
...Pertempuran Di Malam Terakhir...
29 Syaban. Malam.
Senja baru berakhir. Matahari telah terbenam. Langit mulai menggelap.
Aku bersama Ra-ul dan Ri-val bergabung dengan puluhan Jin lainnya di Lapangan rumput tempat terjadi tawuran antar manusia sore tadi. Kali ini tak ada manusia sama sekali di lapangan ini. Hanya ada dua kubu Jin yang siap bertempur dengan satu sama lain. Jin Gelap dan Jin Terang.
Di tempat lain, manusia sedang menjalankan Sidang Isbat untuk menetapkan kapan tanggal 1 Ramadan. Informasi dari manusia-manusia yang tersebar di berbagai tempat untuk melihat penampakan Hilal—Bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi pada arah matahari terbenam—dikumpulkan sebagai dasar dari penentuan itu. Kaum Jin sudah tahu, Hilal terlihat di berbagai wilayah. Itu berarti besok adalah tanggal 1 Ramadan. Juga berarti malam ini adalah malam terakhir sebelum semua Jin ditarik dari Bumi.
"Ini tak perlu terjadi!" Seru Jin Terang yang berdiri terdepan dari kelompoknya.
Terdengar seruan tidak senang dari sekitarku. Lalu salah satu dari kami melayang maju. "Ini tradisi!" Ucap Jin Gelap dengan api yang berkobar-kobar memanjang dari bahu ke belakangnya seperti jubah. "Ditambah lagi kalian sudah mengganggu kami sore tadi. Disini! Tempat ini! Kini akan menjadi medan pertempuran di malam terakhir!"
Melihat Jin itu melayang di udara di gelapnya malam dengan jubah apinya yang berkibar mengingatkanku akan Superman. Tunggu... Apa? Superman? Apa itu Superman? Darimana aku tahu nama itu?
"Serang!!" Teriakan Jin berjubah membahana dan membuatku terperanjat. Segera dia langsung melesat ke depan, diikuti oleh semua Jin Gelap di sekitarku yang menerjang ke depan untuk menyerang Jin Terang.
Aku melihat Ri-val berlari dengan cepat dan memukul Jin Terang hingga terpental tiga meter ke belakang. Ra-ul yang melesat di udara menghindari tinju Jin Terang dan menendangnya dari belakang hingga jatuh ke tanah. Sa-gan beradu sundulan dengan Jin Terang yang lain. Segera sekitarku berubah jadi bentrokan dahsyat. Jin Gelap menyerang Jin Terang dengan satu tujuan untuk mengalahkan mereka. Puluhan Jin saling memukul, menendang, menjitak, menggigit, menggelitik, dan meneriakkan seruan perang. Bagaimana semua ini bermula? Yah... Ini bermula dari bertahun-tahun yang lalu...
Dahulu, di malam terakhir bulan Sya'ban, Jin Gelap akan memburu dan menyerang Jin Terang secara berkelompok sebelum mereka menghilang. Setelah beberapa tahun, Jin Terang memutuskan untuk bergabung dan melindungi diri mereka sebagai satu kesatuan. Jin Gelap berhasil dikalahkan. Tapi Tahun berikutnya, Jin Gelap juga bergabung menjadi satu kesatuan. Jadi setelah tahun itu, Kubu Jin Gelap dan Jin Terang bertempur sebagai dua kesatuan besar. Pertempuran itu selalu terjadi di malam terakhir sebelum bulan Ramadan. Jika Jin Terang menolak dan berpisah-pisah, itu malah menguntungkan Jin Gelap. Jadi, Jin Terang tetap bertempur... Sampai saat ini.
Banyak Jin yang bertarung sambil melayang di udara. Sebagian lagi menyerang lawan di tanah. Dan sedikit Jin yang terkuat bergulat dalam kecepatan yang luar biasa. Aku berada di tengah-tengah pertempuran. Bersiaga kalau-kalau ada Jin Terang yang berminat menyerangku. Tapi sepertinya mereka semua sibuk dengan lawan masing-masing. Lagipula pikiranku sepertinya tidak berada di satu tempat yang sama. Aku masih tak mengerti kenapa aku melihat penampakan manusia yang tersungkur dan berdarah-darah padahal aku belum pernah bertemu manusia itu. Ditambah kata Superman yang muncul begitu saja di benakku saat aku melihat Jin berjubah. Mungkinkah itu kepingan masa laluku?
"Jahhh!!!" Pekik Jin Gelap yang terseret dari sebelah kiri ku dan terhenti tepat di hadapanku. Jin dengan api yang keluar dari telinganya itu langsung bangkit dengan cepat.
Aku pernah bertemu dengannya di malam sebelumnya saat menyaksikan Balap liar. Aku tak pernah tahu namanya. Aku baru akan menanyai apa ia baik-baik saja saat tiba-tiba Jin Terang menerjang dan meninjunya hingga terpental jauh ke sisi kananku. Jin Terang itu berdiri di hadapanku, kepalanya menoleh ke arahku dengan kedua matanya yang bercahaya keemasan. Jin ini pasti tingginya lebih dari 3 meter, karena tinggiku hanya setengahnya yang menjulang di depanku. Tapi aku siap untuk melawannya, namun ia malah menggeleng dan berpaling lalu berjalan menjauh.
"Jangan mengabaikanku, oi!" Bentakku.
__ADS_1
"Apa?" Jin Terang itu menoleh ke arahku.
Disaat yang sama, Jin bertelinga api melesat ke arahnya dengan tinju yang siap dilepaskan. Harusnya serangan itu kena, karena ia tak melihatnya. Tapi Jin Terang berhasil menghindar dan tangan kirinya bergerak dengan cepat meraih leher Jin Telinga api, mencekiknya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, bahkan tanpa menoleh.
"Apa kau bilang tadi?" Tanya Jin Terang. Jin Telinga api meronta-ronta di cengkraman tangannya.
Aku harusnya membantunya. Aku maunya begitu, tapi aku malah bilang, "Kau bisa lanjutkan!"
Jin besar itu menggeram sebelum berpaling dan meninju si Telinga api hingga terpelanting jauh ke udara. Lalu ia melompat dan menghantam Jin Gelap lainnya yang bernasib malang. Gerakannya mirip sekali dengan Hulk. Apa? Hulk? Lagi? Siapa Hulk? Nama itu muncul begitu saja dari antah-berantah. Suasana pertempuran ini mengacaukan pikiranku!
Aku melangkah sambil menghindari Jin-jin di sekitarku. Aku menunduk saat Jin Terang melayang ke arahku. Aku melangkahi Jin Gelap yang terkapar di tanah berumput. Dan aku berpura-pura tak melihat satu Jin yang tersungkur dengan wajah dan lutut mencium tanah dan bokong mencium udara. Pose yang sama sekali tidak keren. Tunggu dulu... Itu Si Telinga api! Pasti baru saja jatuh dari langit setelah pukulan Jin Hulk tadi... Yah, jelas sekali aku tak melihat itu. Aku bilang Hulk lagi? Gawat! Aku harus segera pergi dari tempat ini! Kupercepat langkahku, sekarang aku berlari! Lalu...
"Brukk!!"
Lariku terhenti karena sesosok Jin Gelap yang tiba-tiba jatuh di hadapanku. Sialnya, aku mengenali Jin itu juga. Sa-gan Si Sarung tangan api. Tubuhnya berkedip-kedip merah. Dengan sebelah tangan terangkat dan suara merana ia bilang, "Gak adil... Aku belum meninju siapapun..." Lalu...
"Boom!"
"Boom! Boom! Boom! Boom!!!"
Mereka semua lenyap. Lalu aku melihat sesosok Jin yang berkedip-kedip terpelanting ke arahku dari depan. Aku menyilangkan lengan untuk menahan kekuatan benturan. Tapi sebelum itu terjadi...
"Boom!"
Jin itu lenyap selagi terpelanting di udara! Aku langsung berbalik dan berlari. Tapi aku menubruk Jin lain. Jin itu jatuh terduduk ke belakang dengan kedua lengannya menyangga tubuhnya.
Yang ada di hadapanku adalah Jin yang proporsi tubuhnya menyerupai manusia berkelamin perempuan. Jelas sekali ia pasti Jin perempuan. Api di kepalanya berkobar memanjang ke belakang punggungnya dan membelah di kedua sisi wajah sampai ke dadanya seperti rambut manusia. Saat aku menatap matanya, cahayanya berwarna merah keemasan... Ia Jin Terang. Dan aku terpesona oleh keindahan sosoknya yang berkilau keemasan di gelapnya malam ini.
Lalu terjadi lagi... Suasana sekitarku berubah. Aku tak lagi di lapangan dan yang kulihat di hadapanku bukanlah Jin, melainkan manusia. Seorang gadis yang terduduk di posisi yang sama. Gadis berambut hitam panjang itu mengenakan celana jeans ketat berwarna hitam dan kemeja lengan panjang berwarna biru gelap. Wajahnya lebam di pipi kiri dan mata hitamnya yang berair menatap langsung ke mataku.
__ADS_1
Detik berikutnya punggungku menghantam tanah karena salah satu Jin Terang menerjangku. Jin itu berjongkok di atas tubuhku dengan tangan kanannya mencekik leherku. "Jangan ganggu dia!" Ucapnya.
Aku mengenalinya. Jin bertudung yang mencegat kami di taman. Sepertinya ia tak menyukaiku, karena cekikannya semakin erat. Wajahnya menatapku galak seolah aku baru saja menghina neneknya. "Kau berbeda..." Ucapnya dengan nada dingin. Lalu rautnya berubah bingung saat ia bilang, "Kau bukan.."
"Bukh!"
Jin bertudung itu terpental karena tendangan Ri-val.
"Kau gak apa-apa?" Tanya Ri-val sambil mengulurkan tangannya untuk membantuku.
"Ya. Terimakasih..!" Ucapku Begitu berdiri tegak. Lalu aku menyadari sesuatu dan bilang, "Tubuhmu!"
"Ah, ini.." kata Ri-val dengan tenang saat melihat tubuhnya yang berkedip-kedip merah. "Sudah waktunya. Sepertinya aku duluan... Kutunggu kau di.."
"Boom!"
Ri-val menghilang sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Dia sudah pergi?" Tanya suara yang familiar dari belakangku.
Aku menoleh ke Ra-ul yang sedang menginjak Jin Terang yang tergeletak di bawahnya. Aku menunjuknya dan bilang, "Kau juga.."
"Ah..." Desah ketidakpuasan Ra-ul begitu menyadari tubuhnya juga berkedip-kedip. "Oke. Kata-kata terakhir... Harus keren... Apa ya? Apa? Apa? Apa? Aha! Itu dia! Aku.."
"Boom!"
Dia hilang juga. Kini aku penasaran apa sisa kalimatnya. Sepertinya bakal keren. Tapi kemudian aku mengingat Jin yang tadi kutabrak. Aku menoleh ke tempatnya, dan... Ia tak ada di sana. Aku celingak-celinguk ke sekitar, tapi aku tak bisa menemukannya, Jin bertudung juga, mereka menghilang. Semua Jin... Gelap maupun Terang... Satu persatu menghilang... Sampai hanya tersisa diriku sendiri di lapangan ini.
Oke... Aku sudah siap untuk menyusul mereka. Kapan pun itu! Semoga saja tidak terasa menyakitkan. Aku menunggu... Terus menunggu... Masih menunggu... Dan... Tak terjadi apa-apa! Aku masih di lapangan ini! Hanya aku sendiri! Apa yang terjadi???
__ADS_1