Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 14 - Pelindung Tak Terlihat


__ADS_3

...Pelindung Tak Terlihat...


8 Ramadan. Malam.


Ketika aku berada di halaman depan Masjid Al-Alim, aku bisa merasakan aura hitam yang muncul bersamaan dengan gambaran di benakku yang menunjukkan lokasi berasal dari Bengkel motor merangkap Tambal ban milik Rian dan Kakaknya. Jadi, aku berlari secepat yang kubisa menuju Brothers motor. Ada dua motor terparkir di teras Ruko sebelah kanan yang pintunya hanya terbuka satu bagian itu. Aku mengenali motor berwarna hijau-hitam dan biru-hitam ini. Dan kebencian yang menguar dari dalam Ruko juga kukenali.


Aku berlari masuk ke Ruko dan mendapati pemandangan yang tak terlalu mengejutkanku. Seperti dugaanku, dua motor di depan Ruko adalah motor yang sama yang dibawa ketiga pengeroyok Rian, dan disinilah mereka. Pemuda bertubuh gemuk dan Pemuda hidung besar memegangi tangan kanan dan kiri Rian. Sedangkan Pemuda rambut kuncir menjaga jarak di depannya dan mengangkat knalpot motor yang panjangnya sekitar satu meter, memegang Header atau leher knalpot dengan kedua tangannya seperti pemukul baseball, siap dihantamkan ke kepala Rian. Saat melihat itu, gambaran akan anggota Geng Dua roda yang terbaring di aspal dengan kepala penuh darah dan temannya Januar di situasi yang sama saat Tawuran di lapangan langsung naik ke benakku. Tidak! Aku tak biarkan hal seperti itu terjadi lagi!


Aku melesat maju diantara Rian dan Pemuda kuncir. Memfokuskan diriku untuk menahan knalpot dengan kedua tanganku agar tak menembus dan mengenai Rian di belakangku.


"Apa-apaan!?" Pekik Pemuda kuncir yang bingung melihat knalpot yang diayunkannya tertahan di udara.


Saat itu kekuatan genggamannya berkurang dan aku bisa merebut knalpot dari tangannya. Aku memindahkan tanganku ke bagian ujung leher knalpot, mengangkat dan menghantamkannya ke kepala Pemuda kuncir yang masih ternganga.


"Aghhh!!" Raungnya ketika Silencer knalpot mengenai kepalanya.


Selagi Pemuda kuncir masih kesakitan sambil memegangi kepalanya, aku mengayunkan lagi knalpot untuk menghantam paha kirinya, dan lanjut perut samping kirinya. Lalu kuputar lagi knalpot di udara dan menghantam kepala bagian kanannya sampai ia tertunduk ke samping. Kemudian aku lanjut menyerangnya beberapa kali hingga ia jatuh tersungkur.


"Ha.. ha.. hantu!" Jerit Pemuda hidung besar dari belakangku dengan wajah ketakutan.


Ia melepaskan tangan Rian dan berlari menuju pintu, tapi aku menjegalnya dengan knalpot sampai jatuh tersungkur. Saat ia balik berbaring, aku mendekatinya dengan knalpot terangkat tinggi.


"Jangan... Jangan!" Ia memohon dengan wajah penuh keringat.


Tapi aku tak berniat mendengarkannya. Mereka sudah pernah mengeroyok Rian kemarin malam. Malam ini mereka datang untuk melakukannya lagi. Mereka bahkan berencana untuk menghajar Rian dengan knalpot yang kupegang ini. Aku yakin sekali mereka tak akan berhenti sebelum puas menghajarnya. Mereka bertiga manusia menyedihkan yang tak kenal belas kasih. Mereka tak pantas dikasihani.


Kuhantamkan knalpot beberapa kali hingga wajah dan hidung besarnya mengeluarkan darah segar. Saat ia mencoba melindungi wajahnya, kuarahkan knalpot ke perut dan kakinya yang tak terlindungi. Kuhajar Pemuda hidung besar ini sampai tangannya tak lagi menutupi wajahnya dan hanya tergeletak dilantai tanpa daya.


"Raghhh!!" Jerit Pemuda gemuk yang menerjang maju dan memegang Silencer knalpot dengan kedua tangannya.


Aku mencoba menarik knalpot agar terlepas darinya. Tapi kekuatannya seolah bertambah berkali lipat dan mampu menahan kekuatan Jin-ku. Jadi kulepaskan saja knalpot ini. Begitu menguasai knalpot seutuhnya, Pemuda gemuk langsung mengayun-ayunkannya ke sekitar dengan kuat sambil berteriak keras. Mungkin ia berharap bisa mengenaiku. Pemandangan yang menyedihkan dari manusia yang menyedihkan. Sayangnya aku tetap harus menghentikan Pemuda gemuk mempermalukan dirinya sendiri.


Aku melesat keluar Ruko, mengangkat salah satu ban truk yang ada di depan pintu Ruko sebelah, dan melesat lagi ke pintu yang terbuka, lalu melemparkannya ke dalam. Pemuda gemuk terpental ke belakang setelah ban truk menghantam tubuhnya dari depan. Ia jatuh menubruk lemari kaca tempat onderdil-onderdil yang dijual dipajang.


"Agh!! Tanganku!" Teriak Pemuda gemuk sambil memegangi bahu kanan dengan sebelah tangannya. "Aghhh!!"


Aku memungut knalpot yang terlepas dari tangannya dan mulai menghantamnya berkali-kali sampai wajahnya lebam dan berdarah. Saat selesai, Aku menatap Pemuda gemuk yang terduduk sambil meringis lemas di hadapanku. Aku menoleh ke Pemuda hidung besar yang tergeletak di lantai. Dan Aku berbalik menghadap Pemuda kuncir yang mencoba bangkit dalam posisi yang masih merangkak. Aku mendekatinya dan menghantam punggungnya sampai ia tersungkur lagi sambil menjerit kesakitan.


Aku baru menghajar tiga manusia yang mengeroyok Rian yang bahkan bukan lagi anggota dari Geng Dua roda yang mereka benci. Kata-kata Adam tentang manusia yang saling memaafkan dan dimaafkan. Sepertinya tak semua manusia yang bisa begitu. Ketiga Pemuda ini tak berniat melupakan dendam terhadap Geng Dua roda dan memaafkan Rian karena masa lalunya yang berhubungan dengan Geng itu. Jelas sekali mereka juga tak pantas untuk dimaafkan.


Setelah aku melepaskan knalpot yang kugunakan untuk menghajar ketiga manusia ini dan melihat sekeliling ruangan, aku baru menyadari Rian sudah tak ada disini. Aku tak bisa menyalahkannya kalau ia lari karena ketakutan setelah melihat knalpot dan ban truk yang melayang-layang di dalam Rukonya. Tapi mungkin memang sebaiknya ia pergi dari tempat ini. Aku juga harus pergi.


Sudah jadi hal yang wajar kalau Rian tak akan pernah memaafkan ketiga Pemuda yang mengeroyoknya. Karena itulah aku terkejut saat melihat Rian datang lagi ke tempat ini bersama tiga manusia.


"Di dalam!" Seru Rian.


"Astaghfirullah!" Ucap salah satu dari mereka. Laki-laki dewasa berusia sekitar akhir tiga puluhan. "Kenapa ini, Rian?"


"Aku juga kurang tahu, Om." Sahut Rian cepat.


"Jelaskannya nanti saja. Kita tolong mereka dulu." Kata laki-laki dewasa berbadan tambun berusia sekitar empat puluhan.


Lalu mereka memeriksa keadaan ketiga Pemuda yang baru kuhajar habis-habisan.

__ADS_1


"Bahunya geser!" Seru laki-laki terakhir saat memeriksa Pemuda gemuk. "Kita bawa ke Rumah sakit!" Sambung Laki-laki yang masih terlihat cukup muda, mungkin usianya akhir dua puluhan.


"Biar kuambil Pick-up dulu di rumah." Ucap Laki-laki yang paling tua sebelum keluar dari Ruko.


Tak berapa lama, laki-laki itu kembali dengan mengemudikan Truk Pick-up yang di belakangnya dilapisi karpet. Ada dua laki-laki dewasa yang naik di belakang Pick-up. Sementara itu dari kursi penumpang di depan keluar Gadis yang tak asing lagi.


"Ini orang-orang yang pernah menggangguku, Pak!" Bella memberitahukan pemilik Pick-up yang ternyata Ayahnya setelah mengenali Pemuda kuncir yang dipapah Rian naik ke belakang Pick-up dibantu manusia lainnya.


"Nanti saja ceritanya. Yang penting anak-anak ini dibawa ke Rumah sakit dulu." Balas Ayah Bella yang membantu menaikkan Pemuda gemuk.


Setelah menaikkan ketiga Pemuda ke atas Pick-up, Ayah Bella pergi bersama dengan empat laki-laki dewasa lainnya. Rian berjanji akan menyusul setelah membereskan Bengkelnya. Dibantu dengan Bella, mereka berdua merapikan lagi barang-barang di dalam Ruko.


"Kamu mau cerita kenapa mereka bertiga separah itu?" Tanya Bella.


"Kau gak akan percaya aku." Sahut Rian.


"Kapan aku gak percaya kamu?" Balas Bella.


Rian menoleh ke Bella yang menatapnya dengan ekspresi serius di wajahnya. "Ini... Aneh, Bell!"


"Seaneh apa?" Desak Bella.


Lalu Rian pun menyerah dan menceritakan apa yang terjadi lewat sudut pandangnya. Ketiga Pemuda yang datang dan langsung mengeroyoknya. Knalpot yang bergerak sendiri dan menghajar mereka. Ban yang melayang menghantam Pemuda gemuk. Dan Ia yang akhirnya lari keluar Ruko menemui Ayah Bella dan manusia lainnya, lalu membawa mereka kembali.


"Aku tahu kau gak percaya." Ujar Rian ke Bella yang hanya diam setelah mendengar ceritanya.


"Bukan! Aku percaya kamu! Tapi aku cuma... Ini bikin syok." Jelas Bella.


"Ya!" Pekik Rian. "Aku sudah lihat banyak darah waktu Tawuran. Tapi ini... Ini baru bagiku."


Lalu setelah memasukkan dua motor yang ada di teras ke dalam Ruko dan mengunci pintunya, Rian dan Bella berkendara menyusul Ayah Bella ke Rumah sakit.


--


"Mereka selamat?" Tanya Adam setelah kuceritakan apa yang baru terjadi di Brothers motor.


"Ya. Mereka selamat. Parah, tapi selamat." Jawabku. Kami ada di tempat tinggalnya Adam.


"Karena itu perbanmu makin terbuka lagi?" Tanya Adam sambil menunjuk lenganku.


"Apa maksudmu?" Tanyaku sambil melihat lenganku sendiri.


Tadinya hanya jari sampai pergelangan tanganku yang telah kehilangan perban. Tapi kini perban di kedua lenganku telah terlepas sampai sebatas siku.


"Aku baru sadar sekarang." Aku mengakui. "Apa menurutmu tindakanku itu benar?"


"Aku hanya manusia biasa." Ucap Adam. "Walaupun aku bilang tindakanmu benar, bisa saja penilaianku salah." Lanjutnya. "Begitu juga sebaliknya. Karena aku hanya manusia. Manusia gak pernah selalu benar."


Itu bukan jawaban yang kuharapkan. Tapi mungkin memang seperti itulah adanya.


"Tapi menurutku kau begitu berlebihan!" Kata Adam tiba-tiba. "Kau menghajar lawan yang gak sepadan dengan kemampuanmu."


"Mereka juga begitu!" Aku membela diri. "Mereka mengeroyok Rian, dua kali!"

__ADS_1


"Tindakan mereka memang tak bisa dibenarkan." Ujar Adam. "Tapi tindakanmu juga tak bisa dibenarkan."


"Kalau aku gak menolongnya. Rian yang sekarang dirawat di Rumah sakit." Bantahku.


"Dan sekarang ada tiga orang yang dirawat di Rumah sakit."


"Lihat sisi positifnya. Sekarang mereka gak akan berani serang Rian lagi."


"Kenapa bisa yakin? Kemarin malam kau menakuti mereka, tapi mereka tetap serang Rian hari ini. Tahu darimana kalau mereka gak akan tambah dendam setelah keluar dari Rumah sakit?"


Pertanyaan terakhir Adam menghantamku seperti bola api biru. Ketiga Pemuda itu pernah dihajar habis-habisan oleh Geng Dua roda. Dan akibatnya mereka jadi mendendam dan bahkan menyerang mantan anggota seperti Rian. Setelah aku menakuti mereka saat datang ke tempat ini untuk menyergap Rian yang berhasil kubantu kabur dari mereka kemarin malam, mereka tetap menyerang Rian, bahkan sampai mendatangi tempat tinggalnya. Apa yang akan menghentikan mereka dari balas dendam mereka.


Tiba-tiba aku ingat. Aku pernah menyaksikan hancurnya dendam berkepanjangan dari manusia dan terbentuknya pertemanan setelahnya. Januar, Awal, dan teman-teman mereka adalah buktinya. Mungkin memang ada harapan untuk hubungan yang lebih antar manusia. Mungkin saja...


"Dendam mereka mungkin akan hilang setelah mengetahui Rian membantu mereka. Jika Rian bisa memaafkan mereka, mungkin mereka juga akan melupakan dendam mereka. Memaafkan dan dimaafkan." Ucapku tanpa sadar.


Adam mengangguk-angguk sambil tersenyum. Lalu Ia menunjukku dan bilang, "Kau curi kalimatku. Memaafkan dan dimaafkan. Itu yang kubilang ke Rian."


"Apa!?" Pekikku tak percaya setelah menyadarinya. "Apa kau menggunakan teknik psikologi pembalik supaya aku mengatakan apa yang pernah kau katakan? Dasar manusia licik!"


"Kenapa malah kau yang kesal?" Tanya Adam dengan mata membelalak.


"Oke, cukup! Perdebatan ini sia-sia!" Desakku.


"Oke, oke. Jangan hajar aku pakai bukuku sendiri." Kata Adam dengan kedua tangan terangkat dan senyum di wajahnya.


"Aku akan melupakan sindiranmu itu kalau kau menyampaikan satu pertanyaanku ke Rian." Ucapku dengan sabar.


Wajah Adam berubah serius. "Apa pertanyaannya?"


--


...Perjalanan...


Di sore hari Masjid Al-Alim, setelah menyelesaikan ibadah Shalat, seorang Pemuda berwajah tirus yang orang-orang bilang hidungnya mirip paruh burung sedang berpamitan dengan temannya yang seorang Marbot Masjid.


"Kapan kau balik kemari?" Tanya Si Marbot.


"Belum tahu sampai berapa hari disana." Jawab Si Pemuda.


"Oh, ya, Rian. Ada yang mau kutanyakan." Kata Si Marbot. "Ini soal masa lalumu."


"Masa laluku? Maksudmu Dua roda, Adam?" Tanya Rian penasaran.


Adam mengangguk sebelum bertanya, "Waktu bentrok dengan Mafia Putih di markas mereka, kau bantu temanmu yang dicekik dari belakang, kan? Siapa temanmu itu? Anggota penting di Geng?"


Rian mengingat kejadian itu. Tapi ada satu hal yang tak dimengerti. "Tahu darimana? Aku gak pernah cerita.."


"Kau pernah cerita!" Potong Adam cepat.


Rian yakin sekali belum pernah cerita ke Adam. Tapi memutuskan untuk tetap memberitahukan karena Adam teman yang baik yang sudah sering membantunya. "Itu Ketua kami."


Sebelum pergi Rian menoleh ke sekeliling Masjid untuk mencari sosok yang samar-samar biasa terlihat mengikuti Adam. Pertama kali Rian melihat sosok yang berupa bayangan putih itu ketika ia dikeroyok di Bengkelnya, sosok itu datang dan menghajar tiga orang yang mengeroyoknya. Sejak malam itu, Rian bisa melihat bayangan sosok itu saat datang ke Masjid. Kadang di belakang Adam, kadang duduk di pohon di luar pagar Masjid. Tapi kini ia tak melihatnya sama sekali.

__ADS_1


Rian mengendarai motornya keluar dari halaman Masjid ke Jalan raya. Terus berkendara jauh ke Barat sampai melewati Jembatan yang ada di atas sungai besar yang memisahkan dengan kota tetangga. Di jembatan besar inilah Rian melihat sosok bayangan putih lainnya, ia tahu ini berbeda dengan yang selama ini dilihatnya. Karena sosok yang ini lekuk tubuhnya menyerupai perempuan. Ia melihat sosok itu berdiri di pinggir Jembatan, di luar pembatas. Dan Rian menyaksikan saat sosok ini perlahan-lahan menembus jembatan beton dan menghilang dari pandangannya.


Seketika Rian teringat lagi akan cerita Kakeknya. Ia sudah bertemu satu, sekarang ia bertemu satu sosok lagi. Pelindung tak terlihat yang lainnya!


__ADS_2