TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 9 SANG KETUA GENG MOTOR


__ADS_3

Gladis menepuk pundak Gilar beberapa kali hingga lelaki itu menoleh.


"Jaga baik-baik Tuan Putrinya! Awas kalau celaka! Aku coret kamu dari daftar kelompok kita!" ancam Gladis sembari menjulurkan ujung jarinya ke depan muka Gilar.


Hanya anggukan yang di berikan Gilar sebagai tanggapan sebelum gadis itu memilih pergi dan mengobrol dengan Rangga. Anggita hanya memperhatikan dengan saksama kedua sepupu itu tampak sedang berselisih paham.


"Ayo naik!" pinta Gilar membuat pandangan Anggita kini beralih padanya.


Anggita patuh tanpa berkomentar sedikit pun. Ia letakkan tasnya tepat di pangkuannya, menjadi penyekat antara ia dan Gilar. Gilar menoleh sejenak.


"Harus yah tasnya di taruh di sana?" protesnya kemudian.


Kepala Anggita sedikit mendekat, "harus! Buat jaga diri takutnya ada begal narik tas aku kalau tasnya di gendong di belakang!" timpal Anggita membela diri.


"Iya deh! Terserah Tuan Putri aja! Pegangan yang erat yah. Takut malah Tuan Putrinya yang di begal orang!"


Gilar menyalakan mesin motornya. Anggita tetap tak bergeming. Malah memilih mendekap tasnya begitu erat. Lagi-lagi Gilar menoleh ke arahnya.


"Pegangan dong, Ta. Nanti kena begal loh," pinta Gilar setengah memelas.


Anggita menggeleng tanpa ragu. Gilar menghela napas panjang.


"Ya, udah. Pegang baju aku aja deh! Bisa? Gak usah peluk-peluk kayak Dilan sama Milea kok."


Anggita terdiam sejenak. Ia bukan ragu, tapi malu. Sejak duduk di atas jok motor tepat di belakang Gilar, memandangi punggung lelaki itu dari jarak dekat, hatinya sudah bergemuruh riang. Ingin ia lari sejauh mungkin dan berteriak senang, merayakan kemenangannya bisa berboncengan dengan Gilar. Namun yang ia lakukan malah menyekat jarak antara keduanya. Meski hanya sebuah tas, ini bisa menjadi benteng pertahanan dirinya agar tak ketahuan tengah mengalami perasan senang. Ia takut tanpa sadar malah memeluk Gilar dari arah belakang. Ia harus selalu sadar. Menjaga harga dirinya agar tak ketahuan tengah di landa perasaan bahagia.


"Buruan! Kalau gak mau, gak akan berangkat nih!" ancam Gilar.


"Harus yah?"


Anggita ingin, tapi....


"Kamu gak denger tadi si Gladis ngomong apa? Aku harus jagain kamu. Berarti selama perjalanan ke sana, aku harus mastiin kamu ada di belakang aku atau nggak. Minimal aku tahu kamu lagi pegang baju aku. Bahaya kalau aku di coret dari daftar kelompok, Ta!"


Anggita mangut-mangut. Perlahan ia menggerakkan kedua tangannya. Menjawil kedua sisi baju seragam Gilar dengan erat.


"Udah, Gil!"


"Malah di jiwir!" gerutu Gilar diakhiri decak sebal.


Di liriknya Anggita yang malah mengangkat kedua bahunya. Gadis itu tersenyum meledek yang mampu membuat Gilar ikut-ikutan tersenyum.


"Terserahlah! Yang penting gak dikeluarin dari kelompok!"


Anggita cekikikan. Motor mulai melaju menerobos sisa terik. Menembus angin yang terkadang berembus kencang membuat tangan Anggita kadang memegang kedua sisi baju Gilar semakin erat. Seolah angin hendak menerbangkannya jauh dari tempatnya berada saat ini. Ia memandangi punggung Gilar lekat. Senyuman terus menerus terurai di wajahnya. Rindunya terobati. Rindunya pada Gilar sudah terobati.


Sementara Gilar sesekali memandangi wajah Anggita dari balik kaca spion. Senyumannya merekah. Rindunya terobati. Rindunya pada Anggita sudah terobati.


***


Sudah hampir satu jam lamanya keenam orang berseragam sekolah ini duduk saling melingkar. Meski kenyataannya, Rangga, Randi, dan Gilar yang kebetulan duduk bersebelahan lebih banyak bermain dengan ponsel mereka. Meski Gladis sudah berulang kali memarahi merek, menjitak kepala Rangga agar mau menyimpan ponselnya, memelas penuh iba agar Randi mau ikut mengerjakan tugas, dan membujuk Gilar agar tak mengambil buku bacaan sembarangan.


"Udah usaha masih aja di omelin! Ketuanya aja kalem!" protes Gilar.


Fajar lebih memilih diam seolah sudah siap akan keadaan saat ini. Tiba-tiba Anggita bangkit dari duduknya. Menggeliat dengan suara erangan keras, membuat tiga lelaki yang tengah menunduk patuh pada ponsel mereka masing-masing, mendongakkan kepala mereka secara bersamaan menatapnya. Mata mereka terpaku melihat Anggita melepas ikat rambutnya. Memperbaiki ikatan rambutnya dan berkaca pinggang.


"Aku mau keluar bentar," ujarnya kemudian, "mau nyari makanan."


Tanpa meminta persetujuan siapa pun, Anggita keluar dari lingkaran kelompok itu. Gilar dan Randi secara bersamaan bangkit dari duduk mereka. Sejenak keduanya saling berpandangan bingung.

__ADS_1


"Mau ke mana kalian?" tanya Gladis. Gadis itu memasang mata setajam elang.


"Ikut Gita! Tiba-tiba laper juga, Dis." ujar Gilar jujur.


"Modus! Awas kalau macem-macem!" ancam Gladis. Mata gadis itu kini teralih pada Randi yang tanpa berkata apa pun melangkah pergi.


"Randi! Kamu mau ke mana?" teriak gadis itu kemudian.


Hanya lambaian tangan yang di berikan Randi. Memilih terus berjalan mengimbangi langkah Gilar yang semakin mendekati pintu keluar. Gladis dan Fajar yang memperhatikan mereka hanya mampu menahan geram. Sejak tadi mereka berdua, termasuk Rangga yang masih betah duduk dengan ponselnya, tak melakukan apa pun untuk membantu mengerjakan tugas kelompok mereka agar segera selesai.


"Tumben gak ngikutin si Gita!" ledek Gladis.


Rangga tak bergeming. Dua ibu jarinya sibuk menekan-nekan layar ponsel. Fajar menyikut Gladis. Memberi isyarat agar ia diam saja.


Sementara itu, Anggita dan Gilar tengah duduk saling berdampingan di sebuah kursi kayu panjang yang di sediakan tepat dekat gerobak bakso. Pangkalan pedagang kaki lima ini terletak tepat di seberang perpustakaan. Kening keduanya mengerut melihat tingkah Randi yang tengah memperhatikan si penjual bakso dengan tajam.


"Liatinnya kayak gitu amat! Gak pernah liat tukang bakso cakep, yah?" ledek Gilar.


Randi menggeleng tanpa ragu. Wajahnya mengerut penuh keengganan seperti ada sesuatu yang tak ia sukai.


"Kalau gak suka bakso, cari makanan yang lain aja!" timpal Anggita geram.


Ada perasaan tak enak hati melihat tingkah Randi yang enggan barang sekejap pun untuk tersenyum. Wajah yang terpasang darinya lebih seperti seseorang yang jijik melihat sesuatu. Tiba-tiba Randi melambai ke arah Anggita, memberikan gadis itu isyarat agar mendekat ke arahnya.


Sejenak ia menoleh ke arah Gilar. Lelaki itu mengangkat bahu tak peduli. Anggita bangkit dan mendekat ke arah Randi. Tiba-tiba lelaki itu menarik tangannya menjauhi gerobak, membuat Gilar bangkit dari duduknya. Namun hanya bisa memerhatikan mereka dari sana karena suara penjual bakso yang memanggilnya.


"Tunggu bentar yah, Mang. Temen saya makan di sini juga kok!" Dengan wajah penuh senyuman ia meminta sang penjual bakso agar tak perlu khawatir.


Sementara itu, Anggita melepaskan tangannya dari genggaman Randi saat keduanya berada tak jauh dari gerobak bakso.


"Kenapa sih?" tanya Anggita risi.


Kening Anggita mengernyit, "yakinlah! Emang kenapa?"


Randi menoleh sejenak ke arah Gilar tengah berdiri memperhatikan mereka. Tiba-tiba ia mendekatkan kepalanya ke arah Anggita hingga jarak kepala keduanya berdekatan. Anggita terkesiap.


"Mangkuknya gak di cuci bersih, Ta. Kamu gak liat tempat cuciannya? Cuma pake air di ember kecil. Itu juga udah keruh! Kotor!"


Anggita beringsut menjauh. Satu ujung bibirnya terangkat diiringi suara decak.


"Ngomong apaan sih kamu? Aneh! Kalau gak suka bakso, cari makan yang laen aja. Kayak gak pernah liat pedagang kaki lima jualan aja!" Anggita mendengus.


Saat ia hendak melangkahkan kakinya pergi, lagi-lagi Randi menahan tangannya. Anggita menangkis.


"Ada apa lagi sih? Aku mau makan! Bakso aku udah jadi. Gak enak kalau dingin!" Anggita kesal.


Randi memasukkan kedua tangannya ke saku jaket, "saya gak bisa makan di tempat kayak gini, Ta. Cari tempat lain aja gimana? Saya yang bayar deh!"


Anggita berdecak sebal. Bibirnya ia katupkan rapat-rapat. Ada tawa ejekan yang keluar dari mulutnya kemudian.


"Aku mau makan di sini aja! Makasih tawarannya. Kamu bisa pergi sendiri. Permisi!"


Anggita buru-buru melangkah pergi sebelum Randi lagi-lagi menahannya. Ia menghampiri Gilar yang sudah menunggunya. Mengambil mangkok pesanannya yang sudah tersaji. Keduanya duduk berdampingan sembari memangku mangkok bakso karena tidak ada meja yang di sediakan di sana. Namun, keduanya tampak tak terganggu. Mie bakso perlahan di lahap mereka. Sementara Randi memilih pergi berlalu. Menyeberangi jalan dan kembali ke dalam area perpustakaan.


"Kenapa si Randi?" tanya Gilar setelah menelan habis bakso terakhirnya.


Anggita menggeleng pelan. Ada tawa yang tak bisa ia tahan lebih lama.


"Nanti aja deh ceritanya, Gil. Terlalu lucu kalau cerita di sini!" aku Anggita sembari terus cekikikan meski makanan di mulutnya masih belum tertelan sempurna.

__ADS_1


"Habisin dulu makanannya, Tuan Putri!"


"Apaan sih manggil kayak gitu? Malu-maluin tahu!"


Gilar tak menanggapi. Ia memandangi Anggita yang masih sibuk menghabiskan bakso dengan saksama. Rasa bahagia tengah menyelimuti perasaannya. Namun, sebuah tangan menepuk pundaknya membuat pandangannya teralih.


Senyuman di wajahnya hilang seketika tatkala mendapati seorang pria berjaket kulit hitam, dengan beberapa aksesoris anting tergantung di telinganya tengah berdiri di hadapannya. Gilar buru-buru bangkit dari duduknya dan menyeret lelaki itu menjauh dari tempat itu tanpa berkata apa pun pada Anggita. Gadis yang baru saja menandaskan makanannya hanya bisa terdiam. Anggita ikut bangkit dari duduknya, namun langkahnya terpaksa ia hentikan saat Gilar terus berjalan menjauh dari tempatnya.


"Baksonya jadi berapa, Mang?" tanya Anggita sejenak menoleh ke arah penjuak bakso, namun kembali mengarahkan pandangannya mencari sosok Gilar.


Lelaki itu hilang dari pandangannya.


"Udah di bayar sama Aa-nya tadi, Neng!" balas si penjual.


Setelah mengucapkan terima kasih, Anggita berlari mengikuti jejak Gilar pergi. Namun, gadis itu tak menemukan keberadaannya. Tak pantang menyerah, Anggita terus berlari semakin menjauhi tempat pangkalan pedagang kaki lima. Ada ruko-ruko tutup yang berjejer rapi menyambutnya.


Anggita menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Gilar. Rasa khawatir membuatnya terus berlarian tak tentu arah. Hari ini ia baru saja menandaskan rindunya pada Gilar. Bisa bertegur sapa dan bercanda lagi dengan lelaki berambut ikal itu. Bahkan, bisa berboncengan dengannya menjadi pencapaian yang patut di banggakan. Ia tak ingin kehilangan Gilar lagi.


Keringat sudah mengucur di pelipis Anggita. Namun gadis itu enggan berhenti melangkah meski napasnya sudah tersengal-sengal. Hanya nama Gilar yang ia rapal di mulut dan hatinya, juga pikirannya. Langkahnya terhenti di depan sebuah gang, pemisah antara satu ruko dengan ruko lainnya. Didapatinya Gilar tengah tersungkur di tanah. Anggita spontan berlari ke arahnya.


"Gilar!" teriaknya membuat Gilar spontan menoleh.


Sebelum Anggita hampir mendekat ke arahnya, Gilar sudah buru-buru bangkit dan dengan langkah terhuyung-huyung menghentikan langkah Anggita. Gadis itu memandangnya dengan tatapan khawatir.


"Wajah kamu...," lirih Anggita sembari mencoba menyentuh wajah Gilar yang sudah lebam. Tak dapat ia bendung air mata yang sudah menumpuk sejak ia berlarian mencari Gilar karena rasa khawatirnya.


Gilar memegang kedua pundaknya. Tersenyum seolah tak ada rasa sakit yang ia rasakan meski wajahnya penuh luka.


"Gak apa-apa, Git. Aku gak apa-apa! Jangan nangis disini yah. Nanti repot!" pinta Gilar sembari menghapus air mata yang terlanjur keluar dari kedua mata Anggita.


Gilar menggenggam tangan Anggita. Tubuhnya berbalik menghadap lelaki berjaket kulit hitam yang ternyata di belakangnya tengah berdiri beberapa lelaki lain. Ia biarkan gadis itu tetap di belakangnya, tetap menggenggam tangan gadis itu.


"Pacar, Gil?" tanya lelaki berjaket kulit hitam itu.


Anggita mencoba mengintip dari balik tubuh Gilar. Lelaki berjaket kulit hitam itu menyeringai padanya. Anggita terenyak dan memilih kembali berlindung di balik punggung Gilar. Pegangan tangannya semakin erat. Ia ketakutan.


"Bukan. Dia temen sekelas gue!" ujar Gilar sembari meremas tangan Anggita.


Namun, gadis itu malah terpaku. Jawaban yang di berikan Gilar memang benar adanya, namun ada perasaan sakit yang tiba-tiba menjalarinya. Gilar berkata benar. Hatinyalah yang salah sudah menyukai lelaki itu.


"Boleh dong di ajak kenalan? Kebetulan gue baru putus dari si Intan!" lelaki berjaket kulit hitam itu mulai melangkah maju. Membuat Gilar semakin menggenggam tangan Anggita erat.


"Cantik juga kok cewek di belakang lo!" sambung lelaki itu.


Gilar mencoba tak terintimidasi. Ia tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming.


"Lo mau kenalan sama cewek ini?" tantang Gilar sembari sedikit menoleh ke arah Anggita yang sedang ketakutan.


"Sorry! Dia incaran gue!"


Anggita mendongak. Ia sungguh tak mengerti arti dari incaran yang di maksud Gilar itu baik atau buruk. Mengingat situasi saat ini bukanlah keadaan yang bisa di bilang baik. Entah ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya atau hanya sekedar menggertak agar lelaki berjaket kulit hitam itu tak berani mendekatinya.


Keadaan saat ini membuatnya sadar kembali bahwa Gilar bukanlah lelaki biasa, murid biasa. Dia adalah ketua geng motor XXX. Kebahagiaan bisa tertawa bersamanya kembali seolah menutupi kenyataan itu dari pikiran Anggita barang sejenak. Menikmati bakso di pedagang kaki lima tanpa khawatir.


Lelaki itu tertawa terbahak. Anggita memberanikan diri mengintipnya lagi.


"Bagus kalau gitu! Gue makin minat sama tuh cewek! Serahin dia ke gue baik-baik, Gil. Karena percuma kalau lo lawan gue juga. Gak imbang! Ini daerah kekuasaan gue! Dan lo berani melangkahkan kaki lo disini? Lo harus terima akibatnya! Serahin tuh cewek dan lo gue lepasin. Gimana?"


Anggita gemetaran. Ia benar-benar dalam keadaan yang salah. Meski ingin menyalahkan keteledoran Gilar karena berani membawa kelompoknya ke sini, Anggita tak bisa melakukannya. Ia tahu bahwa Gilar hanya mengikuti kemauan anggota kelompok yang lain. Tak mungkin menolak hanya karena urusan pribadinya. Inilah Gilar yang selama ini ia kenal. Sang ketua geng motor berhati malaikat.

__ADS_1


__ADS_2