
"Perasaan apa ini?" pikir Robert. Demikian juga halnya dengan Camelia yang sesungguhnya sudah merasakan sangat nyaman jika bersama dengan kakak angkatnya itu.
Camelia segera memakai gaun sederhana dengan panjang di bawah lututnya. Ditatapnya pantulan bayangan dirinya di depan cermin besar di kamarnya. Sedikit make up dan pemerah di bibirnya menambah kecantikan Camelia yang alami.
"Kenapa tiba-tiba jantung ku berdebar hebat saat berdekatan dengan kak Robert. Kak Robert memiliki badan yang atletik nyaris sempurna dengan wajah oval nya yang matang. Apakah aku menyukai kak Robert?" pikir Camelia di saat Camelia bersekolah menengah atas kala itu.
"Ah tidak tidak! Kak Robert sudah menganggap aku adik nya demikian juga halnya dengan aku. Ini tidak mungkin," kembali Camelia gelisah dengan perasaan nya.
Kembali ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunan Camelia. Camelia membuka pintu kamarnya itu. Satu pelayan datang dengan senyuman lebarnya menatap Camelia remaja.
"Non, kata tuan muda Robert, nona jangan lama-lama. Tuan muda Robert sudah menunggu di bawah untuk makan malam bersama dan luka kecil yang tadi jatuh dari motor hendak diobati oleh tuan muda Robert," ucap pelayan yang bekerja di markas geng ular tersebut.
"Baik bibi! Ini aku juga hendak turun ke bawah! Aku sudah selesai kok," kata Camelia. Camelia bersama salah satu pelayan itu berjalan turun menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
__ADS_1
Robert menatap dan mendongak ke atas tatkala Camelia remaja sedang menuruni anak tangga dengan gaun sederhana nya. Camelia remaja sudah terlihat semakin anggun dan cantik.
"Dia sudah tumbuh menjadi gadis yang anggun dan cantik. Camelia kecilku kini sudah tidak lagi kecil. lagi. Kini Camelia sudah tumbuh menjadi gadis perawan yang ranum dan siap panen," pikir Robert dengan tersenyum kecil.
"Kakak, maaf! Tadi aku aku harus membersihkan luka-luka kecil di tangan dan kakiku. Jadi sedikit lama di kamar," alasan Camelia kepada Robert. Robert menarik kursi di ruang makan itu untuk Camelia. Camelia menyipitkan bola matanya melihat sikap manis dari kakak angkatnya itu.
"Kakak, kenapa repot-repot sih? Aku bisa sendiri!" ucap Camelia yang membuat Robert semakin gemas. Rasanya ingin menggigit pipi atau hidung mungil milik adik angkatnya itu. Ah, jantung itu hendak lepas lagi dari tempat nya. Rasanya gemuruh dan bergenderang tidak menentu.
"Cukup kakak! Jangan banyak-banyak! Kakak ingin membuat aku gendut seperti b@bi?" protes Camelia. Robert tersenyum lebar. Kini Robert terkekeh melihat mulut mungil itu maju satu senti.
"Tapi kakak suka kalau kamu gemuk dikit. Itu akan membuat kamu semakin padat dan seksi. Eh ups," kata Robert tanpa kontrol. Hal ini membuat Camelia remaja saat itu menjadi melebar matanya dengan sempurna.
"Eh, maksudnya kamu biar semakin besar dan sehat. Tidak mudah jatuh dari motor seperti tadi kalau terlalu kurus," ralat Robert. Camelia tersenyum menunjukkan manisnya wajah itu.
__ADS_1
"Setelah makan, aku akan mengobati luka-luka kamu yang jatuh tadi," ucap Robert.
"Tadi sudah aku obati sendiri kok, kak!" sahut Camelia sambil memakan makanan nya. Robert pun ikut menyendok makanan nya.
"Apakah kamu sudah memberi obat antiseptik supaya tidak infeksi?" tanya Robert.
"Hem, tadi aku sudah memberikan obat merah doang," sahut Camelia. Robert hanya menepuk jidatnya sendiri.
"Kamu selalu sembrono dan gegabah. Menyepelekan luka kecil. Luka kecil itu bisa menjadi parah jika tidak kita obati dengan benar. Mengerti?" ucap Robert.
"Iya, kakak!" sahut Camelia.
"Nah, gitu dong! Kakaknya mu ini tidak ingin melihat jika kamu kenapa kenapa. Oke?" kata Robert.
__ADS_1