
...Menyatukan Titik-titik...
17 Ramadan. Mendekati Tengah Malam.
Aku bisa merasakan di udara di sekitarku, kehadiran dari sesosok Jin lain. Tapi hanya sisa kehadirannya saja, Jin itu sendiri sudah lama meninggalkan tempat ini. Begitu aku berpisah dengan Wawan yang memberi perintah ke teman-temannya untuk mencari motor yang diduga milik pelaku penyerangan yang melukai Dwi, aku langsung menuju ke warung makan yang sudah tutup ini. Beberapa jam lalu, di warung makan ini terjadi sebuah insiden yang sempat terekam ponsel salah satu pengunjung. Lima anggota Geng Dua roda yang datang untuk meminta uang jatah preman mengalami hal yang sama sekali tak masuk akal--setidaknya bagi otak manusia yang terbatas itu--ketika mereka secara ajaib tertarik hingga terjatuh satu persatu dan terseret sampai keluar warung secara bergantian. Yang melakukan hal cerdik seperti itu untuk menakuti mereka adalah sesosok Jin yang sedang kucoba untuk temukan.
Aku berkonsentrasi penuh dan mencoba memanfaatkan residu energi dari sisa kehadiran Jin di tempat ini untuk kugunakan sebagai pelacak supaya aku bisa menemukan lokasi terkini darinya. Namun ternyata jangkauan radar Jin-ku hanya sejauh 5 kilometer dari titik keberadaanku sama seperti sebelumnya. Dan di ruang lingkup itu aku tak merasakan kehadiran Jin yang sama yang kurasakan di tempat ini. Sepertinya kemampuan deteksiku tak sehebat yang kubayangkan. Mengecewakan.
Selama kurang lebih seminggu terakhir Jin yang kucari ini sangat aktif membantu manusia, mulai dari menghentikan perampokan dan penyerangan sampai melakukan penyelamatan di jalan. Karena sebab itulah manusia menyebutnya Pahlawan Tak Terlihat. Yang membuatku penasaran, kenapa selama seminggu terakhir ini aku tak merasakan keberadaannya sama sekali? Mungkinkah ada semacam pola di setiap kemunculannya? Mungkinkah Ia memiliki batasan seperti ruang lingkup radar Jin-ku? Atau mungkin lebih tepatnya, Ia sengaja membatasi wilayah operasinya sama seperti pembagian Divisi Geng Dua roda. Aku harus mencari tahu lebih jauh informasi tentangnya.
Tapi rencanaku untuk menyerap informasi itu lewat video-video yang menangkap aksinya yang dikoleksi oleh Dwi telah tertunda karena aku tak tahu dimana keberadaan manusia yang mencuri ponselnya. Dan meskipun aku benar-benar ingin menghajar kedua manusia kurang ajar itu karena apa yang mereka lakukan malam ini, pikiranku masih dipenuhi oleh Pahlawan Tak Terlihat saat ini. Aku harus tetap fokus agar pikiranku tak terpecah dan membuatku semakin bingung langkah apa yang harus kulakukan. Tapi tunggu dulu...
Semua video kemunculan Pahlawan Tak Terlihat itu dibagikan di Internet. Dan setiap ponsel yang bisa mengakses Internet dapat melihatnya. Jadi itu artinya aku bisa melihat video itu melalui ponsel manusia lain. Yang harus kulakukan adalah mencuri ponsel manusi dan mencari video itu sendiri! Tapi... Pasti tak akan jadi semudah itu. Jika aku memerahkan ponsel aku bisa mengetahui sandi untuk membuka kunci ponsel, tapi mencoba mengakses Internet sendiri akan jadi hal yang lebih sulit, seperti ketika aku mencoba menulis dengan pena di kertas. Sial! Aku harus apa!?
Hmm... Mungkin... Mungkin aku harus minta bantuan. Tapi siapa? Wahyu keponakannya Wawan? Gak... Bocah itu sepertinya bukan pilihan tepat. Siapa lagi? Hmm... Mungkin Drako si Kucing hitam peliharaan Rossa? Gak bisa juga... Itu namanya pilihan putus asa. Joko? Gak... Gak mungkin... Aku malah jadi kurang sensitif dan menghina kalau datang ke dia. Tapi Siapa lagi yang bisa kumintai bantuan dan benar-benar dapat diandalkan? Hmm... Hanya ada satu pilihan tersisa, tapi... Sial! Sepertinya aku gak punya pilihan lain. Aku harus ke tempat itu.
--
"Hoaa... Jadi kau mau lihat semua video kemunculan Pahlawan Tak Terlihat untuk cari tahu dimana aja tempat dia muncul?" Ucap Adam sambil menguap setelah aku menceritakan maksud kedatanganku ke tempatnya mendekati tengah malam.
"Ya." Aku mengangguk. "Bisa tolong aku?"
"Ya bisaaa..." Sahutnya sambil menguap lagi.
Sepertinya Ia benar-benar mengantuk. Itu membuatku merasa harus mengucapkan sesuatu, "Maaf datang semalam ini."
"Gak masalah." Kata Adam. "Aku memang kelelahan karena tadi ada acara buka puasa bersama di luar." Ungkapnya. "Setelah Tarawih tadi aku juga sempat jalan-jalan sebentar.."
"Bareng Rossa.." Potongku setelah melihat gambaran Rossa.
Adam melihatku dengan dahi berkerut. "Tahu darimana? Kau menguntitku? Sejak kapan?" Tanyanya bertubi-tubi.
"Jangan berlebihan, oi. Aku tahu karena sekarang aku bisa melihat sekilas ingatan manusia saat mereka berkata jujur." Aku menerangkan. "Semakin mereka jujur, semakin jelas ingatan mereka yang kulihat."
"Jadi sekarang kemampuanmu juga berubah? Dari yang sebelumnya menangkap memori manusia lewat Aura hitam dari emosi negatif, sekarang dari kejujuran manusia?"
"Bukan berubah, lebih ke peningkatan." Aku mengkoreksi. "Aku masih bisa lihat kepingan memori manusia dari Aura hitam mereka. Tapi waktu mereka jujur, itu lebih jelas lagi. Percakapan, Pemikiran, Perasaan mereka jadi lebih jelas. Bahkan Ingatan yang lebih dalam juga bisa kulihat." Jelasku.
__ADS_1
Adam mengangguk paham. Lalu bilang, "Keuntungan berubah dari Jin Gelap jadi Jin Terang."
"Tolong jangan bandingkan siapa aku dulu dan sekarang kalau gak mau kubahas apa saja yang kau lakukan bareng Rossa malam ini."
"Oh. Kau mau penjelasan?"
Aku diam saja dan hanya menatap Adam dengan wajah datar.
"Oke." Ucap Adam. "Biar kujelaskan semuanya biarpun kurasa ini gak perlu." Lanjutnya kemudian sebelum Ia menceritakan dengan lebih detail apa yang dilaluinya malam ini. "Ingat Ibu yang kita tolong waktu dijambret? Namanya Bu Jamilah. Jadi Bu Jamilah undang kami berdua untuk buka bersama di rumahnya yang ada di daerah pusat. Bu Jamilah ini orang yang bercukupan, tahu maksudku?"
"Orang kaya?"
"Bisa dibilang begitu." Kata Adam. "Tapi sikapnya baik dan sederhana. Bukan tipe yang terlalu pamer. Beliau juga asuh enam anak yatim-piatu yang tinggal di rumahnya. Aku udah minta ijin ke Pak Haji. Jadi Aku dan Rossa datang ke sana. Kami buka bersama, sholat Maghrib bersama, setelah itu baca Al-Qur'an, Shalat Isya dan Tarawih bersama juga di Masjid. Setelah itu baru aku dan Rossa pamit..."
"Dan kalian jalan berdua..." Potongku lagi.
"Ini ceritaku atau ceritamu?" Ucap Adam kesal, yang kubalas dengan mengangkat kedua tanganku.
"Kami memang jalan berdua..." Adam mengakui. "Tapi ada tujuannya. Bukan sekedar jalan-jalan keliling kota untuk habiskan waktu, tapi Rossa mengajakku ke tempat pertama kali dia ikut balap liar. Di daerah Selatan." Kenang Adam. "Dia cerita banyak... Rasa sukanya dengan balap motor yang bawa dia ke dunia balap liar... Sampai gimana dia bisa terjebak Geng Dua roda seperti yang pernah kau ceritakan..."
"Dan ternyata kami kenal orang yang sama." Adam lanjut bercerita. "Temanku yang memesan buku ini untukku..." Katanya sambil memberikan sebuah buku padaku. "Aku baru tahu kalau dia sepupunya Rossa."
Kubaca judul buku yang kupegang, "Hantu, Ingatan berjalan manusia yang sudah meninggal! Ini tentang apa?"
"Ini cerita fiksi, inti ceritanya tentang teori yang menyatakan apa yang dianggap orang-orang hantu itu adalah semacam manifestasi dari ingatan manusia. Karena itulah terkadang ada hantu yang seakan muncul untuk menuntaskan keinginan yang belum terselesaikan. Yang biasa disebut orang-orang Arwah penasaran. Dan kadang hantu itu mendatangi orang-orang yang dikenalinya semasa hidupnya. Menurut buku ini, karena hantu memiliki ingatan-ingatan tertentu dari ketika seorang manusia masih hidup."
"Dan kau percaya itu memang benar?" Aku bertanya ke Marbot ini. "Kalau Hantu adalah manifestasi dari ingatan-ingatan manusia?"
Adam diam beberapa lama, sebelum mengatakan. "Tak ada satu manusia pun yang mengetahui dengan pasti perkara Ghaib." Lalu Ia mengungkap isi pemikirannya, "Berbeda individu, berbeda perspektif. Ini hanya salah satu dari banyaknya sudut pandang dalam percobaan untuk menelaah perkara Ghaib dengan pemahaman yang mudah diterima. Bisa saja dua teori yang berbeda dari sudut pandang yang berbeda, keduanya benar. Karena menurutku ini bukan soal benar atau salah, tapi... Soal bagaimana cara kau menerima perkara Ghaib itu. Karena entah benar atau salah... Itu tetap nyata."
Ya, Ini memang nyata. Kehidupan yang kujalani ini meski menurut standar Jin juga aneh dan tak biasa; kehilangan ingatan dan suara, Terjebak di bulan Ramadhan, membajak tubuh manusia, kepingan memori manusia yang terasa seperti kujalani sendiri, dan perubahan dari Jin Gelap menjadi Jin Terang. Semua ini tetap nyata. Ghaib itu nyata. Dan aneh rasanya harus mendengar itu keluar dari mulut seorang manusia.
"Tapi diluar sana makin liar aja, ya?" Ucap Adam membuka obrolan dengan topik berbeda setelah keheningan yang terjadi. "Tadi kami sempat melewati jalan yang ada orang-orang yang mau tawuran."
"Tawuran?" Ulangku. "Tapi Rossa baik-baik saja, kan?"
"Dia baik-baik saja." Kata Adam. "Orang-orang itu masih siap-siap mau tawuran, dan Tim Garuda juga datang ke tempat itu. Orang-orang itu langsung kabur, tapi ada beberapa yang tertangkap."
__ADS_1
"Tim Garuda?"
"Kelompok polisi penjaga kerusuhan di malam hari. Kalau gak salah anggotanya sekitar dua puluh orang. Biasanya wilayah patrolinya itu lingkar dalam kota. Ah... Ini dia fotonya!"
Aku memperhatikan foto yang ditunjukkan Adam di ponselnya. Foto beberapa orang polisi mengenakan rompi anti peluru bersenjata lengkap. Aku mengenali dua dari mereka, polisi yang ada di tengah dan polisi muda yang ada di ujung kiri sebagai Iptu Trijaya dan temannya yang kutemui di Klinik Permata Hijau.
"Ini pemimpinnya?" Tanyaku sambil menunjuk foto Iptu Trijaya.
"Ya." Adam mengangguk. "Iptu Trijaya. Kata temanku dia bagian dari Intel kepolisian."
Informasi itu tak mengherankan setelah aku mengingat kembali pembicaraan Iptu Trijaya dengan juniornya yang menyinggung Mafia Putih. Geng Dua roda, Mafia Putih, dan Tim Garuda. Melihat perkembangan ini, sepertinya situasinya akan bertambah kacau beberapa hari kedepan. Tapi kini aku punya urusan lain yang lebih mendesak untuk kuselesaikan. Jadi kuingat kan kembali Adam alasan apa yang membawaku kemari.
"Ya, kau benar. Ada pola kemunculannya." Ucap Adam setelah menonton semua video kemunculan Pahlawan Tak Terlihat yang kebenarannya kukonfirmasi.
"Dan..?" Ucapku yang menunggu penjelasan lebih lanjutnya.
"Lihat ini!" Ucap Adam yang menunjukkan padaku gambaran tangan peta kota yang baru dibuatnya. "Titik-titik inilah tempat kemunculannya. Lihat polanya?"
Aku memperhatikan titik-titik yang dibuat Adam di peta. Titik-titik terluar membentuk lingkaran yang mencakup Daerah Pusat dan Daerah lainnya di bagian wilayah yang berdekatan dengan pusat, tidak sampai ke wilayah pinggiran.
"Ini lingkar dalam!" Adam membuat lingkaran di peta dengan penanya. "Sejauh ini kemunculannya ada di lingkar dalam ini! Sama seperti wilayah patroli Tim Garuda."
"Apa benar Pahlawan Tak Terlihat ini mulai aktif di seminggu terakhir?" Tanyaku.
"Tanggal kemunculan berdasarkan video yang ada... Ya, seminggu terakhir. Dari tanggal sepuluh sampai tujuh belas Ramadhan."
"Tapi ada kemungkinan dia muncul sebelum itu, tapi gak terekam kamera..." Aku berasumsi.
"Ya. Kemungkinan itu ada. Tapi sampai sinilah bukti yang kita punya."
Aku memperhatikan peta itu lagi. "Lingkar dalam... Seminggu terakhir memang aku gak ada disekitar tempat-tempat ini."
"Kau ingat pastinya ada dimana saja?" Tanya Adam yang bersiap dengan penanya.
Aku memberitahunya tempatku seminggu terakhir. Sepanjang malam ini sebelum datang kemari sudah jelas aku ada di tempat yang berbeda dengan Si Pahlawan Tak Terlihat. Aku mengurung diri di bangunan terbengkalai di Timur selama tanggal 15-17 Ramadhan di tiga hari terakhir. Tanggal 14 Ramadhan, aku mendatangi rumah Rossa dan mengawalnya mengantar paket dari satu tempat ke tempat lainnya sampai mendekati sore, mendekati senja berkeliling Masjid Al-Alim dan sekitarnya ketika mengikuti Adam dan Rossa mengantar Kotak nasi ke anak-anak yatim, lalu mendatangi Kantor Polisi Sektor Barat. Selama tanggal 10-13 Ramadhan, aku sibuk mengikuti setiap balap liar saat malam hari dan istirahat penuh selama pagi sampai siang sampai akhirnya aku mendatangi markas Rimba dan Kawanannya dini hari tanggal 14.
Terkecuali ketika mengikuti Rossa mengantar paket, tempat lain yang kudatangi ada di lingkar luar. Ini cukup menjelaskan kenapa aku tak pernah bertemu dengan Jin lain yang kucari. Karena meskipun aku berkeliling lingkar dalam selama beberapa jam, aku terus berpindah tempat. Lingkar dalam adalah ruang lingkup yang luas yang memungkinkan kedua individu untuk tak bertemu satu sama lain meskipun sama-sama berkeliling di sekitar tempat itu. Tapi setidaknya jika mulai sekarang aku memfokuskan diri untuk mencari di Lingkar dalam, aku mungkin akan bisa bertemu dengannya... Jin yang lainnya.
__ADS_1