
"Aku kangen kamu, Camelia ku! Maaf jika beberapa bulan ini aku belum bisa mengeluarkan kamu dari tempat itu. Kamu sangat tahu jelas kalau di markas itu penjagaan sangat ketat. Ditambah lagi kamu selalu dijaga dan dilindungi oleh orang-orang Nagata. Dan baru tadi aku mempunyai kesempatan untuk merebut mu kembali," kata Robert.
Kini Robert membalikkan tubuh Camelia hingga keduanya saling berhadapan. Jemari Robert mengusap bibir indah dan mungil milik Camelia. Robert mengecupnya di sana. Camelia terpejam saat Robert memberikan sedikit sentuhan itu.
"Apakah bibir ini sudah ternoda oleh laki-laki itu?" tanya Robert yang membuat mata Camelia membulat sempurna.
"Kak Robert! Kenapa kakak berpikir seperti itu? Bahkan aku tidak pernah disentuhnya. Aku sudah dianggap sebagai adik angkatnya oleh kakak Nagata. Demikian juga halnya oleh mommy Mawar, aku telah diangkat menjadi putrinya. Bagaimana bisa kak Robert berpikir begitu?" sahut Camelia. Robert tersenyum sinis mendengar nya.
"Karena laki-laki itu terlihat menyukai kamu! Aku tidak yakin jika laki-laki itu tidak menyentuhmu sama sekali," kata Robert. Camelia yang mendengar nya menjadi geram.
__ADS_1
"Terserah kakak Robert mau percaya dengan aku atau tidak, m" sahut Camelia.
"Eh, em baiklah aku percaya dengan kamu. Tapi aku tidak akan pernah bisa mempercayai laki-laki itu," ucap Robert seraya kembali menyesap dan mencium bagian leher jenjang Camelia. Camelia mendongak seperti memberikan ruang kuasa bagi Robert untuk memperlakukan tubuh nya dengan kemanjaan.
Sedikit gigitan pelan di bibir Camelia membuat bibir mungil nan indah itu sedikit membuka. Ini membuat ruang yang semakin lebar bagi Robert untuk menjelajahi semua bagain di dalam mulut mungil Camelia. Lidah itu melilitnya dan terkadang menyesap nya hingga Camelia sudah terengah-engah dan seperti ikan kehabisan air dan dalam minim nya oksigen. Namun Camelia masih menerima saja setiap pergerakan yang dilakukan oleh Robert untuk memanaskan Camelia tanpa membalasnya. Robert semakin geram dengan perubahan sikap yang terjadi pada gadis nya.
"Ini sangat padat dan original," gumam Robert yang semakin gemas ingin menyesap maupun menggigit nya pelan. Camelia mulai melenguh pelan. Nafasnya mulai terengah-engah. Apalagi saat tangan nakal Robert mulai turun ke bagian bawah perut Camelia dan mencari bagian bukit kecil yang ditumbuhi rumput yang tidak begitu lebar. Camelia pasti sangat rajin menjaga dan membersihkan nya. Bahkan mungkin juga rajin mencukurnya.
__ADS_1
Suara laknat itu lolos juga dari bibir mungil Camelia. Hal itu membuat Robert tersenyum senang bisa membuat Camelia nya bisa menikmati aksi nakalnya.
"Kamu menikmatinya sayang?" bisik Robert. Kini jari tengah nya sudah mulai mencari titik sensitif milik Camelia nya. Tiba-tiba Camelia lemas kedua kakinya karena Robert sudah mengobrak-abrik bagian itu.
Camelia lemah dan mendekap dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Robert. Robert merasakan menang atas aksi laknatnya. Serta merta Robert menggendong Camelia nya menuju tempat tidur mewah yang empuk di kamar pribadinya. Dengan pelan Robert merebahkan Camelia nya di atas pembaringan. Setelah itu kembali Robert di atas tubuh mungil bak biola itu menciuminya tanpa bagian-bagian indah terlewati nya.
Namun sebelum Robert meneruskan aksi-aksi laknatnya. Keributan di luar membuat dirinya tersentak. Suara tembakan beberapa kali ada di luar sana membuat Robert panik. Camelia ikut terkejut.
"Sial! Di saat yang indah akan aku mulai, ada saja yang mengganggu kesenangan ku," umpat Robert segera turun dari atas tubuh mungil yang sedari tadi ditindihnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, kak?" tanya Camelia segera merapikan pakaiannya yang setengah terbuka karena ulah Robert. Irama jantung nya mulai ditenangkan nya.
"Kamu tunggu di sini saja sayang! Aku akan melihat nya di luar," kata Robert seraya mengambil senjata api yang tersimpan di laci lemari kaca kamarnya. Camelia menatap punggung Robert yang keluar dari kamar itu dengan tanda tanya besar. Sedangkan di luar sana suara kegaduhan tadi samar-samar tidak lagi di terdengar oleh Camelia.