TERJEBAK DI MARKAS MUSUH

TERJEBAK DI MARKAS MUSUH
AWAL JADIAN


__ADS_3

"Kamu selalu sembrono dan gegabah. Menyepelekan luka kecil. Luka kecil itu bisa menjadi parah jika tidak kita obati dengan benar. Mengerti?" ucap Robert.


"Iya, kakak!" sahut Camelia.


"Nah, gitu dong! Kakaknya mu ini tidak ingin melihat jika kamu kenapa kenapa. Oke?" kata Robert.


Setelah Robert dan juga Camelia menyelesaikan makannya, Robert mengajak Camelia duduk di balkon ruangan pribadi nya. Duduk di atas kursi rotan sintetis Camelia diam dengan menahan perih karena luka-luka kecil karena terjatuh dari motor nya tadi dibersihkan oleh Robert setelah itu diberinya salep supaya luka-luka itu cepat mengering. Camelia meringis saat luka itu diobati dengan salep. Robert meniupnya pelan supaya mengurangi rasa sakit dan perih yang dirasakan oleh Camelia.


"Seperti ini apakah perih?" tanya Robert dengan mata bulatnya. Mata indah Camelia menatap sayu ke bola mata Robert.


"Hem, ini sudah lebih baik," sahut Camelia dengan menarik bagian tangannya karena bagian siku lah yang tadi tergores luka di sana. Bagian itu pasti akan lama keringnya makanya Robert memberikan salep supaya cepat mengering luka itu.


"Ceritakan kepadaku kenapa kamu tadi tiba-tiba bisa jatuh dari motor? Siapa yang menabrak kamu, hem?" tanya Robert pelan.


"Kakak, tidak perlu dibahas lagi. Kejadiannya sudah berlalu dan terjadi. Ini murni kecelakaan saja," kata Camelia.


"Hanya bercerita kenapa bisa jatuh dari motor, kenapa susah sekali sih?" protes Robert.


"Kakak, hanya kerikil saja yang membuat aku jadi terjatuh. Sehingga keseimbangan aku mengendarai motor jadi oleng. Itu saja!" jelas Camelia berbohong. Padahal kenyataannya ada motor lain yang dengan ugal-ugalan menyerempet dirinya.

__ADS_1


"Ya sudah! Lain kali hati-hati jika mengendarai motor. Setelah ini aku akan mengajari kamu menyetir mobil. Ini akan lebih melindungi tubuh kamu dari goresan seperti ini," ucap Robert terlalu mengkhawatirkan adik angkatnya itu.


"Hem, ya sudah kamu bisa kembali ke kamar kamu!" tambah Robert lagi.


"Hem, terimakasih kakak!" sahut Camelia.


Camelia segera berdiri dan hendak meninggalkan balkon yang terletak di luar ruangan pribadi Robert. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan kembali menengok ke arah kakak angkatnya itu.


"Hem, ada apa Camelia?" tanya Robert yang menangkap Camelia menatap dirinya dengan pandangan aneh.


"Terimakasih kak! Hem, aku boleh memeluk kamu tidak kak?" ucap Camelia. Robert tersenyum lebar. Kini kedua tangannya terbuka lebar siap menerima tubuh Camelia yang ingin memeluk dirinya. Camelia kini menghambur memeluk kakak angkatnya itu.


"Kakak, jantungku berdebar hebat! Apakah aku mencintai kakak?" ucap Camelia pelan sambil tertunduk kepala nya. Robert menyipitkan matanya. Perasaan nya sama dengan apa yang dirasakan oleh Camelia.


"Kata temanku di sekolah jika laki-laki dan perempuan bertemu dan detak jantung kita berdebar hebat, itu artinya kita sedang jatuh cinta. Tapi gak mungkin kan jika aku jatuh cinta dengan kakak? Kita kan adik kakak? Benar kan kak?" ucap Camelia yang tanpa sungkan mengutarakan semuanya kepada Robert. Robert berusaha menahan segala sesuatu yang menyesakkan jantungnya.


Robert dengan pelan dan berani mendekatkan wajahnya ke wajah Camelia. Kini kedua nafas mereka saling bertukar. Bibir Robert mulai di dekatkan ke bibir Camelia. Tiba-tiba saja dengan nekat Robert mengecup bibir yang belum pernah mendapatkan ciuman itu. Hanya menempel saja tapi rasanya membuat Camelia seketika darahnya memanas. Wajah itu tiba-tiba merona merah seperti kepiting rebus.


"Kembali ke kamar kamu, Camelia!" perintah Robert akhirnya. Camelia masih mematung dan tidak mengerti maksud dengan ciuman di bibir itu.

__ADS_1


"Kakak," kata Camelia pelan.


Robert sedikit menjauh dari Camelia dan berdiri di sudut balkon menatap langit malam yang bertaburan bintang. Camelia memberanikan diri memeluk Robert di belakang tubuh nya yang kekar.


"Kakak, aku menyukai kakak. Apakah kita tidak boleh berpacaran?" tanya Camelia dengan berani. Robert ingin menolak semua nya. Tentu saja dia tidak ingin menjadikan Camelia istri karena rahasia terbesar yang belum diungkapkan adalah orang tua Camelia sendiri telah mati dibunuh oleh dirinya.


"Kakak, aku mau kita berpacaran. Kakak mau kan? Kakak juga menyukai aku kan? Buktinya tadi kakak tiba-tiba mencium ku. Katakan kak, jika kakak menyukai aku juga?" ucap Camelia. Robert membalikkan tubuh nya kini mereka saling berhadap-hadapan.


"Kakak, kita bukan kakak adik sedarah bukan? Jadi aku ingin menjadi pacar kakak Robert," ucap Camelia.


"Gadis kecil. Kamu sebenarnya dari dulu aku anggap adik kecilku yang cantik. Sekarang balik ke kamar kamu dan istirahat lah!" perintah Robert.


"Tidak mau! Kakak belum menjawab ku! Pokoknya kakak harus mau menjadi pacarku. Titik!" kata Camelia.


Cukup lama mereka saling pandang dan kini Camelia nekat meraup bibir Robert seperti sedang mempraktikkan video berciuman yang pernah Camelia lihat. Sesaat Robert semakin menderu jantung nya dengan kencang. Tentu saja Robert semakin belingsatan tidak bisa menolak nya. Perasaan nya sebenarnya sama namun Robert ingin menepisnya. Akhirnya ciuman itu saling berbalas dan dengan pelan Robert melepaskan nya.


"Baiklah! Kita pacaran sekarang! Kamu kembalilah ke kamar kamu," kata Robert kembali. Tentu saja Robert tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih dari ciuman itu. Robert ingin menjaga Camelia. Menjaga seperti adiknya sendiri. Ah ini terlalu indah kalau hanya sekedar hubungan adik dan kakak saja. Walaupun mereka bukan sedarah.


Setelah kejadian itu antara Robert dengan Camelia resmi berpacaran sampai saat ini. Namun Camelia sudah terjebak di markas geng kepala naga. Kini Robert lah yang mulai merasakan kehilangan akan sosok Camelia yang biasanya di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2