
...Raja Selatan...
13 Ramadan. Malam.
Menjadi Jin satu-satunya yang ada di Bumi membuatku terbiasa berada di antara kerumunan manusia sambil memperhatikan mereka dalam waktu yang lama tanpa satupun dari mereka menyadari kehadiranku. Karena itulah aku kaget sekali saat dua Pemuda mabuk yang ada di pesta ini tiba-tiba menyapaku.
"Ini untukmu!" Kata salah satu Pemuda sambil memberiku gelas yang sudah kosong. Pemuda ini yang sebelumnya mengantar motor Rossa. Pemuda yang tadi membuka kunci pagar ada di sebelahnya. Mereka berdua terlihat sangat mabuk. Mata sayu dan berdiri sempoyongan.
Aku yang terkejut dengan spontan menerima gelas pemberiannya tanpa penolakan. Yang kupikirkan adalah, Mereka melihatku! Gawat! Untuk mengubah keadaan yang kupikirkan berikutnya adalah, Aku gak mau dilihat! Jadi tak terlihat! Bisa dibilang aku terlalu memfokuskan diri di bagian terakhir. Aku juga baru sadar ketika melihat ekspresi kedua Pemuda mabuk itu berubah menjadi mabuk-bingung-terbengong-bodoh.
"Gelasnya hilang, Jo!" Seru Pemuda pengantar motor. "Aku bisa sulap!" Raungnya sambil mengepalkan kedua tangan ke udara.
"Iya, Rok..." Sahut Pemuda pembuka kunci sambil mengucek matanya. "Beneran hilang..."
Aku melihat gelas yang kupegang di tanganku yang tak lagi berbalut perban. Keseluruhan gelas itu berwarna merah meskipun tak ada isinya. Aku teringat apa yang pernah diajarkan Ra-ul. Jika berkonsentrasi Jin bisa membuat benda yang dipegang tersembunyi dari pandangan manusia. Benda itu baru bisa tersembunyi saat sepenuhnya berubah warna menjadi merah. Aku pernah belajar melakukannya, tapi tak pernah bisa membuat benda yang kupegang merah sepenuhnya. Tapi sekarang aku berhasil melakukannya.
"Oi, Rok!" Panggil Jo. "Hilangnya kemana?"
"Ah.." Rok mulai tersadar. Ia mengetuk-ketuk keningnya sebelum akhirnya bilang, "Aku tahu! Biar kumunculkan lagi!" Lalu ia mengulurkan tangannya ke depan dan berseru, "Kembalilah wahai gelas minum yang ajaib! Salakazam!"
Aku meletakkan gelas di atas telapak tangan Rok. Begitu tanganku terlepas dari gelas, warna merahnya memudar dan bisa terlihat lagi oleh Jo dan Rok.
"Haha!" Pekik Jo. "Muncul lagi, Rok!"
"Aku jadi Percy Jackson!" Ucap Rok bersemangat.
__ADS_1
"Siapa?"
"Itu lho, Penyihir yang pakai kacamata dan bawa-bawa tusuk sate... Yang musuhnya kepalanya botak dan hidungnya pesek."
"Itu bukan Percy Jackson, bodoh!"
"Bukan? Jadi, siapa namanya?"
"Itu Doctor Strange!"
"Kalian berdua salah! Percy Jackson itu Demigod Yunani. Doctor Strange itu Sorcerer Supreme. Yang kalian maksud itu Harry Potter." Ucapku yang tak tahan lagi melihat kebodohan mereka. "Dan kalian berdua gak bisa melihatku!" Aku menambahkan.
"Aku bisa melihatmu..." Kata Jo.
Dengan suara dalam aku menjawab, "Aku Batman!"
"Hahaha..." Rok terkikik. "Batman katanya... Mabok, ya?"
"Makanya jangan kebanyakan minum..." Kata Jo sambil menghabiskan sisa minuman beralkohol di botol yang dipegangnya. "Ayo, Rok! Kita ke Bos..."
Entah mana yang lebih membingungkanku, fakta kalau kedua Pemuda mabuk ini baru berkomunikasi denganku atau pengetahuanku tentang topik dari perdebatan konyol mereka. Aku hanya melihat saat mereka berdua berjalan melewatiku dan mendekati Rimba yang duduk bersandar di kursi berlengan yang tampak empuk. Disebelah kursi Rimba ada meja kecil yang di atasnya ada camilan, segelas minuman, kunci motor, dan ponselnya.
"Yo, Bos!" Panggil Jo. "Kapan kami bisa lihat video itu, Bos?" Ia bertanya sambil menunjuk ponsel Rimba.
"Ya, Bos!" Dukung Rok. "Gak ada dari kami yang pernah lihat... Kami bahkan gak tahu durasinya..."
__ADS_1
"Ya, Bos!" Sahutan dari anggota kawanan lainnya.
"Kami penasaran, Bos!" Seru mereka. "Kami juga mau lihat, Bos!"
Tapi Rimba bergeming tanpa memedulikan seruan dan teriakan kawanannya. Bukan karena terlalu mabuk, tapi karena Ia memilih untuk mengabaikan mereka. Malah sejak tadi kuperhatikan, Rimba yang paling sedikit minum. Ia juga tak menyentuh narkoba. Dan meskipun kebanyakan Pemuda dan Gadis yang di pesta ini saling mencumbu, dan ada beberapa Gadis yang mendekati dan menggodanya, Rimba nampak tak tertarik dengan mereka.
"Yo, Bos! Si Permata Hitam itu lumayan seksi..." Ucap Jo. "Aku penasaran seseksi apa dia di video... Apa lebih seksi dari mantanmu?"
Rimba yang sejak tadi bersandar ke punggung kursinya dengan kepala yang mendongak ke atas mengubah posisi duduknya menjadi condong ke depan setelah mendengar pertanyaan Jo. Aura hitam mulai menguar dari tubuhnya.
"Mantanmu itu memang seksi, Bos... Sayang sekali, ya?" Jo mulai mengoceh lagi. "Aku dengar dia sekarang pacaran sama Pemimpin dari Timur... Kau punya video dia, Bos? Kalau gak boleh lihat Permata Hitam, dia boleh juga... Hahaha..."
Rimba yang aura hitamnya semakin membesar karena amarah langsung bangkit dari duduknya dan meninju Jo tepat di wajah. Itu bukan satu tinju peringatan. Rimba tak berhenti dan lanjut meninju Jo berulangkali, bahkan sampai Jo yang mabuk itu terjatuh. Rimba menindih Jo dan terus meninjunya. Ia baru berhenti setelah dihentikan paksa oleh Pemuda berkacamata dan dua Pemuda lagi yang sempat ikut ke balapan. Mereka menarik Rimba menjauh dan menahannya.
"Tenang, Rim!" Ucap Pemuda berkacamata. "Dia mabuk!"
Lalu satu Pemuda lain yang bertubuh besar yang juga ikut ke balapan membantu Jo yang berdarah-darah untuk berdiri. Semua Pemuda dan Gadis mabuk yang ada di tempat ini terperangah dari apa yang baru saja terjadi. Rimba tak terlalu mabuk, tingginya sekitar 170 cm sama sepertiku, dengan tubuh tegap dan lengan berotot, setiap hantaman tinjunya pasti cukup kuat untuk ukuran manusia. Wajah berdarah Jo adalah buktinya. Bukti lain yang menunjukkan kebuasannya sebagai Pemimpin kawanan paling rusuh.
Rimba melepaskan diri dari teman-temannya yang menahannya dan berbicara dengan lantang ke semua orang, "Kalau ada dari kalian yang berani minta lihat video itu lagi, kuhajar kalian!" Ia berbalik ke mejanya untuk mengambil kunci dan ponselnya dengan tangan kiri. Lalu Ia berbalik lagi ke semua orang. "Satu lagi, jangan pernah sebut mantanku di depanku!" Setelah mengatakan itu Rimba berjalan menaiki tangga ke lantai dua.
Aku mengikuti Rimba yang menaiki tangga lalu masuk ke dalam salah satu kamar di lantai dua dan langsung mengunci pintunya. Ia lalu meninju pintu dengan keras untuk melampiaskan rasa kesalnya. Kemudian tanpa merasa sakit sedikitpun, Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menutup mata.
Setelah kejadian dengan Jo dan Rok tadi, Aku mendapatkan ide yang cukup bagus untuk membantu Rossa bebas dari pemerasan Rimba. Aku menunggu sampai Bos Kawanan Selatan ini terlelap. Dan setelah memastikannya, aku meraih ponselnya yang terletak tak jauh darinya. Aku menggenggam ponsel dengan sebelah tangan dan memfokuskan diriku untuk membuat ponsel ini memerah.
Ketika ponsel Rimba yang kupegang memerah sepenuhnya, aku bisa melihat informasi dari berkas-berkas di dalamnya yang seketika merasuk ke kepalaku. Setiap pesan yang dikirim dan diterima. Setiap musik, foto, sampai video. Diantara banyaknya berkas, Â tersembunyi bersama video lainnya, aku menemukan video yang jadi pusat kekacauan di malam ini. Kali ini informasinya lebih jelas, seakan aku bisa memutar langsung video itu benakku. Dan yang mengejutkanku adalah siapa yang ada di video itu bersama Rimba. Ternyata itu bukan Rossa. Tapi Gadis lain yang tak kukenal. Jika bukan Rossa, kenapa Ia menuruti perintah Rimba? Apa maksudnya semua ini?
__ADS_1