia lambaikan tangannya pada Anggita. Melihat gadis itu membalas dan mempercepat langkah ke arahnya, Gladis membenahi tempat duduknya.


Keempatnya menikmati waktu istirahat itu di kantin. Bercanda bersama sembari sesekali tertawa terbahak. Di selingi memakan pesanan mereka dari kedai kantin. Kecuali Randi yang memilih hanya duduk terpaku di sana tanpa menyantap makanan apa pun.


***


Siang itu Gladis dan Anggita berkaca pinggang di pinggir lapangan dengan memakai seragam olahraga lengkap. Sorot mata keduanya mengarah hanya pada satu orang yang tengah duduk santai tak jauh dari keduanya berdiri. Sesekali pandangan keduanya beralih ke arah lapangan, di mana teman sekelas kaum prianya tengah sibuk mengikuti instruksi dari Pak Arif selaku Guru Olahraga saat itu.


"Nih anak baru kok gak dapet omel lagi sih!" Gladis mencebik.


Tangannya melayang ke atas sebelum kemudian mendarat di bahu Randi. Lelaki itu meringis kesakitan.


"Kenapa gak ikut pemanasan sama yang lain? Enak banget sih jadi anak baru. Baru sekarang ada kejadian Pak Arif ngebolehin siswanya duduk manis kayak gini." Anggita menimpali. Menatap geram karena Randi tampak tak begitu terusik akan omelan keduanya.


Lelaki itu bahkan dengan santai menarik ritsleting jaketnya hingga tertutup sempurna. Kedua gadis itu secara bersamaan mendongak, menatap langit yang berwarna biru cerah dengan mata sedikit memicing.


"Emang di luar dingin? Panas kali! Panas woy!" Gladis berteriak keras.


Ia tarik kupluk jaket abu milik Randi dengan beringas, membuat lelaki itu meringis meminta tolong. Tak ada yang menggubris. Anggita pun hanya terdiam melihat keduanya. Ini kali pertama bagi mereka mendapati Pak Arif bersikap lunak pada siswa di tengah mata pelajaran Olahraga, terlebih itu adalah murid laki-laki.


Saat para murid tengah bertanding dalam bermain bola voli pun, Randi tak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Duduk manis tanpa melakukan apa pun. Seruan teman sekelasnya yang meledeknya ia tanggapi dengan menyeringai. Membuat siapa pun yang hendak memarahinya mendadak enggan karena sikap tak tahu malu yang di milikinya.


"Dia sakit apa sih? Perasaan baik-baik aja kok. Kalau sakit kan bisa gak usah sekolah aja!" gerutu Gladis sebelum melemparkan bola voli itu ke arah sebarang.


Fajar duduk merebahkan diri di samping Randi yang menyambutnya dengan senyuman. Napasnya masih tersengal-sengal karena kelelahan setelah berlarian mengelilingi lapangan bola voli dua puluh kali putaran. Mendapat peringkat terakhir karena terlambat menuntaskan tugasnya sudah biasa bagi Fajar. Ia adalah sang juara di dalam kelas, namun soal kegiatan fisik, ia selalu menjadi orang paling terbelakang.


"Anak-anak pada ngomongin, tuh!" Ujar Fajar dengan nada tergesa-gesa.


Ia mencoba bangkit dan duduk senyaman mungkin. Keringat sudah membasahi hampir seluruh tubuhnya.


"Biarin aja. Udah biasa kok!" sanggah Randi enteng.


Kening Fajar mengerut.


"Kok bisa sih di izinin gak boleh ikut pelajaran olahraga?" tanya Fajar penasaran.


"Ada tugas tulis kok. Di suruh bikin makalah tentang permainan Bola Voli. Harus di kumpulin besok. Kalau enggak, dianggapnya saya absen."

__ADS_1


"Gampang banget! Mau dong aku kayak gitu? Caranya gimana?"


Randi hanya menyeringai. Ia seolah enggan berbagi cerita tentang alasannya hanya di berikan tugas membuat makalah. Bukan tak ingin berbagi pada Fajar, tapi ia masih belum merasa tepat untuk menceritakan kisah sebenarnya.


Ia sudah menduga akan terjadi hal seperti ini. Memakai jaket di dalam kelas selama mata pelajaran berlangsung saja sudah menjadi buah bibir di kelasnya. Di tambah kejadian hari ini. Ia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi minggu pertama di sekolah barunya. Beragam gunjingan dan ledek yang membuatnya dikenal sebagai anak kesayangan para Guru berhasil di sandangnya dalam tempo waktu singkat.


Tak masalah. Ia sudah memprediksi hal ini. Toh jika mereka tahu alasannya pun tak akan banyak membantu atau mengubah keadaan. Baginya, lebih baik mereka menjadi penerka ulung ketimbang tahu apa yang sebenarnya. Ia belum siap berbagi kisah hidupnya yang entah akan terus berjalan atau terpaksa berhenti tiba-tiba.


Belum lagi, ia baru seminggu mencicipi sekolah barunya. Belum ada satu orang pun yang bisa ia percayai menjadi salah satu pemegang kisah-kisahnya. Tempat berbagi kisah tentang masa-masa sulitnya selama ini.


Kadang ia merasa iri akan kedekatan Gladis, Anggita, dan Fajar. Ia ingin masuk lingkaran persahabatan ketiganya yang unik menurutnya. Fakta bahwa Gladis masih berkerabat dengan Rangga, tak membuat Anggita menjauh dari gadis itu meskipun saudara sepupunya selalu merisaknya.


Fajar dan Anggita pun tak pernah berselisih meskipun keduanya pantas di sebut rival. Keduanya berteman baik. Meskipun sebuah fakta yang baru ia tahu membuat dugaannya salah. Mungkin memang mereka tak bisa jadi rival karena di salah satu pihak ada yang ingin selalu mendampingi.


***


Sore itu Gladis dan Randi jalan beriringan. Langkah keduanya hampir berukuran sama. Temponya pun nyaris sama. Arah pandangan keduanya pun sama, tertuju ke arah Fajar yang sedang menaiki motornya sembari mengekori Anggita yang jalan perlahan. Tampak keduanya mengobrol asyik tanpa peduli ada dua pasang mata tengah menyaksikan mereka dengan begitu teliti.


Semenjak mendengar percakapan di UKS tadi, Gladis dan Randi benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana. Bertingkah pura-pura pun hanya bisa mereka lakukan ketika berada di depan keduanya. Namun ketika di belakang, mereka tak henti-henti saling bertukar dugaan akan hubungan Fajar dan Anggita yang mungkin saja tak seperti yang terlihat.


"Mungkin mereka udah pacaran kali, yah?" terka Gladis.


Randi enggan mengomentari meski perhatiannya jelas masih tertuju ke arah Fajar yang kini tengah membonceng Anggita. Mereka berlalu pergi begitu saja. Lenyap seketika dari pandangan.


"Tuh, kan? Kayaknya mereka beneran jadian deh! Gimana dong?"


Gladis menggoyang-goyangkan lengan Randi. Randi mengernyit.


"Ya, udah sih. Biarin! Itu urusan mereka!" jawab Randi tak acuh.


"Gimana kalau Anggita masih suka sama Gilar?"


"Urusan mereka!"


"Berarti Fajar cuma pelampiasan dong!"


"Si Rangga kalau tahu ini bakalan ngamuk lagi!"


"Biarin!"


"Si Gilar suka atau nggak sih sama Anggita?"


"Gak tahu!"


"Cowok tuh emang jago PHP semua yah!"


"Saya nggak!"


"Masa?"


Randi menghentikan langkahnya tepat ketika Gladis berdiri di depannya. Memandangnya penuh selidik. Lelaki itu pun dengan sengaja melewati gadis itu dengan menubrukkan kedua bahu mereka. Gladis meringis.


"Awas kamu, Ran!" teriak Gladis murka.


Randi melambaikan tangan tak acuh. Mempercepat laju langkahnya hingga melewati pintu gerbang. Setengah berlari Gladis mencoba menyusulnya. Namun, langkahnya langsung terhenti saat melihat Randi masuk ke dalam sebuah mobil hitam tepat di depan halte bus. Gladis menyeringai.


"Boleh juga nih si anak Dokter!"


***


"Gimana tadi di sekolah?"


Randi menoleh ke arah Bu Risma yang tengah mengemudikan mobil. Lama ia menatap wanita itu, membuat ia tak mungkin lupa kerutan di wajahnya yang semakin bertambah. Sudah bukan saatnya bagi wanita itu memperhatikan dirinya. Justru dia-lah yang harusnya lebih memperhatikan keadaan Ibunya.


"Baik-baik aja kok. Gak usah pindah sekolah lagi, kan?"

__ADS_1


Bu Risma mengangguk. Sejenak ia menoleh ke arahnya dengan senyuman yang begitu menghangatkan. Satu tangannya tiba-tiba terlepas dari roda setir, kemudian menggenggam tangan Randi dengan erat.


"Ayah bentar lagi pulang dari Singapura. Mudah-mudahan ada kabar baik, yah!"


Randi menghela napasnya. Membalas genggaman tangan Ibunya dengan tepukan ringan.


"Aku baik-baik aja kok, Mah. Gak usah buru-buru. Aku janji bakal rajin check up dan jaga stamina."


"Ibu tahu. Tapi, berusaha melakukan pelayanan terbaik untuk anak-anaknya adalah tugas orang tua, kan?"


Randi mengangguk lesu. Tak kuasa menolak semua usaha orang tuanya agar ia bisa sembuh seperti orang normal. Sejauh ini kondisinya memang baik-baik saja. Terpaksa harus pindah sekolah untuk mengurangi staminanya selama di perjalanan pergi dan pulangnya.


"Teman-teman Randi mulai curiga, Mah."


Hanya Ibunyalah tempat berbagi yang paling cocol baginya selama ini.


"Kamu udah cerita sama mereka?"


Bu Risma melepaskan genggaman tangannya, mengembalikannya ke roda setir.


"Mungkin nanti aja. Belum seminggu ini aku di sekolah Marga."


"Anggita juga belum tahu?"


"Kayaknya sih belum."


"Coba aja cerita dulu sama dia. Biar ada yang ngerti kondisi kamu. Guru-guru kan gak bisa jagain kamu tiap waktu. Kamu butuh teman yang paham sama kondisi kamu, Ran."


Randi memalingkan wajahnya ke jendela mobil. Inilah hal yang paling rumit bagi kehidupan sekolahnya. Ia tak mau terus menerus bergantung pada orang lain, di perhatikan secara khusus, mendapatkan perlakuan yang spesial dari orang-orang di sekitarnya. Tapi ia tahu, hal itu tentu saja muskil ia lakukan.


Ibunya benar. Sekalipun semua Guru tahu kondisinya, mereka tak memiliki waktu banyak untuk mendampinginya. Bukannya ia tak mau bercerita pada Fajar, teman sebangkunya. Ia hanya belum mau. Enggan. Masih belum merasa bahwa dia adalah orang yang cocok memegang rahasianya.


Anggita? Ah, tidak. Masalah yang ia hadapi di sekolah ternyata sama beratnya dengan masalah yang ia hadapi. Gadis itu tak cocok mengetahui kondisinya, sekalipun ia tahu bahwa Kakaknya sudah mewanti-wanti dirinya agar berteman baik dengan Anggita. Cukup sebagai teman biasa saja. Hidup Anggita sudah terlalu berat.


Gladis? Cewek yang hobinya menghibah itu benar-benar bukan orang yang tepat. Bisa ia bayangkan bagaimana jika gadis itu mengetahui rahasianya. Sudah barang tentu dalam sepersekian detik, rahasia itu akan bocor ke mana-mana. Tidak! Jangan gadis itu! Jangan sampai!


Suara getaran ponsel membuyarkan pikirannya. Randi merogoh ponsel dari saku celananya. Menyentuh layarnya beberapa yang malah membuat keningnya mengerut lama. Bu Risma memandangnya heran.


"Siapa, Ran?"


Randi hanya menggeleng pelan. Ponselnya lagi-lagi bergetar, meskipun kali ini getaran itu berasal dari seseorang yang tengah meneleponnya. Mendapati nama yang tertera di layar, Randi menghela napas berat. Dengan enggan ia mendekatkan layar ponsel itu ke telinga. Bu Risma hanya tersenyum kecil melihatnya.


"Apa sih, Dis?" tanyanya tak acuh.


"Gak bilang-bilang di jemput pake mobil. Tahu gitu aku ikut nebeng kamu aja. Irit ongkos jadinya, kan?" timpal suara dari seberang teleponnya.


"Terus urusannya sama saya, apa?" Randi kesal.


"Besok-besok ajak aku pulang bareng dong!"


"Ogah!"


"Oke, deh. Bye, My Ran...."


Klik!


Randi menjauhkan layar ponselnya. Wajahnya masih tampak terlihat kesal. Ia masukkan ponsel itu ke dalam tas yang ada di bawah kakinya.


"Siapa Ran?" tanya Ibunya lagi.


"Emak-emak!"


Bu Risma terkekeh. Randi membiarkan tubuhnya menyandar di kursi sepenuhnya. Tak peduli akan tawa Ibunya yang tengah di tunjukkan padanya.


Sementara itu di tempat lain, Gladis tengah tersenyum riang setelah berhasil menelepon Randi. Tak menyangka lelaki itu tak mengabaikan panggilannya.

__ADS_1


"Step 1. Clear! Yuhuu .... Pacaran sama anak Dokter? Kenapa enggak!"


__ADS_2