
Senja menguning pekat. Matahari hampir tenggelam di telan malam. Anggita berdiri di depan gerbang rumahnya. Sesekali mendongak memandang ke arah jalan. Tak lama, sebuah motor datang dan berhenti tepat di depannya. Si pengemudi membuka kaca helm yang dipakainya.
"Udah izin, Ta? Luka kamu beneran gak apa-apa?" tanya pengemudi itu; Fajar.
Anggita mengangguk mantap. Fajar menyerahkan helm pada Anggita.
"Gak ada jaket yang lebih tebel apa?" tanya Fajar kembali sembari memerhatikan jaket maroon Anggita yang sudah menutupi hampir semua bagian atas tubuhnya.
"Ini yang paling tebel, Faj. Emang di sana dingin banget, yah? Kan bukan mau kemah di puncak!" Anggita beralasan.
"Ya, emang nggak, Ta. Tapi perjalanannya lumayan jauh. Takutnya kamu kedinginan di jalan! Ogah aku nyerahin jaket punyaku." Fajar bergidik sembari melingkarkan kedua tannya ke tubuhnya sendiri.
Anggita menepuk pundak Fajar. Menaiki motornya.
"Udah! Jalan aja. Insya Allah aku kuat, Faj!" balas Anggita meyakinkan.
Fajar tak berkomentar lagi. Motor melaju kembali menembus angin senja. Anggita membiarkan wajahnya di terobos sapuannya. Kedua tangannya menjawil dua sisi jaket Fajar, sama seperti yang dilakukannya pada Gilar. Motor terus melaju hingga menjelang malam.
***
Mata Anggita sembab. Entah karena embusan angin yang menerpanya atau karena sudah berjam-jam lamanya ia menangis. Suara tangisannya memang tak terdengar, bahkan olehnya sendiri. Suara desir ombak terlalu memekakkan telinga. Sampai Anggita berulang kali bisa berteriak sekencang-kencangnya. Meski suaranya lenyap bersama debur ombak.
Rembulan menatap malu dari balik awan. Beberapa bintang berhasil menyelinap keluar dari perlindungan. Fajar melangkah mendekati Anggita sembari membawa nampan berisi ikan besar yang ekornya terpaksa keluar dari wadah karena tak muat.
Pasir menjadi alas keduanya duduk berdampingan. Tangan Fajar bertugas menjadi meja hidup selagi Anggita mencubit daging ikan bakar yang kini tinggal setengahnya. Fajar hanya bisa tersenyum. Anggita sudah tampak lebih tenang dan kembali normal.
"Ada-ada aja ide kamu ngajak aku makan ikan di pantai, Faj." ujar Anggita sembari melumuri ikan sisa itu dengan semangkuk sambal kecap yang sedari tadi hanya tersentuh sedikit.
Fajar terbelalak.
"Hey! Aku gak suka pedes, Ta! Perut aku sensitif!" Fajar menggerutu kesal, "sekali-kali makan ikan dengan sensasi alami, Ta."
Anggita terkekeh. Lidahnya terjulur meledek. Kemudian mencubit kembali ikan itu dengan ukuran besar. Ia melahapnya tanpa ragu meski mulut Fajar menganga lebar.
"Kamu cocok jadi vloger makanan. Kenapa gak di coba aja?" Fajar menyerahkan nampan itu ke hadapan Anggita.
"Gitu dong! Kamu yang ngajakin ke sini. Gak usah makan banyak-banyak! Nanti gendut!" Anggita menerima nampan itu dan meletakkannya di pangkuan.
"Udah gendut kali, Ta!" Tukas Fajar singkat.
Anggita tersenyum. Fajar memperhatikan gadis itu lekat. Meski matanya sembab, Anggita tampak lebih ceria dari sebelumnya.
"Faj, apa aku salah minta Gilar keluar dari geng Motor?" Anggita menoleh ke arahnya. Ada sisa-sisa noda hitam melekat di pinggiran bibirnya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Anggita, Fajar malah menyerahkan ponselnya yang sudah terpasang kamera depan pada gadis itu. Anggita bengong.
"Mau foto bareng, Faj?" tanya Anggita sembari bersiap merapikan rambutnya yang acak-acakan.
Fajar terkekeh.
"Bibir kamu belepotan, Ta! Ogah banget foto bareng kamu!" Fajar gengsi.
Buru-buru Anggita mengusap bibirnya dengan tangannya. Fajar mendelik.
"Jorok, Ta! Pake tisu kek!" Fajar bergidik.
Anggita membuka isi kepala ikan, memilah-milahnya sebelum mendaratkannya ke mulut.
"Baru kali ini dia marah-marah, Faj. Aku nyampe syok berat! Aku cuma khawatir sama dia. Takut dia kenapa-napa!"
Fajar mangut-mangut. Kedua telapak tangannya saling berpilin.
"Namanya juga cowok, Ta. Gak suka di kekang kali!" jawab Fajar enggan.
"Terus maksud dia bilang sayang ke aku itu apa coba!"
Fajar terpaku.
"Tapi ujungnya malah bilang gak bisa pacaran. Aneh!" Nada suara Anggita meninggi. Raut wajah gadis itu menampakkan kejengkelan. Di lempar-lemparkannya pasir yang ia genggam ke arah depannya, mulutnya mengerucut.
"Dia bilang gitu?" Fajar menatap Anggita lekat. Gadis itu mengangguk mantap.
"Terus kamu jawab apa?"
Tatapan Fajar semakin tajam memandang Anggita. Meski gadis itu tak terusik sedikit pun.
__ADS_1
"Gak aku jawab apa-apa. Dia kan bukan ngasih pertanyaan, tapi pernyataan. Aku harus respons apa coba?"
Anggita membalas tatapan Fajar. Lelaki itu sedikit terkesiap.
"Kalau aku jadi kamu, kayaknya sama juga sih." Jawab Fajar bingung.
"Tuh, kan! Makin gak jelas gini urusannya. Aku tetep bukan siapa-siapa buat dia," Anggita merengut, "tapi aku tetep suka sama dia."
"Kalau kamu emang bukan siapa-siapa buat dia, gak mungkin dia bilang kayak gitu. Jelas dia sayang sama kamu, Ta. Cuma mungkin ada pertimbangan lain kenapa dia gak bisa pacaran sama kamu. Aneh sih emang! Biasanya kan cowok suka langsung ngajakin cewek yang dia sayang buat pacaran. Tapi Gilar nggak!"
"Aneh, kan? Bikin baper gak jelas, tahu!"
"Kenapa kamu gak nanyain soal itu ke dia?"
"Entahlah! Enggan. Kecewa mungkin lebih tepatnya. Cuma bilang sayang tapi gak bisa pacaran. Bikin bingung!"
"Masih tetep mau suka sama dia?"
Anggita termenung. Ia tidak tahu harus meneruskan perasaannya kembali atau tidak. Baru sebatas mendengar pernyataan sayang yang sudah Gilar utarakan saja malah mendatangkan permasalahan yang bertubi-tubi. Rasa senang yang baru menjalarinya karena ternyata Gilar memiliki perasaan yang sama dengannya, lagi-lagi berujung pada kekecewaan. Ia tak tahu esok hari akan seperti apa.
Menyaksikan sendiri Gilar murka, membuat Anggita kesal sekaligus menyesal di waktu bersamaan. Ia hanya ingin Gilar-nya baik-baik saja. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa pun agar Gilar mematuhi perkataannya. Ia tetap bukan siapa-siapa bagi lelaki itu.
"Mungkin aku harus nyoba lupain dia aja, Faj."
Anggita menekuk kedua lututnya. Melingkarkan kedua tangannya kemudian. Menaruh dagu di atasnya. Memandang ombak yang masih saling berkejaran.
Perlahan Fajar menyentuh bahu Anggita. Menepuk-nepuknya perlahan. Ada rasa senang yang tiba-tiba membuatnya lega.
"Kamu yakin?"
Fajar hanya ingin menguatkan keputusan Anggita. Ia tak ingin melihat gadis itu terus terluka akibat perasaannya yang tak jua terbalas setimpal.
"Insya Allah."
Anggita termenung. Gadis itu tak lagi mengeluarkan kata apa pun. Rasa sayang tak mungkin bisa di lepas semudah membalikkan telapak tangan.
Sama halnya ketika rasa sukanya pada Gilar mulai ada, proses yang harus ia hadapi terlampau panjang.
Rasa sukanya pada Gilar bukan berawal dari mata lalu turun ke hati. Di matanya, Gilar hanya sosok murid yang harus di hindari. Anak badung yang tak boleh di dekati. Gantengan Rangga daripada Gilar. Gak ada satu hal pun yang bisa di nilai dari sudut pandang mata Anggita. Lelaki itu masuk kategori yang wajib di jauhi!
"Kamu pasti bisa lupain dia, Ta."
Fajar bertekad.
***
Keesokan harinya Gilar tidak masuk kelas. Anggita mencoba tidak terusik dengan bisik-bisik teman sekelasnya yang tengah mengaitkan dirinya dengan Gilar. Pertanyaan yang keluar dari Gladis karena rasa penasaran hanya di tanggapi senyuman oleh Anggita. Ia sedang ingin melewati proses jauh dari sosok Gilar. Tak lagi ingin di kaitkan dengan lelaki yang membuat pernyataan ambigu.
Meski imbasnya, Rangga mulai mendekatinya kembali. Jika ada kesempatan, ia selalu berhasil duduk di sekitar Anggita. Tidak untuk menyontek, memaksa Anggita menyelesaikan tugasnya, atau memintanya menjadi pacar lagi. Tidak! Rangga sedikit tenang dan bersikap seperti kebanyakan teman-temannya.
"Si Gilar dapet skorsing satu minggu!"
Anggita terdiam sejenak mendengar ucapan Rangga saat tengah duduk tepat di depannya, mengerjakan tugas yang sama meski bukan sedang menyonteknya. Rangga memandangnya sekilas. Dapat ia tangkap bahwa Anggita tertarik pada kalimatnya barusan.
"Itu bukan ulahku, Ta."
Anggita mendongak. Keduanya saling bertatap.
"Aku gak tahu masalah Erik sama Gilar itu apa. Erik juga kena skorsing kok!"
Anggita masih belum bergeming. Ia menatap Rangga dengan sorot tajam.
"Aku udah janji bakal berubah, Ta. Ini buktinya! Aku gak pernah usik kalian lagi."
Kepala Rangga menggeleng. Anggita masih terpaku menatapnya.
"Maka dari itu aku gak mau kamu deket si Gilar. Dia bisa bikin kamu dalam bahaya kayak tempo hari, Ta!"
"Kamu temennya si Erik, kan? Kamu tahu dia siapa?"
Rangga mematung. Anggita menatapnya semakin tajam. Masih ada keraguan bahwa Rangga tak ada sangkut pautnya akan kejadian dua hari ini. Mengingat ia dan Erik sempat menjadi teman saat di kelas X dulu.
"Itu kan dulu waktu di kelas sepuluh, Ta. Sekarang udah gak ngobrol sama dia lagi pas pisah kelas."
Kepala Anggita menggeleng. Ia bangkit dari duduknya sembari mengambil buku tulisnya. Setelah menepuk punggung Gladis beberapa kali, ia melangkah keluar kelas. Rangga mematung. Tangan kirinya mengepal erat sebuah pensil, terdengar suara patah yang membuat Gladis menoleh.
__ADS_1
"Balik sana ke bangku sendiri! Ganggu konsentrasi orang aja!" ujar Gladis ketus.
Rangga mendelik ke arahnya. Mengambil buku-bukunya serampangan. Mendengus kesal beberapa kali yang membuat seisi kelas menatapnya ngeri.
Fajar mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Gladis.
"Gita kemana?" tanyanya kemudian setengah berbisik.
Gladis menoleh.
"Ngumpulin tugas ke ruang Guru. Udah itu mau ke UKS katanya. Kepalanya masih sakit!"
Fajar mengangguk-angguk. Buru-buru ia membereskan bukunya dan melangkah keluar kelas. Randi yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya memilih bungkam.
Namun, tak lama setelah Fajar keluar dari kelas. Gladis tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya. Kepala gadis itu celingak-celinguk sebelum mendekatkan tubuhnya ke arah Randi. Randi terkesiap.
"Kamu tahu si Fajar sama si Gita jalan bareng semalem?" tanya Gladis setengah berbisik.
Mendengar hal itu, Randi beringsut mendekatkan diri ke arah Gladis.
"Mereka berdua?" tanya Randi tsk percaya.
Gladis mengangguk mantap, "Gita cerita. Kamu gak ngerasa ada yang aneh dari sikap si Fajar? Tiba-tiba kok ngajak Gita pergi. Cuma berdua lagi! Biasanya di obrolin bareng."
"Kamu cemburu?" Randi terkekeh.
"Idih! Bukan cemburu. Tapi curiga!"
Kening Randi mengernyit. Gladis menyeringai padanya.
***
Anggita merebahkan diri di ranjang dengan posisi setengah duduk. Punggungnya bersandar penuh ke kepala ranjang. Fajar berdiri di dekat jendela tak jauh dari sana. Sesekali memandang ke arah luar dan ke arah Anggita.
"Kamu masih curiga itu ulah si Rangga?" tanya Fajar sembari menarik kursi yang ada di dekat lemari P3K. Menyeretnya ke dekat ranjang tempat Anggita merebahkan diri.
"Iya, Faj. Aku yakin dia pasti tahu siapa si Erik. Terlalu masuk akal semua dugaanku!"
"Jangan suudzon terus ke si Rangga, Ta. Takutnya emang dia beneran gak ikut campur."
Anggita mendesak. Ia memejamkan matanya lekat seolah enggan membukanya lagi.
"Kangen Gilar."
Fajar mengulum bibirnya sendiri. Meremas erat kedua tangannya di atas paha.
"Katanya mau lupain dia, Ta."
Kepala Anggita menggeleng masih dalam posisi mata terpejam.
"Belum bisa, Faj. Ini belum sehari kok!"
Anggita membuka matanya. Menoleh ke arah Fajar dengan wajah memelas.
"Wajar kan kalau aku tiba-tiba kangen dia?" Anggita membela diri.
Fajar memaksa kedua ujung bibirnya untuk tersenyum. Menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai respons. Jika saja ia bisa membuat Anggita lupa ingatan tentang perasaannya pada Gilar, akan ia lakukan apa pun caranya.
Melihat gadis itu termenung sembari menatap tangannya sendiri, membuat Fajar di landa cemburu dan khawatir. Ia tak tahu jelas apa yang terjadi pada Anggita dan Gilar di gang ruko itu. Tahu-tahu mereka lari terbirit di ikuti sekelompok orang tak di kenal yang lebih terlihat seperti gerombolan preman.
Namun, meski kejadiannya itu membuat Anggita sendiri dalam bahaya, gadis itu tampak semakin terlihat menyukai Gilar. Mengkhawatirkan lelaki tanpa peduli dirinya sendiri. Sampai rela terkena pukulan hanya demi melerai perkelahian dua lelaki yang entah apa masalahnya.
"Ada gak yah cara instan bikin lupa ingatan sama Gilar, Faj? Udah jalan jauh ke pantai, tetep aja ingetnya Gilar terus."
Berkali-kali keluar napas berat dari mulut Anggita. Gadis itu terkadang termenung sendiri menatap langit. Namun, kembali memandang kedua tangannya yang kemudian ia angkat tinggi-tinggi. Tak jarang ia juga menepuk-nepuk pipinya sembari merutuk diri agar segera melupakan Gilar.
Fajar meremas tangannya sendiri. Membulatkan tekad bahwa perasaannya pun tak salah. Ia hanya ingin Anggita baik-baik saja dan melupakan Gilar yang hampir mencelakainya. Rangga benar! Dekat dengan Gilar bisa membuat Anggita terus-menerus dalam bahaya. Belum menjadi pacar secara resmi saja, Anggita sudah berhadapan dengan bahaya. Entah apa jadinya jika gadis itu dan Gilar benar-benar resmi berpacaran.
Tidak! Fajar tidak mau gadis itu dalam bahaya lagi. Ia beringsut mendekati Anggita, duduk di pinggiran ranjang tempat gadis itu masih merebahkan diri. Anggita memandangnya keheranan. Fajar menatapnya lekat sembari memantapkan hati.
"Git, kamu mau ngabisin waktu lebih banyak bareng aku, Ga?" tanya Fajar kemudian.
Kening Anggita mengernyit. Ia memilih diam menunggu lelaki itu meneruskan kalimatnya.
"Ke mana pun kamu mau pergi, ajak aku. Kapan pun aku akan siap. Kalau perlu, mulai sekarang aku antar-jemput kamu tiap ke sekolah. Tiap istirahat biar aku yang beli makanan di kantin, terus kita makan bareng-bareng di kelas. Gimana? Kamu mau?"
__ADS_1
Fajar memandangnya lekat membuat gadis itu mematung. Keheningan melanda keduanya.