
...Diantara Manusia...
8 Ramadan. Sore.
Jadi... Inilah kesimpulan sementaraku; kepingan memori yang selama ini aku lihat seolah aku menjalaninya sendiri adalah ingatan dari manusia yang pernah menjadi anggota Geng Dua roda. Siapa dia? Aku tak tahu. Yang aku tahu, manusia ini juga terlibat dalam bentrokan dengan Mafia Putih dan pernah dibantu oleh Rian. Jadi berdasarkan itu, inilah rencanaku; aku akan berada di sekitar Rian selama mungkin untuk berharap bisa melihat kepingan memorinya dan mengetahui jati diri dari manusia yang kepingan memorinya kulihat selama ini. Rencana sederhana yang jenius, bukan? Aku tahu ini akan berhasil. Setidaknya aku berharap 99.9% ini akan berhasil.
Berada di sekitar Rian. Ini persisnya yang kulakukan di lebih dari 10 jam terakhir. Tapi harus kuakui... Aku belum dapat apa-apa mengenai hidup lamanya. Meski aku dapat cukup banyak informasi tentang kehidupannya saat ini. Dini hari ini seorang perempuan muda yang seumuran dengan Rian datang ke tempat tinggalnya membawakan makanan untuk Sahur. Gadis berambut hitam panjang yang mengenakan baju terusan berwarna hijau itu memiliki setitik tahi lalat di bawah bibirnya. Ia datang berjalan kaki dari belakang Ruko dan mereka santap Sahur berdua di tempat itu. Tepatnya di ruang belakang Ruko. Ruang yang difungsikan menjadi kamar tidur dengan kamar mandi kecil. Dari obrolan mereka aku mengetahui Gadis ini yang bernama Bella. Dan mereka cukup dekat.
"Jadi ini karena kamu dikeroyok tiga orang itu?" Bella yang khawatir menanyakan tentang luka dan memar di tubuh Rian.
"Ya." Jawab Rian sambil mengangguk.
"Masih sakit?" Tanya Bella.
"Masih terasa pegal-pegal." Rian mengakui. "Tapi minyaknya Adam lumayan ampuh juga."
Bella mengangguk-angguk paham. "Jadi sebenarnya aku cuma dijadikan umpan untuk pancing kamu?"
"Kurang lebih begitu." Sahut Rian ragu-ragu.
"Tapi harusnya mereka tahu kamu sudah keluar dari Geng itu." Ucap Bella.
"Mereka tahu." Kata Rian. "Tapi gak peduli. Mungkin targetnya memang mantan anggota."
"Untuk balas dendam?"
"Untuk apa lagi?"
"Kamu kenal mereka? Mungkin dulu kamu pernah lawan mereka?"
"Mungkin..." Ucap Rian sambil mengingat-ingat. "Tapi kalau aku pernah lawan mereka, aku pasti ingat." Sambungnya.
Bahkan disaat jelas-jelas Rian sedang menggali ingatannya, aku tetap tak bisa menyerap dan melihat kepingan memorinya.
Setelah beberapa saat terdiam, dengan senyum di wajahnya Bella berkata, "Syukurlah kamu bisa lolos dari mereka dan gak terluka parah. Aku senang masih bisa Sahur bareng kamu."
"Aku juga!" Ucap Rian cepat sambil menatap wajah Bella. Lalu setelah beberapa detik, ia mulai tertawa.
"Apa? Ada yang lucu di wajahku?" Tanya Bella dengan wajah memerah.
"Gak. Gak ada." Jawab Rian cepat-cepat. "Aku cuma teringat apa yang dulu dibilang kakekku di kampung." Ungkapnya.
"Apa itu?"
"Kau mungkin anggap ini aneh." Rian memulai. "Waktu aku melawan tiga orang itu. Aku merasa ada yang membantuku lolos dari mereka. Sepertinya ada yang mengendalikan tubuhku." Rian berhenti untuk melihat ekspresi Bella. Dan ekspresinya menunjukkan kalau dirinya ingin mendengar sisa cerita Rian.
"Dulu kakekku pernah cerita soal Pelindung gaib." Rian mulai lagi. "Pelindung tak terlihat yang akan membantumu disaat kau membutuhkan. Jadi aku cuma teringat saja setelah apa yang kualami tadi malam." Tutupnya.
Bella mengangguk-angguk paham setelah terdiam sejenak. "Pelindung tak terlihat, ya?"
"Aneh, kan?"
"Gaib itu memang ada." Ujar Bella. "Jadi kalau Pelindung ini memang sudah membantumu, aku berterimakasih karena kebaikannya."
Setelah selesai santap Sahur, Rian mengantar Bella ke rumahnya yang hanya berjarak empat rumah di belakang Ruko. Setelahnya ia pergi ke Masjid untuk Shalat Subuh.
Aku hanya memperhatikan dari pohon favoritku di luar pagar Masjid, memikirkan apa yang mereka bicarakan tentang campur tanganku yang membantu Rian melawan pengeroyoknya. Pelindung tak terlihat. Julukan yang tak terlalu buruk menurutku.
--
Sepanjang pagi hingga siang aku memperhatikan bagaimana Rian mengelola usahanya. Bengkel motor merangkap Tambal ban yang bernama Brothers motor. Onderdil-onderdil motor dipajang di lemari kaca atau tergantung di dinding ruangan utama Ruko. Sedangkan kompresor udara yang terhubung dengan selang berada di sisi kanan teras depan. Di sisi kiri ada bangku panjang tak berpunggung dari kayu. Dan di depan pintu Ruko sebelah kiri yang kosong juga ada dua ban luar truk yang ditumpuk dengan triplek di atasnya di dekat bangku panjang tadi.
Kebanyakan manusia datang ke bengkel untuk menambah tekanan udara dari ban motor atau menambal ban yang bocor. Tapi ada satu orang yang datang untuk menservis motornya siang ini. Pemuda seumuran Rian dengan janggut yang menghiasi wajahnya. Dari obrolan mereka, aku mengetahui Kakak laki-laki Rian sedang pulang kampung untuk urusan keluarga. Mereka juga membahas Geng Dua roda.
"Makin banyak orang-orang yang memakai logo Dua roda." Ucap Pemuda berjanggut. "Mereka makin brutal. Apalagi yang di Selatan."
"Selatan." Ulang Rian. "Divisi Selatan. Kelompoknya Rimba. Dari dulu mereka yang paling buas."
__ADS_1
"Tapi kalau Ketua balik lagi, mungkin mereka bisa dijinakkan lagi." Pikir Pemuda berjanggut.
Rian menggelengkan kepalanya. "Dia gak akan balik lagi. Kau gak ada disana waktu itu."
"Mafia Putih."
"Mereka yang paling buruk."
"Sekarang Geng Dua roda jadi jauh lebih buruk dari Mafia Putih."
"Kita memang gak pernah jadi pihak yang baik, kan?"
"Dulu kita masih punya kode etik. Standar! Kita serang yang serang lebih dulu. Bukan setiap orang yang kita temui di jalanan!"
"Faktanya kita bukan lagi bagian dari Dua roda. Itu masa lalu." Ujar Rian untuk mengakhiri pembicaraan.
"Tapi kita gak bisa mengendarai motor kita dan kabur dari masa lalu tanpa pernah melihat kaca spion." Balas Pemuda berjanggut.
Rian terdiam. Pasti karena apa yang dikatakan temannya mencerminkan apa yang baru dilaluinya. Lalu setelah beberapa detik, ia menatap temannya dan bilang, "Kau baca itu di internet?"
Temannya hanya membalas dengan senyuman lebar.
Lagi-lagi aku tak bisa melihat kepingan memori dari mereka. Tapi karena Pemuda berjanggut ini tak ada di bentrokan melawan Mafia Putih. Berarti dia bukan manusia yang kucari. Aku masih di jalan buntu.
--
Setelah menunggu sampai selama ini dan tak mendapat kepingan memori apapun, aku mulai merasa bosan. Lalu datanglah pengendara motor ke Brothers motor yang menarik perhatianku. Pengendara yang datang untuk menambal ban motornya ini adalah seorang Gadis pengantar paket yang mengenakan celana jeans dan jaket berwarna hitam. Ketika ia melepaskan helmnya dan mengungkapkan wajah cantik dengan rambut hitam bergelombang yang dipotong seleher, aku tak menyangka akan melihat wajah yang familiar. Gadis ini adalah pemilik Darko, kucing hitam yang kuanggap temanku.
Saat Rian selesai menambal ban motor Gadis ini, aku memutuskan untuk mengabaikan misi awalku. Sekarang aku punya misi baru untuk mengawal Gadis ini sampai selesai mengantar semua paket yang dibawa di tas kain besar di motor maticnya. Karena jika aku tak mengawalnya dan ternyata salah satu cecunguk Geng Dua roda yang barbar itu menyerangnya dan merampas paketnya dan lebih buruk lagi akan melukainya, aku tak sanggup bertemu dengan Drako. Jadi, aku berlari mengikutinya.
Pemberhentian pertamaku cukup mengejutkanku. Aku sama sekali tak menyangkanya. Tak jauh dari Brothers motor, kami berhenti di Masjid Al-Alim. Benar sekali, mengantarkan paket kepada Adam si Marbot Masjid. Dan sepertinya mereka sudah sering bertemu.
Adam terlihat bahagia saat Gadis ini datang, seakan ia sudah menunggu lama kedatangannya. Tapi setelah ia menerima paketnya yang berupa kotak yang tak terlalu besar, kebahagiannya seketika luntur.
"Bukan buku ini yang kupesan." Ucap Adam dengan wajah bingung. "Alamatnya benar. Tapi sepertinya ini salah paket. Bukan ini yang kupesan."
Setelah memeriksa data di paketnya sekali lagi, Adam menghela nafas lemah. "Ini dari temanku."
"Ini baru pesananmu!" Si Gadis menyerahkan paket lainnya yang ukurannya tak jauh beda.
"Ya. Ini dia!" Seru Adam yang semangatnya muncul lagi.
"Aku lihat judul buku yang dipesan temanmu." Kata si Gadis. "Judulnya cukup menarik." Sambungnya.
"Hantu, Ingatan berjalan manusia yang sudah meninggal. Temanku memang suka buku bergenre mistis." Terang Adam. "Ini buku ketiga. Sekali sebulan." Lanjutnya dengan nada suara kurang antusias.
"Kau bisa kirim balik ke temanmu."
"Aku tergoda untuk melakukan itu. Tapi, dia pasti kirim balik lagi kemari. Kepalanya lebih keras dari batu."
"Berat, ya?"
"Seberat cobaan saat puasa. Kau masih puasa?"
"Alhamdulillah masih."
"Alhamdulillah kalau begitu."
Mereka bertukar senyum, dan tiba-tiba suasana menjadi canggung selama setengah menit berikutnya.
"Aku harus lanjut antar paket-paket ini." Kata Si Gadis kemudian.
"Gak mau tinggal disini sampai Ashar?" Tanya Adam cepat.
Si Gadis melihat jam tangannya sebelum menjawab, "Masih lebih dari setengah jam lagi. Jadi, mungkin lain kali."
"Ya, ya. Oke. Terimakasih paketnya." Ucap Adam.
__ADS_1
Si Gadis membalas dengan senyuman sebelum menyalakan motornya dan melaju meninggalkan Masjid Al-Alim.
"Kau kenal dia?" Tanyaku ke Adam.
"Bisa dibilang begitu." Sejak tadi Adam berusaha menghiraukan kehadiranku, tapi setelah Gadis itu pergi, ia berbicara sambil menatapku langsung.
"Siapa dia?" Pancingku.
"Namanya Rossa. Kurir paket. Tinggal di Selatan." Sahut Adam dengan cepat dan yakin.
Ada sesuatu yang terasa janggal dari sifatnya yang biasanya tenang. Tunggu dulu... Mungkinkah?
"Kau menyukainya!" Tuduhku.
"Apa? Apa maksudmu?" Tanya Adam dengan ekspresi yang sama sekali tidak tenang.
"Kau tahu maksudku!" Serangku.
"Jangan asal tuduh sembarangan!" Sangkalnya.
"Reaksimu mengkonfirmasi tuduhanku!" Desakku lagi.
"Aku gak.." Adam menghentikan dirinya. Lalu ia menghembuskan nafas dan bilang, "Aku gak harus klarifikasi apapun. Aku punya urusan lain yang lebih penting." Ia melangkah meninggalkanku.
Aku juga punya urusan lain yang lebih penting. Mengawal Rossa. Jadi aku berlari mengejarnya. Begitu aku berhasil menyusul, aku tetap mengikutinya mengantarkan sisa paket yang dibawanya ke beberapa tempat lain. Rossa mengendarai motor maticnya dengan cepat dan mulus melintasi jalanan aspal ke pemukiman padat penduduk. Manusia-manusia yang menerima paket terlihat senang. Aku tetap mengawal Rossa sampai ia melapor ke kantornya di Pusat dan pulang ke rumahnya di Selatan.
Malam.
Rossa pergi ke Masjid untuk Shalat Isya dan Tarawih. Jadi aku menemani bermain Darko sampai ia pulang. Kucing hitam ini memang bisa melihatku. Dan meskipun aku tak bisa berkomunikasi dengannya seperti saat berkomunikasi dengan manusia. Entah mengapa aku merasa Darko bisa memahami kata-kataku. Aku senang bisa bertemu dengannya lagi. Tapi berada di tempat di dekat tempat aku pernah bertemu Pemuda bermata biru, membangkitkan ingatanku tentangnya. Dan ini sesuatu yang selalu menggangguku.
Saat aku sampai di Masjid Al-Alim, masih ada beberapa anak yang Tadarus Al-Qur'an dibimbing oleh Adam. Aku menunggu sampai mereka semua pulang, lalu bicara ke Adam.
"Kau pernah bertemu yang sepertiku?" Tanyaku saat kami berada di tempat tinggalnya.
"Aku gak terlalu yakin." Jawab Adam ragu-ragu. "Selama ini yang kulihat gak pernah sejelas kau sekarang ini."
"Tapi apa kau kenal manusia lain yang mungkin juga bisa melihatku?" Tanyaku lagi.
"Aku juga gak terlalu yakin."
"Jadi kau gak kenal laki-laki yang matanya menyala biru?"
"Kau bertemu laki-laki yang matanya menyala biru? Kapan? Dimana?" Tanya Adam bertubi-tubi.
"Sebelum Ramadhan." Sahutku. "Di Selatan. Di gang dekat rumah Rossa."
"Kau tahu rumahnya Rossa?" Tanya Adam keluar topik.
"Ya, aku tahu."
"Darimana kau tahu itu?"
"Hei!" Kujentikan jariku. "Fokus! Laki-laki bermata biru."
"Oke..." Kata Adam yang fokusnya kembali lagi. "Kau ingat Mafia Putih yang kuceritakan?"
"Belum ada seribu tahun. Jelas aku masih ingat!"
"Kabarnya Mafia Putih generasi pertama dibubarkan setelah semua anggotanya dikalahkan satu orang." Ungkap Adam. "Laki-laki yang matanya menyala cahaya warna biru."
"Sendirian?" Tanyaku tak percaya.
"Kabarnya begitu." Sahut Adam. "Orang itu jadi legenda urban. Si Bahaya biru!"
"Si Bahaya biru!? Manusia itu memang bahaya! Masih muda tapi bisa keluarkan bola api biru dari tangannya! Aku pernah hampir dibakarnya! Kalau aku ketemu dia lagi aku gak akan kalah! Akan kubalaskan kekalahan kami waktu itu!" Kukeluarkan segala kekesalanku. Lalu aku melihat wajah Adam yang memandangku dengan mata membelalak, dan menyadari aku pasti sudah bereaksi berlebihan. "Ah... Aku harus keluar dari sini."
"Silahkan..." Ucap Adam akhirnya.
__ADS_1
Aku menembus dinding menuju halaman depan Masjid Al-Alim. Begitu aku ada di luar sini, aku merasakan aura hitam kebencian sebesar malam kemarin. Tapi kali ini aku juga mendapat gambaran sumbernya dibenakku. Aku melihatnya bangunan Ruko dua pintu yang tak asing. Dari halaman Masjid Al-Alim aku melihat sumber aura hitam... Asalnya datang dari Brothers motor!