
...Benang Putih...
17 Ramadan. Malam.
Di dalam Ruang UGD Klinik Permata Hijau, Dokter Iriana dan Perawat masih mengobati para Pasien. Sementara Wawan, Dara, Aidah, Iptu Trijaya, dan Polisi satu lagi yang masih belum kuketahui namanya berdiri menunggu. Setelah berdiskusi dengan Juniornya, Iptu Trijaya mendekati Wawan dan yang lainnya untuk menggali informasi.
"Temanmu itu, lukanya karena apa?" Tanya Iptu Trijaya sambil berbisik.
"Aku juga gak tahu detailnya." Wawan mengakui dengan nada yang sama pelannya. Lalu ia menoleh ke Aidah yang memang sedang memperhatikan mereka dan mengatakan, "Tadi kakak bilang Dwi dibacok perampok, kan? Bisa tolong jelaskan ke kami kejadiannya."
Sambil menggendong bayinya yang tertidur, Aidah menghela nafas panjang sebelum mulai bercerita. Kali ini versi yang lebih rinci, bukan versi singkat seperti yang diberitahukannya ke Satpam dan warga lainnya saat masih di Kompleks perumahan Dua Cahaya. Dan ketika Ia menceritakan kejadian yang dialaminya, aku juga bisa melihat kepingan memorinya. Tapi aku yakin sekali ini bukan karena aku menangkapnya lewat manifestasi emosi negatif seperti yang kualami biasanya. Yang satu ini berbeda. Ini karena sesuatu yang lebih positif. Mungkin... Karena Ia bercerita dengan jujur.
Aidah dan Dwi baru selesai menyantap bakso di meja bulat yang ada di ruang depan yang merupakan ruang utama di rumah no.22 ketika mereka mendengar suara kendaraan yang berhenti di depan pagar rumah. Aidah langsung bangkit dan mendekati jendela depan, lalu menyibak gorden untuk mengintip keluar. Terlihat dua orang berpakaian serba hitam di luar pagar.
"Bu Aidah! Bu Aidah!" Panggil salah satu dari kedua orang asing itu.
"Siapa ya?" Teriak Aidah dari dalam rumah setelah merapatkan gorden.
"Kami urusannya Bapak Panca!" Sahut mereka yang ada di luar. "Kami diminta antarkan barang penting ke Ibu Aidah."
Pada titik inilah aku mengalami peningkatan yang sama sekali baru. Kali ini aku bukan hanya melihat kepingan memori, tapi juga kepingan memori di dalam kepingan memori lainnya. Selama tinggal di Kompleks perumahan Dua Cahaya, sudah dua kali Aidah didatangi orang suruhan suaminya yang mengantarkan barang saat malam hari. Di dua waktu yang berbeda itu, orang suruhannya juga berganti. Situasi pernikahan Aidah dan suaminya cukup rumit. Tak banyak yang tahu kalau mereka menikah dan juga tak banyak orang yang mengenal mereka mengetahui kini Aidah tinggal di Komplek perumahan Dua Cahaya. Jadi ketika ada orang yang datang di malam hari dan mengaku sebagai utusan suaminya, Aidah akan percaya tanpa keinginan untuk mengkonfirmasi kebenarannya dengan menghubungi suaminya terlebih dulu.
"Tunggu sebentar!" Seru Aidah, lalu Ia menoleh ke Dwi yang sudah berdiri sambil mengangkat dua mangkok bekas bakso.
"Aku taruh ini di dapur dulu." Ucap Dwi.
Aidah pun tersenyum dan mengangguk karena reaksi Dwi yang dengan cepat memahami situasi mereka. Setelah Dwi memasuki dapur, Aidah membuka pintu dan melangkah keluar.
"Dimana barangnya?" Tanya Aidah dari sisi dalam pagar setinggi 1.5 meter yang terkunci.
"Ah... Iya!" Ucap seorang bertubuh tegap yang sejak tadi bicara. Lalu Ia menoleh ke temannya dan mengatakan, "Keluarkan!"
Manusia yang satu lagi lebih jangkung dari temannya. Ia membuka resleting jaket tebalnya yang berwarna hitam dan mengambil amplop bertali berwarna coklat yang sejak tadi disimpan ditubuhnya lalu mengoperkannya ke temannya.
Si tegap langsung menyerahkan amplop itu melalui atas pagar ke Aidah sambil berkata, "Ini, Bu!"
"Apa isinya?" Tanya Aidah yang bingung karena kiriman kali ini berbeda dari sebelumnya.
"Kami juga gak tahu." Ucap Si tegap.
Aidah pun langsung memperhatikan amplop yang kini dipegangnya. Dan saat fokusnya dari kedua manusia berpakaian serba hitam itu teralihkan, Si Jangkung langsung menodong leher Aidah dengan golok berbilah tipis dengan pegangan yang dililit kain sambil membekap mulutnya. Itu jenis senjata buatan yang biasanya digunakan untuk tawuran.
"Jangan teriak kalau gak mau mati!" Ancam Si Jangkung dengan suara serak.
__ADS_1
Aidah yang ketakutan mengangguk perlahan sebagai tanda persetujuan.
"Anak pintar.." ucap Si Jangkung setelah melepas bekapannya.
"Buka ini!" Giliran Si Tegap yang memberi perintah sambil menepuk pagar.
Masih dengan bilah senjata tajam yang menempel di lehernya, Aidah membuka kunci pagar dengan tubuh gemetar. Setelahnya Si Tegap langsung masuk dan melangkah ke belakang Aidah, diikuti Si Jangkung yang tetap menahan goloknya tetap menempel di leher Aidah. Saat Si Jangkung berjalan, jaketnya yang terbuka bergerak-gerak dan mengungkap apa yang terlihat seperti kantung panjang tambahan di bagian dalam jaket yang ukurannya cocok untuk menampung golok yang dipegangnya. Setelah menutup pagar, kedua manusia serba hitam ini menggiring Aidah masuk ke dalam rumah.
"Suamimu itu memang orang yang brengsek." Ucap Si Tegap ketika menutup pintu rumah.
Aidah tak langsung menanggapi, Ia mengintai sekeliling ruangan utama dan tak mendapati keberadaan Dwi. Lalu Ia mulai memberanikan diri untuk bicara. "Kalian mau apa? Uang?"
"Uang bagus juga." Sahut Si Tegap yang mengambil ponsel Dwi yang tertinggal di meja dan memasukkan ke saku celananya. "Tapi kami kesini untuk balas dendam."
"Tapi suamiku sekarang lagi gak ada disini." Kata Aidah. "Udah sebulan ini dia gak datang kemari." Ia mengungkapkan dengan jujur.
"Kami tahu si bodoh itu jarang datang ke tempat ini." Ucap Si Jangkung dengan suara seraknya. "Tapi kami penasaran gimana perasaannya nanti setelah tahu apa yang terjadi sama istri cantiknya." Lanjutnya sambil menurunkan goloknya menjauhi leher Aidah.
Lalu Si Jangkung mendekati Aidah yang ketakutan sambil mengelus wajahnya. "Mulus.." Desisnya. Lalu ia menurunkan masker yang menutupi wajahnya hingga hidungnya terbebas dan mendekatkan wajahnya untuk menghirup aroma tubuh Aidah. "Harum juga..."
Tiba-tiba dari salah satu dari dua kamar di sebelah kanan mereka, Dwi muncul dan menerjang Si Jangkung hingga jatuh ke belakang dan golok terlepas dari genggaman tangannya. Dwi yang terlihat sangat kesal langsung meninju membabi buta Si Jangkung yang ada di bawahnya. Tapi teman Si Jangkung tak tinggal diam, Ia langsung mendekat dan menarik Dwi dengan kekuatan dari tubuh tegapnya. Tapi Dwi bereaksi dengan meronta seperti orang kesetanan dan berhasil melepaskan diri, bahkan lanjut memukuli Si Tegap yang kalang kabut berusaha menahannya. Dan saat itulah Si Jangkung memanfaatkan keadaan dengan meraih goloknya dan menyerang Dwi dari belakang. Aidah yang melihat dengan ngeri langsung berteriak. Dan teriakannya itu juga membangunkan bayinya yang ada di kamar satunya yang langsung menangis dengan suara keras.
Rangkaian kejadian yang berlangsung dengan cepat itu membingungkan kedua manusia berpakaian serba hitam. Namun Aidah melakukan hal yang sama sekali tak terpikirkan olehku. Untuk manusia yang berada di posisinya, Ia bisa saja panik melihat Dwi yang terluka dan cemas mendengar bayinya yang menangis di tengah penyerangan di dalam rumahnya sendiri. Tapi Aidah berhasil mengabaikan dua hal itu untuk melakukan hal terbaik yang harus dilakukannya; berlari keluar rumah dan berteriak minta tolong. Kedua manusia berpakaian serba hitam itu menjadi panik dan cepat-cepat berlari keluar rumah, mengabaikan Aidah yang ada di teras untuk langsung menghidupkan motor mereka dan pergi.
"Kakak hebat!" Puji Dara setelah Aidah menutup ceritanya. "Perempuan lain mungkin panik duluan dan gak kepikiran untuk cepat-cepat lari keluar rumah."
"Itu langkah cerdas dan berani." Komentar polisi muda. "Kalau tetap di dalam rumah. Mungkin mereka akan serang lagi sampai..." Ia memutuskan untuk tak melanjutkan kalimatnya. Tapi yang lain mengerti dengan jelas maksudnya.
Dan setelah kecanggungan yang benar-benar tidak mengenakkan selama beberapa detik, Iptu Trijaya mulai bertanya detail tentang kedua pelaku penyerangan. "Jadi mereka mengaku sebagai utusan dari suamimu?"
"Ya." Jawab Aidah sambil mengangguk.
"Tapi mereka berdua pakai masker dan topi, pakaian juga serba warna hitam." Ucap Iptu Trijaya memastikan.
"Ya." Aidah mengangguk lagi.
"Bukannya itu cukup mencurigakan? Kenapa percaya mereka?"
Aidah pun menjelaskan, "Sedikit orang di kota ini tahu kalau aku menikah dengan suamiku. Lebih sedikit lagi orang yang tahu tempat tinggalku di Perumahan Dua Cahaya. Dan utusan suamiku yang pernah datang ke rumah, itu dua kali. Selalu malam, pertama orangnya pakai topi, kedua pakai masker, yang datang pertama sama kedua itu beda."
"Kenapa suamimu pakai protokol semacam itu? Memangnya suamimu itu siapa?" Tanya Iptu Trijaya untuk mengorek informasi penting yang juga membuatku penasaran.
Aidah menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Panca Hartono."
__ADS_1
Ekspresi di wajah Iptu Trijaya seketika berubah dari yang tenang menjadi terkejut. "Panca Hartono?"
"Panca Hartono yang itu?" Tanya Iptu Trijaya. "Yang sekarang punya usaha percetakan?"
"Ya. Itu suamiku." Aidah membenarkan.
Iptu Trijaya terdiam dengan ekspresi wajah yang nampaknya menyatakan, "Sial!" Yah, sepertinya ia tak menyangka akan apa yang baru diketahuinya tentang kasus Dwi.
"Begini..." Iptu Trijaya memulai. "Dari ceritamu, saya bisa tebak hubungan kamu sama anak itu." Ucapnya sambil menunjuk ke tirai Dwi. "Dan saya cukup kenal suami kamu orangnya seperti apa. Kalau kamu mau laporkan ini, silahkan... Pasti akan ditindaklanjuti oleh kepolisian. Tapi kabarnya nanti tersebar cepat. Walau kalau kamu gak lapor juga kabarnya tetap akan tersebar..."
"Itu udah kuurus, Pak." Potong Aidah. "Gak akan tersebar selama kita yang ada disini gak sebarkan ini."
Aku cukup bingung, lalu kepingan informasi merayapiku. Ketika membantu persalinan Istri Satpam di rumahnya, Aidah sempat melakukan perjanjian dengan Satpam dan Si Nenek untuk tidak membiarkan kabar tentang penyerangan di rumahnya tersebar. Si Satpam jelas menyetujuinya karena karirnya juga dipertaruhkan. Dan Si Nenek juga setuju karena ia bukanlah tipe penggosip. Sampai Ambulans datang menjemput Dwi dan Aidah lalu membawa mereka pergi ke Klinik juga masih di saat warga lainnya belum kembali ke Kompleks perumahan. Jadi rahasia mereka aman, yang akan diketahui warga adalah ambulans datang untuk persalinan Istri Satpam. Dan mereka yang ada di sana akan mengarang alasan kepergian Aidah yang mendadak. Jujur saja, kecerdasannya dalam mengambil langkah yang tidak akan membahayakannya, membuat Aidah sedikit mengerikan menurutku.
Iptu Trijaya juga sempat bingung, tapi kemudian Ia mengabaikannya dan bilang, "Kalau memang mau lapor, laporkan. Tapi kalau gak mau, tetap akan saya selidiki kasus ini sendiri."
"Karena berhubungan dengan suami saya?" Tanya Aidah. "Bapak pikir ini mungkin ada hubungannya sama masa lalunya?"
Iptu Trijaya mengangguk. "Mungkin saja."
"Baik, Pak. Saya mengerti." Ucap Aidah.
"Kalau begitu, satu pertanyaan lagi." Kata Iptu Trijaya. "Bisa kamu beritahu detail motor yang mereka pakai."
Aidah pun memberitahukan apa yang diketahuinya. Kecuali plat nomor karena Ia tidak mengapalnya. Yah, ternyata masih ada sesuatu yang bisa dilewatkannya.
"Saya janji akan selidiki kasus ini." Ucap Iptu Trijaya, lalu Ia meminta Aidah untuk memberinya nomor Panca Hartono yang bisa dihubungi.
Beberapa detik setelahnya, HT milik Iptu Trijaya menangkap siaran dari salah satu anggotanya. Ia bergegas keluar ruang UGD ketika menjawabnya. Dan aku yang penasaran mengikutinya sampai keluar. Anggotanya memberitahukan tentang mereka yang mendapatkan laporan dari masyarakat akan terjadinya tawuran lain di jalanan.
"Kamu tetap disini dulu!" Perintah Iptu ke Juniornya yang mengikuti di belakangnya. "Pastikan sampai warga yang kita bawa tadi baik-baik saja. Setelah itu lapor ke saya."
"Siap, laksanakan!" Ucap Polisi muda.
Iptu Trijaya mengangguk tegas. Namun ketika Ia hendak melangkah pergi, Si Polisi muda menahannya dan menyampaikan pertanyaan yang juga membuatku penasaran.
"Sebenarnya siapa itu Panca Hartono?"
Iptu Trijaya tak langsung menjawab, Ia malah balik bertanya. "Kamu pernah dengar nama Mafia Putih?"
"Setahu saya itu nama kelompok besar yang pernah ada di kota ini. Kabarnya mereka cukup rusuh." Kata Polisi muda.
"Waktu itu kamu belum ditugaskan disini." Ingat Iptu Trijaya. "Ada dua generasi. Dua-duanya sama-sama rusuh. Bisnis mereka itu Narkoba, Senjata, sampai Perempuan! Kriminal!" Ujarnya. "Panca Hartono adalah orang yang sempat jadi anggota penting di dua generasi itu. Dia selalu lolos dari Polisi. Sekarang tempat percetakan yang jadi usaha utamanya. Tapi belakangan ini Intel mulai menyelidiki gerak-geriknya lagi."
__ADS_1
Tubuh Polisi muda menegas. "Artinya dia mulai aktif lagi?"
"Dugaan kuat... Panca Hartono mulai menjalankan Mafia Putih generasi ketiga!"