Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 15 - Permata Hitam


__ADS_3

...Permata Hitam...


13 Ramadan. Malam.


Kalau kau satu-satunya Jin yang tersisa di Bumi selama hampir dua Minggu dan harus hidup diantara banyaknya manusia yang 99%-nya tak bisa melihatmu, kau akan butuh hobi untuk menjaga dirimu tetap fokus dan tidak mati ditelan kebosanan. Karena itulah tepatnya yang kulakukan, menekuni hobi baru. Tapi kau mungkin bertanya-tanya hobi macam apa yang bisa memuaskan hasrat dari Bangsa Jin yang seleranya jelas sekali jauh melampaui Bangsa Manusia? Jawabannya adalah Mengalahkan Manusia di permainan mereka sendiri!


Beberapa malam terakhir ini aku menyibukkan diri dengan melatih kecepatanku. Aku melakukan itu dengan ikut serta dalam Balap liar yang diadakan para manusia. Bukannya aku ikut secara resmi, lagipula tak ada yang resmi dalam Balap liar. Tapi aku akan ikut serta dari posisi start dan berlari secepat yang kubisa menandingi motor-motor yang dikendarai para manusia yang biasa disebut "Joki" ini. Dan aku melakukannya dengan cukup baik. Akselerasiku membaik dan manuverku semakin membaik dari malam ke malam. Belum lagi aku selalu menang. Bukannya menyombongkan diri, tapi kecepatan mesin motor manusia bukanlah tandingan kecepatan Jin Gelap sepertiku.


Namun harus kuakui itu tidak mudah. Aku memfokuskan diriku untuk menginjak aspal dan tak menembusnya. Itu juga berarti aku bisa tersentuh benda lainnya. Jika aku tak berhati-hati aku akan berakhir di tabrakan dengan manusia. Dan itu bisa berakhir buruk untuk mereka. Tapi untunglah selama ini aku berhasil menghindari terjadinya kecelakaan. Ini juga bagian dari latihan mengendalikan kecepatanku. Jika aku tak berfokus, aku bisa berlari kencang sambil menembus kendaraan manusia, dan balapan akan menjadi mudah. Dengan memfokuskan diriku untuk tidak menembus selagi berlari kencang, disitulah letak tantangan bagi Jin sepertiku.


Setiap malam aku menyelesaikan satu balapan dan pindah mengikuti balapan berikutnya. Baik itu balapan di jalur lurus untuk menentukan kecepatan terbaik. Atau balapan di jalur yang berbelok-belok untuk menguji keahlian terbaik. Dari balapan dengan motor bebek modifikasi, motor matic, motor sport, sampai ke balapan sekuter. Aku terus berlari melampaui satu demi satu dari Joki balap liar terbaik di kota. Aku berpindah dari balapan di Pusat, Barat, Utara, Timur, dan kini di Selatan.


Selama waktuku di dunia balap liar manusia, aku mendengar desas-desus akan Balap liar kalangan atas yang dihadiri manusia-manusia yang memiliki banyak harta. Dan Joki balap yang paling terkenal di balapan itu yang disebut Permata Hitam. Ya, ya, aku tahu. Geng Dua roda? Mafia Putih? Permata Hitam? Selera penamaan manusia memang tidak pernah memuaskan. Tapi disinilah aku! Siap untuk berlari melampaui Permata Hitam!


Aku ada di ujung Daerah Selatan, jauh dari pusat kota. Balapan malam ini akan dilangsungkan di jalanan aspal yang melintasi perkebunan tebu yang berhektar-hektar luasnya. Dengan penerangan yang berasal dari lampu-lampu di sisi jalan yang berjajar dengan jarak tertentu satu dengan lainnya. Tapi malam ini cahaya dari bulan yang tak terhalang menyinari tempat ini.


Balapan kali ini bisa dibilang yang paling menantang karena peraturan ketatnya yang berbeda sekali dengan balap jalanan lainnya. Jalur balapan ini kurang-lebih 10 km jalanan aspal dengan sedikit belokan. Kalau Joki balap lain akan menggunakan motor modifikasi mereka yang sudah sering digunakan untuk berlatih. Disini ketiga Joki balap diharuskan mengendarai motor yang sama, tiga motor sport standar keluaran pabrik tanpa modifikasi. Meski tanpa modifikasi tapi motornya tetap cepat, jadi tetap butuh penyesuaian untuk mengendarainya di kecepatan tinggi. Tapi Joki tak diperbolehkan untuk mencoba motor sebelum balapan.


Kelompok manusia penyelenggara balapan ini yang juga memilih jalur, selalu mengganti model motor dan jalur balap di setiap balapan yang dilakukan sebulan sekali. Joki baru akan diberi penjelasan tentang jalur balapan setelah datang ke lokasi yang diberikan ke mereka. Mencoba menyogok mereka untuk dapat informasi terperinci mengenai motor dan jalur balap juga tak berguna. Itu yang kudengar dari para manusia.


Persiapan penyelenggara juga tak main-main untuk sekedar Balap liar. Mereka merekam dengan drone yang mengudara cukup tinggi supaya dapat menangkap gambar dengan jangkauan yang luas. Dan mereka juga memasang kamera di bagian depan dan belakang motor. Gambar video yang ditangkap dari kamera-kamera itu disiarkan langsung ke ponsel para petaruh baik yang datang langsung ke lokasi atau melihat dari tempat lain. Ada satu minibus dipenuhi komputer dan alat elektronik yang sepertinya beroperasi sebagai markas penyiaran mereka.

__ADS_1


Petaruh tak bertaruh dengan uang. Melainkan dengan barang berharga seperti emas dan berlian. Seperti yang kuberitahukan sebelum. Ini tempatnya manusia kaya dengan banyak harta. Semua peralatan mahal hanya untuk memfasilitasi Balap liar, dan semua harta benda yang dipertaruhkan hanya kepada tiga orang yang beradu kecepatan dengan mengendarai motor di tengah-tengah malam. Aku tak akan pernah bisa memahami hasrat Perjudian umat manusia. Dan aku tak berniat untuk memahaminya.


Saat ini baru ada dua Joki yang sampai. Keduanya Laki-laki yang masih muda diusia sekitar pertengahan dua puluhan. Pemuda jangkung dan Pemuda yang lebih pendek. Satu lagi Joki yang belum datang, Si Permata Hitam.


"Itu dia!" Kata temannya Pemuda jangkung ketika melihat lima motor sport datang mendekat.


Masing-masing motor dikendarai lima Pemuda yang memiliki logo Geng Dua roda di jaket kulit mereka. Setiap dari mereka membonceng satu Gadis. Tapi satu Gadis berpenampilan sangat berbeda. Gadis itu mengenakan celana jeans dan jaket kulit berwarna hitam, dilengkapi dengan sepasang sepatu dan sarung tangan berwarna serupa. Dan Gadis itu juga mengenakan helm full face yang menutupi wajahnya. Pembalap lain memang diharuskan mengenakan helm, benda yang biasanya diabaikan Balap liar lainnya. Tapi helm mereka tidak berkaca untuk memudahkan mereka melihat di jalur yang gelap, tak seperti milik si Gadis yang berkaca reflektif. Dari penampilannya yang serba hitam dengan helm mengkilap, aku mulai memahami kenapa Joki ini disebut Permata Hitam.


Jadi ternyata Joki yang dikenal sebagai Permata Hitam adalah seorang Gadis anggota Geng Dua roda. Aku heran kenapa aku tidak terkejut.


Ditemani Pemuda dengan tindik berbentuk kepingan hitam di kedua telinganya, Permata Hitam mendekati Laki-laki dewasa dengan brewok tebal yang merupakan perwakilan dari Penyelenggara.


"Kukira kau gak datang, Rimba." Kata Si Brewok.


"Kalau kau terlambat, bagaimana kau bisa menang?" Tanya Si Brewok.


"Permata Hitam datang terakhir karena Pemenang gak menunggu orang lain." Jawab Rimba. "Hanya pecundang yang menunggu." Sambungnya.


Setelahnya Si Brewok mengumpulkan Permata Hitam dengan dua Joki lainnya dan memperlihatkan rekaman dari drone yang menunjukkan jalur balapan mereka. Lalu mereka bertiga mengambil undian angka untuk menentukan motor mana yang akan mereka kendarai. Ketiga motor itu sama persis sampai ke warna catnya. Jadi aku tak memahami gunanya pengundian ini.


"Permata Hitam! Ini balapan pertama kita." Ucap Joki jangkung sambil mengulurkan tangannya. Tapi Permata Hitam hanya mengangguk padanya sebelum berlalu menuju motor bagiannya.

__ADS_1


"Dia memang begitu." Sambar Joki yang lebih pendek. "Seksi dan misterius... Nanti juga terbiasa."


"Kau pernah balapan melawannya?" Tanya Joki jangkung.


"Sekali." Joki yang lebih pendek mengangguk. "Dan sekarang aku gak akan kalah lagi."


Lalu mereka mengenakan helm dan menuju ke motor bagian mereka yang ada di kanan-kiri mengapit Permata Hitam yang ada di tengah.


Aku bersiap di belakang barisan motor 250 cc. Di depanku, mereka mulai menyalakan mesin. Begitu aba-aba maju diberikan, ketiga motor itu berpacu meninggalkan garis start. Aku tak langsung berlari mengikuti mereka. Kurang menantang jika begitu. Setelah ketiga motor di depanku melaju lebih dari 100 meter barulah aku mulai berlari mengejar.


Aku tak bisa melesat secepat Ri-val di langkah-langkah awal. Tetapi semakin jauh dan lama aku berlari kecepatanku akan terus meningkat. Kugerakkan kedua kakiku, dan kedua tanganku juga untuk menjaga keseimbangan. Semakin cepat aku berlari, jarakku dengan ketiga motor semakin dekat. Dan hembusan angin yang terasa menerpaku memberikan sensasi kesenangan tersendiri saat dunia berlalu dengan cepat disekitarku. Meski tak mengejar para Joki manusia, perasaan ini tak akan pernah membuatku bosan. Tapi kini aku harus melampaui mereka yang semakin dekat. Saat itulah kejadian itu terjadi...


Setelah menempuh jarak sekitar 7 km, jarakku dari ketiga motor di depanku hanya sekitar 7 meter. Ketiga Joki itu bersaing sengit selagi melaju di kecepatan tinggi dengan jarak satu sama lain yang sangat dekat. Mereka saling mendahului. Tak membiarkan salah satu dari mereka memimpin terlalu lama sebelum menyalipnya. Lalu tiba-tiba drone yang sejak tadi merekam aksi mereka jatuh menukik di hadapan mereka. Joki jangkung yang ada di depan terkejut dan kehilangan keseimbangan saat mencoba menghindari drone yang hampir menghantam kepalanya. Akibatnya motornya menubruk Joki yang lebih pendek dan mereka berdua jatuh terseret di jalanan aspal.


Aku yang ada di belakang mereka tak kalah terkejut. Untunglah aku yang sudah berlari kencang sempat melompati salah satu motor yang terseret di depanku dan langsung bergerak ke samping menghindari Joki jangkung yang terguling-guling di aspal. Aku melambatkan langkahku sebelum akhirnya berhenti bersamaan dengan Permata Hitam yang juga menghentikan motornya.


Permata Hitam juga sempat kehilangan keseimbangan karena kecelakaan yang terjadi tiba-tiba itu. Tapi Gadis itu berhasil dengan cepat menguasai motornya untuk kembali stabil. Jaraknya hanya beberapa meter dari Joki jangkung yang kini tergeletak di tengah aspal. Sementara Joki yang lebih pendek yang terseret sampai ke luar aspal hampir mengikuti motor yang tadi dikendarainya jatuh ke dalam parit di batas Perkebunan tebu. Tapi mereka berdua masih bergerak.


Disaat aku melihat mereka berdua yang tergeletak setelah kecelakaan, aku tertarik ke tempat lain lagi. Kali ini aku berkendara bersama dua Pemuda lain di kanan dan kiriku. Mereka adalah Pemuda yang kulihat sebelumnya. Di kananku ada Pemuda yang selalu mengenakan ikat kepala bercorak batik mengendarai motor bercat Hitam-Putih. Dan di kiriku ada Pemuda yang kepalanya berdarah, tapi kini masih baik-baik saja. Dengan senyum lebar, ia mengendarai motor bercat Hijau daun. Aku sendiri mengendarai motor bercat Merah. Dan dari sebelah kaca spion yang mengarah ke orang yang duduk di belakang, aku bisa melihat Gadis cantik yang juga pernah kulihat sebelumnya.


Mereka bertiga bahagia, terlihat jelas di wajah mereka. Dan untuk mengekspresikan kebahagiaannya, Pemuda dengan ikat kepala bergaya dengan mengangkat motornya dan bertumpu hanya pada ban belakang. Ia melaju dengan mulus dalam beberapa meter,  sampai tiba-tiba Ia mulai kehilangan keseimbangan, oleng ke samping, dan terjatuh dengan kaki kiri tertekuk. Akhirnya Pemuda itu tergeletak kesakitan di jalan.

__ADS_1


Lalu aku ditarik kembali ke masa kini. Kulihat Permata Hitam turun dari motor. Aku tak terguling-guling di aspal, tapi dunia serasa jungkir balik saat aku melihat Permata Hitam membuka helmnya. Wajah dibalik helm itu adalah wajah yang pernah beberapa kulihat sampai aku hafal dengan baik. Gadis itu adalah Gadis yang sama yang bekerja sebagai Kurir pengantar paket. Gadis pemilik Drako si Kucing hitam. Identitas asli Permata Hitam adalah Rossa!


__ADS_2