Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 28 - Sepotong


__ADS_3

...Sepotong...


17 Ramadan. Tengah Malam.


Aku punya target. Aku memiliki rencana untuk menemukannya. Aku dapat informasi yang kubutuhkan. Aku tahu harus menuju kemana. Dan aku akan mulai sekarang. Tapi aku harus terhenti oleh sesuatu yang lain, sesuatu yang sempat coba kuabaikan sejenak.


Kebetulan. Apa kau percaya dengan sesuatu seperti itu? Aku? Aku lebih percaya akan adanya Sebab dan Akibat, seperti yang pernah kuberitahukan sebelumnya. Tak ada sesuatu yang terjadi begitu saja. Adapun apa yang manusia sebut dengan 'Kebetulan', bagiku hanyalah puncak dari rangkaian kejadian yang sudah dimulai jauh sebelumnya. Tapi aku tak menyangkal kalau aku tetap terkejut akan 'Kebetulan' yang kualami saat ini.


Mungkin karena kebiasaan, mungkin juga karena situasi sekitar yang sudah terasa akrab, atau mungkin aku memang ingin menemui manusia yang pernah memiliki masalah dimana aku terlibat jauh di dalamnya. Salah satu dari alasan itulah yang membuatku melangkah menuju Brothers motor setelah keluar dari Masjid Al-Alim.


Awalnya aku hanya berniat melihat keadaan Brothers motor sambil lalu, tapi aku malah melihat sesuatu yang membuatku mematung di tempat. Aku melihat Rian sedang memasukkan motor ke dalam bengkelnya. Motor berwarna hitam yang rusak di bagian depan dengan lampu sen sebelah kirinya hancur. Motor itu adalah jenis motor yang sama yang digunakan dua manusia pelaku penyerangan di Rumah Aidah. Dan menurut Wawan, Ia melihat dua manusia dengan ciri-ciri yang sama mengendara motor yang sama terlibat kecelakaan di jalan yang menyebabkan kerusakan di bagian depan motor, lebih spesifiknya lampu sen kiri motor itu hancur. Dan dilihat sekilas, inilah motor itu. Yang harus kulakukan hanyalah memastikan kalau motor ini memang digunakan dua manusia yang sama yang mendatangi rumah Aidah dan melukai Dwi.


Aku mampu melihat kepingan memori, sebagian kenangan yang sudah pernah dialami manusia. Dan ketika aku memerahkan benda yang kusentuh hingga menghilang dari pandangan manusia, kadang aku juga bisa melihat hal yang hampir sama. Tapi aneh jika menyebut itu kepingan memori dari suatu benda. Aku lebih suka menyebutnya Jejak waktu. Itulah yang akan coba kulakukan. Namun kali ini bukan benda berukuran kecil seperti pena atau ponsel, melainkan satu unit motor. Entah apa aku bisa membuat benda sebesar ini memerah pekat, tapi aku harus tetap mencobanya.

__ADS_1


Rian sudah menutup bengkel, mengunci pintunya, mematikan ruang depan ruko, dan masuk ke kamar di ruang belakang. Sementara aku berdiri di ruang depan, di dekat lemari etalase berisi onderdil motor, selagi memperhatikan motor rusak yang ada di hadapanku. Aku menunggu beberapa lama, jaga-jaga kalau Rian tiba-tiba muncul dari belakang. Setelah cukup lama dan Rian tak juga muncul, aku menaiki motor yang diparkirkan dengan penyangga tengah ini.


Aku meraih kedua stang motor dan mulai berkonsentrasi penuh. Perlahan warna merah merambati motor dari bagian yang kusentuh dengan kedua tanganku. Rambatannya sangat pelan meski aku sudah benar-benar memfokuskan energiku. Motor ini jauh lebih besar dari benda lain yang kucoba untuk membuat menjadi merah pekat. Dan aku merasakan inilah yang paling sulit. Tapi aku tetap berusaha, hingga gambaran-gambaran acak mulai merayap ke benakku.


Jejak waktu yang kulihat benar-benar kacau, saling menimpa, dan acak. Tapi ada dua bagian yang kulihat dengan cukup jelas. Pertama adalah waktu ketika motor ini melewati pagar memasuki Kompleks Perumahan Dua Cahaya. Lalu yang kedua di waktu motor menabrak becak yang terguling di tengah jalan. Dua Jejak itu membuktikan kecurigaan Wawan memang benar. Motor rusak ini memang motor yang sama yang digunakan Kedua pelaku penyerangan. Aku tetap berkonsentrasi dan mencoba untuk mencari Jejak yang bisa mengarahkanku ke identitas kedua pelaku. Tapi aku malah tertarik ke kepingan memori lain yang ada dalam diriku.


Awalnya aku kembali ke hari Pertempuran melawan Mafia Putih. Setelah salah satu dari mereka menghantam kepala Pemuda yang merupakan salah satu dari dua Pemimpin Divisi Pusat berkali-kali hingga jatuh dengan darah berlinang. Pemuda berikat kepala batik yang juga Pemimpin Divisi Pusat ada di sebelahku. Kemudian Rian dan beberapa pemuda lain datang mengerumuni kami. Aku melihat ke sekitar. Banyak anggota Geng Dua roda yang terluka dan masih terus melawan. Keadaan ini buruk bagi kami jika dilanjutkan. Jadi aku minta mereka untuk mundur dari bentrokan ini.


Aku dibantu oleh Pemuda berikat kepala, Rian, dan anggota Geng Dua roda yang lainnya membawa Pemuda yang kepalanya terluka ke Rumah sakit. Aku dan Pemuda berikat kepala membantu dua perawat mendorong ranjang beroda yang membawa Pemuda yang terluka ke salah satu ruangan untuk dirawat. Tak lama saat Aku dan Pemuda berikat kepala menunggu di luar ruangan, Gadis itu datang dengan ekspresi marah dan langsung menamparku. Lalu Ia yang menyatakan kekecewaannya memintaku untuk pergi. Dan aku menuruti keinginannya.


Aku memimpin serangan kedua ke tempat yang sama. Kali ini dengan tambahan darah segar dari Divisi Timur. Dan juga kami membawa senjata. Sesuai dugaan, mereka tidak siap dengan serangan susulan. Kami mendominasi, menembus masuk ke dalam rumah dua lantai yang menjadi markas mereka. Kantor utama Mafia Putih ada di ruangan di lantai atas. Sesampainya di depan ruangan itu, Aku bersama Rian dan Wawan disambut oleh dua laki-laki yang langsung menyerang kami. Aku dan Rian berhasil menghindari ayunan pemukul besi dari laki-laki bertubuh tegap. Disaat yang sama Wawan berhasil menahan tebasan golok laki-laki jangkung dengan balok kayu yang dibawanya.


Laki-laki bertubuh tegap mengayunkan pemukul besi yang jelas sekali tidak ringan itu semudah mengayunkan gagang sapu. Dan gerakannya juga cepat, mencoba menyerang dengan membabi-buta. Aku bersusah payah menghindar, tapi pada akhirnya tetap terkena pemukul dengan keras hingga bagian tangan kiriku yang kugunakan untuk menahan terasa nyeri sekali. Tapi kami menang jumlah dan memanfaatkan itu. Sementara Wawan menahan setiap tebasan golok Laki-laki jangkung bak samurai pengguna balok sebagai ganti pedangnya. Aku dan Rian yang sama-sama sudah tak memegang senjata bekerjasama untuk mengalahkan Laki-laki tegap yang menyerang bak orang kesetanan.

__ADS_1


Laki-laki itu kuat dan cepat, dengan jangkauan serangan dan pertahanan yang lebih luas dari kami karena pemukul besinya. Tapi Ia tetap manusia biasa yang tak bisa menangani serangan dari dua arah. Aku dan Rian bergerak mengepungnya dari arah yang berbeda. Lalu Rian maju dengan cepat dan dihadang dengan hantaman pemukul besi, yang dengan susah payah diraih dan ditahannya dengan kedua tangan. Disaat itulah aku menyerang dari belakang dengan menjejak betis kiri lawan kami dengan kuat hingga Ia jatuh berlutut di satu kaki. Aku lanjut maju dan menyilangkan lengan kananku di lehernya selagi memukuli wajahnya dengan tinju kiri yang datang dari samping kepalanya.


Laki-laki itu reflek melepas sebelah lengannya dari pemukul yang dipegangnya untuk melepaskan lenganku dari lehernya. Dan ketika kekuatannya dalam menahan pemukul berkurang setengah, Rian memanfaatkan itu untuk sepenuhnya menguasai pemukul besi yang sejak tadi berusaha direbutnya. Lalu memukulkan ujungnya ke perut lawan kami, yang merasakan sakitnya hingga sedikit membungkuk, tapi aku yang masih mencekiknya menarik dan memaksanya untuk tegak lagi. Rian lanjut memukul bagian perut lagi sampai Anggota Mafia Putih ini melenguh kesakitan. Dan aku juga menginjak kuat betis kirinya untuk mencegahnya berusaha bangkit, selagi ku tambah tenaga di lenganku yang mencekiknya. Ia menggunakan kedua tangannya yang besar untuk melepaskan lenganku, tapi aku tetap bertahan hingga Ia mulai kesulitan bernafas.


Tak jauh di sebelah kananku, Aku melihat serangan Laki-laki jangkung yang menggores lengan atas jaket Wawan. Melihat itu Aku langsung melepaskan lenganku dari leher Laki-laki tegap dan berlari menerjang Laki-laki jangkung hingga kami terjatuh menghantam lantai dengan tubuhku berada diatasnya. Aku lekas bangkit dengan kedua tanganku dan merayap naik sambil meninju wajahnya. Yang tak kutahu saat itu, sebelah lengannya masih memegang golok yang akan digunakannya untuk menyerangku. Tapi sebelum itu sempat terjadi, Wawan dengan cepat menginjak pergelangan tangan itu berkali-kali dengan kuat hingga lawan kami yang sudah tergeletak ini melolong panjang. Aku bangkit berlutut dan menghujaninya dengan bogem mentah yang mengenai telak wajahnya.


Di serangan pertama kami bertindak seakan kami menyerang Geng lainnya. Tapi setelah mereka menyerbu dengan balok kayu dan melukai teman kami dengan parah, kami tak bisa lagi bertindak seperti itu. Dari awal serangan kedua ini kami sudah menyiapkan diri, kami datang untuk menyerang Mafia. Dan kami tak akan mundur lagi sebelum benar-benar menghancurkan mereka. Dua Laki-laki tadi sudah kami buat tergeletak lemah. Tak jauh di depan kami adalah pintu ganda yang sedikit terbuka dari ruangan yang menjadi kantor utama Mafia Putih. Wawan yang lengan atasnya tersayat golok mengambil balok kayunya yang juga sudah tersayat-sayat. Rian menggenggam pemukul besi berat yang tadi direbutnya. Dan Aku juga merebut golok lawan. Kami bertiga siap untuk menghajar siapapun yang ada di dalam ruangan itu.


Begitu melangkah masuk setelah mendorong kedua pintu, Aku hanya melihat satu orang yang ada di dalam ruangan itu. Laki-laki bertubuh besar yang duduk dibalik meja di ujung ruangan. Laki-laki dengan brewok lebat itu menyeringai. Saat itulah Aku memperhatikan apa yang dipegang sebelah tangannya di atas meja... Itu Pistol. Laki-laki itu menarik pelatuk dan senjata api itu pun menembakkan pelurunya tepat ke arah perutku. Aku mungkin terlambat menyadari pistol yang dipegangnya. Tapi Rian tidak sama denganku. Dengan cepat Ia menggerakkan pemukul besinya ke depanku dan berhasil dengan tepat menahan peluru pistol yang menjadi berubah arah ke samping menghantam daun pintu terbuka dibelakang kami.


Aku bisa lihat kalau Laki-laki brewok di ujung ruangan sama terkejutnya denganku, yang membuatnya tidak langsung menembak lagi. Dan hal itu dimanfaatkan oleh Wawan yang langsung melempar balok kayu dengan sekuat-kuatnya bak lembing yang tepat mengarah ke sebrang meja berjarak sekitar lima meter dari tempat berdiri. Laki-laki brewok itu melayangkan sebelah lengannya yang besar untuk menghantam balok kayu yang hampir mengenai wajahnya ke arah lain.


Sebagai anggota Geng motor yang sering ikut serta dalam balapan ataupun bentrokan di jalan, kami memang ditempa supaya dapat bereaksi cepat meski sempat terkejut, misalkan ketika terjadi kecelakaan ataupun ketika polisi tiba-tiba datang saat bentrok dengan geng lain. Itulah sebabnya Rian dan Wawan bisa bereaksi cepat di situasi mendesak seperti ini. Dan kini giliranku. Saat Laki-laki brewok itu bangkit dari duduknya dan bersiap menembak dengan pistol yang ditodongkan ke depan, aku sudah berlari mendekat dan mengayunkan golok ke jemarinya yang memegang pistol. Ia meraung kesakitan. Pistol terlepas dari tangannya dan jatuh ke ujung meja begitu juga dengan sesuatu yang berlumuran darah segar...

__ADS_1


Kepingan memori itu berakhir! Aku kembali lagi ke Brothers motor. Tapi ruangan ini kini diterangi cahaya lampu. Aku masih menaiki motor yang memerah di sebagiannya dengan acak dan terus berganti; dari sisi kiri bagian depan, setengah jok motor yang kududuki, knalpot, lalu warna merahnya berganti ke bagian-bagian lainnya. Bagian yang sebelumnya berwarna normal. Lalu aku menyadari kehadiran sesosok lain di ruangan ini. Di balik lemari etalase, seorang Pemuda dengan hidung menyerupai bentuk paruh burung berdiri dengan tangan yang masih menempel di tombol lampu. Dengan mata terbelalak, Rian memandang tepat ke arahku!


__ADS_2