TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 25 LUPAKAN AKU


__ADS_3

Kalau saja Anggita tak memiliki rasa gengsi yang tinggi, ia akan lari ke dalam kelas dan menangis meraung. Matanya sudah terasa panas sekali hingga bibirnya kelu untuk sekedar tersenyum kecil. Terlihat sepele memang. Ia hanya tak sengaja berpapasan dengan Gilar dan Desi yang berboncengan sebelum memasuki gerbang sekolah. Kedua lengan Desi melingkar erat di tubuh Gilar yang tak bergeming sedikit pun.


Anggita memasuki ruangan kelasnya dengan perasaan tak karuan. Ia dapati Gilar tengah duduk di bangkunya, kepalanya tertelungkup di atas meja seolah tengah tertidur. Kelas saat itu baru di isi beberapa orang termasuk ia dan Gilar. Tak terlalu gaduh memang. Hatinya saja yang tiba-tiba berisik dan diganggu rasa kesakitan.


Anggita membiarkan dirinya larut dalam perasaan sakit dan sayang yang saling tumpang tindih. Pikirannya berkecamuk hebat, mencoba mendominasi hatinya agar berpikir secara akal saja. Hatinya tengah kesakitan. Hatinya butuh diistirahatkan. Sejenak saja. Jika memang hatinya tak mudah melupakan seorang Gilar yang sudah dimiliki orang.


Tiap detik berganti menit, Anggita masih mampu bernapas dengan baik. Berganti dari menit ke jam, dunia seolah berputar-putar di satu waktu saja. Gilar bukan lagi miliknya, keluhnya. Sehari berlalu tanpa ada kenangan indah yang bisa ia ingat nanti, mengobati kenangan pahit yang bisa saja menjadi mimpi buruk di ditidurnya malam ini. Waktu begitu lambat, pikir Anggita. Ia ingin segera lari ke belahan dunia lain di mana ia tak lagi harus berjumpa dengan Gilar.


Anggita menolak ajakan Fajar yang hendak mengantarnya pulang. Ia juga membiarkan Gladis pergi mengejar Randi yang tiba-tiba tak menolak di tempeli gadis itu. Anggita ingin sendirian. Sendiri di dunia ini.


Bus yang melaju sudah berkali-kali berhenti di beberapa halte. Namun, Anggita enggan beranjak barang sedikit pun dari kursinya. Berada di bus yang bergerak cepat membuatnya seolah telah berlari jauh dari kenyataan. Ada rasa lega ketika bus terus melaju tanpa henti. Ia ingin lari sejauh mungkin dari kenyataan yang tak lagi asing.


Anggita termangu sendiri di kursi halte. Malam sudah berlalu sejak tadi. Tak ia gubris setiap getaran ponselnya yang ia genggam erat. Matanya nanar memandangi lalu lalang kendaraan di depannya. Hatinya masih enggan beristirahat dan ia masih ingin sendirian.


Sebuah mobil warna hitam berhenti tepat di depannya. Rangga keluar dan berjalan menghampirinya. Anggita hanya sesaat melihatnya, lalu kemudian memilih berpaling. Tanpa banyak basi-basi, sebuah jaket tersampir di tubuhnya. Anggita hanya termangu.


Rangga perlahan menarik tangan Anggita yang malah di tepis dengan kasar oleh gadis itu. Lelaki itu tak kenal putus asa. Ia menarik tangan Anggita lagi, menarik tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kali ini Anggita tak memberontak lagi.


Mobil melaju menembus malam. Anggita termangu dengan tatapan kosong. Rangga yang duduk di sampingnya memilih diam, mengemudikan mobil tetap melaju menembus kegelapan.


Mobil memasuki jalur tol. Melesat dengan kecepatan penuh tak terkendali. Anggita masih enggan bergeming. Seolah pasrah akan di bawa ke mana ia oleh si lelaki. Karena ia yakin, lelaki itu tak akan pernah menyakitinya yang sudah tersakiti.


Mobil berhenti di sebuah area peristirahatan tepat di depan kedai CFC. Hanya ada beberapa mobil terparkir tak jauh dari mobil itu.


"Kalau mau nangis, di sini aja. Aku mau masuk ke CFC. Laper!" tukas Rangga tak acuh.


Lelaki itu keluar dari mobil meninggalkan Anggita sendirian. Memasuki kedai CFC dan sibuk ke sana kemari memesan dan mengambil pesanan. Anggita masih tak bergeming.


Pandangannya mengedar ke sekeliling. Sepi. Hanya ada cahaya lampu dari kedai-kedai yang mengisi area ini yang terlihat ramai, meski hanya berupa cahaya. Anggita memejamkan matanya erat. Semakin erat. Tetesan air mata itu pun akhirnya mulai jatuh.


Awalnya ia hanya terisak. Mencoba bangun dari mimpi buruknya hari ini. Lambar laun ia semakin sadar, bahwa kenyataan ini lebih buruk dari sekedar mimpi. Tangisnya meraung keras. Berteriak sekuat tenaga tanpa peduli akan gengsi yang ia rawat selama ini.


Kedua tangannya memegang dadanya yang sesak dengan erat. Ada sesuatu yang menusuk-nusuk di dalam sana namun ia tak bisa mengeluarkannya. Tangisannya semakin keras. Wajahnya sudah basah berlinang air mata. Anggita kecewa. Ia sakit hati. Sakit sekali.


***


"Terima kasih."


Rangga menoleh ke arah sumber suara. Mata gadis itu sembab dan wajah yang basah. Sejenak Rangga mendongak ke arah luar kaca mobil, tak ada siapa pun di depan rumah Anggita.


"Ibu sama Ayah kamu pasti khawatir. Bilang aja kalau kamu di ajak pergi sama aku!" timpal Rangga enteng.


Ada jeda hening setelahnya. Anggita masih enggan beranjak dari dalam mobilnya. Tatapan gadis itu masih kosong.


"Jangan lemah kayak gini di depan siapa pun, Gita! Terutama Fajar, Gladis, atau Randi sekali pun. Pura-pura kuat aja!" Rangga menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Anggita hanya termangu kebingungan.


"Mereka teman-temanku." Tukas Anggita lirih. "Aku gak perlu pura-pura di depan mereka."


Rangga mendesis. Mulutnya kesulitan mengungkap kebenaran karena tak memiliki bukti. Lagi pula, gadis itu tak akan pernah menganggap semua ucapannya dengan serius. Ia sadar betapa bencinya gadis itu padanya.


"Terserah kamu aja lah! Kalau Gladis mungkin bisa. Kalau cowok, mending gak usah. Nanti mereka bisa menyimpulkan hal yang lain!"


Kening Anggita mengerut. Lelaki itu tak pernah berubah sikap terhadapnya. Meski tak seposesif dulu.


"Kamu larang aku deket sama cowok? Sekalipun cuma buat temenan?" timpal Anggita waspada.


Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tangannya bergerak rancu ke wajahnya. Ia tahu tindakannya keterlaluan, tapi ia juga tidak bisa membiarkan Anggita menjadi gadis bodoh di depan lelaki lain.


Sudah cukup ia melihat Anggita seharian ini seperti mayat hidup. Tatapannya kosong. Lebih banyak diam. Jarang tersenyum. Di kelas pun ia hanya seperti robot bermesin otomatis yang selalu melakukan setiap perintah tuannya tanpa protes.


Sengaja ia membuntuti Anggita sepulang sekolah. Berbekal mobil yang berhasil ia pinjam dari Ayahnya. Tak pernah ia sangka gadis itu malah tak pernah turun dari bus. Kalau bukan karena bus telah sampai tujuan terakhir, mungkin gadis itu bisa menjadi penumpang mobil besar itu selamanya.


Ada rasa kesal yang melandanya tatkala mendapati Anggita memilih berdiam seorang diri di halte. Tatapannya kosong seolah kehilangan nyawanya sendiri. Ia tak menyalahkan sikap Anggita. Wajar. Rasa sakit hati ketika seseorang yang disayangi lebih memilih menyayangi orang lain sudah pernah ia rasakan. Meski tak seburuk yang gadis itu alami. Entah apa sebabnya Gilar tiba-tiba berpindah haluan dengan memacari gadis lain, terlebih itu adalah adik kelas mereka yang belum genap satu bulan mencicipi sekolah Marga.


Tentu ada rasa curiga menggelayuti pikirannya. Mungkinkah Gilar sengaja? Tapi untuk apa? Selama ini dia juga mengekori Anggita seperti layaknya dirinya. Sudah ia duga perasaan lelaki itu juga sama seperti dirinya, sama-sama menyukai Anggita. Bedanya hanya satu, Anggita menyukai Gilar dan tidak menyukai dirinya.


"Lo maunya apa? Huh!" Sergapnya berang sesaat setelah Gilar yang sengaja ia hubungi saat itu juga. Tatapannya tak pernah berpaling dari Anggita yang masih duduk terpaku sendirian di kursi halte.


Rangga mendengus sebal.


"Lo suka sama Anggita atau nggak sih?" Tantang Rangga.


Tak ada suara lagi dari seberang sana dalam beberapa saat. Rangga masih menunggu jawaban yang jelas dari lelaki yang begitu sulit di terka jalan pikirannya.


"Jagain Anggita. Bukan demi gue, tapi demi Anggita. " Timpal Gilar dari seberang sana dengan suara lirih.


Klik!


Sambungan terputus. Rangga kebingungan. Keningnya mengerut keras menatap layar ponselnya yang sudah menggelap. Berkali-kali ia mendengus kesal. Membanting kepalan tangannya ke bagian setir mobil. Selepas itu, baru ia menghampiri Anggita dan menyeret gadis itu yang ternyata memilih patuh akan tindakannya.


"Aku gak larang, Git. Cuma ... biar kamu bisa jaga diri aja." Timpal Rangga bingung.


Apa jadinya jika Anggita tahu bahwa Fajar ada di balik hubungan Gilar dan Desi? Tidak! Ia tidak bisa mengatakan hal ini kepadanya sekarang. Ia tak punya bukti yang cukup. Yang ada, Anggita malah semakin membencinya. Tidak! Biarkan saja. Biarkan Anggita tahu ini sendiri.


"Kamu aneh! Mereka temen aku. Ngapain juga aku harus jaga diri dari mereka?" kilah Anggita tak terima.


"Mereka cowok, Git! Kalau sama si Galdis sih gak masalah." Timpal Rangga mengingatkan.


Anggita menyeringai. Kepalanya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Dasar cowok posesif!" Tukas Anggita kemudian. "Udah, ah! Aku lagi gak mood berantem sama kamu. Makasih udah antar- jemput aku. Assalamu'alaikum!"


Anggita keluar dari mobilnya sebelum sempat mendengar jawaban salam kembali. Ia mengekori gadis itu hingga benar-benar masuk ke dalam rumahnya. Memastikan bahwa gadis itu benar-benar pulang dengan selamat.


***


Menerima kenyataan yang menyakitkan memang sulit. Seumpama menelan pil pahit di tengah dahaga. Bukannya tak bisa mengubah keadaan, Anggita hanya enggan. Ia enggan mempermasalahkan perasaannya pada Gilar lagi, juga tak mau memikirkan kembali masa-masa Gilar begitu lancar mengucap kalimat sayang padanya.


Nyatanya, memiliki perasaan yang sama tak bisa menuntun keduanya untuk tetap bersama. Bisa saja ia menuntut Gilar mempertanggungjawabkan sikapnya selama ini karena telah membuatnya baper. Tapi, apa yang harus di pertanggungjawabkan jika lelaki itu sudah memutuskan memilih yang lain?


Anggita gengsi jika harus memohon atau bahkan memelas agar lelaki yang ia sayangi mau kembali seperti dulu lagi. Bukankah sudah jelas? Sejak awal Gilar sudah memaklumatkan diri bahwa ia tak bisa menjadi pacarnya.


Ah, Anggita menyesal. Andai saja ia biarkan lelaki itu sesuka hatinya mengungkapkan rasa sayang. Andai saja ia bungkam perasaan yang ia rasakan hanya untuk diri sendiri. Andai saja ia bisa membaca isi pikiran lelaki itu. Apa sebenarnya alasan mereka tak bisa pacaran? Kenapa Gilar membuat semuanya begitu rumit? Bukankah hal yang lumrah bagi remaja macam mereka untuk berpacaran?


Pagi itu rona hatinya masih sama seperti kemarin; hampa. Mengikuti pelajaran hanya semaunya. Berpikir sekenanya. Berbicara enggan. Sekelilingnya masih serupa warna abu-abu dan putih, tak lagi ada warna apa pun serupa pelangi.


Jam istirahat ia biarkan dirinya menikmati waktu seorang diri. Melepas rindu pada Gilar hanya dari balik jendela kelas, memandang lelaki itu yang biasanya bermain di lapangan. Tampak masih sama. Masih ceria. Seolah hari-hari yang lalu tak ada sesuatu yang telah mengubah perasaannya.


Dulu mereka hanya makhluk asing yang saling tak acuh. Dipertemukan karena ketidaksengajaaan. Kali ini pun mungkin harusnya bisa di bilang sama, berpisah karena ketidakjelasan.


"Aku rindu kamu, Gilar." Lirih Anggita diam-diam.


Ah, semakin lama melihat lelaki itu, perasaan sayangnya makin sulit terlepas. Tidak! Anggita harus melupakan lelaki itu. Ia melangkah keluar kelas dengan mantap. Meyakinkan diri bahwa ia tak boleh larut dalam kesedihan. Tak boleh.


Namun, langkahnya terhenti tatkala Desi lagi-lagi menghadangnya. Anggita hanya mampu mengela napas panjang. Mencoba bersikap normal dan tak ceroboh.


"Ada apa?" tanya Anggita enggan. Bahkan ia sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain demi membuat gadis itu tak nyaman.


"Kak Gita masih gangguin Kak Gilar?" tuduh gadis itu.


Anggita memejamkan matanya lama.


"Enggak, Desi! Kenapa lagi sih?" timpalnya ketus.


"Kok Kak Gilar aneh." Keluh gadis itu memasang wajah kecewa.


Kening Anggita mengerut. Hari kemarin saja gadis ini begitu belagu berbicara padanya. Tapi kali ini tiba-tiba raut wajahnya semrawut.


"Sorry! Aku gak ada waktu buat dengerin orang curhat!" Timpal Anggita kesal.


"Kak Gilar bisu, yah? Di SMS gak di bales. Di telepon gak pernah di angkat. Untung aja aku udah tahu siapa temen segengnya!" cerocos Desi tanpa memedulikan Anggita yang memandangnya dengan risi. "Aku dateng samperin dia. Akhirnya dia mau bareng ke sekolah. Tapi, di motor pun gak bisa di ajak ngobrol. Di panggil gak ngejawab. Kak Gita masih godain dia, yah?" tuduh Desi lagi.


Perasaan Anggita bingung dan kesal. Bingung karena cerita yang tak masuk akal dari Desi. Kesal karena gadis itu selalu enteng menuduhnya menjadi penggoda Gilar.


"Terserah kamu deh! Suka-suka kamu aja nuduh aku kayak apa. Gak mutu tahu obrolannya! Permisi!" timpal Anggita berang. Sengaja ia menabrakkan bahunya ke bahu gadis iu selagi ia melangkahkan kaki. Meski tak terlalu keras, namun ada perasaan puas merongrongnya.

__ADS_1


__ADS_2