
...Prolog...
Matahari baru saja tenggelam dengan membawa cahayanya. Bulan mulai naik di langit yang mulai menggelap. Keramaian aktifitas siang hari mulai memudar. Banyak orang yang berdiam di rumah setelah seharian beraktivitas. Malam telah tiba.
Di kala pergantian waktu ini biasanya suasananya lebih sepi dan tenang. Begitu juga di lapangan besar di tengah-tengah salah satu kota. Lapangan rumput yang cukup luas untuk menjadi lapangan sepakbola. Cahaya dari bangunan dari sekitar lapangan itu tak cukup terang untuk menerangi seluruh lapangan. Dari pandangan mata manusia, tak ada apapun disana kecuali lapangan gelap di awal malam. Tapi... ada sesuatu yang besar sedang terjadi disana.
Hari ini tanggal 29 Syaban. Hari terakhir di bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah. Juga berarti saat-saat terakhir bagi kaum Jin untuk bebas berkeliaran di Bumi diantara kaum manusia. Malam ini, di lapangan gelap dan sepi itu, adalah waktu dan tempat pertarungan antara dua kubu Jin. Satu kubu adalah kaum yang selalu menghasut manusia dan kubu lainnya adalah sebaliknya. Sekilas tak ada perbedaan dari anggota kedua kubu, masing-masing bagian tubuhnya terbakar api abadi. Tapi jika diperhatikan lebih seksama, akan terlihat perbedaan yang signifikan. Kubu yang menghasut manusia memiliki mata yang menyala merah gelap seperti darah. Sedangkan kubu satunya memiliki mata yang menyala merah keemasan seperti cahaya matahari. Jin Gelap dan Jin Terang, begitulah mereka disebut.
Kedua kubu saling menghantam, menendang, menjitak, menggigit, dan beberapa dari mereka menggelitiki lawannya. Sebagian dari mereka beradu tinju sambil melayang di udara seperti balon udara. Sebagian lagi saling menghajar di tanah seperti manusia. Dan sedikit dari mereka, yang terkuat dari yang terkuat, menyerang satu sama lain dengan kecepatan tinggi yang tak akan mungkin bisa diikuti mata manusia. Hanya kilatan cahaya merah dari api yang muncul dari mereka.
Pertarungan itu merupakan kekacauan besar. Tapi seiring detik berganti menit, waktu semakin menipis bagi para Jin. Seiring menggelapnya langit malam, cahaya api mereka bertambah terang, sebelum berkedip-kedip dan akhirnya; "Boom!"
Satu Jin dari Jenis Jin Gelap lenyap di tengah pertarungan. Menghilang seperti api disiram air. Lalu satu lagi dari Jin Gelap juga lenyap, diikuti oleh yang lainnya. Satu persatu berkedip-kedip sebelum menghilang. Dan bukan cuma Jin Gelap, Jin Terang juga mulai menghilang satu persatu. Hanya dalam hitungan menit, semua Jin yang bertarung di lapangan itu telah lenyap. Semua... Kecuali satu. Jin terakhir dari Jin Gelap. Yang penampilannya menyerupai mumi yang seluruh tubuhnya terbalut perban.
Kenapa Jin terakhir ini tidak ikut menghilang seperti Bangsa Jin lainnya? Apa yang akan dilakukannya selama bulan Ramadhan tanpa Bangsa sejenisnya? Bagaimana ia melalui hidupnya saat sedang... Terjebak di Ramadhan?
...Jin dan Manusia...
28 Syaban. Malam.
Bakso Mama. Itu nama dari warung makan bakso sederhana yang dibangun di depan rumah pemiliknya di tengah wilayah padat penduduk di pinggiran kota kecil. Warung itu memiliki total 4 meja yang diapit bangku panjang di kedua sisinya. Tapi sekarang ini yang terisi hanya 1 meja. Di meja itu ada sepasang muda-mudi. Umur mereka mungkin diakhir belasan tahun. Masih remaja. Si gadis berambut panjang hitam mengenakan celana jeans hitam panjang dan baju lengan panjang yang juga berwarna hitam. Si pemuda berambut cepak mengenakan celana jeans panjang hitam dan jaket bertudung berwarna coklat. Mereka baru selesai menyantap bakso mereka dan masih berbincang-bincang dengan mesra, sampai... Pelanggan yang lain datang.
Dua orang remaja laki-laki yang seumuran dengan pasangan itu. Satu bergaya rambut undercut, mengenakan celana jeans panjang hitam dan kemeja jeans lengan panjang berwarna kebiruan. Satunya lagi berambut ikal yang mirip mie, mengenakan celana jeans panjang coklat dan jaket merah kuning dengan kaus hijau didalamnya. Penampilannya yang menyerupai lampu lalulintas itu cukup mencolok. Begitu sampai di Warung Bakso Mama, si pemuda lampu lalulintas itu langsung menatap tak senang ke meja si pasangan.
__ADS_1
Pemuda lampu lalulintas itu mengeluarkan aura negatif, hitam kebencian yang menyelimuti tubuhnya. Saat manusia mengeluarkan aura hitam kebencian, sebab akan kebencian mereka dapat ditangkap oleh Bangsa Jin. Karena itulah saat ini disebelah kiri pemuda lampu lalulintas berdiri satu Jin yang sedang membaca kebenciannya dan berniat untuk mengarahkannya. Jin itu berbentuk menyerupai manusia dengan beberapa perbedaan yang mencolok, seperti lehernya yang sepanjang setengah meter. Dan api yang muncul dari bagian tubuhnya, kobaran api yang memanjang dari dagunya hingga ke dadanya. Jin berjanggut api itu membisikkan sesuatu ke telinga pemuda lampu lalulintas yang membesarkan aura hitamnya.
"Oh... Jadi disini biasanya tempat makannya penghianat, ya?" Ucap Pemuda lampu lalulintas.
Pemuda dan gadis di meja melirik kurang senang ke Pemuda lampu lalulintas dan temannya.
Jin terus berbisik ke Pemuda lampu lalulintas. Dan seiring membesarnya aura hitamnya, begitu juga dengan sindirannya, "Mantan pacar dan mantan teman... Ckckck... Cocok sekali. Penghianat makan bersama penghianat."
Gadis di meja memberitahukan pasangannya untuk mengabaikan sindiran yang ditujukan ke mereka. Tapi Pemuda berjaket tudung itu jelas sekali merasa terganggu, bisa dilihat dari aura hitam yang mulai menguar dari tubuhnya. Disaat itulah kesempatan Jin yang lain untuk mulai membisikkan hasutan ke telinganya. Jin dengan lidah-lidah api yang memanjang dari dahi sampai ke leher belakang seperti rambut gaya mohawk. Jin mohawk mencoba meningkatkan kemarahan Pemuda berjaket tudung, sedangkan Jin berjanggut terus membesarkan kebencian Pemuda lalulintas. Ketika aura hitam mereka berdua semakin membesar, hanya hitungan detik hingga bentrokan terjadi. Namun sebelum itu terjadi, ada intervensi dari pemilik warung.
Pemilik warung itu adalah seorang wanita dewasa dengan tubuh berisi diusia pertengahan tiga puluhan. Ibu itu menanyakan pesanan Pemuda lampu lalulintas dan temannya, lalu meminta mereka untuk menunggu selagi ia menyiapkan pesanan mereka. Pemuda lampu lalulintas dan temannya duduk di meja yang berhadapan dengan meja Pemuda berjaket dan pasangannya. Intervensi sesaat dari pemilik warung tak cukup untuk menghentikan kedua Jin membisiki manusia yang menjadi target mereka.
"Bro, malam ini gantian aku yang traktir." Kata Pemuda lampu lalulintas ke temannya. Aura hitamnya masih belum pudar, bahkan semakin membesar. "Kemarin kau yang traktir. Sekarang gantian aku. Biasa, kan? Karena kita sudah lama nongkrong bareng. Kita ini teman baik. Aku juga gak akan mungkin rebut pacarmu. Kenapa? Karena aku temanmu!" Lanjutnya panjang lebar dengan nada suara sengaja dibesarkan supaya Pemuda berjaket diseberang meja mendengar dan merasa tertanggu. Yah... Itu berhasil.
Aura hitam yang muncul dari Pemuda berjaket semakin membesar seiring dengan amarahnya yang meningkat. Tapi gadis pasangannya tetap mencoba untuk menenangkannya dan bahkan mulai mengajaknya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Tentu saja Jin mohawk tak membiarkan targetnya pergi begitu saja. Semakin gencar dia membisikkan kata-katanya ke si manusia.
Itu dia! Akhirnya Jin mohawk berhasil. Pemuda berjaket bereaksi dengan menyambar gelas plastik kosong dan melemparkannya ke Pemuda lampu lalulintas di meja sebrang.
"Setan!" Maki Pemuda lampu lalulintas saat menangkis gelas plastik dengan tangannya. Lalu bersamaan dengan bisikan terakhir Jin berjanggut, ia bergerak ke kanan dengan cepat untuk menjauh dari mejanya, dan setelah bebas ia langsung maju ke meja di hadapannya.
Tapi Pemuda berjaket melakukan gerakan yang lebih fantastis, naik ke atas meja dan melompat untuk menyerang lawannya.
"Bukh!"
__ADS_1
Tinju Pemuda berjaket yang mengenai pertama, tepat di sisi kiri wajah Pemuda lampu lalulintas. Tapi balasan tinju langsung dilayangkan ke perutnya. Dan setelah membalas dengan itu, Pemuda lampu lalulintas bergerak mundur selangkah dan menjejakkan kakinya ke perut Pemuda berjaket yang termundur hingga terduduk di bangku panjang di belakangnya.
Pemuda lampu lalulintas langsung menerjang dan melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah lawannya. Saat itulah Jin mohawk membisikkan sesuatu ke Pemuda berjaket yang langsung bereaksi dengan menyambar mangkuk bakso dengan tangan kanannya dan menghantamkannya ke kepala lawannya.
"Ahhh!!! Mataku!!" Pekik Pemuda lampu lalulintas sambil memegangi wajahnya yang terkena kuah hangat sisa bakso. Dari pelipisnya terlihat menetes darah segar. Temannya langsung mendatanginya. Sedangkan Pemuda berjaket yang baru saja menyerangnya tubuhnya gemetar karena syok. Gadis dan pemilik warung juga syok akan kejadian itu.
"Jahahaha....!!!!" Tawa Jin mohawk dan Jin berjanggut yang tak bisa didengar manusia-manusia itu.
Tapi aku bisa mendengarnya, karena aku juga Jin seperti mereka. Jin Gelap!
"Ayo! Kita cari yang lain!" Ajak Jin berjanggut yang bernama Ra-ul.
"Ya! Waktu kita gak banyak!" Sahut Jin mohawk yang bernama Ri-val sambil melangkah mengikuti Ra-ul.
Aku tak segera mengikuti mereka. Aku masih melihat para manusia. Aku sudah cukup melihat betapa kacaunya para manusia selama beberapa hari ini. Tapi aku masih saja heran akan sebegitu mudahnya mereka berkelahi hingga menumpahkan darah satu sama lain. Padahal mereka makhluk berakal yang paling superior di Bumi. Dan masih saja mereka mudah dihasut dan diadu domba.
--
Kedua Jin yang bersamaku, Ra-ul dan Ri-val, mereka adalah mentorku. Ra-ul seperti yang sudah kudeskripsikan, menyerupai manusia bertubuh jangkung dengan leher yang memanjang sekitar setengah meter. Lehernya fleksibel seperti ular. Saat tegak tinggi badannya mencapai dua setengah meter. Api yang paling besar di tubuhnya adalah api yang memanjang dari dagu sampai ke dadanya menyerupai janggut manusia. Ri-val sendiri memiliki tubuh yang lebih tegap tapi lebih pendek, tingginya sekitar 190 cm. Proporsi tubuhnya menyerupai manusia dengan perbedaan yang mencolok. Pertama, kedua kakinya yang menyerupai kaki belakang macan, dan kedua, telapak tangan dan jari-jarinya yang berukuran dua kali lipat dari seharusnya. Api di kepalanya menyerupai gaya rambut mohawk milik manusia. Seperti Jin Gelap lainnya, mata mereka menyala merah gelap. Sama sepertiku juga.
Jadi, siapa aku? Yah... Aku juga tak tahu pasti. Ra-ul dan Ri-val menemukanku yang tak punya ingatan sama sekali. Aku tak ingat namaku atau apapun tentang diriku. Tapi aku mengenali benda-benda di dunia ini. Dari penampilanku, aku sama sekali bukan manusia. Proporsi tubuhku memang mirip manusia setinggi 170an cm, tapi seluruh tubuhku terbalut semacam perban yang hanya menyisakan kedua mataku yang menyala merah gelap. Kobaran api juga muncul dari kepala bagian atasku. Tak ada manusia yang bisa melihat atau menyentuhku. Ra-ul dan Ri-val menentukan aku ini Jin Gelap yang hilang ingatan. Meski baru pertama kali kasus seperti itu mereka jumpai selama masa hidup mereka yang berabad lamanya, mereka bersedia mengajakku mengikuti mereka sambil menunjukkan apa yang Jin lakukan.
Man-sia. Itu nama yang mereka berikan padaku. Ri-val bilang itu singkatan dari kata Mumi Amnesia. Jadi beberapa hari ini sebagai Jin bernama Man-sia, aku mengikuti Ra-ul dan Ri-val yang mengajarkan padaku cara menangkap aura hitam manusia, membisikkan manusia, dan mengadu mereka antar sesama. Karena itulah kehidupan Jin. Menyesatkan manusia menjadi tugas Bangsa Jin.
__ADS_1
Selama beberapa hari terakhir aku menganggap manusia bukanlah tandingan Jin. Mereka tak bisa melihat atau menyentuh Bangsa Jin. Tak ada manusia yang bisa melawan Jin. Tapi ternyata malam ini anggapanku itu terbukti salah.
Di salah satu gang gelap yang kami lalui, kami bertiga melihat sesosok manusia yang berdiri membelakangi kami sejauh 10 meter dari kami. Manusia itu menyadari keberadaan kami dan menoleh. Saat itulah wajah mudanya terlihat. Manusia itu mungkin masih Pelajar SMA atau Mahasiswa. Masih begitu muda. Yang membedakannya dari manusia yang kutemui selama ini adalah kedua matanya yang menyala biru, tertuju langsung ke kami bertiga. Tapi bukan itu yang paling membuat terkejut, melainkan apa yang sudah diperbuatnya. Tangan kirinya sedang mencengkram sesosok tubuh yang berlutut tak berdaya di bawahnya. Sosok itu bukan manusia... Tapi Jin. Manusia itu baru saja mengalahkan Jin Gelap!