TERJEBAK DI MARKAS MUSUH

TERJEBAK DI MARKAS MUSUH
KEBOHONGAN


__ADS_3

Segera saja tanpa komando Koko menembak pangkal paha sebelah kiri milik Robert. Sedangkan Nagata segera berlari menaiki anak tangga mencari keberadaan Camelia. Walaupun kaki nya terlihat masih pincang karena tembakan waktu itu. Namun Nagata tidak memperdulikan itu.


"Aku tahu, Robert pelan-pelan akan menyakiti Camelia ku. Walaupun dia menanamkan seolah dirinya lah sang penolong Camelia dalam hidupnya. Padahal kenyataannya Robert telah membunuh kedua orang tua nya," gumam Nagata yang segera mencari Camelia ke setiap ruangan di lantai dua.


Dengan jalannya yang masih pincang, Nagata membuka tiap-tiap pintu kamar. Namun dirinya masih belum mendapati Camelia, adik angkat nya.


"Camelia! Camelia! Kau di mana? Di mana kamu?" ucap Nagata dengan berteriak.


Sampai akhirnya Nagata mendapati Camelia yang duduk dengan bersandarkan tembok di ujung ruangan. Nagata segera menghampiri nya.


"Camelia! Camelia! Ada apa dengan kamu?" ucap Nagata seraya merangkum kedua pipi Camelia yang terasa dingin.


Kedua kaki Camelia terlihat gemetaran seperti mengalami trauma hebat. Nagata sesaat langsung teringat akan kejadian kedua orang tua Camelia. Mungkin saja Camelia mengalami trauma ketika mendengar suara ribut dan kegaduhan tadi saat baku tembak antara anak buah Nagata dengan anak buah Robert.


"Minggir! Jangan bunuh! Jangan bunuh! Minggir! Menjauh!!" ucap Camelia dengan pandangan kosong.


"Hai, sadar Camelia! Ini aku Nagata! Aku Nagata, tidak akan menyakiti kamu! Aku di sini! Ayo ikut dengan aku!" kata Nagata. Untuk sementara waktu Nagata tidak ingin menjelaskan bahwa kekasihnya Atau laki-laki yang dicintai oleh Camelia adalah laki-laki yang telah membunuh orang tuanya atau papi mami nya.

__ADS_1


"Kak Nagata! Di mana kak Robert! Tidak aku tidak mau pulang bersama dengan kakak Nagata. Aku di sini dengan kakak Robert. Kakak Nagata sudah jahat dengan Kakak Robert," ucap Camelia. Nagata terbengong mendengar Camelia yang berusaha menolak nya untuk di ajaknya kembali ke markas.


Namun Nagata belum bisa menjelaskan semuanya saat ini.


"Ayo Camelia, ikutlah dengan aku! Apakah kamu tidak ingin bertemu dengan mommy Mawar. Mommy Mawar sangat menyayangi kamu, Camelia. Demikian juga dengan aku," kata Nagata berusaha memengaruhi Camelia supaya bisa ikut bersama nya pulang.


"Maaf, kak Nagata! Aku tidak bisa ikut dengan kakak. Sejak kedua orang tuaku meninggal, kak Robert lah yang telah membiayai hidupku. Sejak saat itu aku berjanji untuk selalu bersama dengan kak Robert. Apalagi sekarang ini kami saling mencintai. Apakah kakak Nagata tega hendak memisahkan aku dengan kakak Robert?" ucap Camelia. Kata-kata itu membuat sesak dada Nagata. Ini lebih menyakitkan daripada luka dari timah panas yang bersarang di paha nya kemarin.


"Tolong, Camelia! Ikutlah dengan aku! Aku akan menjelaskan semuanya, siapa sebenarnya yang membunuh papi mami kamu," terang Nagata. Tiba-tiba bola mata Camelia melebar dengan sempurna. Di tatapnya bola mata Nagata yang terlihat tidak ada kebohongan di sana.


Nagata dengan nekat menarik tangan Camelia dan paksa mengajaknya keluar dari ruangan pribadi itu. Ruangan pribadi Robert.


"Di mana kak Robert? Apakah kakak telah mencelakai kak Robert?" tanya Camelia dengan suara bergetar seperti sedang menahan kemarahan nya.


Kini Nagata bersama dengan Camelia telah berada di lantai bawah, di mana Robert masih meringis kesakitan tergeletak di lantai. Darah segar mengalir di bagian ujung paha kaki nya. Serta merta Camelia berlari menghampiri Robert yang sudah mulai sayu matanya.


"Kakak!" teriak Camelia seraya memeluk Robert. Terlihat senyuman lebar kini terlihat jelas di kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


"Camelia ku! Kamu jangan sekali-kali mempercayai ucapan laki-laki itu! Akulah yang telah menolong kamu saat kedua orang tua kamu dibunuh secara keji oleh mereka. Jika tidak? Dari dulu kamu akan dihabisi oleh mereka," kata Robert. Nagata, Koko dan juga Aprilio melebar matanya dengan sempurna.


"Kalian! Enyah lah dari tempat ini! Dan jangan lagi mengganggu kami!" teriak Camelia.


Kini Koko dan Aprilio segera memberi kode anak-anak buah dari geng kepala naga untuk meninggalkan tempat itu.


"Tuan muda! Lebih baik kita tinggalkan dulu tempat ini!" bisik Aprilio. Aprilio berpikir pasti tuan muda Nagata masih sangat berat jika harus pergi meninggalkan tempat itu jika tanpa Camelia bersama nya. Namun dengan semua apa yang didengar, Camelia masih Mempercayai ucapan Robert.


"Hai, tunggu apalagi? Pergi kalian dari sini atau..." ancam Camelia yang segera menyambar pistol yang berada di balik saku milik Nagata. Nagata tentu saja sangat terkejut dibuatnya. Robert tertawa penuh kemenangan.


Kini semua anak buah Nagata meninggalkan tempat itu. Demikian juga dengan Koko, Aprilio yang menarik paksa Nagata supaya cepat meninggalkan tempat itu. Kini menyisakan orang-orang anak buah Robert yang masih dalam posisi terikat tangannya. Camelia segera melepaskan ikatan salah satu orang dari mereka. Setelah itu mereka mulai membantu melepaskan ikatan kawannya yang lainnya.


"Segera panggilkan dokter!" perintah Robert. Anak buah Robert segera berhamburan mencari pertolongannya untuk Robert. Sedangkan Camelia masih menangis karena darah yang keluar dari pangkal paha milik Robert masih saja belum berhenti keluar.


"Kakak, bertahan lah!" ucap Camelia sambil memegang tangan Robert. Robert tersenyum lebar walaupun wajahnya sudah terlihat memucat.


"Aku selalu kuat jika kamu bersama aku, Camelia ku!" ucap Robert lirih. Sampai akhirnya Robert tidak sadarkan diri karena banyak darah yang keluar di luka tembak itu.

__ADS_1


__ADS_2