TERJEBAK DI MARKAS MUSUH

TERJEBAK DI MARKAS MUSUH
RENCANA


__ADS_3

Pagi hari itu, Robert terlihat lebih segar setelah membersihkan tubuh nya. Malam panjang yang dilakukan bersama dengan Camelia nya membuat Robert semakin bersemangat melakukan aktivitas di hari ini. Demikian juga halnya dengan Camelia yang sudah selesai mandi, serta berdandan cantik. Kini Camelia sudah siap, demikian juga dengan Robert.


"Ayo, kita turun ke ruang makan. Kita harus mengembalikan energi kita yang sudah kita kuras saat pembuktian cinta kita," ucap Robert. Camelia mengernyitkan dahinya. Rasanya Camelia kurang setuju jika pembuktian cinta harus ditunjukkan dengan melakukan hubungan atau permainan di atas ranjang.


"Kenapa, sayang? Apakah bagian pribadi kamu masih terasa nyeri, sayang?" tanya Robert. Tentu saja Robert lah orang yang telah merobek selaput dara milik Camelia. Ada bercak darah yang menetes di sprei putih kamar Robert pagi itu. Robert kini semakin mempercayai kalau Camelia selama di markas geng kepala Naga, tidak disentuh oleh Nagata. Sebenarnya hanya ini lah yang memaksa Robert melakukan dan membuktikan semuanya itu. Apakah Camelia nya masih suci dan tidak ternodai oleh Nagata. Dan kini semuanya sudah dibuktikan Robert.


"Hem, tidak ada!" sahut Camelia. Camelia tidak ingin berdebat dengan Robert soal ini. Karena semalam pun dengan sukarela dan ikhlas, Camelia menerima dan melakukan nya.


"Kalau begitu, biar aku yang menggendong kamu," kata Robert kembali. Robert segera mengangkat tubuh langsing Camelia menuju anak tangga dan mulai menuruninya. Tentu saja Camelia mengalungkan tangannya ke leher Robert.


"Setelah ini kita akan menikah, sayang! Aku ingin baby mungil yang cantik seperti wajah kamu," kata Robert yang kini sudah mulai mendudukkan Camelia di kursi ruang makan.


"Hem, menikah?" sahut Camelia. Kini Camelia menatap serius ke wajah Robert.

__ADS_1


"Benar, sayang! Aku tidak ingin si Nagata merebut kamu lagi dari tanganku," kata Robert. Camelia mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kamu selalu saja merasa kalau Nagata akan merebut paksa aku dari tanganmu? Itu tidak mungkin, kak. Nagata telah membunuh kedua orang tuaku, dan sampai kapanpun aku akan membuat perhitungan dengan dia," sahut Camelia. Robert dalam hati merasa lega karena kekhawatiran nya selama ini sudah mulai memudar lantaran kebencian yang ada dalam diri Camelia terhadap Nagata.


"Ya sudah, kalau begitu aku ingin menikah dengan kamu secepatnya supaya kita memiliki banyak anak. Aku ingin di tempat ini ramai dengan suara anak-anak kita yang memanggil kita papa mama," ucap Robert yang sudah mengkhayal jauh ke depan. Camelia hanya terkekeh saja.


Robert mengambilkan makanan yang sudah tersaji di atas meja makan. Beberapa anak buah Robert pun yang berdiri tidak jauh dari ruang makan itu hanya bisa memperhatikan keromantisan bos nya dengan penuh keinginan. Sikap manis Robert tentu saja sangat berbeda jika sudah bersama dengan Camelia. Robert dikenal sebagai bos mafia berdarah dingin. Seperti halnya dengan Nagata yang dikenal tanpa ampun jika ingin menghabisi seseorang yang telah mengganggu dirinya serta keluarga besar geng kepala Naga.


"Makan yang banyak, Camelia! Setelah aku kembali dalam urusan di kantor dan bisnis, aku akan segera kembali," kata Robert.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Robert.


"Itu, kemarin kan mommy Mawar mendaftarkan aku kuliah secara online. Jadi, selama aku sudah dianggap sebagai putri angkat mommy Mawar, aku telah dikuliahkan. Jadi.... " kata Camelia. Mata Robert melotot dengan sempurna dan bola mata nya seperti hendak meloncat.

__ADS_1


"Jangan lagi menyebut nama mereka, Camelia! Dan ingat, jangan lagi melanjutkan kuliah yang mereka daftar kan kepada mu! Aku tidak,


kamu dibayangi oleh keluarga Nagata dengan dalih mengangkat kamu sebagai putri mereka. Mereka itu telah yang menyebabkan kedua orang tua kamu terbunuh dengan tragis," ucap Robert mencoba mengingatkan kembali. Camelia menunduk kepalanya. Tidak biasanya Robert berkata keras dan kasar kepada dirinya.


"Eh, maaf sayang! Aku tidak bermaksud marah dengan kamu. Tapi jika kamu mau kuliah, aku akan mengurus semua nya untuk kamu. Asalkan jangan lagi berhubungan dengan mereka lagi," kata Robert lagi.


"I.. I.. iya, kak! Aku mengerti!" sahut Camelia.


"Ya sudah, sekarang habiskan makan kamu. Hari ini kamu mau kemana, biar Handoko yang mengantar kamu. Ke salon atau berbelanja?" tawar Robert akhirnya.


"Benarkah? Kakak mengijinkan aku pergi ke salon dan berbelanja?" sahut Camelia memastikan. Robert tersenyum lebar.


"Tentu saja! Tapi ingat, sayang! Jangan sia-sia kan kepercayaan aku dalam hal ini. Orang-orang ku akan selalu memantau kamu," batin Robert.

__ADS_1


"Tentu saja sayang! Aku sudah mempercayai kamu, sayang!" kata Robert sambil mengusap puncak kepala Camelia nya dengan penuh kelembutan.


__ADS_2