
Di markas geng ular.
"Kak Robert! Apakah di bagian ini masih sakit?" tanya Camelia sambil mengusap bagian yang saat ini sudah diperban setelah dia timah besi yang bersarang di bagian paha milik Robert itu diambil dengan operasi kecil oleh dokter kepercayaan Robert.
Tentu saja tembakan yang dilakukan oleh Koko itu dilakukan sebagai balasan karena Robert dengan sengaja menembakkan bagian paha kiri milik Nagata. Mata di balas mata, kaki di balas kaki, sampai dengan nyawa di balas dengan nyawa. Ini merupakan hukum alam di mana yang kuat akan selalu menang dalam menghadapi lawan yang lemah. Berbagai cara akan dilakukan juga demi mendapatkan kemenangan.
"Kamu salah menyentuh bagian yang sakit itu, Camelia ku. Di sini lah yang rasanya sakit jika aku mengingat kamu bersama pria itu beberapa waktu yang lalu," ucap Robert seraya menuntun tangan Camelia tepat di bagian jantungnya. Di sana Camelia mengusap dengan lembut.
__ADS_1
"Maaf, tanpa sengaja aku menyakiti kakak. Tapi semua itu bukan salah aku sepenuhnya. Kakak lah yang telah menyuruhku untuk masuk ke markas itu dan mendapatkan kelemahan mereka," kata Camelia.
"Benar! Aku telah melakukan kebodohan itu! Mengorbankan kekasihku hanya untuk kepentingan geng ular," sahut Robert. Laki-laki ini terlihat sangat pandai memainkan perannya supaya Camelia bersimpati dengan dirinya.
"Hai, geng ular juga sudah menjadi bagian dari kehidupan ku, kak Robert. Di mana aku tumbuh di tempat ini bersama kamu. Apakah kakak Robert masih tidak mempercayai aku?" kata Camelia. Di dalam hati Robert, dia tertawa penuh kemenangan. Betapa gadis di muda yang siap dihisap madunya itu sangat mudah dimanfaatkan dan diperdaya oleh dirinya.
"Hem, jujur aku sedikit meragukan itu Camelia. Yang aku lihat dari kedua bola mata kamu, kamu seperti sangat perhatian dengan pria itu," ucap Robert.
Kedua netra mereka bertemu. Pandangan Robert kepada Camelia penuh minat. Namun wajah Camelia seketika merona tatkala jari telunjuk Robert mengangkat dagu Camelia yang lancip. Kini didekatkan ke bibir mereka hingga saling menempel. Namun dengan cepat Camelia menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak Robert. Robert paham, gadis mungil yang saat ini sedang dalam pelukan nya itu masih original dan belum terjamah oleh nya. Namun Robert benar-benar ingin menjadi yang pertama sebelum ada pria lain yang akan merebut Camelia nya.
__ADS_1
Sebenarnya dahulu Robert hampir melakukan itu, namun penyerangan dari orang-orang geng kepala Naga yang dipimpin oleh Koko dan juga Aprilio telah mengacaukan ketenangan markas ular dan juga menggangu kesenangan nya. Kali ini Robert tidak mau gagal untuk menikmati bunga yang sudah mekar, ranum itu untuk diciumi dalam setiap aroma nya yang semerbak di dalamnya.
"Kak Robert, bolehkah aku bertanya satu hal dengan kakak?" tanya Camelia yang masih menikmati kehangatan didalam dada bidang milik Robert. Robert masih mendekapnya. Mereka mengikis jarak dalam berpelukan manja layaknya pasangan kekasih yang ingin bermanja-manja.
"Kamu ingin bertanya soal apa, sayang, hem?" sahut Robert. Kini Robert mengangkat tubuh Camelia nya di atas pahanya. Kini Camelia nya merangkul kedua pundak Robert dengan bergelayut manja.
"Kak Robert dari dahulu masih belum memberitahu di mana letak mami papi ku di kuburkan. Sekarang ini aku sudah besar dan dewasa, kak. Aku ingin tahu dimana kedua orang tuaku di makamkan," tanya Camelia.
"Apakah kamu siap mendengarkan ceritaku? Tapi sebelum aku menceritakan semua nya aku ingin.... " ucap Robert. Camelia seketika saja terkejut saat Robert dengan tiba-tiba meraup bibirnya dan mulai melakukan aksi nakalnya menikmati bunga yang sudah mekar yang kini telah dikuasainya. Bahkan setiap inci bagian-bagian dari lekuk tubuh Camelia itu di usap serta disentuhnya. Camelia tidak melawan dan bahkan menolak nya. Serta merta Robert mengangkat Camelia nya menuju tempat tidur di ruangan pribadi nya. Dengan pelan merebahkan dan kembali mengungkung Camelia. Camelia memejamkan matanya seakan sudah siap dan pasrah jika malam itu, dia harus membuktikan cinta nya pada Robert.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Camelia ku! Buktikan jika kamu mencintai ku juga," bisik Robert.
"Hem, apakah harus dengan cara ini, kak?" tanya Camelia. Robert tidak menjawabnya. Kini Robert dengan pelan mulai mengeksekusi bunga mawar yang beraroma menantang itu dengan penuh gejolak dan hasrat. Camelia pasrah dan mulai menikmati segala sesuatu yang dilakukan oleh pria dewasa yang saat ini menciumi dirinya setiap inci lekukan tubuh nya yang indah dan seksi.