
Di pusat perbelanjaan di kota itu Nagata memanjakan Camelia dengan berbelanja barang-barang mewah yang diinginkan oleh Camelia. Sudah beberapa baju dengan model kekinian diangkut oleh Camelia. Di tambah Nagata sendiri jika suka dengan model dan warna baju wanita sekiranya cocok di badan Camelia, juga diangkutnya. Camelia berasa seperti tuan putri yang dimanjakan oleh seorang pangeran.
"Kita ke sepatu yuk!" ajak Nagata yang paling paham dengan kemauan seorang wanita. Dahulu ketika bersama Imelda pun, Nagata juga sama dalam memperlakukan wanita. Imelda selalu menjaga penampilan dan mengikuti model. Berbeda dengan Imelda yang suka sekali ke salon merawat wajah dan kulitnya. Namun Camelia tidak. Camelia lebih suka spa dan melakukan pijat tradisional. Ini lebih memanjakan tubuh nya dari pada capek-capek menunggu di salon. Sengaja Nagata mendatangkan terapis ke rumah untuk memberikan pelayanan terbaik untuk adik angkatnya itu. Namun jika sudah tiba mommy Mawar, Camelia digandeng nya pergi ke tempat kecantikan langganan nya.
Di saat hendak memilih-milih sepatu dan juga tas, Nagata seperti melihat Robert yang datang bersama seorang wanita muda. Namun Nagata ingin membuktikan apa yang sudah dilihatnya benar-benar seperti dugaan nya.
"Laki-laki itu! Benarkah tadi si Robert brengsek itu?" pikir Nagata.
"Kakak, antara tas ini lebih bagus yang mana?" tanya Camelia yang memperlihatkan dua tas dengan model dan warna yang berbeda kepada Nagata. Nagata masih memikirkan apa yang sudah dilihatnya tadi.
"Eh, hem ambil dua-duanya saja, dik! Setelah itu ambil sepatu dua atau empat," jawab Nagata seolah ingin cepat-cepat mengajak Camelia meninggalkan tempat itu.
"Baiklah! Ini bungkus saja mbak! Dan dua sepatu tadi pilihkan ukuran tiga puluh enam," kata Camelia seperti memerintah ke pelayan di toko tersebut. Nagata sudah terlihat gelisah.
"Aku tidak membawa senjata api. Semua tersimpan di dalam mobil," pikir Nagata yang mulai gelisah jika sewaktu-waktu orang-orang Robert mengetahui keberadaan nya dan ingin menyerangnya.
"Camelia! Apakah sudah semua nya? Ayo kita pulang!" ajak Nagata seraya menggandeng pergelangan tangan Camelia. Beberapa tas belanjaan telah dibawa oleh laki-laki muda anak buah Nagata yang mendampingi mereka. Laki-laki anak buah Nagata tersebut segera mengikuti Nagata bersama dengan Camelia keluar dari toko sepatu dan tas.
"Kak, kita lihat film yuk!" ajak Camelia. Nagata menyipitkan bola matanya.
"Nonton film? Ah, jangan sekarang! Eh em, bagaimana kalau kita lihat filmnya di studio kecil di rumah? Mau kan?" tolak Nagata yang enggan berlama-lama di pusat perbelanjaan di kota itu. Ini lantaran Nagata telah melihat keberadaan Robert dengan dua anak buahnya di tempat itu juga.
"Kakak, kita tidak pernah lihat film di XXI. Ayolah kak, sekali saja!" rengek Camelia berusaha mendesak.
"Camelia! Lain kali saja yah! Kakak tiba-tiba teringat harus bertemu dengan mommy. Ada sedikit urusan." Nagata bingung mencari alasan apa. Akhirnya walaupun terdengar tidak masuk akal, Nagata memilih alasan itu.
"Mommy Mawar? Apakah setelah ini kita akan ke rumah mommy Mawar, kak?" sahut Camelia.
Nagata menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nagata tentu saja sangat malas ke rumah mommy nya jika hari jumat sampai minggu seperti ini. Dan hari ini adalah hari jumat, biasanya mommy akan menikmati kebersamaannya bersama dengan pacarnya yaitu om Candra. Sedangkan Nagata tidak suka bertemu laki-laki dewasa itu. Tentu saja lantaran tidak menyetujui mommy nya menikah dan berhubungan dengan laki-laki manapun selain papi nya Niigata.
"Eh, em maksudku nanti aku akan menghubungi mommy untuk membicarakan masalah serius melalui sambungan telepon," kata Nagata akhirnya.
"Oh, baiklah! Ya sudah, hari ini kita hanya shoping saja. Padahal aku maunya kita nonton film juga, kak," ucap Camelia manja.
__ADS_1
"Nanti sepulang dari sini kita nonton film di studio kecil di rumah kita. Oke?" sahut Nagata berusaha membuat Camelia tidak kecewa.
"Baiklah kalau begitu!" ucap Camelia.
Camelia dan Nagata meninggalkan pusat perbelanjaan di kota itu. Dengan kecepatan sedang mobil itu dikemudikan oleh sopir pribadi Nagata.
🦋🦋🦋🦋🦋
Mobil itu kini melesat lebih cepat ketika didapati dua mobil mengikutinya. Ketika jalanan terlihat lenggang dan sepi. Ada suara tembakan terdengar dari belakang. Nagata menengok ke belakang dimana matanya sudah melihat orang di dalam mobil itu berusaha menembak ban mobil yang dikendarai nya.
Dor.
Dor.
Beberapa kali tembakan itu mengenai sasarannya. Mobil Nagata kini diluar kendali dan terguling hingga beberapa meter. Sampai akhirnya mobil itu dengan posisi miring menghantam pembatas jalan. Beruntung, itulah yang bisa dikatakan Nagata ada pembatas jalan yang menghentikan pergerakan mobilnya. Tentu saja sebelum kejadian itu Camelia berteriak dan merasakan ketakutan. Namun Nagata memeluknya erat.
Mobil milik Nagata bukan kaleng-kaleng. Namun Mobil mahal yang memiliki perlindungan yang kuat. Walaupun menghantam pembatas jalan dan sempat berguling-guling lantaran oleng karena keseimbangan nya hilang dikarenakan dua ban Mobil itu pecah lantaran tembakan yang beruntun.
Diantara laki-laki dewasa itu terselip Robert bersama seorang wanita muda nan seksi. Beberapa orang-orang anak buah Robert membantu mengeluarkan Camelia di dalam Mobil itu.
"Dia Robert! Kembalilah ada laki-laki itu!" ucap Nagata pelan.
Camelia menatap Nagata dengan banyak yang dipikirkan. Saat ini Nagata sudah dianggapnya sebagai kakak angkatnya. Apakah dirinya akan benar-benar kembali kepada Robert dengan geng ular nya? Sedangkan sudah hampir tiga bulan ini Camelia sudah terbiasa bersama kakak angkatnya itu di markas geng kepala naga.
Kini Nagata, Camelia serta salah satu anak buah Nagata yang menjadi sopir nya kini sudah dalam kepungan anak buah Robert atau orang-orang geng ular.
"Camelia!" ucap Robert seraya menarik tangan Camelia dan mendekapnya erat.
"Kak Robert!" sahut Camelia pelan. Dia sungguh-sungguh rindu dengan kekasihnya itu. Namun ada satu pasang mata yang menatap keduanya dengan api kecemburuan yang sudah meledak. Tentu saja Camelia tidak paham akan hal itu. Di mana Nagata sudah menyimpan rasa aneh dan getaran indah di jantung nya.
"Tangkap dua laki-laki itu dan masukan keduanya ke ruang bawah tanah ke markas geng ular kita!" perintah salah satu orang anak buah Robert. Nagata dan juga salah satu anak buah nya diikat kedua tangannya setelah keduanya melakukan perlawanan dengan tangan kosong. Senjata api nya ternyata tidak ada di dalam mobil. Siapa yang memindahkannya?
"Kakak Robert! Jangan sakiti kak Nagata! Selama ini kakak Nagata sudah berlaku baik dengan aku!" ucap Camelia dengan polosnya. Dalam hati Robert tentu saja tertawa sinis.
__ADS_1
"Hem, baiklah!" sahut Robert yang tidak ingin Camelia nya menjadi kecewa dengan dirinya. Kini Camelia melihat ke arah wanita seksi yang tadi datang bersama dengan Robert. Robert menangkap bola mata Camelia yang seperti mencurigai sesuatu.
"Dia Emily, orang baru yang akan mengajari kamu bela diri dan juga bagaimana menembak dengan jitu. Selain itu Emily akan menjaga kamu supaya orang-orang tidak akan mudah mengincar kamu," terang Robert. Camelia percaya. Karena ucapan Robert benar-benar menyakinkan dirinya.
"Sekarang ayo kita pulang! Aku sudah sangat merindukan kamu, Camelia!" bisik Robert seraya menggandeng pinggang Camelia masuk ke salah satu Mobil mewah yang tersisa di sana.
🦋🦋🦋🦋🦋
Nagata kini telah di masukkan di ruang gelap, pengap bawah tanah di markas geng ular. Kemarahan tentu saja hinggap dalam diri Nagata. Dirinya tidak menyangka jika mengajak Camelia bersenang-senang berbelanja di pusat kota sudah diincar oleh orang-orang anak buah Robert. Dan ditambah lagi yang menjadikan Nagata tidak habis pikir, senjata api yang biasanya dia simpan di dalam mobilnya tidak ada di sana. Hal ini menyebabkan Nagata kalah dalam perlawanan menghadapi musuh yang menyerangnya tiba-tiba. Apalagi dirinya sedang membawa Camelia yang notabene adalah kekasih dari Robert. Robert tentu saja tidak membuang kesempatan itu untuk merebut kembali Camelia dari jeratan Nagata di geng kepala ular.
"Aprilio pasti tahu jika aku sudah disekap oleh Robert. Robert pasti akan meminta tebusan pulau kecil itu yang sudah di tangan ku," pikir Nagata.
"Aku tidak perduli dengan pulau kecil yang tidak ada nilainya itu. Tapi bagaimana dengan Camelia ku? Apakah selamanya Camelia di tempat ini dalam pelukan Robert? Apakah aku tidak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan Camelia kembali?" gumam Nagata.
Suara langkah kaki dengan suara sepatu pria yang keras memenuhi ruangan bawah tanah mendekati Nagata yang di sekap di sana. Kini tampaklah seorang laki-laki yang menunjukkan senyuman seringai nya.
"Hai Nagata!" ucap Robert sambil menimang-nimang senjata apinya. Nagata menyipitkan bola matanya saat Robert mulai mengarahkan senjatanya ke bagian paha kiri milik Nagata.
Door!
Door!
"Akkkkkkkggggg!" Nagata berteriak kesakitan lantaran dua timah peluru itu sengaja ditembakkan di paha kiri Nagata. Robert tertawa terbahak-bahak di atas kesakitan Nagata yang meringis kesakitan karena tembakan tersebut.
"Maaf, tadi aku lupa memberikan kamu kenang-kenangan. Oh iya, itu sebagai balasan ucapan terimakasih ku karena kamu sudah memperlakukan Camelia ku dengan baik. Tentu saja aku harus memperlakukan kamu dengan baik karena permintaan Camelia ku," ucap Robert. Sedangkan Nagata mulai meringis kesakitan. Kini darah segar mengalir di daerah paha nya.
"Baiklah! Selamat bersenang-senang Nagata dengan kesakitan mu. Oh iya, sebentar lagi dokter akan mengobati dan mengambil peluru yang bersarang di paha kamu. Dan aku akan bersenang-senang dengan Camelia ku," kata Robert seraya melangkah pergi dati ruang bawah tanah itu dengan tawa yang penuh kepuasaan.
"Aisss sial!! Camelia!!" teriak Nagata meluapkan segala kekhawatiran nya jika gadisnya akan di jaman oleh Robert. Sedangkan dirinya selama ini masih selalu menjaga nya.
"Robert! Awas saja! Aku tidak akan diam. Kamu harus menerima balasan atas semua yang kamu lakukan terhadap aku dan juga Camelia ku. Dia Camelia ku! Bukan Camelia mu!!!" gumam Nagata sambil berusaha menghentikan pendarahan nya di bagian yang terkena tembakan. Dan benar apa yang dikatakan oleh Robert, dua orang dengan berpakaian putih tiba di ruangan itu dan mendekati Nagata.
"Robert!!! Aku tahu kamu akan membuat cacat kakiku! Awas saja, suatu hari aku akan membalasnya," gumam Nagata geram.
__ADS_1