TEOREMA GRAF

TEOREMA GRAF
BAB 11 PERNYATAAN AMBIGU


__ADS_3

Anggita duduk berhadapan dengan Randi di sebuah meja berkursi empat. Begitu minuman dan makanan yang mereka pesan tersaji, Anggita langsung melahap makanan itu. Randi yang melihatnya hanya tersenyum.


"Saya bilang juga apa! Makan enak yah di tempat kayak gini!" ujar Randi bangga. Melipat kedua lengannya tepat di depan dada.


Anggita tak menggubris. Ia sibuk melahap makanannya yang tinggal sisa setengahnya. Rasa laparnya sudah sedikit menghilang.


"Makasih, Ran," ujar gadis itu kemudian.


"Saya bilang juga apa! Gilar pasti baik-baik aja! Ketua geng motor masa kalah sama preman jalanan?" ledek Randi.


Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah meja, memangkas jarak di antara keduanya. Anggita termangu.


"Kamu beneran suka sama si Gilar, Ta?" tanyanya kemudian.


Anggita menggeleng, "ngomong apaan sih!" ia berdalih.


"Gak usah ngeles! Udah keliatan kok. Kamu waras, kan?"


"Aku pintar! Juara dua umum di SMA Marga!" Anggita pamer.


"Pinter-pinter kok sukanya sama anak geng motor!" Randi meledeknya lagi.


Anggita berdecak, "kita cuma temenan doang kok. Kalian aja yang asumsinya terlalu berlebihan!"


Asumsinya sendiri pun berlebihan.


"Sikap kamu itu tuh yang berlebihan, Ta. Udah deh gak usah sok pinter buat bohongin perasaan sendiri. Rencana kamu apa setelah ngalamin kejadian ini? Masih mau suka sama dia? Huh!" tantang Randi.


Kunyahan Anggita memelan. Kejadian tadi siang nyatanya bukanlah mimpi buruk. Semua terjadi begitu cepat. Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba Gilar muncul dan langsung duduk di samping Anggita. Wajah lebamnya sudah tak terlalu parah. Bajunya pun sudah berganti tak lagi seragam yang penuh noda tanah.


"Hai, Ran!" sapanya kemudian.


Randi berpaling. Gilar menoleh ke arah Anggita yang memilih menyantap makanannya yang masih tersisa. Melihat kondisi gadis itu yang masih memakai seragam sekolah di balik jaket hitam yang entah milik siapa, ada rasa sesal dan marah datang bersamaan. Ia bertekad akan menemukan dalang di balik kejadian tadi siang. Meski ia tahu bahwa sasaran sesungguhnya pasti dirinya, namun ia tak habis pikir mereka akan melakukannya saat ia tengah bersama teman sekelasnya, bukan teman segengnya. Gilar tak bisa menerima hal itu.


Ia tak pernah mau mencampur adukkan urusan pribadinya hingga menyeret teman-temannya yang tak bersalah, terutama Anggita. Gadis yang kebetulan memergokinya pantaslah ketakutan. Sudah sewajarnya gadis itu menyusul dirinya yang menghilang tiba-tiba. Apalagi keduanya baru hari ini bisa kembali bertegur sapa.


"Jaket siapa ini, Ta?" tanya Gilar.


Anggita mengarahkan jari telunjuknya ke arah Randi. Kedua lelaki itu berpandangan canggung.


"Lepasin, Ta!" pinta Gilar.


"Gak usah! Di pakai aja. Kasihan! Dia duduk lama di depan perpustakaan tadi gara-gara nunggu orang yang tiba-tiba ngilang entah kemana!" sindir Randi yang mampu membuat Gilar membeku.


"Lepasin aja kalau kamu gak nyaman, Ta!" pinta Gilar lagi.


"Gak usah! Gak usah di balikin sekalian. Pake nyampe rumah! Udah itu, mau kamu buang atau simpen juga terserah. Saya gak akan nanyain lagi!" Randi keukeuh.


Ia bangkit dari duduknya. Sejenak memandang keduanya yang duduk berdampingan. Ada perasaan iba menggelayutinya melihat keadaan Anggita yang jauh dari kata normal. Rambutnya terikat tak beraturan. Wajahnya sembab dan lusuh. Belum lagi cara makannya seperti orang kelaparan. Randi berdecak sebal.

__ADS_1


"Saya pulang kalau gitu! Antar anak ini pulang nyampe rumahnya!" Randi menjulurkan ujung telunjuknya tepat ke arah Anggita, "awas kalau kamu apa-apain dia!" ancamnya pada Gilar.


Gilar hanya menggerakkan alis matanya. Tersenyum lebar hingga gigi putihnya terpampang.


***


Entah sudah berapa kali Anggita memesan makanan di tempat itu. Gadis itu bolak-balik ke meja kasir dan ke meja itu hanya untuk memesan dan mengambil makanannya. Gilar yang menyaksikannya terkadang tersenyum, namun juga kebingungan. Tak ada sepatah kata apa pun yang keluar dari mulut gadis yang kini berubah posisi duduk menghadapnya.


Gilar mencondongkan tubuhnya ke meja, "Ta, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Gilar sembari memandang lekat Anggita.


Gadis itu belum menggubris. Memilih melahap makanannya hingga tandas. Di seruputnya jus jeruk di depannya hingga tak tersisa. Anggita membanting punggungnya ke belakang kursi, memperbaiki ikat rambutnya tanpa ekspresi. Gilar hanya memperhatikan tingkah gadis itu dengan saksama. Berharap ia mau membuka suara meski hanya berupa umpatan, Gilar sudah siap.


Kedua tangan Anggita saling berpangku di atas meja. Wajahnya ia arahkan ke arah Gilar hingga membuat lelaki itu mengikuti gaya duduknya.


"Gak ada yang mau kamu jelasin, Gil?"


Gilar tahu Anggita bukanlah gadis bodoh yang akan berpura-pura menganggap kejadian tadi siang hanya mimpi buruk belaka. Juga bukan gadis manja yang terus menerus merengek dan menangis minta pulang setelah mengalami kejadian yang hampir menghilangkan nyawanya. Anggita baginya adalah gadis pintar, penuh rasa penasaran dan kadang ceroboh seperti tadi siang. Ia bukanlah gadis pintar kutu buku yang cupu, gak gaul, dan penakut.


"Gak ada, Ta. Aku juga masih nyari tahu siapa mereka," ungkap Gilar jujur.


Meski kecurigaannya berpusat pada Rangga, tapi ia belum memiliki alasan kuat untuk menuduh bahwa lelaki itulah dalang di balik semuanya. Apalagi mengingat beberapa bulan terakhir ini, Rangga tak lagi merisak gadis itu. Tak lagi mengekor ke mana pun Anggita melangkah. Tak ada lagi gosip merebak bahwa Rangga lagi-lagi beradu mulut dengan gadis itu.


Apalagi Anggita selalu melewati hari-harinya di kelas dengan tenang. Selalu ia perhatikan Anggita lebih sering bercanda dengan Gladis. Ketimbang dulu saat duduk bersamanya, ia lebih sering berseteru tegang dengan Rangga yang selalu datang menghampirinya tiba-tiba.


Berulang kali ia melihat Anggita menghela napas. Berulang kali juga ia melihat Anggita menoleh ke kiri dan ke kanan seolah tengah waspada. Gadis itu masih di landa ketakutan.


Gadis itu tak bergeming selain memandang kedua tangan mereka yang kini saling bertumpukan di meja.


"Maaf. Ini semua gara-gara aku." ungkap Gilar kemudian.


Anggita mendongak, "aku tahu, Gil. Makannya aku mau tahu, siapa mereka? Ada masalah apa sama kamu? Dan ...."


Gilar meremas tangannya erat. Gadis itu terdiam. Sekilas ingatan tadi siang berkelebat di kepalanya. Di tengah kekalutan akan ancaman lelaki berjaket kulit hitam yang hendak mengajaknya berkenalan, tangan keduanya saling menggenggam erat. Anggita yang ketakutan dan Gilar yang mencoba menenangkannya.


"Aku gak tahu siapa mereka. Kamu gak usah khawatir, Ta. Semua baik-baik aja kok!"


Gilar menatap gadis itu lekat. Berharap ia tak lagi mengintrogasinya dan mengingat kejadian tadi siang. Gilar berharap gadis itu mendadak bodoh dan pikun. Menganggap kejadian yang dialaminya tadi siang hanya mimpi buruk semata.


Anggita melepaskan tangannya. Menjauhkannya dari genggaman Gilar. Raut wajahnya mengeras meski beberapa rintik air mata mulai meleleh di pipinya. Anggita mencoba tegar dan kuat. Ia tepis semua ketakutan yang menggelayutinya seharian ini.


"Keluar dari geng motor, Gilar!" pinta Anggita dengan suara lirih.


Tak dapat ia bendung lagi air mata yang harusnya di lihat Gilar sejak tadi. Rasa ketakutan itu membumbung tinggi di hatinya. Ia takut dan tak ingin melihat Gilar seperti siang tadi.


Isak gadis itu membuat Gilar membeku. Permintaan Anggita bukanlah permintaan yang mudah. Ia juga tak ingin membuat gadis di hadapannya terus menerus menangis dalam ketakutan. Gilar menarik pelan tangan Anggita, menggenggamnya seerat mungkin. Semoga Anggita paham bahwa ia akan baik-baik saja karena ini urusan pribadinya.


"Aku janji bakalan jaga kamu, Ta. Kamu gak akan ketemu mereka lagi! Aku janji!" ujar Gilar penuh tekad.


"Kamu yakin bisa pegang janji itu?"

__ADS_1


Anggita memandang Gilar lekat.


"Kamu aja tadi babak belur di keroyok mereka! Gimana kalau tiba-tiba mereka dateng lagi? Ngelakuin hal yang sama! Gimana caranya kamu bisa jaga aku, kalau membela diri kamu sendiri aja gak bisa? Huh!"


Gilar hanya terdiam. Ia biarkan Anggita mengeluarkan semua ketakutannya. Wajar. Sekalipun bukan Anggita yang mengalami, siapa pun gadis yang mengalami kejadian sepertinya pasti akan muntab. Ketakutan. Khawatir.


"Keluar dari geng motor! Semua itu gak bikin kamu jadi keliatan keren, Gil. Berantem, tawuran, adu jotos, semua itu gak bikin kamu jadi pahlawan! Kamu gak jauh beda kayak penjahat, Gilar. Membahayakan diri kamu sendiri dan orang di sekitar kamu! Kamu gak bisa ngelindungin siapa pun termasuk aku! Kamu bukan pahlawan super, Gilar. Kamu anak remaja, anak sekolahan, manusia biasa yang masih butuh perlindungan dari orang tua dan orang dewasa."


Kepala Gilar menunduk. Lelaki itu tak menyangka Anggita akan menceramahinya, bukannya menebar ketakutannya sendiri dan menangis karena ingin menjauh darinya. Gadis itu malah membuatnya tak berkutik. Gadis itu membuat jiwa kepemimpinannya seolah di lucuti.


"Aku gak mau lihat kamu babak belur lagi, Gilar ...," suara Anggita melirih.


Anggita ingat betul ini bukan pertama kalinya ia melihat wajah Gilar di polesi gincu biru dan merah yang hampir permanen. Menjadi teman sebangku lelaki itu selama setengah semester lamanya bisa di bilang menjadi masa paling menjengkelkan dan juga penuh kekhawatiran. Bukan hanya sekali Gilar datang ke sekolah dengan wajah serupa badut di pinggir jalan raya. Awalnya Anggita ketakutan setengah mati. Ia ingin lari sekencang-kencangnya menjauh dari cengkeraman sang Ketua Geng motor. Bayangan bahwa bisa jadi ia di lindas tangan-tangan terkepal dan bernasib sama seperti Gilar menghantui hari-harinya. Berada duduk di samping lelaki itu tak ubahnya seperti berdiri di pintu kandang singa yang kelaparan.


Namun, lambat laun perasaan takut itu malah menjelma menjadi perasaan khawatir. Sikap Gilar yang selalu baik padanya, menghormati statusnya sebagai seorang perempuan, tak pernah sekalipun berkata kasar ataupun berbuat kasar seumpama yang dilakukan Rangga padanya. Membuat hati Anggita diam-diam menaruh rasa suka padanya. Di lingkungan sekolah, terutama di kelas, sikap Gilar sama seperti murid lainnya. Patuh dan hormat pada Guru, berteman dengan siapa pun, berbuat baik pada teman sekelas, suka menyontek, malas mengerjakan tugas, nilainya kalang kabut, suka tiduran jika kelas dirasa membosankan. Namun satu hal yang pasti, Gilar tak pernah membawa masalah gengnya ke dalam lingkungan sekolah. Tiap tawuran yang ia gawangi hanya beratasnamakan Geng Motor XXX bukan nama sekolahnya.


Gilar menangkupkan satu tangannya lagi untuk menggenggam tangan gadis itu. Ia kehabisan kata-kata. Tak habis pikir Anggita ternyata tengah mengkhawatirkan dirinya ketimbang dirinya sendiri. Sikap kuat gadis itu semakin melucuti jiwa ketua geng motor yang menyemat di dirinya. Tak pernah ia harapkan ada seseorang yang mengkhawatirkan dirinya.


"Aku mohon, Gilar ...."


"Gita ...," sekuat tenaga Gilar membuka suara, "aku gak bisa keluar dari geng motor. Maaf .... Tapi, aku janji. Sungguh! Kamu gak akan ngalamin kejadian kayak gini lagi. Aku janji, Gita! Aku janji!"


Anggita kembali terisak. Kepalanya tertunduk lesu. Ia sudah menyangka permintaan konyolnya agar Gilar mau keluar dari geng motor adalah hal yang sia-sia. Dia bukan siapa-siapa bagi Gilar! Dia hanya orang yang menyukai lelaki itu secara sepihak. Gilar tak akan mau menyanggupi keinginannya. Siapa Anggita? Dia hanya mantan teman sebangku Gilar. Bukan pacarnya! Bukan siapa-siapa!


Kedua tangan Gilar terus menerus menggenggam tangan Anggita erat, enggan melepaskannya. Meski terbilang lancang, ia hanya ingin meyakinkan gadis itu bahwa ia bisa melindunginya. Ia adalah Gilar yang akan selalu ada untuk seorang Anggita. Anggita bisa mengandalkannya. Akan ia lindungi gadis itu dengan segenap jiwa raganya. Meski tahu, bahwa ia bukanlah siapa-siapa bagi gadis itu. Rasa suka yang ia tanam untuk Anggita begitu sulit terealisasikan. Selalu ada saja keadaan yang membuatnya menjadi lelaki rendah yang tak pantas memiliki Anggita.


"Gita, aku sayang sama kamu!"


Anggita mendongak. Memandangnya lekat. Telinganya tidak salah mendengar, kan? Apa ini bentuk pernyataan cinta yang ia tunggu?


"Tapi, maaf. Aku gak bisa pacaran sama kamu, Gita."


Anggita mematung. Ia bingung harus bereaksi seperti apa akan pernyataan manis yang diakhiri dengan pernyataan pahit. Ia tak tahu apa ini yang di sebut pernyataan cinta? Tapi, kenapa ia tidak bisa berpacaran dengannya? Kenapa? Apa alasannya?


Anggita ingin lebih banyak melontarkan pertanyaan atas pernyataan Gilar yang ambigu. Namun, kedua tangan Gilar yang perlahan melepaskan diri darinya membuat Anggita urung. Membuatnya lagi-lagi bertugas sebagai penerka ulung. Membuat perasaan gadis itu lagi-lagi di gawangi rasa bingung.


Gilar bangkit dari duduknya. Melangkah menghampiri Anggita yang masih mematung. Tangan kanan lelaki itu terulur di depannya. Mata Anggita memandangnya lekat.


"Aku antar kamu pulang yah, Ta." ujar Gilar kemudian.


Sesaat Anggita terdiam. Meski ragu, dengan perasaan yang semakin tak jelas, Anggita memilih membalas uluran tangan itu. Menggenggamnya tanpa banyak memedulikan alasan apa pun.


Untuk saat ini saja, pikir Anggita. Biarkan ia menikmati kebersamaannya bersama Gilar. Kebersamaan yang semakin hari malah semakin sukar untuk dilakukan. Hanya sekedar bertegur sapa pun terasa sulit. Untuk bercengkerama ringan seperti dulu pun sangat sulit. Untuk saat ini saja. Tak bolehkah ia menikmati kebahagiaan yang mungkin saja akan segera dilenyapkan oleh kedatangan bencana seperti tadi siang?


Motor melaju kencang menembus angin malam. Anggita membiarkan kepalanya bersandar di punggung Gilar, sedang kedua tangannya menjawil ujung baju lelaki itu. Gilar tak bergeming. Keduanya hanya saling terdiam sepanjang perjalanan. Membiarkan kesunyian malam semakin senyap dan kosong.


Untuk hari ini saja. Anggita ingin memiliki Gilar.


Untuk hari ini saja. Gilar ingin memiliki Anggita.

__ADS_1


__ADS_2