TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 22 JAWABAN DARI SETIAP PERTANYAAN


__ADS_3

"Aku udah jadian sama Kak Gilar, loh!"


Anggita baru saja hendak memasuki kelasnya sebelum tiba-tiba Desi menghadangnya tepat di ambang pintu. Anggita beringsut mundur. Ia tak ingin berurusan dengan gadis itu hari ini. Namun, mendengar kalimat pernyataan yang tak terduga, Anggita hanya mematung.


Butuh beberapa detik lamanya sampai akhirnya ia bisa mengangkat kedua ujung bibirnya. Memasang raut wajah senormal mungkin di hadapan gadis yang baru saja di daulat menjadi saingannya hari kemarin. Dan hari ini, gadis itu sudah berhasil mengalahkannya. Telak.


"Oh. Selamat!" ungkap Anggita enggan.


Seluruh tubuhnya seolah tak menapaki bumi. Berputar-putar tak tentu arah hingga pandangan di sekitarnya kosong. Lambat laun langit seperti tengah menindihnya kuat. Lehernya tercekik. Kakinya terpasung. Kedua tangannya lumpuh. Tak ada kekuatan yang ia punya selain diam di tempatnya dengan posisi tetap.


"Aku pikir Kak Gilar sukanya sama Kak Gita. Eh, kayaknya enggak, yah?"


Desi cengengesan. Anggita tersenyum simpul.


"Ngomongnya udah? Aku mau masuk kelas." timpal Anggita tak acuh.


"Udah kok. Cuma mau berbagi kabar bahagia aja. Mohon bimbingannya, Kak! Soalnya aku gak tahu siapa yang lebih kenal Kak Gilar selain Kak Gita. Jadi aku pasti butuh banyak informasi soal Kak Gilar dari Kakak mulai sekarang."


Desi menyeringai lebar. Dalam hati Anggita hanya bisa merutuki kebodohannya. Membiarkan gadis itu bersikap seenaknya. Tidak! Anggita sendiri yang bodoh! Bodoh karena perasaannya.


Anggita tak lagi menggubris. Ia mencoba melangkahkan kakinya perlahan. Awalnya berat, terasa seperti menarik beban yang tak pernah ia tarik sebelumnya. Ia langsung duduk di bangkunya, menelungkupkan kepalanya di atas kedua lengan yang ia taruh sebagai alas.


Tubuh Anggita gemetar. Pertemuan terakhirnya dengan Gilar kemarin masih menimbulkan tanda tanya besar. Padahal ia baru saja mengungkapkan perasaannya. Alih-alih mendapatkan balasan yang sama, alih-alih melihat Gilar senang karena ternyata perasaan mereka sama, ia malah mendapati Gilar tiba-tiba pergi darinya begitu saja. Tanpa konklusi.


Tiba-tiba Desi datang dan menyatakan bahwa mereka sudah resmi berpacaran. Baru mendengar kalimat itu saja Anggita sudah di hinggapi perasaan sakit. Bisa berdialog singkat dengannya saja demi menutupi rasa sakit hatinya, Anggita seolah tengah meregang nyawanya sendiri.


Ia ingin meneriaki Gilar. Bertanya beragam pertanyaan yang selama ini tak pernah terjawab. Kenapa ia mendekatinya? Kenapa lelaki itu dengan mudahnya mengatakan sayang? Mengapa selama seminggu ini ia mau menunggui Anggita pulang sekolah? Kenapa selama mereka tidak bisa berpacaran namun bisa menghabiskan waktu bersama layaknya pasangan? Mengapa Gilar tiba-tiba pergi setelah ia menyatakan perasaannya? Apa yang di mau Gilar sebenarnya?


Matanya mulai berair. Tetesannya mungkin tak terlalu deras karena ia paksa untuk tak turun saat ini. Nanti. Jangan disekolah, pikirnya. Berusaha keras ia menutupi rasa sakitnya. Mencoba memikirkan hal-hal menyenangkan yang bisa mengobati perasaan kecewanya.


Sebuah suara ketukan pintu yang lembut berhasil membuat Anggita mendongak. Ada Rangga berdiri di ambang pintu menatapnya lekat. Anggita berpaling. Orang yang ia harapkan ada di sana bukanlah dia.


Tak lama, tahu-tahu Rangga sudah duduk di sampingnya. Menyodorkan padanya sebuah kotak tisu kecil.


"Si Gilar pantes dapetin cewek kayak si Desi, Ta!"


Anggita terkesiap. Ia memandang tajam ke arah Rangga.


"Kamu nguping?" tanya Anggita tak terima.


"Gak sengaja, Ta. Tapi, aku bersyukur. Itu udah jadi bukti kalau selama ini Gilar cuma mainin perasaan kamu aja. Itu pun kalau kamu sekarang sadar."


Anggita mendengus kesal.


"Aku lagi gak mood barantem sama kamu, Rang. Jadi gak usah manas-manasin kayak gitu. Pura-pura gak tahu aja. Bisa?" pinta Anggita setengah memaksa.


Rangga mengangguk pelan.


"Kamu masih suka sama cowok itu? Meskipun dia udah nyakitin kamu?" ujarnya sedikit menolehkan kepala ke arah Anggita.


"Bukan urusan kamu!"


Rangga beringsut mengubah posisinya menjadi langsung menghadap Anggita. Gadis itu tak bergeming.


"Sadar, Gita! Kamu cuma buang-buang waktu mertahanin perasaan kamu buat orang yang malah mempermainkan kamu! Lupain dia! Semua udah jelas sekarang, kan? Dia memilih pacaran sama cewek lain ketimbang kamu. Itu udah ngejelasin semuanya!"


Anggita menatap Rangga geram. Meskipun tak bisa ia pungkiri semua yang di katakan lelaki itu adalah kebenaran. Perasaannya semakin tak jelas. Sakit hatinya semakin menyelimuti dirinya.

__ADS_1


"Kamu gak akan ngerti, Rang. Rasa sayang dan suka itu gak bisa kamu buang sesuka hati. Kalau emang bisa, harusnya kamu yang lebih dulu ngelakuinnya. Jauhin aku! Gak usah deket-deket aku lagi! Perasaan aku ke kamu akan tetap sama! Aku gak mau di sebut cewek sok jual mahal gara-gara kamu masih deketin aku."


Rangga menghela napas berat. Kedua tangannya terkepal erat. Anggita refleks bersiap siaga takut-takut lelaki itu tiba-tiba mengamuk.


Bum!


Satu tangan Rangga memukul mejanya keras. Suaranya menggema di seisi kelas yang masih kosong. Anggita terperanjat meskipun lega karena bukan ia sasarannya.


"Kamu bener, Ta. Rasa sayang dan suka itu emang gak bisa kamu buang sesuka hati. Setidaknya aku tahu, rasa sayang dan suka aku ke kamu gak akan kamu permainkan. Gak masalah kok kamu gak bisa bales perasaan aku! Itu lebih baik. Daripada perasaan kamu yang cuma dipermainkan si Gilar. Harusnya kamu gak sebodoh ini, Ta! Harusnya kamu udah jauhin dia!"


Rangga benar. Anggita memiliki penilaian yang sama dengan ucapan Rangga. Namun, rasanya semakin sakit tatkala mendengar penilaian itu dari mulut orang lain. Semua terkaannya bukan sekedar pemikiran yang muncul dari kepalanya semata.


Bibir Anggita kelu. Ia tak sanggup lagi menyanggah perkataan Rangga kali ini. Harus ia akui bahwa ia kalah. Harus ia akui bahwa ia sudah menjadi gadis bodoh selama ini. Harus ia akui bahwa saat ini ia sedang sakit hati dan marah kepada Gilar. Kenapa lelaki itu mempermainkan perasaannya? Apa salah Anggita?


Sebuah seruan memanggil nama Anggita. Keduanya tahu betul siapa yang tengah berteriak memanggil nama Anggita. Gladis muncul dari arah luar, sejenak termangu di ambang pintu menatap keduanya.


Rangga masih enggan bangkit dari duduk. Tak peduli meskipun Gladis menatapnya tajam.


"Gilar pacaran sama si cewek kemarin, Ta!" serunya penuh antusias.


Rangga bergumam tak jelas.


"Dasar tukang ghibah! Giliran gosip aja cepet banget tahunya!" timpal Rangga meledeknya.


Gladis manyun. Ia memandangi Anggita yang hanya diam akan kabar yang baru saja ia bawa.


"Kamu udah tahu?" tanya Gladis kemudian.


Anggita mengangguk pelan.


"Bisa diem gak sih!" ujar Anggita mendelik ke arah Fajar sebal.


Gladis spontan menghampiri Anggita dan memeluk gadis itu erat. Ia bahkan mengelus kepala Anggita dengan lembut, sembari merapalkan kata sabar berulang kali. Anggita membalas pelukan itu dengan senang, memang ia sangat membutuhkan pelukan saat ini juga.


Kepalanya terasa berat. Perasaannya berkecamuk hebat. Langit seolah menindih tubuhnya hingga serupa tanah. Ia tak berdaya dan tak ingin berbuat apa pun. Kalau saja saat ini ia berada di rumah, mungkin tangisannya sudah meraung. Namun, lingkungan sekolah membuatnya tak boleh bersekutu dengan masalah pribadi. Ia harus selalu tampak baik-baik saja dan tak membawa masalah apa pun di setiap aktivitas sekolahnya. Ia harus baik-baik saja.


Hingga bel masuk berbunyi, Anggita termangu memandangi pintu kelasnya. Menunggu kemunculan Gilar. Kali ini ia harus memastikannya sendiri bagaimana sikap Gilar padanya hari ini. Tetap seperti biasa ataukah sudah berubah? Tetap hangat padanya atau berubah menjadi tak acuh?


Namun, hingga bel istirahat berdentang, sosok yang ia tunggu tak kunjung muncul. Rasanya enggan juga mengirimkan pesan berupa tanya kabar atau sekedar menyapa. Mengingat statusnya yang sudah dimiliki orang lain.


Mungkin Rangga memang benar. Ia harus menjauhi lelaki itu. Tapi, sulit! Sangat sulit! Jika memang begitu mudah, sudah ia lakukan sejak dulu jauh sebelum kedekatannya dengan Gilar semakin tak terkendali.


Anggita dan Gladis berjalan beriringan. Saling menggamit tangan dengan Gladis yang lebih banyak berceloteh, sedang Anggita hanya mangut-mangut. Anggita lebih banyak menundukkan kepalanya memandang setiap langkahnya sendiri.


Gladis tiba-tiba mencengkeram lengannya. Anggita mendongak enggan. Ia dapati gadis itu tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia pun ikut-ikutan mengikuti arah pandangan Gladis. Anggita sedikit terenyak. Tepat sebelum memasuki kantin, hampir semua mata tengah tertuju ke arahnya. Ke arah keduanya.


"Dis! Balik yuk!" pinta Anggita kemudian.


Entah ada bisikan dari mana, ia merasa tatapan itu tengah ditujukan padanya. Gladis menyanggupi. Namun, belum sempat langkah kaki keduanya melangkah jauh, tiga orang siswi tiba-tiba menghadangnya. Mata keduanya memicing. Mengenal satu di antara ketiga gadis itu yang tak lain adalah Desi, duduk dengan menaruh kedua lengan yang ia lipat di depan dada. Berdiri di apit dua gadis di sampingnya yang entah siapa. Anggita termangu.


"Ada apa?" tanya Gladis sok tak acuh. Ia angkat dagunya seangkuh mungkin. Memasang mimik muka sedingin mungkin pada adik kelas yang tiba-tiba menghadang langkahnya.


"Kak Gita jadi cewek jangan ganjen, dong!"


Anggita dan Gladis merengut tak mengerti. Sama-sama mereka melirik nametag yang menempel di baju gadis yang berbicara dengan pongahnya; Anisa.


Gladis mencebik memandang gadis berambut panjang bergelombang terurai itu. Sikapnya ketika memelintir bagian kecil dari rambutnya membuat Gladis jengah. Anggita memilih menelan ludah akan firasatnya yang tiba-tiba buruk.

__ADS_1


"Emang ada masalah apa, yah? Kok kalian bilang aku ganjen, sih! Sorry! Aku baru ketemu kalian sekarang. Dan aku cuma kenal sama Desi!" timpal Anggita sembari menahan geram.


Tak ia sangka akan mendapat perlakuan tak sopan dari adik kelas yang baru di temui hari ini. Bahkan Desi pun cenderung menikmati situasi saat ini dengan terus menerus menyeringai seolah tengah meledeknya.


"Ya, ampun! Gak usah pura-pura gitu deh, Kak. Kakak pasti tahu di mana Kak Gilar sekarang, kan?"


Kening Anggita mengernyit. Gladis menoleh ke arahnya bingung. Perlahan Anggita melepaskan gamitan keduanya. Menaruh kedua tangannya di samping badan.


"Maksud kalian apa yah? Desi pacarnya, kan? Harusnya dia lebih tahu. Kok malah nanya aku?"


Anggita menyeringai. Desi mencebik.


"Karena Kakak masih godain Kak Gilar! Makannya dia tiba-tiba ngilang gak ada kabar hari ini!" timpal gadis kepang satu yang ada di samping lain Desi. Nama Wina tertera di bagian nametag-nya.


"Kalian kayak orang gila, yah? Mikir dong sebelum ngomong! Buktinya mana kalau Anggita godain si Gilar? Huh!" tantang Gladis sembari menarik mundur Anggita sedikit ke belakangnya. Kedua tangannya berkaca pinggang dengan raut wajah sepongah mungkin.


"Semua orang tuh udah tahu! Kak Gita ngejar-ngejar Kak Gilar terus! Udah tahu Kak Gilar gak suka. Masih aja di deketin! Dasar ganjen!" timpal Anisa sembari mendorong sedikit bahu Anggita hingga gadis itu beringsut mundur.


Anggita terenyak.


"Heh! Gak usah sok tahu deh jadi orang! Belum lama nginjek kaki di Sekolah Marga udah sok tahu gitu! Nyari informasi tuh yang bener dong!" timpal Gladis berang.


Anggita menarik tangan Gladis hingga ia yang kini ada di belakang Anggita. Tubuh Anggita gemetar bukan main. Ia ingin segera menyudahi percakapan yang sudah membuat mereka menjadi pusat perhatian. Anggita enggan mengulangi kejadian yang sama seperti ketika Rangga masih merisaknya. Ia bosan menjadi pusat perhatian. Apalagi semua itu terus menerus bersangkutan dengan Gilar.


"Kalau kamu mau tahu di mana Gilar, bisa tanya baik-baik. Gak usah pake acara bawa ondel-ondel kayak mereka."


Melihat Anisa hendak menyela ucapannya, Anggita buru-buru memelototinya.


"Kalian berdua gak usah ikut campur! Aku cuma ngomong sama Desi!"


Anisa dan Wina berdecak sebal. Namun, memilih diam membiarkan Anggita menyelesaikan ucapannya.


"Kamu sekarang pacarnya. Harusnya kamu lebih tahu di mana dia, kan? Harusnya kamu tanya dulu temen-temen segengnya, bukan aku. Pake otak dikit kalau mau nyari sesuatu, bukan pake emosi. Ngerti, Des?"


Mulut Desi menganga. Tubuhnya mendadak meninggi di mata Anggita. Sekuat tenaga ia mencoba tak gentar.


"Dan satu hal lagi. Kalau emang aku cewek ganjen, udah aku pacarin tuh semua cowok di Sekolah Marga termasuk si Gilar. Siapa sih yang gak mau sama seorang Anggita yang selalu dapat juara di kelas? Cantik lagi! Paham?"


Anggita menyeringai. Desi menelan ludah berkali-kali. Anisa dan Wina saling melempar pandang bingung.


"Balik kelas, yuk! Lapernya dah hilang nih!" sambung Anggita sembari menarik salah satu pergelangan tangan Gladis. Gadis itu patuh mengikuti langkah Anggita. Meski sebelumnya sempat melemparkan senyuman sinis pada ketiga adik kelasnya.


"Kak Gita emang pinter yah, Des?" tanya Wina selepas Anggita dan Gladis pergi.


Desi mencebik. Bukannya ia tak tahu fakta itu, tapi ia tak menyangka akan di perlakukan sebodoh ini oleh Anggita di depan teman-temannya. Apalagi semua mata tengah memandang ke arah mereka.


"Temen se-geng Gilar emang siapa, Des? Kamu tahu?" timpal Anisa yang malah membuat suasana hati Desi tak karuan.


Menghilangnya Gilar yang tiba-tiba semenjak lelaki itu menerima ajakannya berpacaran malam tadi, malah membuat Desi mengarahkan sasaran tempat bertanya pada Anggita. Yang ia tahu hanya gadis itulah yang selalu di sangkut pautkan dengan Gilar. Belum banyak ia tahu tentang Anggita selain gosip yang merebak bahwa ia dan Gilar bak sepasang kekasih, meskipun status pacaran belum terdengar sebagai sebuah fakta.


"Gue harus ketemu Kak Fajar!" gerutu Desi diiringi langkahnya yang menjauh dari kedua temannya.


"Mau ke mana, Des?" tanya kedua temannya bersamaan.


Namun, lambaian tangan Desi sudah cukup menjadi jawaban. Kedua gadis itu memilih diam di tempat saling bertatapan bingung.


"Kak Fajar siapa?" tanya Wina kemudian yang di tanggapi Anisa dengan mengangkat kedua bahunya tak acuh.

__ADS_1


__ADS_2